Program Pendidikan Kecakapan Kerja dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha menjadi langkah awal untuk mengaktifkan kembali pendidikan nonformal.
02 Jul 2025 10:42 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS — Seribu anak putus sekolah pada jenjang sekolah menengah kejuruan mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan vokasional yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Mereka diharapkan bisa kembali mandiri dan berdaya saing meski tanpa ijazah.
Program ini digelar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW). Kemendikdasmen bekerja sama dengan pemerintah daerah, serta lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang ada di seluruh Indonesia untuk memberikan keterampilan kerja dan berwirausaha bagi anak putus sekolah menengah kejuruan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan bermutu, termasuk mereka yang putus sekolah karena berbagai sebab. Program ini sekaligus menjadi langkah awal mengaktifkan kembali pendidikan nonformal.
”Karena saat ini, yang dituntut adalah kompetensi keahlian tidak hanya ijazah. Program ini memberikan peluang lebih besar untuk anak putus sekolah dapat bersaing di dunia kerja maupun merintis usaha dan membuka lapangan pekerjaan,” kata Mu’ti dalam keterangan pers dikutip Rabu (2/7/2025).
Mu’ti memaparkan, faktor ekonomi masih menjadi penyebab angka putus sekolah di Indonesia. Selain itu, faktor keterbatasan akses pendidikan di suatu wilayah juga membuat anak-anak tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Program ini akan diselenggarakan di 33 provinsi dengan melibatkan 245 LKP.
Di sisi lain, faktor kultural, seperti tingginya angka pernikahan dini, juga memupuskan hak pendidikan anak dan tingginya angka pekerja anak yang lalu merasa tidak perlu lagi menuntaskan pendidikannya. Untuk itu, program ini menjadi solusi mengurangi angka pengangguran dan jumlah anak putus sekolah, khususnya dari SMK.
”Karena itu, peluang untuk belajar harus semakin kita buka, tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi pendidikan nonformal, salah satunya melalui kursus atau pelatihan ini,” tuturnya.
Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 2024 yang diolah Pusat Data dan Informasi, Kemendikdasmen, angka anak putus sekolah tertinggi berada di jenjang SMK sebanyak 9.391 siswa (0,19 persen). Kemudian di jenjang SD sebanyak 38.540 siswa (0,16 persen), SMP sebanyak 12.210 siswa (0,12 persen), dan SMA sebanyak 6.716 siswa (0,13 persen).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/09/3faef869-18fe-4007-a75f-1f92959df258.jpg)
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menjelaskan, mereka yang mengikuti program ini akan dilatih keterampilan vokasional secara intensif selama satu sampai dua bulan. Ini akan menjadi bekal mereka untuk terjun ke dunia usaha dan dunia industri.
Program ini akan diselenggarakan di 33 provinsi dengan melibatkan 245 LKP. Tak hanya berfokus di kota-kota besar, program ini akan menyasar wilayah-wilayah yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemerintah daerah perlu menyiapkan data anak putus sekolah di jenjang SMK untuk didaftarkan dalam program ini.
Setelah selesai mengikuti program pelatihan PKK, anak-anak putus sekolah di jenjang SMK ini dapat langsung bekerja maksimal satu tahun setelah selesai program karena LKP penyelenggara telah bekerja sama dengan dunia usaha dan peserta juga sudah mengikuti uji kompetensi dan memiliki sertifikat kompetensi.
”Sementara untuk peserta PKW, mereka bisa langsung membuka usaha karena selain ada pendampingan usaha, peserta juga diberikan bantuan modal usaha. Misalnya, untuk membeli bahan baku dan sebagainya,” kata Tatang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/23/20210323-HKT-SMK-mumed-01_1616510747_jpg.jpg)
Salah satu peserta, Nabila Aditya, berharap program ini bisa mengubah hidupnya. Pascaputus sekolah dari jurusan Tata Busana di SMK Riyadhul Jannah, Subang, Jawa Barat, dia terpaksa menjadi buruh serabutan karena susahnya mencari pekerjaan untuk menghidupi nenek dan kedua adiknya.
”Ini seperti melanjutkan mimpi saya. Saya dulu tidak pernah ikut praktikum karena tidak ada biaya. Dengan program ini, saya berharap bisa membuka usaha menjahit sendiri di rumah seperti mimpi saya dulu,” kata Nabila yang putus sekolah pada 2023.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan