LIGA CHAMPIONS EROPA

Alasan Klasik ”Melempemnya” Duta-duta Liga Inggris

Kelelahan, alasan klasik yang selalu muncul setiap kali tim-tim Inggris tampil mengecewakan di Liga Champions. Banyak masalah yang jauh lebih krusial dari hal itu.

13 Mar 2026 06:49 WIB · Olahraga

AP

Oleh Kelvin Hianusa

Tim-tim Inggris sedang berkomedi. Mereka datang ke babak gugur Liga Champions Eropa dengan jumlah keterwakilan terbanyak dalam sejarah, tetapi tidak satu pun yang membawa hasil positif dari laga pertama. Rekor istimewa itu seolah hanya menjadi premis untuk menyempurnakan lelucon besar mereka.

Empat wakil Inggris kalah di laga pertama babak 16 besar, yaitu Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Tottenham Hotspur. Sementara Arsenal dan Newcastle United bermain imbang. Arsenal sangat diunggulkan atas Bayer Leverkusen, sementara Newcastle ditahan Barcelona di kandang.

Tidak ada hasil yang bisa dibanggakan dari duta-duta Inggris. Begitu pula dengan penampilan mereka yang jauh di bawah standar. Hanya Newcastle satu-satunya yang memberi kesan positif. Sisanya dilanda sindrom antiklimaks, khususnya City, Chelsea, dan Tottenham, yang ketinggalan agregat tiga gol.

Ketika tren buruk terjadi serempak, hal utama yang menjadi kambing hitam selalu sama. Mereka datang dari satu liga, maka masalahnya pun bermula dari sana.

Media-media Inggris serempak menunjuk soal jadwal padat dan level kompetitif tinggi liga itu yang menjadi faktor penghalang. Para pemain dari tim-tim Inggris diduga kelelahan fisik ataupun mental.

Manchester City's head coach Pep Guardiola reacts during a first leg round of 16 Champions League soccer match between Real Madrid and Manchester City in Madrid, Spain, Wednesday, March 11, 2026. ((AP Photo/Jose Breton)

Alasan klasik itu cukup masuk akal. Sebab, sebelum 16 besar, lima dari enam wakil Inggris tersebut bertarung terlebih dulu di putaran kelima Piala FA. Hanya Tottenham yang bisa beristirahat penuh pada akhir pekan lalu. Sisanya harus menjalani laga yang hanya berjarak kurang dari 72 jam.

Persoalan ketatnya jadwal itu yang membuat Manajer City Pep Guardiola pernah kecewa kepada Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Jadwal City dimundurkan dari pukul 15.00 jadi 20.00 waktu setempat. ”Terima kasih karena waktu pemulihan kami akan berkurang untuk menuju Madrid,” kata Guardiola menyindir.

Meskipun begitu, kenyataannya tidak seburuk itu. Banyak dari tim besar tersebut yang merotasi skuad besar-besaran di Piala FA. City, misalnya, mengganti sepuluh pemain sekaligus pada laga pada akhir pekan lalu. Dengan jeda itu, para pemain inti bisa bernapas dari rentang 3-4 hari di setiap laga.

Menyinggung soal kelelahan, hal itu biasanya merujuk pada seberapa banyak pemain tampil. Data menarik muncul dari laga Real Madrid versus City. Pemain selain kiper yang mencatat jumlah penampilan menit terbanyak di semua kompetisi musim ini adalah gelandang Madrid Federico Valverde, sosok yang mencetak trigol ke gawang City.

Kesalahan pemula

Jika faktor kelelahan memang ada, hal itu tetap bukan yang paling signifikan. Masalah utama dari mayoritas duta Inggris adalah akibat kesalahan strategi para pelatih. Masalah itu terlihat jelas dari dua tim asal London, yaitu Tottenham dan Chelsea.

Pelatih dari kedua tim, Igor Tudor (Tottenham) dan Liam Rosenior (Chelsea), sama-sama berstatus pengganti dan minim pengalaman di Liga Champions. Mereka mengganti kiper utama di laga krusial. Tottenham memercayai kiper berusia 22 tahun, Antonin Kinsky, sedangkan Chelsea mengandalkan kiper cadangan Filip Jorgensen.

Peluang Juara Tim Inggris

Maksud kedua pelatih itu sangat jelas. Kinsky dan Jorgensen lebih bagus dalam distribusi bola. Mereka bisa digunakan untuk strategi membangun serangan dari bawah. Masalahnya, mereka dimainkan dalam laga tandang yang penuh tekanan. Kinsky bertandang ke markas Atletico Madrid dan Jorgensen berkunjung ke kandang juara bertahan, Paris Saint-Germain.

Hasilnya adalah bencana. Kinsky dan Jorgensen menjadi ”pendosa” terbesar dari kekalahan tim masing-masing. Mereka membuat blunder saat membangun serangan dari belakang. ”Sebelum laga, (pergantian) itu adalah keputusan yang tepat. Namun, setelah apa yang Anda lihat, itu menjadi keputusan yang salah,” ujar Tudor.

Guardiola, manajer dengan raihan tiga trofi Liga Champions, juga tidak lepas dari kekeliruan. Dia melakukan hal yang tidak perlu, yaitu mengubah komposisi terbaik City.

City tetap menggunakan formasi 4-1-3-2, tetapi memakai dua penyerang sayap sekaligus di posisi gelandang. Nico O’Reilly, yang sudah nyaman di lini tengah, diturunkan lagi menjadi bek sayap.

Sang manajer mengincar kelemahan bek sayap Madrid, Trent Alexander-Arnold, dengan menempatkan Jeremy Doku. Namun, Madrid bisa menutupi lubang di sisi sayap dengan bantuan dari Valverde. Tanpa gelandang lebih, City justru kehilangan intensitas tekanan di lini tengah, terutama ketika menghadapi transisi serangan balik.

Bola mati

Ketegasan wasit turut berpengaruh. Bola mati, belakangan ini, menjadi senjata terbaik di Liga Inggris. Namun, senjata itu ternyata tidak berlaku di kancah Eropa. Liverpool dan Arsenal yang ahli dalam eksekusi tendangan sudut tidak mampu memanfaatkan bola mati karena sangat disorot oleh wasit.

Kontak fisik, yang biasa tidak dihitung pelanggaran di Inggris, dinilai berbeda oleh wasit-wasit Eropa. Tendangan sudut Liverpool berkali-kali tidak menghasilkan apa pun karena tiupan peluit wasit. Mirisnya, mereka justru kemasukan gol dari tendangan sudut. Galatasaray dan Leverkusen mampu mencari celah tanpa banyak menciptakan kontak fisik.

TOPSHOT - Chelsea's Danish goalkeeper #12 Filip Jorgensen concedes his side's fourth goal during the UEFA Champions League round of 16 first leg football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Chelsea at the Parc des Princes stadium in Paris on March 11, 2026. (Photo by ALAIN JOCARD / AFP)

Faktor yang tidak kalah penting adalah status sebagai tim tamu. Lima dari enam wakil Inggris bermain di kandang lawan pada laga pertama. Keuntungan kandang sangat krusial di Liga Champions. Newcastle telah membuktikan itu saat tampil dominan atas Barca di Stadion St James Park.

Bukan tanpa alasan, Newcastle menjadi tim Inggris dengan penampilan terbaik pada tengah pekan lalu. Sandro Tonali dan rekan-rekan tampil berapi-api di depan puluhan ribu pendukung sendiri. Barca, yang tidak mau mengambil risiko, juga lebih berhati-hati. Newcastle hanya kurang beruntung karena kecolongan gol penalti pada pengujung laga.

Duta-duta Inggris memang terlihat kehilangan kontrol. Namun, tidak adil menilai duel babak gugur Liga Champions hanya dari satu laga. Pertandingan baru berlangsung separuhnya, seperti sedang turun minum. Dengan mayoritas dari mereka akan menjalani laga kandang pada pertemuan kedua, semua bisa berbalik dalam sekejap.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji