Indonesia melawan Korea Selatan menjadi laga terketat dalam perempat final Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Yunior Beregu. Indonesia tersingkir dengan selisih satu poin.
21 Jul 2025 18:29 WIB · Olahraga
SURAKARTA, SENIN – Bermain dalam kejuaraan beregu berarti bertanggung jawab untuk diri sendiri dan tim. Ditambah dengan sistem relay point, yang diberlakukan pada Kejuaraan Asia Bulu Tangkis Yunior, atlet-atlet Indonesia kalah dari Korea Selatan dalam menghadapi tekanan.
Momen tersebut terjadi pada perempat final yang berlangsung di GOR Manahan, Surakarta, Jawa Tengah, Senin (21/7/2025). Indonesia kalah dengan skor total 110-109, meskipun unggul dalam enam dari sepuluh partai.
Dengan hasil tersebut, Indonesia tersingkir satu babak lebih awal dibandingkan saat mencapai semifinal pada 2024 di Yogyakarta. Setahun lalu, langkah Indonesia juga dihentikan Korea Selatan.
Pada semifinal, Senin sore, Korea Selatan kembali bertanding dalam laga ketat melawan Thailand, tetapi kali ini kalah 106-110. Di final, Selasa, Thailand akan berebut gelar juara dengan China yang menang atas Jepang 110-82.
Berbeda dengan kejuaraan beregu campuran tahun-tahun sebelumnya, yang menggunakan format seperti Piala Sudirman dengan sistem skor 3x21 poin, persaingan di Surakarta memakai relay point.
Sistem yang digunakan pada Kejuaraan Dunia Yunior Beregu 2024 di China ini terdiri atas lima nomor yang digelar dalam dua putaran pada setiap pertandingan. Dengan demikian, pertemuan antara dua tim terdiri atas sepuluh partai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/21/93da198afbffae3447a34822431a3029-WhatsApp_Image_2025_07_21_at_16.36.06_1_.jpeg)
Setiap partai berakhir jika salah satu pemain memperoleh poin kelipatan 11, yaitu 11, 22, 33, dan seterusnya hingga salah satu tim mencapai 110 poin. Formasi atlet pada lima partai pertama boleh berbeda dengan lima partai berikutnya.
Dengan sistem itu, atlet dituntut beradaptasi dengan cepat begitu perebutan poin dimulai karena setiap partai berlangsung cepat. Banyak laga yang berlangsung kurang dari sepuluh menit.
Keunggulan, apalagi dengan skor jauh, dari lawan sangat berarti dibandingkan dengan jumlah partai yang dimenangi. Situasi ini sama seperti lomba lari estafet nomor jarak pendek dengan jumlah empat atlet dalam setiap tim. Pemenang adalah tim yang mencapai finis tercepat, apapun momen yang terjadi pada setiap atlet.
Adu cepat setiap pelari dalam estafet 4x100 meter tergambar dalam pertemuan Indonesia dan Korea Selatan di lapangan bulu tangkis. Meski hanya memenangi empat partai, atlet-atlet Korea Selatan unggul dengan selisih lima hingga delapan poin.
Saya harus menjaga fokus untuk tampil di perorangan. - Mohammad Zaki Ubaidillah -
Adapun skuad Indonesia, pada umumnya, hanya unggul satu hingga dua poin. Hanya tunggal putra, Mohammad Zaki Ubaidillah, yang bisa unggul enam poin pada putaran pertama dan delapan poin di putaran kedua.
Setelah Indonesia unggul 11-5 melalui Zaki pada partai pertama, selisih skor menipis menjadi satu poin usai partai kedua yang mempertandingkan nomor ganda putri. Setelah itu, Indonesia berbalik tertinggal pada partai ketiga hingga kelima sebelum Zaki membawa timnya kembali unggul, 66-60.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/19008d6c9a84511c85344ab12ba83728-20250421ags9.jpg)
Zaki bermain lagi pada partai keenam ketika Indonesia tertinggal 53-55. Maka, untuk mencapai angka 66 lebih dulu, semifinalis Kejuaraan Dunia Yunior 2024 itu harus mendapat 13 poin. Dia berhasil melakukannya dan membuat Indonesia unggul.
Namun, bersaing dalam kejuaraan beregu tak bisa hanya mengandalkan satu-dua pemain. Saat pemain lain tak tampil baik, situasi berubah. Hal itu pula yang terjadi pada partai ketujuh dan kedelapan. Kekalahan Rinjani Kwinara Nastine/Riska Anggraini (ganda putri) dan Devin Artha Wahyudi/Rinjani (ganda campuran) kembali membuat Indonesia tertinggal, kali ini dengan skor 84-88.
Thalita Ramadhani Wiryawan (tunggal putri) dan Ikhsan Lintang Pramudya/Devin (ganda putra) sebenarnya unggul atas lawan masing-masing pada dua partai terakhir. Akan tetapi, keunggulan mereka tak cukup membawa Indonesia mendapati poin 110 lebih dulu.
Ikhsan/Devin, yang memulai pertandingan pada skor 97-99, sempat membuka harapan lolosnya Indonesia ke semifinal ketika mendapat match point 109-108 setelah mencapai skor imbang pada posisi 105-105 hingga 108-108 dengan Cho Hyeong-woo/Lee Hyeong-woo. Namun, mereka kalah tenang dibandingkan lawan pada momen kritis.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian menilai, performa atlet di sektor ganda campuran dan putri tidak seperti yang diharapkan. Setelah Indonesia unggul melalui Zaki, pemain dari dua nomor itu tidak dapat mempertahankan momentum.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/21/0a0602cfec58c40d9df69221128f2b77-WhatsApp_Image_2025_07_21_at_16.35.21.jpeg)
“Dengan hasil akhir 110-109, akan ada evaluasi dan perbaikan di beberapa sektor karena terlihat adanya kekuatan yang belum merata. Selain itu, banyak pemain yang baru bermain di beregu untuk level internasional dan ketika bermain di rumah sendiri justru menjadi beban. Saya harapkan, mereka tampil lebih baik dalam persaingan individu,” tutur Eng Hian.
Setelah beregu campuran, yang berlangsung 18-22 Juli, atlet-atlet Asia berusia 18 tahun ke bawah akan bertanding pada kategori individu di tempat yang sama, 23-27 Juli. Zaki menargetkan bisa mengeluarkan kemampuan terbaik hingga menjadi juara.
“Persiapan sudah baik. Mungkin, yang akan menjadi catatan, saya jangan berpikir berlebihan tentang kekalahan Indonesia di beregu. Saya harus menjaga fokus untuk tampil di perorangan,” kata Zaki.
Dari persaingan turnamen BWF World Tour, ganda putri Indonesia, Siti Fadia Silva Ramdhanti/Lanny Tria Mayasari, batal bertanding di China Terbuka yang berlangsung di Changzhou, 22-27 Juli. Mereka tak jadi bermain karena Fadia sakit hingga langsung kembali ke Jakarta setelah tampil di Jepang terbuka, 15-20 Juli. Di Jepang, Fadia/Lanny mencapai perempat final.
Karel Mainaky, pelatih ganda putri pelatnas Indonesia, menuturkan, Fadia sakit sejak menjelang perempat final Jepang Terbuka. “Pagi hari, sebelum pertandingan, dia mengatakan tidak enak badan, tetapi tetap mau main. Setelah itu, kondisinya memburuk. Dia demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Setelah diobservasi bersama dokter, diputuskan, Fadia harus istirahat dan mundur dari China Terbuka,” kata Karel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/04/8375fc44b0ac4e273dca751715e71cc7-cropped_image.jpg)
Dengan mundurnya Fadia/Lanny, ganda putri Indonesia hanya akan mengandalkan Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi. Karel menargetkan pasangan tersebut bisa mencapai semifinal.
"Melihat penampilan Ana/Tiwi di Jepang, daya juang dan stamina sudah cukup baik. Tinggal keyakinan yang harus ditambah. Masih ada ragu-ragu saat masuk ke fase krusial," ujar Karel.
Febriana/Amalia menjadi salah satu dari 12 wakil yang akan tampil di China Terbuka. Di antara mereka ada Anthony Sinisuka Ginting dan Gregoria Mariska Tunjung yang tampil di Jepang setelah beberapa bulan absen dari turnamen. Anthony hanya tampil di Malaysia Terbuka, Januari, karena cedera bahu kanan sebelum kembali ke persaingan di Jepang, adapun Gregoria bermain kembali setelah beristirahat tiga bulan karena vertigo.
Gregoria akan menjalani babak pertama melawan Kaoru Sugiyama (Jepang), Selasa. Rekannya yang juga tampil pada hari pembuka, di antaranya, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Putri Kusuma Wardani, dan Alwi Farhan yang akan berhadapan dengan tunggal putra nomor satu dunia, Kunlavut Vitidsarn.
China Terbuka adalah turnamen berlevel Super 1000 terakhir pada 2025. Dalam struktur turnamen BWF World Tour, hanya ada empat turnamen di level tinggi ini, yaitu Malaysia Terbuka, All England, Indonesia Terbuka, dan China Terbuka.
Hasil perempat final Kejuaraan Asia Yunior Beregu
Indonesia – Korea Selatan 109-110
Thailand – Hong Kong 110-98
China – Malaysia 110-64
Jepang – India 110-104
Hasil semifinal
Thailand – Korea Selatan
China – Jepang
Indonesia – Korea Selatan
1. Mohammad Zaki Ubaidillah – Kim Min-seung 11-5
2. Rinjani Kwinara Nastine/Riska Anggraini – Cheon Hye-in/Moon In-seo 22-21 (Rinjani/Riska kalah 11-16)
3. Theodorus Steve Kurniawan/Luna Rianty Saffana – Lee Hyeong-woo/Cheon 26-33 (Theodorus/Luna kalah 4-12)
4. Thalita Ramadhani Wiryawan – Kim Bo-hye 40-44 (Thalita menang 14-11)
5. Ikhsan Lintang Pramudya/Devin Artha Wahyudi – Cho Hyeong-woo/Lee 53-55 (Ikhsan/Devin menang 13-11)
6. Zaki – Kim 66-60 (Zaki menang 13-5)
7. Rinjani/Riska – Cheon/Moon 77-76 (Rinjani/Riska kalah 11-16)
8. Devin/Rinjani – Lee/Cheon 84-88 (Devin/Rinjani kalah 7-12)
9. Thalita – Kim 97-99 (Thalita menang 13-11)
10. Ikhsan/Devin – Cho/Lee 109-110 (Ikhsan/Devin menang 12-11)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus Harjono