Pragmatisme Patrick Kluivert Kunci Indonesia Jaga Mimpi ke Piala Dunia 2026

Dari enam tim yang bakal bertarung di ronde keempat pra-Piala Dunia 2026, Indonesia adalah tim paling minim penguasaan bola. Menang segalanya bagi Patrick Kluivert.

06 Jun 2025 15:44 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

JAKARTA, KOMPAS — Lupakan harapan permainan ala total football dijalankan tim nasional Indonesia bersama Patrick Kluivert. Terpenting saat ini bagi Kluivert adalah membawa skuad ”Garuda” menuju Piala Dunia 2026 dengan gaya bermain yang bisa menjamin kemenangan lebih besar.

Indonesia mengemas dua kemenangan beruntun di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan skor minimalis 1-0. Bahrain dikalahkan pada Maret lalu dan pada Kamis (5/6/2025) giliran China yang pulang dengan tangan hampa.

Pada dua pertandingan itu, Indonesia bermain sangat pragmatis. Bahrain dan China untuk pertama kali mencatatkan superioritas penguasaan bola di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 ketika berlaga di Jakarta.

Meski begitu, Indonesia lebih dominan dalam kreasi peluang berbahaya. Tiga peluang besar masing-masing disajikan skuad Garuda menghadapi Bahrain dan China, sedangkan dua tim itu hanya bisa menciptakan satu peluang terbaik di pertahanan Indonesia.

Kluivert mengakui dirinya tidak mementingkan cara bermain yang konsisten menyerang untuk Indonesia. Tujuan dia bukan untuk mengubah pendekatan permainan Jay Idzes dan kawan-kawan, melainkan mempersembahkan hasil positif demi memuluskan jalan ke pentas sepak bola terakbar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tahun depan.

Timnas Indonesia kalahkan China

”Kami memang tidak dominan di pertandingan dalam penguasaan bola. Bagi saya, terpenting adalah memperoleh hasil akhir positif. Bermain dengan gaya yang nyaman penting, tetapi paling utama adalah menang dan lolos ke Piala Dunia,” ujar Kluivert dalam konferensi pers seusai laga menghadapi China.

Dua pendekatan permainan pragmatis itu mencolok ketika Indonesia sudah unggul pada babak pertama. Dari kemenangan atas Bahrain dan China yang krusial bagi langkah Indonesia menembus putaran keempat, hal itu menegaskan Kluivert belum memberikan sentuhan orisinal.

Perkembangan

Permainan yang ditampilkan skuad Garuda bersama Kluivert lebih menyerupai perkembangan dari filosofi yang digagas bersama pelatih terdahulu, Shin Tae-yong. Hal itu tentu masuk akal, sebab permainan menyerang Indonesia dengan catatan 60 persen penguasaan bola berdampak kekalahan 1-5 dari Australia, Maret lalu.

Kluivert melanjutkan tradisi Shin dengan pola awal 3-4-3 yang berubah menjadi 5-4-1 saat situasi tanpa bola. Pola serangan Indonesia lebih fokus di kedua sisi sayap di bawah kendali kedua pelatih itu.

Bedanya, Shin lebih mengedepankan serangan balik cepat dari kedua sisi sayap. Adapun Kluivert lebih menuntut skuadnya berani memainkan bola lebih lama dengan berporos pada dua gelandang tengah, Thom Haye dan Joey Pelupessy.

Kehadiran Thom, khususnya, yang bisa menyajikan operan-operan progresif, menuntut pemain sayap dan penyerang bergerak memanfaatkan ruang di antara pemain belakang lawan.

Pemain Indonesia Tom Haye mengoper bola dalam pertandingan putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Indonesia melawan China di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (5/6/2025). Kompas/Adryan Yoga Paramadwya

Kondisi itu membuat para pemain menyerang bisa menjadi sasaran operan terobosan akurat demi menghasilkan momentum serangan berbahaya bagi Indonesia. Thom menghasilkan tiga umpan kunci selama 74 menit tampil pada laga melawan China.

”Penguasaan bola kami tidak dominan, tetapi pemain lebih nyaman ketika menguasai bola. Mereka mampu memanfaatkan dengan baik penguasaan bola untuk mengkreasikan momen-momen spesifik yang hasilkan ancaman,” kata Kluivert tentang perkembangan permainan kolektif timnya di gim melawan China.

Kekuatan calon lawan

Serangan efektif tanpa penguasaan bola dominan adalah bekal yang penting bagi Indonesia untuk bertarung di putaran keempat. Dari lima tim yang akan melanjutkan persaingan ke putaran keempat, Indonesia adalah tim dengan penguasaan bola minim.

Hingga delapan gim ronde ketiga, Indonesia hanya mencatatkan rerata 45,4 persen penguasaan bola. Indonesia hanya mengoleksi rata-rata penguasaan bola lebih baik dari dua tim yang disingkirkan di Grup C, yakni Bahrain dan China, juga Kirgistan di Grup A.

Tiga tim lain yang telah memastikan tempat di putaran keempat mengoleksi rerata penguasaan bola sampai 60 persen. Mereka adalah Irak (61,4 persen), Qatar (60,6 persen), dan Arab Saudi (60,6 persen).

Satu tim lain yang berpeluang menambah koleksi tim dengan penguasaan bola super dominan itu adalah Oman. Akan tetapi, Oman yang duduk di peringkat keempat Grup B belum aman untuk lolos ke putaran keempat. Oman (10 poin) masih bersaing memperebutkan satu tempat tersisa melawan Palestina (9 poin).

Pemain Timnas Indonesia Ragnar Oratmangoen berkelit dari kawalan pemain Irak Suad Natiq dalam pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (6/6/2024). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Oman memiliki rata-rata penguasaan bola 63,9 persen. Catatan itu hanya inferior dari Korea Selatan (75,9 persen) dan Jepang (69 persen).

Adapun Jordania, yang lolos ke Piala Dunia setelah mengalahkan Oman 3-0, mencatatkan 56,7 persen penguasaan bola per laga. Sedangkan Uni Emirat Arab, yang lolos ke putaran keempat, membukukan 56,7 persen penguasaan bola per laga.

”Kami akan berusaha bermain lebih baik pada putaran keempat. Kami tidak beruntung pada laga melawan Korsel, sehingga keinginan lolos langsung ke Piala Dunia tidak tercapai,” ucap Jalal Hassan, kiper Irak, dilansir laman FIFA.

Bek tengan dan kapten Indonesia, Jay Idzes, menekankan semangat kolektivitas adalah modal terbesar skuad Garuda untuk berjuang memperebutkan salah satu dari dua tiket langsung ke Piala Dunia 2026 dari ronde keempat.

Selain menghadapi tim Timur Tengah dengan penguasaan bola dominan, Indonesia juga berpeluang besar bermain di Jazirah Arab pada laga putaran keempat yang terpusat di dua negara sesuai dengan pembagian dua grup. Laga putaran keempat akan berlangsung pada 8-14 Oktober 2025.

”Kami bermain untuk pendukung dan bertarung untuk lambang di dada. Itu alasan kami bekerja sangat keras sebagai sebuah tim,” kata Jay.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra