Si bocah ajaib yang kian matang, An Se-young, terus menciptakan keajaiban. Meraih 11 gelar pada 2025, dia menjadi tunggal putri dengan gelar terbanyak dalam setahun.
29 Des 2025 07:01 WIB · Olahraga
AFP
An Se-young berjalan pincang sambil menahan sakit pada kaki kiri saat unggul 20-8 ketika berhadapan dengan Wang Zhi Yi di Hangzhou Olympics Sports Centre Gymnasium, China, Minggu (21/12/2025). Meski unggul jauh, situasi itu menjadi momen kritis karena An tinggal membutuhkan satu poin untuk menjuarai turnamen Final BWF World Tour.
Melihat An yang kesulitan berjalan sejak match point pertama tersebut, komentator pertandingan untuk BWF, yaitu Gillian Clark dan Steen Pedersen, mengungkapkan kekhawatiran tunggal putri nomor satu dunia itu akan mundur sebelum pertandingan selesai. Apalagi, BWF tidak memperbolehkan atlet cedera menjalani perawatan di luar periode interval di tengah gim dan di antara gim.
An kehilangan match point pertama, tetapi akhirnya bisa bertahan hingga menang 21-13, 18-21, 21-10 setelah bertanding selama 1 jam 36 menit. Baru setelah pertandingan, An bisa memakai spray untuk mengurangi rasa sakit pada kakinya.
Gelar juara dari ajang penutup rangkaian turnamen BWF World Tour itu merupakan gelar ke-11 bagi atlet Korea Selatan tersebut pada 2025. Dia mempertegas dominasinya di tunggal putri setelah menjuarai turnamen dari berbagai level. Apalagi, Final BWF adalah turnamen yang diikuti delapan peserta dengan performa terbaik sepanjang tahun dari setiap nomor.
Jika saya tetap bekerja keras, saya merasa masih bisa mendapat hasil lebih baik dari yang saya dapat pada tahun ini. Saya bisa meraih hasil terbaik jika bisa bermain tanpa cela dan saya pikir, momen itu belum tiba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/07/1abb762978c04cf691769be836ca6658-20250607TOK15.jpg)
Pada panggung besar, hanya cedera yang menghentikan An dari sapu bersih turnamen Super 1000 setelah menjuarai Malaysia Terbuka, All England, dan Indonesia Terbuka. Di China Terbuka, dia tak bisa menyelesaikan semifinal melawan Han Yue karena cedera lutut kanannya kambuh. Gelar lain yang terlepas darinya pada 2025 adalah juara dunia karena An kalah dari Chen Yu Fei di semifinal.
Meski demikian, An telah mempertinggi standar sebagai tunggal putri terbaik dunia. Dia memecahkan rekor atas namanya sendiri yang memperoleh sembilan gelar juara pada 2023.
Sebanyak 11 gelar pada tahun ini menjadi cermin konsistensi performanya yang 73 kali menang dan hanya empat kali kalah. Kemenangan 94,8 persen menjadi yang tertinggi dalam sejarah performa pemain tunggal, baik putra maupun putri.
Persentase tersebut lebih tinggi dari Kento Momota yang rekornya disamai An. Tunggal putra Jepang tersebut membuat statistik menang-kalah 65-6 (91,5 persen) saat 11 kali juara pada 2019.
Rekor lain yang dibuatnya adalah menjadi pemain tunggal pertama dengan hadiah melebihi 1 juta dollar AS dalam setahun. An mendapat 1.003.175 dollar AS atau Rp 16,8 miliar. Deretan statistik yang dibuatnya tanpa pesaing ini didapat dalam usia 23 tahun.
Walaupun telah memperlihatkan performa luar biasa, An optimistis masih bisa mendapat hasil lebih baik. ”Jika saya tetap bekerja keras, saya merasa masih bisa mendapat hasil lebih baik dari yang saya dapat pada tahun ini. Saya bisa meraih hasil terbaik jika bisa bermain tanpa cela dan, saya pikir, momen itu belum tiba,” tutur An dalam Korea Herald saat tiba di Bandara Incheon, Korea Selatan, sehari setelah menjuarai Final BWF.
An memang dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ketika penonton melihat footwork yang begitu lincah dan ringan saat bertanding, itu adalah hasil dari salah satu jenis latihannya, yaitu berlari sambil mengenakan rompi berat di pasir.
Dia juga disiplin dalam menjalani pola hidup, seperti mengatur makan. An menghindari produk yang terbuat dari susu dan memanjakan diri mengonsumsi makanan yang digoreng pada akhir tahun, saat libur kompetisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/27/a8444d22abb187ca2579709b99dd5726-AFP_88RU8G4.jpg)
Sikap tersebut didukung oleh mental baja yang membuatnya ”bandel” di lapangan, sulit dikendalikan lawan. Itu sudah terlihat sejak dia di level yunior.
Atlet Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, pernah merasakan ketangguhan An dalam persaingan yang begitu melelahkan bagi mereka di masa yunior. Keduanya bertemu saat Indonesia melawan Korea Selatan dalam final Kejuaraan Asia Beregu Campuran Yunior di GOR Jaya Raya, Tangerang Selatan, Banten, pada Juli 2017. Gregoria dan An tampil pada partai keempat saat Indonesia tinggal membutuhkan satu kemenangan karena unggul 2-1.
Tim Indonesia, yang unggul berkat kemenangan Rinov Rivaldy/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana tinggal selangkah lagi menuju juara saat Gregoria membuat match point pada gim ketiga. Namun, kubu Indonesia, yang sudah bersiap merayakan kemenangan, terdiam ketika situasi berbalik.
An lebih tangguh dalam melawan rasa lelah pada pertandingan selama 1 jam 29 menit itu dan menang dengan skor 21-19, 7-21, 22-20. Indonesia pun kalah 2-3 ketika kehilangan poin dari ganda putri pada partai kelima.
Setahun berikutnya, An memperlihatkan kemampuannya bersikap tenang dalam kejuaraan Piala Uber. Dia bermain pada partai kelima saat Korea Selatan melawan Denmark dan skor kedua tim 2-2. Dalam usia 16 tahun, dia membuat timnya menang setelah mengalahkan Line Christophersen, 21-16, 21-12.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/14/5955185f-e027-4684-8adb-5197360cd72a.jpg)
”Saya sebenarnya merasa gugup saat memasuki lapangan karena tidak pernah merasakan situasi seperti ini. Saya berusaha bersikap positif karena tidak punya ekspektasi apa pun dalam pertandingan tadi,” kata An dalam laman resmi BWF.
Di level senior, penggemar bulu tangkis berulang kali melihat mental baja An yang juga berani mengungkapkan pendapat seperti saat mengkritik Asosiasi Bulu Tangkis Korea Selatan karena cederanya pada 2023 tidak ditangani dengan baik. An menahan rasa sakit pada lutut hingga meraih emas Asian Games Hangzhou 2022 yang digelar pada 2023. Terakhir, dia menunjukkan, ketangguhan mental membawanya ke podium juara Final BWF 2025.
Karakter-karakter itu terlihat sejak An kecil, sejak menekuni bulu tangkis pada usia tujuh tahun. An mengikuti orangtuanya yang bermain bulu tangkis sebagai hobi di klub di Gwangju, kota kelahiran dan tempat tinggalnya. Orangtua dan pelatih di klub itu melatih An setelah melihat potensi anak pertama dari dua bersaudara tersebut.
Talenta An juga dilihat Kim Myung-ja, salah seorang pelatih di Gwangju Physical Education Middle and High School. Kim pertama kali melihat penampilan An saat bertanding mewakili Sekolah Dasar Gwangju Pungam.
Dalam video dari media Malaysia, The Star TV, yang diunggah pada 4 Agustus 2025, Kim menuturkan kesan pertamanya saat melihat An. ”Saya melihatnya sebagai anak yang pintar dan dia memiliki postur bagus untuk menjadi atlet,” ujar Kim sambil memperlihatkan lapangan tempat An berlatih selama enam tahun saat SMP dan SMA di sekolah tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/01/17/648e38cf-ae29-4ae7-a388-af34e54b397c_jpg.jpg)
Kim kemudian bercerita bahwa An memiliki kebugaran dan teknik yang lebih baik dibandingkan rekan-rekannya. Dia berlatih hampir setiap hari dan sering kali menjalani latihan lebih lama. Latihan tambahan pun kerap dilakukan, yaitu saat akhir pekan pada malam hari. Sejak SMA, An dan Kim menata target tahap per tahap.
An mengikuti turnamen internasional pertama pada 2015 dalam usia 13 tahun. Pada era yunior, prestasi terbaiknya adalah saat mengantarkan Korea Selatan menjadi juara Asia beregu campuran pada 2017 dan meraih perunggu Kejuaraan Dunia di tahun yang sama.
Pada Desember 2017, dia mengikuti seleksi untuk menjadi anggota tim nasional dan menjadi peserta termuda dengan usia 15 tahun. An, yang masih bersekolah di tingkat SMP, lolos seleksi setelah mengalahkan tujuh pemain.
Gelar internasional pertamanya dari turnamen senior didapat dari Irlandia Terbuka International Series 2018. Namanya melambung saat menjadi juara turnamen BWF World Tour untuk pertama kalinya, dari Selandia Baru Super 300 pada 2019. Di final, An mengalahkan peraih emas Olimpiade London 2012 asal China, Li Xue Rui.
Lima gelar juara dari tujuh final pada 2019, salah satunya dari Perancis Terbuka Super 750, membuat BWF menilainya sebagai atlet dengan perkembangan paling pesat. An mendapat penghargaan Rising Star of the Year.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/05/5b9f59d6-6600-419c-ba83-53ae153b2534_jpg.jpg)
Gelar pertama dari ajang besar didapat dari Indonesia Terbuka 2021 setelah mengalahkan Ratchanok Intanon di final. Atlet Thailand juara dunia 2013 itu menjadi panutan yang sering ditonton An sejak kecil. Dan, An mengikuti jejak Intanon dengan menjadi juara dunia 2023. Dia menjadi juara dunia tunggal putri pertama dari Korea Selatan.
Setahun kemudian, An menyandingkan gelar juara dunia dengan medali emas Olimpiade Paris 2024. Dia pun melampaui pencapaian seniornya, Bang Soo-hyun, sebagai tunggal putri pertama Korea Selatan yang meraih emas Olimpiade, yaitu di Atlanta 1996.
Sejak dua tahun lalu pula, An berlari lebih kencang meninggalkan tunggal putri lain, termasuk kompetitor kuat, salah satunya Akane Yamaguchi. Persaingan dua atlet yang kerap menyuguhkan pertandingan ketat telah menaikkan level persaingan tunggal putri.
An tertinggal 5-10 dari Akane sejak pertemuan pertama pada 2019 hingga 2022. Setelah itu, dia berbalik unggul 12-5 pada 2023 hingga 2025.
Kerja keras dan proses belajar yang terus dijalani membuatnya menerapkan permainan dengan gaya lebih agresif pada tahun ini. ”Saya berusaha bermain lebih menyerang. Dalam prosesnya, saya memperbanyak latihan beban, belajar menemukan waktu yang tepat untuk menyerang, dan membawa pola pikir untuk lebih banyak menyerang,” tutur An dalam laman Olimpiade.
Dengan perubahan tersebut, An menggabungkan permainan bertahan yang solid dengan serangan tajam. Ini didukung oleh kelincahan olah kaki dan kecepatan dalam membaca permainan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/36e17018542ca3cf38c31314d97b6435-BADMINTON_WORLD_FRA_132205339.jpg)
Kemampuan An untuk terus meningkatkan kemampuan diakui Chen Yu Fei. ”Dia kian baik dalam banyak hal, teknik, taktik, fisik, dan kekuatan mental,” kata atlet asal China tersebut.
Chen memiliki statistik pertemuan 14-14 sejak pertama kali bertemu di Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Akan tetapi, peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 tersebut tertinggal 2-5 pada 2025.
Chen dan Yamaguchi hanyalah sedikit pemain yang kian merasakan ketajaman An. Dengan motivasi, karakter, serta pola pikir yang dimiliki, bukan tak mungkin An bisa menciptakan keajaiban lain.
”Saya selalu termotivasi untuk memperlihatkan performa terbaik secara konsisten pada orang lain. Itu membuat saya selalu menikmati setiap pertandingan. Dengan cara itu, saya percaya, hasil baik akan mengikuti,” katanya.
Lahir: Gwangju, Korea Selatan, 5 Februari 2002
Pegangan raket: tangan kanan
Ranking saat ini: 1 tunggal putri (23 Desember 2025)
Ranking tertinggi: 1 (1 Agustus 2023)
Menang-kalah (karier): 401-74 (85,7%)
Menang-kalah 2025: 73-4 (94,8%)
Gelar juara BWF World Tour: 34 (11 pada 2025)
Kejuaraan Multicabang
Emas tunggal putri Olimpiade Paris 2024
Emas tunggal putri Asian Games Hangzhou 2022
Emas beregu putri Asian Games Hangzhou 2022
Kejuaraan Beregu
Perak Piala Sudirman 2023 dan 2025
Perunggu Piala Sudirman 2021
Emas Piala Uber 2022
Perunggu Piala Uber 2018, 2020, 2024
Kejuaraan Dunia
Emas Copenhagen 2023
Perunggu Tokyo 2022
Perunggu Paris 2025
Rekor dan Penghargaan
Gelar terbanyak tunggal putri (9 gelar) pada 2023
Gelar terbanyak tunggal putri (11 gelar) pada 2025
Tunggal putri terbaik dunia versi BWF 2023-2025
Pemain putri terbaik dunia versi BWF 2024, 2025
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko Prihananto, Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti