Meski masih sama-sama beradaptasi, pasangan yang baru dipasangkan ini kompak melewati laga pertama dengan kemenangan di Indonesia Masters 2026.
20 Jan 2026 22:04 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2026 menjadi ajang tes bagi ganda putri yang bertukar pasangan, Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Lanny Tria Mayasari/Apriyani Rahayu. Meski masih sama-sama beradaptasi, mereka kompak melewati laga pertama dengan kemenangan.
Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti lebih dulu menang atas pasangan Thailand, Omnicha Jongsathapornparn/Sukitta Suwachai, dengan skor 21-8, 21-15, dalam pertandingan babak 32 besar di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Lanny/Apriyani menyusul dengan kemenangan atas wakil China yang sama-sama pasangan baru, Bao Li Jing/Lin Yi Jing, 21-14, 21-13.
Menurut Fadia, tidak ada kesulitan berarti berpasangan dengan Amallia. Apalagi, Indonesia Masters bukan kali pertama mereka bermain bersama. Sebelum perombakan pada awal tahun ini, Amallia/Fadia pernah dipasangkan pada satu pertandingan, tepatnya di partai kelima semifinal Piala Sudirman 2025.
Selain itu, tidak ada juga kendala komunikasi yang dirasakan Fadia bersama Amallia. Meski begitu, Fadia menilai mereka masih perlu adaptasi, terutama terkait rotasi di lapangan. ”Kami, kan, setiap hari latihan bareng. Cuma namanya kalau udah pertandingan, (pasti beda). Kalau sama partner lama udah tau kebiasaan masing-masing. Jadi, masih menyesuaikan aja di lapangan,” ujar Fadia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/20/66db56bf-5dc9-4506-8eb5-bbc73246f51e.jpg)
Fadia sebelumnya berpasangan dengan Apriyani, sedangkan Amallia bermain bersama Lanny. Pada awal tahun, duet baru akhirnya dibentuk karena performa mereka belum memuaskan sebagai pasangan menurut pelatih ganda putri, Karel Mainaky.
Alhasil, keputusan menukar pasangan pun diambil. Fadia/Amallia dan Apriyani/Lanny sama-sama debut di turnamen tur BWF di Indonesia Masters.
Menurut Karel, keputusan juga diambil berdasarkan pertimbangan Fadia lebih membutuhkan pasangan yang punya kekuatan di area belakang. Amallia punya kekuatan yang dibutuhkan tersebut. Adapun Apriyani membutuhkan pasangan yang tidak hanya punya kekuatan, tetapi juga bisa rotasi.
Fadia menilai Amallia memang punya kekuatan yang dia tidak punya, terutama di area belakang. Sementara itu, Amallia menilai Fadia punya kelebihan berupa gerakan yang cekatan ketika bermain di area depan.
”Depannya, kan, kayak whipper ya. Terus kuat juga, tahan. Dari pengalaman Kak Fad, juga, kan jauh lebih di atas saya. Jadi, saya enggak mau menyia-nyiakan kesempatan (berpasangan),” kata Amallia.
Di lapangan, Fadia dan Amallia terlihat saling melengkapi dengan kelebihan masing-masing. Permainan cepat Fadia di depan net berpadu dengan smes-smes kencang Amallia. Keunggulan yang jauh juga membuat mereka bisa bermain nyaman dengan menunjukkan kelebihan masing-masing.
Bisa disimpulkan sih mainnya sudah nyaman. Di sisi lain, pasangan China yang juga baru masih kagok-kagok mainnya. Jadi, kita tekan terus, ambil kesempatan di situ.
Menurut Amallia, Indonesia Masters juga jadi tempat mereka melihat posisi mereka di persaingan ganda putri. Amallia ingin melihat seberapa kuat kekuatan mereka dan seberapa jauh mereka bisa melangkah.
Adapun Apriyani mengatakan, pada awal laga, mereka tidak bisa langsung menemukan pola permainan yang pas. Mereka juga masih meraba-raba kondisi angin. Alhasil, kejar-kejaran poin dengan pasangan China yang juga baru debut di Indonesia Masters ini pun tak terhindarkan.
Namun, Apriyani dan Lanny tak butuh waktu lama untuk menemukan pola permainan yang cocok untuk mereka. Selepas interval, Apriyani dan Lanny mulai bisa bermain dengan nyaman. Pada gim kedua, mereka malah semakin mendominasi.
”Bisa disimpulkan sih mainnya sudah nyaman. Di sisi lain, pasangan China yang juga baru masih kagok-kagok mainnya. Jadi, kita tekan terus, ambil kesempatan di situ,” ujar Apriyani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/20/6c766113-743f-43d7-8d64-81e8a33e223a.jpg)
Meski begitu, Apriyani mengatakan, proses adaptasi akan terus berjalan. Apalagi, terkait pola permainan, mereka akan terus mencari cara main paling nyaman dan terbaik untuk mereka.
Menurut Lanny, adaptasi mereka bisa cepat karena sudah berlatih bersama sejak akhir tahun. Selain itu, Lanny juga menilai, karakter permainan mereka pun mirip. ”Kami sama-sama pemain yang bisa menyerang cepat. Jadi, kami juga enggak terlalu lama untuk melakukan rotasi-rotasi,” ujar Lanny.
Setelah Kejuaraan Dunia di Perancis, 25-31 Agustus, sektor ganda putri merombak pasangan, yaitu Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspita Sari, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Amallia/Lanny Tria Mayasari. Di antara mereka, hasil terbaik didapat Rachel/Febi yang menjuarai Australia Terbuka Super 500 dengan mengalahkan Febriana/Meilysa di final.
Semula, Karel Mainaky berencana ”mematenkan” pasangan-pasangan tersebut dengan target menghadapi kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028. Namun, perubahan formasi kembali dibuat, terutama pada dua pasangan yang tertinggal dari Rachel/Febi dan Febriana/Meilysa, yaitu Apriyani/Fadia dan Lanny/Amallia.
Perombakan yang berulang ini, menurut Apriyani, sebenarnya menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, perombakan itu juga merupakan risiko ketika seorang pemain sudah berstatus profesional. Apalagi, perombakan diterapkan untuk menjawab kebutuhan pelatih maupun pemain.
”Sebenarnya enggak ada yang mau dipecah-pecah, bahkan itu Lanny, setelah sama Fadia, lalu sama Tiwi (Amallia), sekarang dengan saya. Begitu juga Fadia. Semua yang dipecah-pecah pasti akan tidak nyaman,” ujar Apriyani sebelum Indonesia Masters.
”Namun, ini sudah dibicarakan semua dengan pelatih dan ini memang sudah jalan terbaik,” tutur peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia Polii ini.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan