BINA DAMAI

Jalur Diplomatik Tawaran Pakistan Jadi Pilihan AS-Iran Redakan Perang

Setelah berperang lebih dari satu bulan, AS dan Iran menyetujui gencatan senjata. Kedua pihak dijadwalkan bernegosiasi di Islamabad, Pakistan, Jumat (10/4/2026).

08 Apr 2026 09:52 WIB · Internasional

AP/Davoud Ghahrdar/ISNA

Oleh Tim Harian Kompas

ISLAMABAD, RABU — Amerika Serikat dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu. Pembukaan sepenuhnya Selat Hormuz menjadi syaratnya. Proses negosiasi akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Langkah positif ini membuat harga minyak turun signifikan.

Gencatan senjata ini disetujui setelah Presiden AS Donald Trump menunda tenggat serangannya ke Iran atas permintaan Pakistan. Trump setuju menangguhkan pengeboman dan serangan ke Iran asal blokade Selat Hormuz segera dibuka sepenuhnya. Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Rabu (8/4/2026), menyebutkan, upaya diplomatik untuk penyelesaian perang di Timur Tengah terus berjalan dengan mantap. Gencatan senjata sangat diperlukan untuk memungkinkan diplomasi mencapai akhir perang yang tuntas demi kepentingan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut.

In this handout photograph taken on May 7, 2025 and released by the Pakistan's Prime Minister Office, shows the country's Prime Minister Shehbaz Sharif addressing the special session at the National Assembly in Islamabad. India and Pakistan exchanged heavy artillery fire along their contested frontier on May 7 after New Delhi launched deadly missile strikes on its arch-rival, in the worst violence between the nuclear-armed neighbours in two decades.At least 38 deaths were reported, with Islamabad saying 26 civilians were killed by the Indian strikes and firing along the border, and New Delhi adding at least 12 dead from Pakistani shelling. (Photo by Pakistan's Prime Minister Office / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  Pakistan's Prime Minister Office" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

”Dengan kerendahan hati yang sebesar-besarnya, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama dengan sekutu-sekutunya, telah menyetujui gencatan senjata segera di mana pun,” tulisnya di media sosial X.

Dunia menanggapi positif. Harga minyak mentah di bursa minyak Brent turun 13,2 persen, menjadi 94,86 dolar AS per barel. Sementara itu di bursa WTI (West Texas Intermediate) harga minyak rontok 14 persen menjadi 97,12 dolar AS per barel.

Selanjutnya Sharif mengundang delegasi AS dan Iran untuk bernegosiasi di Islamabad, Jumat (10/4/2026). Negosiasi itu diharapkan mencapai kesepakatan yang konklusif untuk menyelesaikan semua perselisihan.

”Kedua pihak telah menunjukkan kebijaksanaan dan pemahaman yang luar biasa dan tetap terlibat secara konstruktif dalam memajukan perdamaian dan stabilitas. Kami sangat berharap Perundingan Islamabad berhasil mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan ingin berbagi lebih banyak kabar baik di hari-hari mendatang,” jelasnya.

Atas permintaan Pakistan, Trump telah menunda tenggat serangannya ke Iran. Sebelum kesepakatan gencatan senjata itu, Trump mengancam akan menghancurkan sejumlah jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur sipil lainnya di Iran. Namun, ia akhirnya menarik kembali ancamannya dan menyetujui negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan.

WASHINGTON, DC - APRIL 06: U.S. President Donald Trump attends a news conference in James S. Brady Press Briefing Room of the White House on April 06, 2026 in Washington, DC. President Trump spoke about the successful military mission to rescue a weapons systems officer whose F-15E Strike Eagle was shot down in Iran.   Anna Moneymaker/Getty Images/AFP (Photo by Anna Moneymaker / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

”Kami menerima proposal 10 poin dari Iran dan percaya bahwa itu adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi. Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara AS dan Iran. Namun, periode dua minggu akan memungkinkan kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” tulisnya di media sosial Truth Social.

Dilansir dari kantor berita Iran, Tasnim, proposal 10 poin merupakan usulan dari Iran untuk mengakhiri perang. Beberapa poinnya adalah meminta AS menjamin komitmen non-agresi, kendali Iran yang berkelanjutan di Selat Hormuz, dan hak pengayaan uranium Iran harus diterima. Selain itu, pencabutan semua sanksi terhadap Iran, pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang, serta penarikan pasukan tempur AS di sekitar Iran.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan telah menerima gencatan senjata selama dua minggu ke depan. Iran akan bernegosiasi dengan AS di Islamabad, Pakistan, Jumat.

Quote

Atas permintaan Pakistan, Trump telah menunda tenggat serangannya ke Iran. Sebelum kesepakatan gencatan senjata itu, Trump mengancam akan menghancurkan sejumlah jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur sipil lainnya di Iran.

”Ditekankan bahwa ini tidak berarti berakhirnya perang. Tangan kami tetap berada di pelatuk, dan jika kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu akan ditanggapi dengan kekuatan penuh,” tulis pernyataan itu.

”Pembukaan” Selat Hormuz

Kesepakatan gencatan senjata ini juga mengisyaratkan pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, jalur vital energi dunia. Sekitar 20 persen minyak global dikirim melalui selat tersebut setiap harinya.

Iran sebenarnya telah mengizinkan tanker dari sejumlah negara untuk melintas. Namun, tidak bagi kapal yang punya keterkaitan dengan AS, Israel, dan pihak mana pun yang disinyalir mendukung serangan ke Iran. Blokade selat ini telah memicu lonjakan harga minyak dan gas.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi jalur aman di Selat Hormuz dalam dua minggu ke depan. Namun, Iran tetap akan memegang kendali di selat itu.

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.

”Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kami yang perkasa akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” ujarnya.

Duta Besar Iran untuk Pakistan Reza Amiri Moghadam menyebut upaya Pakistan untuk menghentikan perang AS-Israel di Iran sebagai langkah maju dari tahap kritis dan sensitif. Pakistan telah menjadi perantara utama proposal yang diajukan oleh Iran dan Amerika Serikat untuk bernegosiasi.

Ancaman Trump yang akan menghancurkan Iran telah menimbulkan kekhawatiran di Timur Tengah. Kuwait mendesak warganya untuk tetap berada di dalam rumah dari tengah malam hingga Rabu pagi. Sementara pelabuhan utama Bahrain mengatakan akan menangguhkan operasinya mulai Rabu pagi.

Kembali ke meja perundingan

Sebelum gencatan senjata tercapai, Trump melemparkan ancaman provokatif terhadap Iran. ”Seluruh peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi,” katanya.

Paus Leo XIV mengatakan, ancaman terhadap seluruh rakyat Iran benar-benar tidak dapat diterima. Menurut Paus, terdapat masalah hukum internasional dalam ancaman tersebut.

Paus Leo XIV menyapa umat dari balkon utama St. Basilika Petrus untuk menyampaikan Urbi et Orbi dan berkat bagi kota dan dunia.

”Kita menghadapi krisis ekonomi global, krisis energi, dan situasi di Timur Tengah yang sangat tidak stabil, yang hanya memicu lebih banyak kebencian di seluruh dunia,” ujarnya dilansir dari Vatican News.

Paus mengingatkan, banyak orang tidak bersalah, terutama anak-anak, telah menjadi korban dari perang yang berkepanjangan. Ia menegaskan, serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional.

”Mari kita kembali ke meja perundingan. Mari kita bicara. Mari kita cari solusi dengan cara damai,” ucapnya.

Perwakilan Iran di PBB, Amir-Saeid Iravani, mengatakan, ancaman Trump merupakan hasutan untuk kejahatan perang dan berpotensi melakukan genosida. Iran akan membalasnya jika Trump melancarkan serangan destruktif ke Iran.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tim Harian Kompas
 | 

Editor:

Billy Khaerudin