Menjadi salah satu favorit juara turnamen Final ATP, Carlos Alcaraz kalah pada pertandingan pertama. Dia harus menang pada laga kedua untuk berpeluang ke semifinal.
12 Nov 2024 07:40 WIB · Olahraga
Oleh Yulia Sapthiani - [email protected]
TURIN, SENIN — Sebelum turnamen Final ATP dimulai, Carlos Alcaraz optimistis bisa tampil maksimal karena menjalani persiapan yang baik. Namun, petenis Spanyol itu masih kesulitan bermain di lapangan indoor, jenis lapangan yang digunakan dalam turnamen di pengujung musim kompetisi 2024 tersebut.
Alcaraz menjalani laga pertamanya di Piala Alpitour, Turin, Italia, Senin (11/11/2024), melawan Casper Ruud pada penyisihan Grup John Newcombe. Peluang mengalahkan petenis Norwegia itu begitu besar karena Alcaraz selalu menang dalam empat pertemuan sebelumnya. Namun, seperti pada Final ATP 2023 di tempat yang sama, Alcaraz kalah pada laga pembukanya.
Kekalahan kali ini bahkan lebih buruk dibandingkan dengan kekalahan tiga set dari Alexander Zverev pada pertandingan pertama, setahun lalu. Alcaraz dikalahkan Ruud dengan skor 1-6, 5-7.
Dengan hasil itu, Alcaraz berada di ambang kegagalan melaju ke semifinal, apalagi jika dia kalah pada pertandingan berikutnya melawan Andrey Rublev, Rabu. Rublev juga mengawali penampilan di Final ATP kelimanya dengan kekalahan dari Alexander Zverev, 4-6, 4-6.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/45df8531-b115-443a-9329-42c306fd425c_jpg.jpg)
Dari empat petenis tersebut dan empat petenis lain yang bersaing di Grup Ilie Nastase, hanya dua peringkat teratas setiap grup yang akan tampil di semifinal. Dua petenis yang mendapat kemenangan pertama di Grup Ilie Nastase adalah petenis tuan rumah, Jannik Sinner, dan Taylor Fritz.
Meski memiliki reputasi sebagai empat kali juara Grand Slam dalam usia 21 tahun, dengan dua gelar di antaranya (Perancis Terbuka dan Wimbledon) didapat pada tahun ini, Alcaraz tetap kesulitan pada laga awal di lapangan keras di dalam ruangan.
Lapangan keras adalah lapangan yang memantulkan bola dengan cepat. Oleh karena tak ada halangan berupa embusan angin seperti di lapangan luar ruangan, pantulan bola di lapangan dalam ruangan menjadi lebih cepat. Banyak petenis harus beradaptasi lebih lama meskipun lapangan keras merupakan lapangan yang dikuasai petenis secara umum, dibandingkan lapangan rumput dan tanah liat.
Ini adalah trofi yang menandakan konsistensi penampilan petenis. Sangat-sangat sulit untuk mendapatkannya.
Saat melawan Ruud, Alcaraz membutuhkan waktu lama untuk menemukan ritme permainan yang tepat, baik pada posisi servis maupun menerima servis. Dia pun kesulitan mengontrol laju bola sehingga membuang banyak peluang untuk mendapat poin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/12/4460ccbd5e631cdff616755c2b6480d7-5db50a17d4e5499ea7965a11fcf61548_2_138ff39c14f0424a8135800e2eb4b147.jpg)
Ketika mendapat kesempatan melancarkan voli di depan net, pukulan kerasnya (seperti smes dalam bulu tangkis) tak menukik. Bola jatuh di luar garis belakang lapangan.
Alcaraz membuat 26 unforced error, sedangkan Ruud dengan 10 unforced error. Kesalahan-kesalahan itu menghilangkan kesempatan membuat pertandingan berjalan tiga set, setelah Alcaraz unggul 5-2 pada set kedua.
Saat konferensi pers, Alcaraz mengakui bahwa dia masih kesulitan bermain di lapangan dalam ruangan. ”Kemenangan saya atas Casper pada pertandingan-pertandingan sebelumnya tak berpengaruh. Saya tak punya banyak pengalaman bermain di dalam ruangan, tetapi saya akan menjadi petenis yang bagus di lapangan itu. Saya yakin bisa melakukannya, tetapi masih butuh waktu. Banyak petenis yang lebih baik dari saya di lapangan indoor,” tuturnya.
Buruknya penampilan Alcaraz saat melawan Ruud dipengaruhi faktor lain, yaitu sakit. Beberapa hari sebelum tiba di Turin, Alcaraz sakit. ”Saya tidak ingin menjadikan itu sebagai alasan, tetapi hari ini kondisi saya benar-benar tidak fit karena mengalami masalah di perut,” katanya.
Ruud mengetahui kondisi Alcaraz tersebut. Dia melihat lawannya itu bersin dan berkali-kali membersihkan hidung dengan tisu saat menunggu untuk memasuki lapangan. ”Fisiknya tidak 100 persen baik. Itu menyedihkan karena terjadi saat akan bertanding, tetapi pada saat yang sama ini menjadi bagian dari pertandingan,” ujar Ruud.
Petenis peringkat ketujuh dunia itu berpeluang melanjutkan langkah ke fase berikutnya, apalagi jika menang atas Zverev pada Rabu. Zverev tampil solid ketika mengalahkan Rublev.
Petenis Jerman itu adalah salah satu dari dua peserta Final ATP 2024, selain Daniil Medvedev, yang pernah juara. Zverev meraih trofi dari Final ATP pada 2018 dan 2021.
”Performa saya cukup baik dari awal hingga selesai. Bermain di sini, saya harus tampil konsisten dan kuat secara mental karena berhadapan dengan petenis-petenis terbaik dunia,” ujar Zverev.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/12/a2a8b19596ebb3b5999be07d736504b7-AFP_36M79WC.jpg)
Sebelum laga Zverev melawan Rublev digelar pada Senin sesi malam waktu setempat, ATP memberikan trofi lambang petenis nomor satu dunia akhir tahun kepada Sinner. Momen tersebut sangat berkesan bagi petenis berusia 23 tahun tersebut karena terjadi di negaranya sendiri. Selain penggemarnya, momen tersebut disaksikan orangtuanya di tribune penonton.
”Saya baru saja mendengar bahwa ibu saya menangis. Hanya keluarga saya yang tahu bagaimana perjalanan saya dari kecil. Banyak pengorbanan yang mereka berikan. Sekarang saya berdiri di sini bersama orang-orang terpenting dalam hidup saya,” kata Sinner.
Sinner menempati peringkat teratas dunia sejak 10 Juni dan dia menjadi petenis Italia pertama yang berada pada posisi tersebut. Dia menjadi petenis nomor satu dunia ke-19 sejak pemeringkatan dengan sistem komputerisasi digunakan pada 1973. Hanya ada tiga petenis lain dengan status masih aktif yang pernah menjadi petenis nomor satu dunia, yaitu Alcaraz, Novak Djokovic, dan Rafael Nadal.
”Ini adalah trofi yang menandakan konsistensi penampilan petenis. Sangat-sangat sulit untuk mendapatkannya,” kata Sinner yang menerima trofi tersebut dari Presiden ATP Andrea Gaudenzi dan mantan petenis nomor satu dunia, Boris Becker. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra