Ada berbagai faktor yang membuat Indonesia Masters 2026 jadi kesempatan terbaik pebulu tangkis Indonesia untuk mengukir kejayaan dan tak mengulang nirgelar.
18 Jan 2026 09:00 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Setelah pada edisi 2025 terpaksa harus nirgelar, Indonesia kini punya banyak alasan untuk tidak merasakan kenyataan pahit yang sama. Waktu persiapan lebih panjang, absennya beberapa pemain bintang, dan tampil di hadapan publik sendiri cukup untuk menjadikan Indonesia Masters 2026 momentum bagi pebulu tangkis Indonesia berjaya.
Indonesia mengirimkan total 38 atlet yang tersebar di lima sektor untuk berlaga di Indonesia Masters 2026, 20-25 Januari, di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Dalam turnamen level Super 500 itu, para atlet Indonesia membawa ambisi besar untuk meraih kejayaan di rumah sendiri.
Salah satunya adalah tunggal putra, Alwi Farhan. Tahun lalu, Alwi mengakhiri penantian untuk tampil di Istora dengan mendapatkan kesempatan bertanding di Indonesia Masters melalui babak kualifikasi. Namun, kesempatan debut itu tidak sesuai bayangan Alwi.
Pebulu tangkis berusia 20 tahun ini justru langsung takluk pada laga perdana. ”Kalau sekarang, saya mungkin sudah tahu, sudah lebih kenal dengan hawa-hawa Istora. Karena itu, saya harus bisa lebih mengatur keinginan saya yang besar dan hawa nafsu saya,” ujar Alwi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/21/3cd3e22a-c45b-4f1e-97fe-da476ffa4ec3.jpg)
Setelah kegagalan di Indonesia Masters, Alwi mampu tampil lebih baik ketika kembali ke Istora di turnamen berlevel lebih tinggi, Indonesia Terbuka, lima bulan berselang. Alwi mampu menembus babak kedua turnamen Super 1000 tersebut.
Pada level Super 500, Alwi juga menunjukkan peningkatan performa. Dimulai dari menembus perempat final di Hong Kong Terbuka 2025, ia kemudian mencicipi peringkat ketiga di Korea Terbuka 2026.
Selain punya lebih banyak pengalaman bersaing di turnamen-turnamen level menengah, Alwi juga mengatakan punya keuntungan waktu persiapan yang panjang. Seperti kebanyakan atlet Indonesia lainnya, ia tidak ikut serta di India Terbuka Super 750 yang digelar pekan ini.
Alhasil, setelah tersingkir di babak pertama turnamen awal tahun, Malaysia Terbuka Super 1000, Alwi bisa memulihkan kondisi dan fokus mempersiapkan diri untuk Indonesia Masters. Apalagi, di Malaysia Terbuka, penghuni ranking ke-17 dunia yang berstatus tunggal putra nomor satu pelatnas ini juga tersingkir dalam kondisi tubuh yang tidak fit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/8e8598a7b99170d9cf3fcc9508b9d236-20260115_DMS_Bultang_Indonesia_Masters_2_mumed.png)
Selepas interval gim ketiga melawan Alex Lanier (Perancis), permainan dan gerakan Alwi melemah. Alwi berkali-kali tampak terbungkuk sambil menahan rasa sakit dan sempat meminta bantuan medis. Alwi juga sempat menepi dari lapangan. Sambil tampak berusaha keras mengatur napas, Alwi memegang perutnya.
Alwi merasakan sesak napas dan sakit pada lambung. Pengalaman serupa pernah dirasakannya sebelumnya. Namun, ia enggan menceritakan penyebab utamanya.
Yang jelas, kata Alwi, ia mengonsumsi obat penghilang rasa sakit sebelum pertandingan. Meski sudah sarapan, Alwi mengonsumsi obat dalam kondisi belum makan siang karena mengejar waktu pertandingan.
”Lambung saya seperti rasanya ditekan, ditusuk-tusuk gitu, jadi sangat sakit. Saya butuh waktu recovery selama tiga hari agar rasa sakitnya hilang, tetapi lemasnya masih sampai Sabtu atau Minggu. Namun, mulai minggu ini, saya sudah pulih dengan baik dan siap buat Indonesia Masters,” ujar Alwi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/09/353ec07f069229f5ca5bb668baf02ee9-FajarFikri9_QF_MalaysiaOpen2026_PBSI_20260109.jpg)
Seperti Alwi, ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri juga menilai keputusan untuk melewatkan India Terbuka memberi keuntungan berupa waktu persiapan yang lebih panjang untuk Indonesia Masters. Fajar mengatakan, mereka ingin bermain di hadapan publik sendiri dalam kondisi yang benar-benar fit.
Untuk itu, mereka tidak melanjutkan tur awal tahun ke India Terbuka setelah terhenti di semifinal Malaysia Terbuka. Sebab, menurut Fajar, menjalani turnamen tiga kali berturut-turut akan sangat menguras tenaga.
”Dari pengurus dan pelatih juga fokus buat Indonesia Masters karena di Indonesia ini, kan, turnamen ketiga. Jadi biasanya turnamen ketiga kalau yang back to back itu tenaganya sudah sisa-sisa. Dilihat dari itu, ya mungkin saya juga sudah tidak muda lagi. Namun, di balik itu semua, kami ingin yang terbaik,” ujar Fajar.
Terlebih, ganda putra menargetkan juara Indonesia Masters. Hal itu disampaikan pelatih ganda putra pelatnas, Antonius Budi Ariantho. Menurut Antonius, target itu realistis. Apalagi, para atlet Indonesia mendapatkan keuntungan bermain di hadapan publik sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/01/20/594a3a74-529f-48b2-8a48-c3adbd1b6cae.jpg)
Di sisi lain, sektor ini juga sebenarnya merupakan pemberi gelar terbanyak bagi Indonesia di Indonesia Masters dengan total 12 titel. Empat gelar di antaranya diraih Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Menurut Antonius, jalan empat wakil Indonesia untuk menjadi juara memang tidak akan mudah. Meski peringkat satu dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan) absen, masih akan tantangan dari ganda putra dengan peringkat di bawah Kim/Seo dan di atas Fajar/Fikri, seperti Aaron Chia/Soh Wooi Yik.
Selain itu, pasangan yang peringkatnya di bawah Fajar/Fikri juga tetap perlu diwaspadai, seperti wakil Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. ”Tentu di ganda putra itu, kan, kita tidak boleh lengah (peringkat) di bawah-bawahnya juga itu seimbang semua. Kita lengah dikit atau kita tidak in mainnya atau saat start di lapangan tidak bagus, kita bisa kalah,” ujar Antonius.
Selain pemain bintang dari sektor ganda putra, Indonesia Masters juga tak diikuti beberapa pemain bintang dari sektor lain, seperti tunggal putri dan ganda putri setelah sebagian besar main di Malaysia Terbuka dan India Terbuka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/74fadbe7ea40be68e078ed16c71c637e-20260115_DMS_Bultang_Indonesia_Masters_1_mumed.png)
Persaingan di ganda putri, misalnya, tidak akan diikuti pasangan nomor satu dunia, Liu Sheng Shu/Tan Ning. Begitu pula di tunggal putri yang tidak akan diramaikan pemain nomor satu dunia, An Se-young, dan pemain peringkat tiga dunia, Akane Yamaguchi.
Absennya dua pemain elite dunia ini pun bisa jadi keuntungan tersendiri bagi tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani. Apalagi, Putri akan jadi tumpuan harapan Indonesia sebagai tunggal putri satu-satunya tuan rumah yang berlaga di Istora.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan