Alexander Zverev mempertahankan peluang menjuarai Grand Slam untuk pertama kali. Dia lolos ke final Perancis Terbuka dan akan berhadapan dengan Flavio Cobolli.
06 Jun 2026 07:24 WIB · Olahraga
AFP
PARIS, JUMAT – Untuk kedua kalinya, Alexander Zverev lolos ke final Perancis Terbuka. Untuk keempat kali dalam kariernya sebagai petenis profesional, Zverev pun mendapat peluang menjuarai Grand Slam untuk pertama kalinya.
Kesempatan itu akan terjadi dalam laga melawan Flavio Cobolli di Lapangan Philippe Chatrier, Roland Garros, Paris, Minggu (7/6/2026). Zverev menghentikan langkah petenis Ceko berusia 20 tahun, Jakub Mensik, di semifinal, Sabtu (6/6/2026), dengan skor 7-5, 6-2, 3-6, 6-3. Adapun Cobolli menang tanpa bertanding atas rekannya sesama petenis Italia, Matteo Arnaldi. Arnaldi mundur karena sakit.
Pertandingan pada hari terakhir turnamen nanti menjadi final keempat Zverev yang bersaing di arena tenis profesional sejak 2013. Pada final pertama, di Amerika Serikat Terbuka 2020, petenis Jerman ini sudah sangat dekat dengan trofi juara ketika memenangi dua set awal melawan Dominic Thiem, tetapi dia kehilangan tiga set berikutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/cac33e044684e5300c2856ffc82bffac-wires_photo_3_.jpg)
Dalam dua final terakhir, giliran para petenis muda yang menghentikan targetnya menjadi juara. Carlos Alcaraz mengalahkannya di final Perancis Terbuka 2024, lalu Jannik Sinner menang dalam final Australia Terbuka 2025.
Kali ini, kesempatan bagi Zverev terbuka lebar, bahkan, sejak babak keempat. Sinner sebagai favorit juara tersingkir pada babak kedua, lalu Novak Djokovic pada babak berikutnya. Adapun Alcaraz, juara dalam dua tahun terakhir, absen karena cedera pergelangan tangan kanan.
”Tidak diragukan lagi bahwa memenangi Grand Slam adalah momen penting dalam karier seorang petenis. Ada orang yang memilikinya dan ada orang yang tidak memilikinya. Anda harus menghargai ketabahan pemain yang bertahun-tahun selalu mencoba, tetapi gagal,” kata Zverev dalam laman resmi turnamen.
Menjadi atlet NextGen terbaik di antara rekan-rekan seangkatannya pada 2018, Zverev menjadi petenis yang bisa mempersulit Djokovic dan Rafael Nadal, dua petenis terbaik pada masa itu.
Potensinya seharusnya bisa membawa dia ke podium Grand Slam yang biasanya ditempati Djokovic atau Nadal pada 2018-2023. Apalagi, pada persaingan ATP Tour, Zverev mempunyai 24 gelar juara, termasuk tujuh (dari 13 final) dari ATP Masters 1000.
Zverev berulang kali mengatakan akan menjuarai Grand Slam. Ketika Roger Federer pensiun pada 2022, petenis Jerman ini bahkan berani menyebut akan menjadi bagian dari ”Big Three” bersama Nadal dan Djokovic, untuk menggantikan Federer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/c35ab66d1bf1d5789590865674451210-wires_photo_4_.jpg)
Namun, alih-alih bisa juara dan menjadi Big Three, kekuatan baru datang. Alcaraz dan Sinner menyalip Zverev, Stefanos Tsitsipas, Andrey Rublev, dan petenis NextGen lainnya. Saat ini, Alcaraz memiliki tujuh gelar Grand Slam dan Sinner dengan empat gelar.
Zverev juga dirundung masalah hukum karena melakukan kekerasan pada mantan kekasihnya. Sidang kasus ini berlangsung pada 2023-2024.
”Gelar juara akan sangat berarti untuk Zverev, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya. Dia telah melakukan banyak hal dalam karier, tetapi tidak punya gelar Grand Slam,” kata mantan petenis tunggal putri, Caroline Wozniacki, analis untuk TNT.
Jika juara, Zverev akan menjadi tunggal putra tertua ketujuh yang meraih gelar pertama Grand Slam pada era Terbuka. Dia akan berusia 29 tahun 48 hari seandainya bisa mengangkat trofi ”The Musketeers”, lambang juara tunggal putra Perancis Terbuka.
Di atas Zverev ada Goran Ivanisevic, Rod Laver, Petr Korda, Andres Gomez, Ken Rosewall, dan Andres Gimeno yang menjuarai Grand Slam untuk pertama kali pada usia ”tua”. Mereka juara pada rentang usia 29 hingga 34 tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/561de38728046b9c01521cb74ddde503-wires_photo.jpg)
Bagi Mensik, perjalanan di Roland Garros 2026 memberinya banyak pengalaman pertama yang akan dibawa dalam turnamen lain. Di balik kekalahannya, Mensik bersyukur bisa mencapai semifinal untuk pertama kali di ajang Grand Slam.
”Saya bisa memperlihatkan kemampuan terbaik dan menjaga ritme selama dua pekan, juga mengalahkan banyak petenis top dunia. Banyak pengalaman yang untuk pertama kali saya dapatkan,” kata Mensik.
Sementara kalah walkover (WO) dikatakan Arnaldi bukan jalan yang diinginkannya. ”Saya merasa dalam kondisi kurang baik, semalam. Saat tidur, saya terbangun pada pukul 01.00 dan muntah-muntah. Rasanya memang tidak masuk akal kalau saya memaksakan diri untuk bermain,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/ba1165c575574efa94f06ed136558091-wires_photo_5_.jpg)
Cobolli, yang mendapat kemenangan mudah dari temannya, juga kesulitan menerima situasi tersebut. ”Saat dia mengatakan itu kepada saya, saya hampir menangis. Saya sangat menghormati Matteo,” ujarnya.
Cobolli, yang menjadi unggulan ke-10, akan bermain di final Grand Slam untuk pertama kali. Hasil terbaik dalam turnamen level tertinggi di arena tenis profesional tersebut adalah saat mencapai perempat final Wimbledon 2025. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul