Alam Menagih Tanggung Jawab Kita

Lebih dari seribu orang tewas karena banjir dan tanah longsor di Asia. Manusia perlu lebih bijak memperlakukan alam untuk mencegah kerusakan lebih parah.

03 Des 2025 05:30 WIB · Tajuk Rencana

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Oleh Redaksi

Hujan deras yang dipicu dua siklon tropis melanda Sri Lanka, Thailand, Malaysia, dan Indonesia sepekan terakhir. Banjir bandang dan tanah longsor yang menyertai menyapu permukiman, menimbun desa, memutus jalur transportasi dan komunikasi, menyebabkan korban jiwa dan harta benda.

Di Sri Lanka, Siklon Ditwah dan dampaknya menewaskan sedikitnya 410 orang, dan 336 orang hilang. Pemerintah Sri Lanka menetapkan darurat bencana nasional dan meminta bantuan internasional. India dan Pakistan membantu evakuasi korban, sementara Pemerintah China memberikan bantuan total hampir 2,5 juta dollar AS.

Di Thailand, yang terpapar Siklon Senyar, lebih dari 175 orang tewas. Pemerintah Thailand berjanji memberikan bantuan uang serta perbaikan utilitas dan infrastruktur secepat mungkin. Termasuk memperbaiki rumah sakit untuk meningkatkan layanan kepada para korban.

Siklon Senyar yang menyeberang Selat Malaka lalu memorakporandakan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (2/12/2025) pukul 20.30 WIB menyebut 744 orang tewas dan 551 orang hilang. Banjir di sebagian wilayah mulai surut, tetapi kerusakan yang ditimbulkan memaksa jutaan orang mengungsi.

Quote

Perubahan iklim adalah cara alam merespons ulah manusia memperlakukan alam.

Jumlah korban jiwa yang begitu banyak menyentak rasa kemanusiaan kita. Di sisi lain, kehadiran siklon tropis, terutama Senyar, perlu menjadi peringatan keras bagi negara Asia yang terletak di sekitar khatulistiwa, terutama Indonesia, untuk lebih cermat mengantisipasi perubahan yang terjadi.

Environmental agency workers clean up piles of logs washed ashore on Padang beach, West Sumatra, on December 2, 2025, after being swept along by the flash floods that struck the region. Governments and aid groups in Indonesia and Sri Lanka worked to rush aid December 2 to hundreds of thousands stranded by deadly flooding that has killed around 1,200 people in four countries. (Photo by REZAN SOLEH / AFP)

Selama ini, siklon tropis tak bisa berkembang di sekitar ekuator. Perubahan iklim memungkinkan hal itu terjadi. Padahal, perubahan iklim adalah cara alam merespons ulah manusia memperlakukan alam. Termasuk mengubah peruntukan kawasan lindung, pertambangan dan pembalakan liar, pembangunan berlebihan, dan sebagainya.

Untuk itu, mitigasi bencana harus menjadi prioritas. Sistem peringatan dini menjadi penting dan harus disertai langkah proaktif. Negara di Asia, termasuk Indonesia, tidak boleh terjebak pada pola reaktif setiap bencana datang. Langkah preventif dan kesiapan komunitas menjadi kunci menyelamatkan lebih banyak nyawa menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring perubahan iklim.

Kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir membuktikan, siklon bukan akar utama penyebab bencana. Kerusakan lingkunganlah penyebabnya. Maka, peran pemerintah sangat penting untuk menjalankan regulasi, memperketat pengawasan, dan menegakkan hukum lingkungan tanpa kompromi. Bukannya justru memfasilitasi kerusakan lingkungan. Komitmen pemerintah menjaga alam akan menentukan apakah tragedi serupa dapat perlahan dimitigasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar