Alih-alih menutupi persoalan yang ada di BGN, Sudaryono justru mengajak jajaran BGN untuk bersama-sama menyelesaikan problem tata kelola lembaga dan MBG.
22 Jul 2026 20:37 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
JAKARTA, KOMPAS – Kepala Badan Gizi Nasional yang baru dilantik, Sudaryono, mengakui adanya persoalan dalam pengelolaan lembaga serta program Makan Bergizi Gratis. Alih-alih menutupi persoalan yang masih melekat di BGN, politikus Partai Gerindra itu justru mengajak jajaran BGN agar berani menyelesaikan problem transparansi, penyelewengan, hingga pelanggaran hukum tersebut.
”Kami sadar, kami mengakui, dan kami semua juga tahu bahwa ada masalah dalam tata kelola kami. Ada penyelewengan, ada pelanggaran hukum, dan juga ketidaktransparanan yang selama ini terjadi,” ujar Sudaryono seusai menggelar rapat perdana dengan jajaran BGN di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Sudaryono dilantik sebagai Kepala BGN di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu sore. Ia didapuk untuk menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN pada Rabu pagi.
Hanya berselang beberapa jam setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Sudaryono langsung menggelar rapat dengan jajaran BGN. Rapat itu menjadi langkah pertamanya sebagai Kepala BGN.
Dalam rapat itu, Sudaryono justru meminta seluruh jajarannya untuk berani menghadapi persoalan yang menerpa BGN. Permintaan itu disebut selaras dengan pernyataan Presiden tentang prinsip ”we have to run into the problem” yang disampaikan kepadanya.
”Kita harus mau menyelesaikan persoalan, tidak boleh kita lari dari masalah. Ini harus menjadi perhatian bagi saya sebagai kepala baru untuk menyelesaikannya,” tambahnya.
Selain itu, Sudaryono menegaskan tak akan melindungi jajaran BGN yang terseret kasus hukum. Nasib pegawai yang berstatus saksi, terperiksa, ataupun tersangka diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. BGN siap mendukung penuh proses penegakan hukum tersebut.
Kami sadar, kami mengakui, dan kami semua juga tahu bahwa ada masalah dalam tata kelola kami. Ada penyelewengan, ada pelanggaran hukum, dan juga ketidaktransparanan yang selama ini terjadi.
Meski demikian, roda organisasi BGN tak boleh mandek. Sudaryono meminta jajarannya yang bersih untuk tidak larut dalam pesimisme dan tetap bekerja optimal melaksanakan program MBG. Ia bahkan mempersilakan pegawainya untuk mundur atau pindah instansi jika merasa tak sanggup mengikuti ritme kerjanya.
”Kita ingin gerak cepat, efektif, dan efisien. Jangan sampai satu-dua orang yang salah, kemudian dianggap yang lain juga keliru,” ungkapnya.
Dalam menjalankan tugasnya, Sudaryono juga akan memprioritaskan perombakan sistem kerja secara menyeluruh. Mantan Wakil Menteri Pertanian itu berjanji menghapus sistem manual yang rawan praktik koruptif karena terlalu bergantung pada figur tertentu. Ia mendorong sistem yang transparan berlandaskan aturan teknis yang baku.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/22/02453c918fa28c8500dfa72641ec6271-IMG_20260722_182015.jpg)
”Yang tadinya gelap harus jadi terang. Indonesia cerah, tidak perlu gelap-gelapan. Rapat-rapat rahasia empat mata yang gelap itu biasanya mencurigakan,” tuturnya.
Lebih jauh, Sudaryono menyalakan lampu kuning terkait praktik nepotisme dan makelar proyek. Ia tidak akan menoleransi siapa pun yang mencari keuntungan pribadi, memeras, atau meminta perlakuan khusus dengan cara membawa-bawa namanya.
Sudaryono juga mengingatkan bahwa MBG adalah janji politik Presiden Prabowo yang bertujuan memenuhi gizi anak, ibu hamil, dan orang lansia. Program itu turut dirancang sebagai motor penggerak ekonomi desa melalui pemberdayaan UMKM dan petani.
”Sasarannya jelas, aman dan cukup gizi. Syaratnya, semua bahan dan cara mengolahnya harus memenuhi standar keamanan agar tidak terjadi kasus keracunan. Tata kelola ini yang akan kita perbaiki,” ucapnya.
Di sisi lain, Sudaryono tak menampik bahwa jabatan barunya ini membawa beban mental yang sangat besar. Ia bahkan mengaku tangannya terasa dingin karena menyadari ekspektasi yang ditumpukan pada lembaga baru ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/ba1a663d2ccd50270d7cb1e24fe44dbb-IMG_0843.jpeg)
”Kenapa tangan saya dingin? Karena kita bukan memikirkan jabatannya atau prestisnya, tapi kita memikirkan pekerjaannya. Ini tugas grande (besar). Semua kamera menyorot ke arah sini. Dan, seperti pesan Presiden, ’Love your people and use your common sense’,” tambahnya.
Secara terpisah, Wakil Presiden Gibran Rakabuming mengatakan, Sudaryono memiliki modal untuk memperbaiki BGN. Modal yang dimaksud adalah pengalaman Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian yang selama ini mengawal ketahanan pangan.
Wapres berharap, di bawah kepemimpinan baru, program MBG dapat berjalan sesuai dengan tata kelola yang lebih baik, transparan, dan tepat sasaran. ”Sehingga setiap rupiahnya dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan gizi anak Indonesia,” ucapnya lewat keterangan tertulis.
Lebih lanjut, Wapres menyatakan dukungan penuhnya terhadap pelaksanaan MBG yang berfokus di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia juga mendorong agar program prioritas ini melibatkan UMKM, kantin sekolah, dan orangtua siswa di sejumlah daerah.
Gibran kembali menegaskan komitmen pemerintah agar manajemen BGN ke depan berjalan lebih rapi, terukur, dan bersih dari segala bentuk praktik korupsi. Terakhir, ia mendoakan kelancaran pengobatan serta kesembuhan mantan Kepala BGN Nanik S Deyang.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Anita YossiharaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul