Larangan perjalanan yang diberlakukan Donald Trump dipastikan tidak berdampak pada Piala Dunia dan Olimpiade di AS. Namun, larangan itu masih menimbulkan ambiguitas.
07 Jun 2025 15:37 WIB · Olahraga
WASHINGTON, SABTU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan larangan perjalanan terhadap 12 negara. Kebijakan itu dipercaya tidak akan mengganggu penyelenggaraan dua agenda olahraga besar di AS, Piala Dunia 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028. Meski demikian, ambiguitas masih menyelimuti kebijakan larangan tersebut sehingga belum ada jaminan agenda olahraga lainnya tidak terdampak.
Selain Olimpiade dan Piala Dunia, AS juga akan menjadi tuan rumah Piala Emas Concacaf pada Juni hingga Juli 2025. Haiti termasuk salah satu peserta turnamen tersebut, tetapi belum mengetahui apakah atletnya akan diizinkan memasuki wilayah AS.
Hal itu lantaran Haiti termasuk 12 negara yang terkenda larangan perjalanan Trump. Negara lain ialah Afghanistan, Myanmar, Chad, Republik Kongo, Guinea Ekuatorial, Eritrea, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman. Adapun Burundi, Kuba, Laos, Sierra Leone, Togo, Turkmenistan, dan Venezuela terkena larangan sebagian.
Tidak seperti Piala Emas Concacaf yang dirundung ketidakpastian, Olimpiade 2028 serta Piala Dunia 2026 diyakini akan berlangsung dengan lancar tanpa terhalang kebijakan larangan perjalanan Trump. Wakil Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Nicole Hoevertsz mengatakan tidak ada negara peserta Olimpiade yang akan terkena kebijakan baru tersebut.
”Dua ratus enam negara sedang bersiap untuk datang ke Olimpiade. Pemerintah federal telah memberi kami jaminan itu untuk memastikan bahwa para peserta ini akan dapat memasuki negara ini. Kami sangat yakin bahwa hal ini akan tercapai,” tutur Nicole Hoevertsz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/24/beacc1a5a31b531ee7088c7bbabab16f-000_47XL4GD.jpg)
Keyakinan Nicole Hoevertsz berdasarkan pada bagian keempat larangan perjalanan Trump. Dalam peraturan yang dikeluarkan Pemerintah AS, disebutkan bahwa setiap atlet atau anggota tim atletik, termasuk pelatih, orang yang menjalankan peran pendukung penting, dan kerabat dekat, yang bepergian untuk Piala Dunia, Olimpiade, atau acara olahraga besar lainnya sebagaimana ditentukan oleh Menteri Luar Negeri AS masih dapat melakukan perjalanan ke wilayah AS.
Ambiguitas merebak lantaran Kementerian Luar Negeri AS tidak merinci lebih lanjut mengenai frasa ”acara olahraga besar lainnya”. Saat jumpa pers, Juru Bicara Kemenlu AS Tommy Pigott pun tidak menyebutkan secara detail acara olahraga besar yang dimaksud. Dari sinilah muncul keraguan Haiti bisa berpartisipasi pada Piala Emas Concacaf.
”Saya kira orang-orang di seluruh dunia, dan warga Amerika yang menghadiri acara-acara ini, ingin melihat aksi-aksi seperti ini. Ini adalah bagian dari apa yang dimaksud dengan menyelenggarakan suatu acara. Kami sangat serius dalam menangani masalah keamanan, kami ingin orang-orang dapat pergi ke Piala Dunia dan melakukannya dengan aman,” ujar Pigott, dikutip dari BBC Sport.
Frasa ”Piala Dunia” yang dikatakan Pigott juga kurang jelas. Piala Dunia Antarklub FIFA yang telah diperbarui, yang menampilkan 32 tim klub terbaik dunia, akan berlangsung di AS mulai 14 Juni hingga 13 Juli. Sebanyak 10 pemain dari negara-negara yang dibatasi perjalanannya tercatat memperkuat sejumlah klub yang berpartisipasi.
Lebih jauh lagi, atlet atletik lintasan dan lapangan sering bepergian ke AS untuk berpartisipasi dalam pemusatan latihan sebagai persiapan untuk pertandingan besar. Meskipun pengecualian tersebut menjelaskan bahwa atlet dari negara-negara yang terkena dampak dapat melakukan perjalanan ke Olimpiade 2028, pengecualian tersebut tidak memberi kepastian apakah para atlet bisa menghadiri pemusatan latihan sebelum Olimpiade dimulai.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/27/fa036827-e534-4f88-9e11-206db311ae77_jpg.jpg)
Kebijakan larangan perjalanan bukan pertama ini pernah dicetuskan Trump. Selama masa jabatan pertamanya, Trump memberlakukan larangan bepergian yang luas di beberapa negara, yang sebagian besar berpenduduk mayoritas Muslim.
Saat itu, Serikat Pemain Liga Sepak Bola Utama AS (Major League Soccer/MLS) mengatakan bahwa mereka sangat prihatin tentang pesepak bola yang mungkin terkena dampak dan bahwa mereka ”sangat kecewa”. Kebijakan anti-imigran Trump juga telah mencegah beberapa atlet dari negara lain mengambil bagian dalam acara terjadwal yang diadakan di AS.
Pada 2017, tim sepak bola wanita Tibet ditolak saat mengajukan visa AS untuk menghadiri Piala Dallas di Texas. Pada tahun 2019, sembilan pemain dari tim sepak bola nasional U-15 Guatemala ditolak masuk untuk berpartisipasi dalam Kejuaraan Concacaf U-15, dan kapten Kuba, Yordan Santa Cruz, ditolak visanya untuk Piala Emas 2019.
FIFA sempat memperingatkan Trump bahwa larangan bepergian dapat menghambat upaya bersama AS untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Presiden FIFA Gianni Infantino bersikeras bahwa dalam semua kompetisi FIFA, pendukung dan staf tim yang lolos ke Piala Dunia harus memiliki akses ke AS. Jika tidak, maka tidak akan ada Piala Dunia. Larangan perjalanan akhirnya dibatalkan oleh penerus Trump, Joe Biden, pada 2021. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul