Tabuhan Kencang Genderang ”Perang” Pesepak Bola Putri Belia

Delapan tim sepak bola putri belia mencapai puncak persaingan di MilkLife Soccer Challenge All-Stars. Turnamen ini adalah ujian sesungguhnya bagi mereka.

23 Jan 2025 20:35 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

KUDUS, KOMPAS — Setelah terpilih sebagai pemain terbaik di kota masing-masing, sebanyak 112 pesepak bola putri belia akan saling berhadapan dalam turnamen MilkLife Soccer Challenge All-Stars pada 24-26 Januari 2025. Optimisme serta tekad tinggi pemain dan tim seolah menjadi tabuhan kencang yang menandai dimulainya ”perang bintang” di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, tersebut.

Optimisme dan tekad itu ditunjukkan, antara lain, oleh Amanda Fitriani yang memperkuat tim All-Stars Bandung. Amanda siap mengeluarkan kemampuan terbaik demi membawa tim menang dan meraih gelar juara. Pemain berusia 12 tahun ini yakin Bandung bisa bersaing dengan para pemain terbaik dari kota lain untuk mewujudkan target juara itu.

”Kami siap dan semangat buat bertanding. Semua lawan pasti sama-sama susah, apalagi sudah sama-sama terpilih All Stars, berarti pasti yang terbaik. Tapi, Bandung juga pasti bisa menang,” ujar Amanda, Kamis (23/1/2025).

Optimisme serupa disampaikan oleh Pelatih Kudus Yayat Hidayat. Tampil di hadapan publik sendiri, Yayat yakin timnya bisa tampil maksimal dan meraih juara. Apalagi, Kudus memiliki waktu persiapan yang panjang dan matang mengingat para pemain telah terpilih sejak September 2024.

Pesepakbola putri Bandung menjajal lapangan yang nantinya akan digunakan dalam pertandingan MilkLife Soccer Challenge All-Stars di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2025). Sebanyak 112 pesepakbola putri  dari delapan kota akan bertanding pada 24-26 Januari 2025. Delapan kota tersebut adalah Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Kudus, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
23-1-2025

Sementara pelatih dari Solo dan Yogyakarta kompak meyakini timnya bisa bertarung melawan tim-tim terbaik lainnya, tetapi bukan karena ada satu atau dua pemain yang diandalkan. Menurut mereka, seluruh pemain yang berada di dalam tim mereka punya kemampuan dan peran yang sama untuk membawa ke kemenangan.

”Kami punya strategi istimewa dan 14 pemain yang juga istimewa,” kata Giovani Akbar, Pelatih Yogyakarta.

Setiap tim yang berlaga di MilkLife Soccer Challenge terdiri dari 14 pemain terbaik di kotanya masing-masing. Pemilihan pemain terbaik itu dilakukan setelah melalui 17 kali penyelenggaraan MilkLife Soccer Challenge sepanjang tahun 2024 yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife.

MilkLife Soccer Challenge merupakan turnamen kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun untuk siswi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Ajang yang diikuti total 12.778 peserta ini digelar di delapan kota, yakni Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Kudus, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.

Pesepakbola putri Semarang melakukan peregangan setelah menjajal lapangan yang nantinya akan digunakan dalam pertandingan MilkLife Soccer Challenge All-Stars di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2025). Sebanyak 112 pesepakbola putri  dari delapan kota akan bertanding pada 24-26 Januari 2025. Delapan kota tersebut adalah Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Kudus, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
23-1-2025

Pelatih MilkLife Soccer Challenge Timo Scheunemann mengatakan, para pesepak bola putri belia ini tak cukup hanya menjadi yang terbaik di wilayah sendiri. Mereka perlu terus menguji diri dengan bertarung melawan pemain terbaik lainnya dari kota lain. Untuk itulah, para pemain ini bertarung dengan wakil dari kota lain di MilkLife Soccer Challenge All-Stars.

Dengan demikian, MilkLife Soccer Challenge All-Stars menjadi ujian sesungguhnya bagi para pesepak bola putri belia. ”Yang jago banyak, tapi apakah mereka bisa mencapai performa terbaik? Itulah mengapa kita butuh All-Stars agar pemain terbaik bertemu dengan tim terbaik,” tutur Timo.

”Kita akan melihat apakah dia tetap bisa tampil bagus? Apakah dia bisa mengatasi tekanan ketika menghadapi lawan yang punya kemampuan sama atau lebih unggul?” ucap pelatih yang pernah menangani timnas sepak bola putri Indonesia pada 2008-2009 itu.

Format kompetisi

MilkLife Soccer Challenge All-Stars mengadopsi format 7 versus 7 dengan sistem pertandingan setengah kompetisi (fase grup, knockout, semifinal, dan final). Durasi permainan 2 x 15 menit dan jeda istirahat selama 5 menit di lapangan seluas 50 x 35 meter.

Pelatih MilkLife Soccer Challenge Timo Scheunemann saat konferensi pers tentang pelaksanaan MilkLife Soccer Challenge All-Stars di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2025). Sebanyak 112 pesepakbola putri  dari delapan kota akan bertanding pada 24-26 Januari 2025. Delapan kota tersebut adalah Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Kudus, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
23-1-2025

Tak hanya menjadi gelanggang unjuk kemampuan terbaik, Milklife Soccer Challenge All-Stars juga menjadi ajang seleksi pemain yang akan berlaga di Junior Soccer School and League (JSSL) Singapore pada April 2025. JSSL merupakan turnamen sepak bola untuk usia muda yang digelar sejak 2013.

Tim pencari bakat akan memilih 24 pemain terbaik dari pergelaran MilkLife Soccer Challenge All-Stars. Mereka kemudian akan dilatih secara intensif untuk menyambut JSSL.

”Keputusan mengikutsertakan para pemain yang terpilih nantinya adalah bentuk apresiasi kepada adik-adik yang telah memberikan upaya terbaik. Dengan demikian, ini adalah seleksi untuk menjadi semacam timnas yang bermain mewakili Indonesia di Singapura,” tutur Direktur Program MilkLife Soccer Challenge Teddy Tjahjono.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra