Di awal kemerdekaan, Sukarno menginginkan Indonesia memiliki masjid yang megah, besar, indah, dan tahan hingga 1.000 tahun ke depan.
21 Feb 2026 11:31 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Kompas/Kartono Ryadi
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/15/26b97d450cf0a0d18d3485bd5ac66df9-BW_00004382_14_AJN003.JPG)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/20/4bdd0f63fe4b598a001afbfc902b312d-photo_6091148393745943763_y.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/15/2763945cf32f774efa55ae51d2b9963c-photo_6091148393745943761_y.jpg)
Video pembangunan Masjid Istiqlal diatas merupakan hasil dramatisasi menggunakan aplikasi akal imitasi (ai) google flow. Menggunakan dua foto karya wartawan foto Kompas Kartono Ryadi yang dipotret pada 29 Juni 1973 (proses pembangunan) dan 8 Agustus 1975 (hampir jadi).
Melalui dua foto tersebut dan dibantu dengan aplikasi akal imitasi, dramatisasi pembangunan. Memang apa yang tersaji di video bukan merupakan peristiwa riil yang terjadi di lapangan. Namun melalui video itu, Kompas berusaha menggambarkan proses pembangunan masjid yang diidamkan oleh Presiden Sukarno.
Ide besar itu datang dari Presiden Sukarno. Di awal kemerdekaan, Sukarno menginginkan Indonesia memiliki masjid yang megah, besar, indah, dan tahan hingga 1.000 tahun ke depan. Kemegahan masjid itu diharapkan bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia yang jumlah penduduk Muslim-nya terbesar di dunia. Nama Istiqlal berasal dari bahasa Arab yang bermakna merdeka. Menteri Agama saat itu, KH Wahid Hasyim, mengusulkan agar dibangun masjid yang dapat menjadi simbol negara dan kebanggaan rakyat Indonesia.
Sayembara untuk merancang masjid berlangsung pada Februari hingga Maret 1955. Dalam sayembara yang diikuti 30 peserta itu, tim juri memutuskan pemenangnya arsitek Friedrich Silaban.
Pemancangan tiang pertama dilakukan Presiden Sukarno pada 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sayangnya, pembangunan berjalan tersendat-sendat dan tidak mengalami banyak kemajuan karena situasi ekonomi dan politik saat itu. Akibatnya, pembangunan masjid telantar karena anggota parlemen dan partai politik saat itu sibuk dengan agenda masing-masing. Apalagi saat terjadi Gestapu (Gerakan Tiga Puluh September) 1965, pembangunan masjid terhenti sama sekali.
Setelah berganti ke rezim Orde Baru, pembangunan Masjid Istiqlal dilanjutkan kembali. Akhirnya, pada 22 Februari 1978, Masjid Istiqlal diresmikan Presiden Soeharto. Upacara peresmian ditandai sujud syukur dan peninjauan masjid, termasuk beduk berukuran sangat besar dan sempat dipukul-pukul menggunakan tangan oleh Presiden Soeharto. Beduk berdiameter depan 2 meter dan diameter belakang 1,71 meter dengan panjang 3 meter dan berat 2,3 ton.
Beduk terbuat dari kayu meranti merah asal Kalimantan Timur yang berusia sekitar 300 tahun. Panitia awalnya kesulitan mencari kulit sapi berdiameter 2 meter. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya ditemukan kulit sapi jantan asal Jawa Timur yang kemudian dipasang menggunakan 90 paku kayu sonokeling pada badan beduk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/02/bd441ae7-af11-45c8-9d32-55de6565493d.jpg)
Masjid seluas 2,5 hektar ini berdiri di atas lahan 9,9 hektar. Pembangunannya menghabiskan biaya Rp 12,4 miliar uang lama dan Rp 18,3 miliar uang baru. Masjid ini memiliki 4.400 tiang pancang, 377 ton stainless steel, dan 21.500 meter konstruksi jalan. Konstruksi beton yang terpasang 78.060 meter kubik, marmer 93.400 meter persegi, dan ubin keramik 11.400 meter persegi (Kompaspedia, 6/3/2024).
Istiqlal mampu menampung hingga 200.000 anggota jemaah. Pilar utamanya berjumlah 12 buah, yang melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah. Pilar dan kubah masjid ini memiliki diameter 45 meter sebagai penanda tahun kemerdekaan. Di dalam kubah masjid terdapat ayat kursi yang melingkari bagian dalam kubah.
Terdapat empat lantai balkon dan satu lantai dasar. Kelima lantai tersebut melambangkan lima rukun Islam dan jumlah shalat wajib dalam sehari, termasuk jumlah lima sila dalam Pancasila. Namun, menara masjid ini hanya satu, sebagai perlambang keesaan Allah.
Satu tahun setelah peresmian, dilakukan renovasi oleh Presiden Soeharto, yang membuat masjid lebih besar dan megah. Masjid Istiqlal menjadi masjid terbesar se-Asia Tenggara dan masuk dalam urutan keempat terbesar di dunia setelah Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjid Faisal di Islamabad, Pakistan.
Pada Mei 2019, Masjid Istiqlal kembali direnovasi dengan biaya Rp 511 miliar. Renovasi Masjid Istiqlal tidak hanya memaksimalkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah, tetapi juga memperhatikan aspek arsitektur, seni, dan estetika.
Masjid Istiqlal menjadi pusat syiar Islam di Indonesia. Berbagai kegiatan keagamaan rutin dilakukan, baik skala nasional hingga internasional. Sebagai masjid negara, setiap Idul Fitri dan Idul Adha, presiden dan wakil presiden selalu melaksanakan shalat Id di Istiqlal.
Selain itu, keinginan Sukarno bahwa Istiqlal menjadi simbol toleransi menjadi kenyataan. Letak masjid yang bersebelahan dengan Gereja Katedral Jakarta menjadi daya tarik bagi masyarakat internasional. Oleh karena itu, sering kali Istiqlal menjadi salah satu tempat yang dikunjungi pemimpin internasional saat berada di Indonesia.
Petinju legendaris Muhammad Ali mendapat sambutan luar biasa ketika ikut shalat Jumat di Masjid Istiqlal pada 17 Maret 1990. Masjid termegah di Asia Tenggara itu seakan tidak mampu menampung umat yang amat membeludak. Mereka sengaja datang untuk menunaikan ibadah.
Saat terjadi pertemuan para pemimpin APEC tahun 1994, Presiden Amerika Serikat Bill Clinton juga mengunjungi Istiqlal. Clinton sangat tertarik dengan keunikan Istiqlal saat mengamati maket masjid hingga pembuatan mushaf (jilid) Al Quran.
Pada tahun 2006, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengunjungi Masjid Istiqlal, bahkan melaksanakan shalat Jumat berjemaah di sana. Setelah selesai berkeliling melihat-lihat bagunan masjid, Ahmadinejad berpidato menyampaikan apresiasi yang besar atas sambutan luar biasa rakyat Indonesia.
Pada November 2010, Presiden AS Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, mengunjungi Masjid Istiqlal. Michelle Obama mengenakan selendang penutup kepala.
Ketika Raja Salman mengunjungi Indonesia tahun 2017, Raja Arab Saudi tersebut menjadi imam shalat. Ia bahkan memberikan hadiah kaligrafi yang terbuat dari benang emas untuk Masjid Istiqlal.
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga shalat di Istiqlal saat berkunjung ke Indonesia. Sementara itu, saat Perdana Menteri India Narendra Modi berkunjung ke Istiqlal, ia mencoba memukul beduk di sana.
Yang terbaru adalah kunjungan pemimpin Katolik dunia, Paus Fransiskus, ke Istiqlal pada 5 September 2024 sebagai bagian dari perjalanan apostoliknya ke Indonesia. Pertemuan tersebut menekankan dialog antaragama, perdamaian, dan kemanusiaan. Saat itu, Paus bersama Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menandatangani Deklarasi Bersama Istiqlal 2024.
Ada pula pemimpin dunia lain yang pernah mengunjungi Istiqlal, yaitu Presiden Chile Sebastian Pinera, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden Libya Muammar Khadafi.
Dalam perjalanannya, Istiqlal menjadi saksi tempat berkumpulnya ratusan ribu umat untuk menjalankan ritual Idul Fitri, Idul Adha, ataupun kegiatan keagamaan lainnya. Namun, Istiqlal juga pernah mengalami masa ketika umat Islam dilarang mendatanginya karena kebijakan pembatasan sosial berskala besar dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun 2020.
Meski demikian, tak berhenti pada fungsi ritual, Istiqlal juga memainkan peran sebagai pusat intelektual. Diskusi keagamaan, seminar kebangsaan, hingga dialog lintas iman kerap berlangsung di kompleks ini. Para ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat bertemu untuk merawat tradisi berpikir kritis dalam bingkai keislaman yang terbuka. Selain itu, letak Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral menjadi pesan simbolik yang kuat. Istiqlal berdiri bukan dalam isolasi, melainkan dalam relasi. Istiqlal mencerminkan wajah Islam Indonesia yang percaya diri, namun tidak eksklusif; teguh pada akidah, namun lapang dalam pergaulan sosial. Seperti cita-cita Bung Karno, Istiqlal diharapkan menjadi masjid yang megah, besar, indah, dan tahan hingga 1.000 tahun ke depan.
Semoga.
Penulis:
Hendra Agus SetyawanEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti