Di balik arsitektur bercorak Tionghoa dan Betawi, Masjid Tjia Khang Hoo berupaya membangun kerukunan beragama di lingkungan sekitar.
22 Feb 2026 12:51 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
KOMPAS/RIZA FATHONI
Sebuah bangunan masjid bernuansa etnik Tionghoa dengan warna merah menyala terselip masuk di sebuah jalanan yang menurun. Dinding bangunan turut juga dihiasi nuansa etnik beserta lampion yang seakan menyambut siapa pun yang hendak memasukinya dari Jalan Tipar, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Selepas jemaah menjalankan shalat Ashar, Sabtu (21/2/2026), sekelompok remaja mengikuti latihan seni hadrah yang dibimbing instruktur. Suara taburan hadrah dan shalawat terdengar nyaring di antara bangunan masjid tersebut. Sejumlah anak-anak ikut menyaksikan latihan tersebut. Latihan ini merupakan salah satu agenda rutin masjid selain kajian rutin majelis taklim selama sepekan penuh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/f929d1ef15cb538770081df6afba6e53-20260221RZF08.JPG)
Bangunan tersebut sepintas mirip kelenteng, tetapi setelah dilihat lebih detail, ternyata ada asma Allah yang cukup besar terpampang di dinding sisi luarnya. Sebuah papan nama bertuliskan Masjid Tjia Khang Hoo dalam aksara Latin bercorak Tiongkok, huruf Mandarin, dan huruf Arab berwarna emas di atas papan merah terpampang di atas pintu gerbang utama.
Bangunan masjid ini memang hanya satu lantai dan tidak terlalu tinggi, tetapi dari kejauhan terlihat warna merah dan arsitektur yang unik membuatnya mencolok di antara bangunan dan lingkungan sekitarnya. Jalan perkampungan sebelum masuk ke masjid yang lebih tinggi membuat orang-orang dapat menikmati lebih leluasa sisi keseluruhan masjid dari atas ke bawah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/65219376c3f1c3ae7ba68906328d6cd9-20260221RZF05.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/168f1d0899d5439f33a020f569dd9bab-20260221RZF01.JPG)
Menurut Ketua Yayasan Haji Abdul Soleh yang membawahkan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Dwi Pranowo (37), atau yang akrab dipanggil Frans, rumah ibadah ini resmi digunakan sejak tiga tahun lalu setelah selesai dibangun selama dua tahun yang memadukan arsitektur Betawi dan Tionghoa. Nama masjid diambil dari kakek Frans, yaitu almarhum Haji Abdul Sholeh yang memiliki nama asli Tionghoa, Tjia Khang Hoo, yang menikah dengan seorang Betawi, Hajah Rokiah.
Penggagas pembangunan masjid adalah Haji Budianto yang merupakan anak kandung Haji Abdul Sholeh dan ayah dari Frans. Sebelumnya, lahan masjid merupakan tempat tinggal Haji Abdul Sholeh yang menjadi tuan rumah bagi majelis taklim sejak tahun 2000. Sebelum wafat, Haji Abdul Sholeh sempat berwasiat untuk membangun sebuah masjid.
Melalui musyawarah keluarga besar, para ahli waris sepakat untuk membongkar rumah engkong mereka. Pihak keluarga yang dimotori oleh Budianto pun membangun masjid di atas lahan seluas 793 meter persegi dan luas bangunan 297,5 meter persegi sepeninggal Haji Abdul Soleh pada saat pandemi Covid-19 di tahun 2020.
Ide arsitektur masjid berkapasitas 400 anggota jemaah ini berasal dari Budianto beserta istri dengan melihat inspirasi arstitektur yang memadukan berbagai referensi. Setelah melalui rembukan keluarga bersama anak-anak, disepakati bentuk akhir seperti bangunan yang sekarang ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/4673b9c484e4852da1d4bdef6f1d1c8b-20260221RZF06.JPG)
Ciri khas utama masjid ini adalah keberadaan lima kubah yang mencerminkan lima pilar dalam rukun Islam, selain arsitekur corak Tionghoa. Satu kubah utama berukuran lebih besar bersusun tingkat tiga berada di tengah-tengah keempat kubah lain yang bersusun tingkat dua. Semua kubah tersebut berhias pelana berwarna keemasan.
Lampion yang menghiasi kawasan menuju ke masjid memiliki filosofi tersendiri. Menurut penuturan Frans, hal itu melambangkan bahwa sebelum memeluk Islam, Haji Abdul Sholeh diantarkan oleh keyakinan yang lain terlebih dahulu. Jadi, lampion itu menggambarkan perjalanan keyakinan almarhum hingga menjadi mualaf.
Nuansa Tionghoa terlihat dari eksterior masjid, seperti pintu gerbang, ornamen pada mahkota genteng dan kubah-kubahnya, hingga ke dalam ruang shalat. Warna merah yang dominan berpadu dengan corak keemasan dari kuningan yang menggambarkan relief kaligrafi Asmaul Husna yang menghiasi dinding depan ruang shalat yang sangat jelas dilihat dari saf terdepan. Filosofi warna merah bagi etnik Tionghoa dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran, selain melambangkan kebenaran dan ketulusan hati.
Selain sebagai hiasan, kaligrafi tersebut juga sekaligus untuk pengingat sifat-sifat Sang Pencipta bagi jemaah agar tidak pernah ada keraguan dalam beribadah dan memanjatkan permohonan dalam doa. Selain panel kaligrafi kuningan di sisi depan, seluruh dinding berwarna merah polos.
Jendela dan pintu masjid juga bercirikan oriental yang kental. Semua pintu berbentuk lingkaran dengan pegangan logam berwarna keemasan dan kaca jendela patri berkombinasi warna merah dan putih. Semua pintu masjid tersebut disematkan nama-nama leluhur mereka, seperti Haji Abdul Sholeh, Hajah Rokiah, Haji Karta, dan Hajah Fatimah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/858814f25f90946edadb112153dcc643-20260221RZF14x.JPG)
Masjid yang bertetangga dengan sebuah gereja dan wihara ini berada di lingkungan yang minoritas Islam. Ada cerita unik di balik pembangunan masjid tersebut. Meski minoritas, dukungan warga sekitar yang non-Muslim ternyata cukup positif.
Saat mengumpulkan tanda tangan persetujuan pembangunan masjid kepada warga sekitar, pihak keluarga Haji Abdul Sholeh tidak menemukan kesulitan. Bahkan, saat proses pembangunan, ada di antara tetangga masjid yang mendonasikan semen yang cukup banyak. Saat peletakan batu pertama pun warga non-Muslim juga turut diundang untuk menyaksikan. Mereka ikut tertarik menyaksikan proses pembangunan hingga masjid berdiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/31fb568940eb27743a6b5b8132b9d5a3-20260221RZF16.JPG)
Setelah pembangunan masjid rampung sekitar tiga tahun lalu, warga sekitar pun ikut diundang saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Selepas shalat Id, mereka diundang untuk bersantap bersama pengurus masjid dan umat Islam.
Masjid ini tetap berupaya membangun kerukunan beragama dengan lingkungan sekitar dan sudah berjalan selama tiga tahun. ”Ya, kita nyatu saja. Kita berusaha menghormatin kerukunan beragama. Bukan katanya-katanya. Kita sudah jalanin di sini tiga tahun,” kata Frans.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/22/7bb1a5c8ade439c15a0da6ebe9c52134-20260221RZF17.JPG)
Wempi (39), warga sekitar dari etnik Tionghoa yang non-Muslim, sore itu menemani anak perempuannya bersepeda di lingkungan masjid. ”Masjid ini menggambarkan kerukunan yang terbangun di wilayah ini. Kami ikut senang dengan (adanya) masjid ini,” ujarnya.
Penulis:
Riza FathoniEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji