Alwi Farhan Meniti Jejak Kunlavut Vitidsarn

Untuk pertama kali, Alwi Farhan melawan tunggal putra nomor satu dunia, Kunlavut Vitidsarn. Meski kalah, Alwi memberi perlawanan tiga gim.

22 Jul 2025 14:24 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

CHANGZHOU, SELASA — Ketika pebulu tangkis senior kalah bersaing dengan atlet negara lain dalam persaingan level dunia, Indonesia bisa berharap pada atlet masa depan seperti Alwi Farhan dan Putri Kusuma Wardani. Perjalanan menjadi atlet top dunia masih jauh, tetapi mereka memperlihatkan potensi tersebut.

Salah satu potensi itu diperlihatkan Alwi saat berhadapan dengan tunggal putra ranking teratas dunia untuk pertama kalinya, Kunlavut Vitidsarn, pada babak pertama China Terbuka. Di Changzhou Olympics Sports Centre, Selasa (22/7/2025), Alwi memaksa Vitidsarn bermain tiga gim dalam durasi satu jam lima menit meski akhirnya kalah dengan skor 21-10, 15-21, 18-21.

Pertandingan pada hari pertama turnamen BWF World Tour Super 1000 tersebut menjadi pertemuan dua pemain yang pernah menjadi juara dunia yunior. Vitidsarn adalah tiga kali juara dunia yunior 2017-2019, sementara Alwi menjadi juara di antara atlet-atlet berusia 18 tahun ke bawah pada 2023.  

Kemampuan Vitidsarn, atlet yang kini berusia 24 tahun, terus berkembang ketika memasuki level lebih tinggi, yaitu dalam persaingan BWF World Tour. Selain kemampuan teknis, fisiknya berubah menjadi lebih berotot.

Dalam rangkaian turnamen BWF World Tour, Vitidsarn memiliki tujuh gelar juara dari level Super 300, 500, dan 750. Walaupun belum pernah menjuarai Super 1000, dia memiliki prestasi dalam level lebih tinggi, yaitu menjadi finalis Kejuaraan Dunia 2022, juara dunia 2023, dan meraih medali perak Olimpiade Paris 2024.

Empat gelar juara pada enam bulan pertama 2025 mengantarkan atlet Thailand itu menempati peringkat teratas dunia untuk pertama kali sejak Juni.

Alwi Farhan berhadapan dengan Kunlavut Vitidsarn pada babak pertama China Terbuka di Changzhou, Selasa (22/7/2025). Alwi kalah tiga gim dari Vitidsarn.

Alwi, yang empat tahun lebih muda, tengah meniti jalan itu. Setelah mengikuti delapan turnamen BWF World Tour, termasuk dari fase kualifikasi, pada 2024, Alwi memiliki kesempatan mengikuti lebih banyak turnamen pada 2025.

Kesempatan itu didapat berkat peringkatnya yang naik dari posisi ke-60-an pada 2024 menjadi 40 besar sejak awal 2025. Pekan ini, Alwi berada di posisi tertinggi yang pernah ditempatinya, yaitu ranking ke-25 dunia.

Namun, untuk bisa menapaki jejak yang sama seperti Vitidsarn, Alwi masih harus meningkatkan semua faktor kemampuan, teknis dan nonteknis. Tak hanya dalam latihan, kemampuannya harus diasah dalam turnamen.

Pada 2025, Alwi mendapat pengalaman lebih banyak melawan pemain top dunia, seperti Viktor Axelsen dan Anders Antonsen. Dia bahkan mengalahkan Antonsen dalam kejuaraan beregu Piala Sudirman sebelum dibalas Antonsen pada babak kedua Indonesia Terbuka.

Selain dari dua pemain Denmark itu, Alwi mendapat tambahan pelajaran dari pertandingan melawan Kenta Nishimoto, Weng Hong Yang, Prannoy HS, dan Alex Lanier. Lanier, yang mengalahkannya pada babak kedua Jepang Terbuka, pekan lalu, adalah pemain Perancis seusia Alwi yang bersaing sejak era yunior. Saat ini, Lanier menempati peringkat kesembilan dunia.

Di China Terbuka, turnamen Super 1000 kedua bagi Alwi setelah Indonesia Terbuka, tunggal putra nomor satu di pelatnas itu akhirnya berjumpa Vitidsarn.

”Melawan pemain peringkat satu dunia menjadi kesempatan bagus untuk menilai kemampuan saya sebagai bahan evaluasi ke depan. Saya bersyukur mendapat hasil ini, tetapi performa saya kurang stabil. Pada gim ketiga, misalnya, saya bisa mengejar, tetapi masih terburu-buru dalam penyelesaian akhir. Sementara Kunlavut bisa mengontrol permainan dengan lebih baik,” tutur Alwi.

Pada gim ketiga, Alwi tertinggal dengan selisih terjauh enam poin pada skor 7-13. Setelah itu, dia menyamakan skor di posisi 14-14 hingga 16-16. Namun, Alwi tak bisa mempertahankan performanya pada momen kritis dengan membuat kesalahan. Poin terakhir Vitidsarn, misalnya, didapat dari kesalahan Alwi ketika tak bisa menyeberangkan kok melalui backhand di dekat net.

Dari perjalanannya pada tahun ini, termasuk melawan Vitidsarn, Alwi memiliki sisi positif yang bisa dipertahankan. ”Melawan siapa saja, saya tidak merasa gugup dan level saya tidak begitu jauh dari mereka. Hanya saja, saya masih harus banyak belajar tentang strategi di lapangan. Ini bagian dari proses dan pengembangan kepercayaan diri saya,” katanya.

Putri Kusuma Wardani kesulitan mengembalikan pukulan dari Sim Yu-jin pada babak pertama China Terbuka di Changzhou, Selasa (22/7/2025). Putri tersingkir.

PR sama untuk Putri

Pada sektor tunggal putri, Putri Kusuma Wardani memperlihatkan perkembangan kemampuan sepanjang 2025. Dia bisa bermain semakin tenang dan sabar saat berhadapan dengan pemain-pemain top dunia.

Akan tetapi, Putri masih memiliki pekerjaan rumah yang sama dalam setiap kekalahan, yaitu mempertahankan konsistensi permainan sepanjang pertandingan. Saat melawan Sim Yu-jin pada babak pertama China Terbuka, Putri berkali-kali melancarkan pukulan yang justru menjadi peluang bagi Sim untuk mendapat poin.

”Saya kurang bisa membaca pergerakan lawan sehingga dia mendapat kesempatan untuk merancang serangan. PR saya dalam dua turnamen terakhir masih sama, yaitu faktor fokus dan konsistensi bermain. Pada poin krusial, fokus saya masih naik-turun,” ujar Putri yang kalah 14-21, 21-14, 19-21 dari Sim.

Momen serupa dialami pemain peringkat kesepuluh dunia itu di Jepang Terbuka. Atlet berusia 23 tahun itu memiliki kesempatan mengalahkan pemain ranking kedua dunia, Wang Zhi Yi, di perempat fnal, tetapi kalah 22-20, 17-21, 16-21 karena sering membuat kesalahan pada momen krusial.

Kekurangan tersebut akhirnya membuat Putri baru bisa menciptakan momen ”hampir menang” saat melawan pemain-pemain top dunia. Dia masih memiliki pekerjaan rumah untuk menang dan menjadi bagian dari persaingan elite dunia di tunggal putri.

Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja memenangi babak pertama turnamen China Terbuka di Changzhou, Selasa (22/7/2025).

Dari pertandingan sesi awal pada hari pertama China Terbuka, wakil Indonesia yang bisa memenangi babak pertama adalah Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja. Mereka mengalahkan Ashith Surya/Amrutha Pramuthesh, 21-12, 21-17 untuk berhadapan dengan unggulan kedelapan, Hiroki Midorikawa/Natsu Saito, pada babak kedua.

Pemain lain yang tampil di hari pembuka adalah Gregoria Mariska Tunjung serta dua ganda putra, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

China juara Asia

Dari Kejuaraan Asia Yunior Beregu di Solo, Jawa Tengah, China menjadi tim terbaik setelah mengalahkan Thailand, 110-90, di final. Dengan hasil ini, China mempertahankan gelar juara yang setahun sebelumnya didapat di Yogyakarta.

Kejuaraan ini menggunakan format relay point. Sistem yang digunakan pada Kejuaraan Dunia Yunior Beregu 2024 di China ini terdiri atas lima nomor yang digelar dalam dua putaran pada setiap pertandingan. Maka, pertemuan antardua tim terdiri atas sepuluh partai.

Setiap partai berakhir jika salah satu pemain memperoleh poin kelipatan 11, yaitu 11, 22, 33, dan seterusnya hingga salah satu tim mencapai 110 poin. Formasi atlet pada lima partai pertama boleh berbeda dengan lima partai berikutnya.

Dalam sepuluh partai tersebut, China unggul pada delapan partai. Pemain Thailand bisa membalikkan situasi pada partai keempat dan kelima melalui nomor ganda putri dan tunggal putri.

Setelah tunggal putri Yataweemin Ketklieng mengalahkan Yi Qing Yin pada partai kelima, China bahkan tertinggal sepuluh poin, 45-55. Namun, tunggal putra Liu Yu Yang Ming tampil dengan performa luar biasa saat berhadapan dengan Patcharakit Apiratchataset dengan keunggulan 21-10. China pun memimpin kembali, 66-65, dan keunggulan itu dipertahankan hingga partai terakhir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar