Jika melihat hasil Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025, Indonesia bisa terancam kehilangan tiga medali emas di SEA Games Thailand 2025. Indonesia wajib waspada.
11 Okt 2025 15:54 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Hasil Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 memang tidak bisa menjadi gambaran sepenuhnya rivalitas di SEA Games Thailand 2025. Namun, Indonesia tetap patut mewaspadai lifter Asia Tenggara yang berprestasi di level dunia. Mereka bisa jadi ancaman medali emas Indonesia, terutama untuk tiga kategori berat badan.
Indonesia hanya membawa pulang 2 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2025 di Forde, Norwegia, yang berakhir Sabtu (11/10/2025). Lima medali itu diraih oleh tiga lifter, yakni Rizki Juniansyah (emas total angkatan dan perunggu snatch) dan Rahmat Erwin Abdullah (perak clean and jerk) di kelas 79 kilogram dan Eko Yuli Irawan (perunggu snatch) di kelas 65 kg.
Di ajang tunggal seperti Kejuaraan Dunia, setiap jenis angkatan memperebutkan tiga set medali. Alhasil, satu atlet bisa meraih lebih dari satu medali tergantung hasil tiap angkatan yang terdiri dari snatch, clean and jerk, dan total angkatan.
Lifter Indonesia yang terakhir tampil adalah Indah Apriza di kelas 69 kg putri, Selasa (7/10/2025). Indah finis pada peringkat ke-14 untuk jenis angkatan snatch seberat 96 kg, peringkat ke-10 untuk clean and jerk seberat 122 kg, dan posisi ke-13 untuk total angkatan 218 kg.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/26/e22103aa6adf32505834300d1f609708-DSC04212.JPG)
Ke Forde, Indonesia mengirimkan total 10 atlet yang terdiri dari masing-masing lima atlet putra dan putri. Pada kategori putra, Rizki dan Rahmat turun di kelas 79 kg, Eko Yuli dan Leonardo Adventino di kelas 65 kg, serta Ardaraya di kelas 71 kg. Pada sektor putri, Juliana Klarisa dan Basilia Bamerop turun di kelas 53 kg. Sementara itu, Natasya Beteyob di kelas 58 kg, Nadita Aprilia 63 kg, dan Indah Afriza 69 kg.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono mengatakan, memang tidak ada target muluk-muluk yang ditetapkan untuk para atlet di Kejuaraan Dunia. Sebab, ajang ini merupakan turnamen pertama level dunia yang melombakan kategori berat badan baru.
Perlombaan angkat besi dikategorikan berdasarkan berat badan atlet. Tujuannya agar memastikan persaingan yang adil di antara para lifter.
Per Juni, Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) menerapkan kelas baru yang terdiri dari 60 kilogram, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, 110 kg, dan +110 kg pada sektor putra. Adapun 48kg, 53kg, 58kg, 63kg, 69kg, 77kg, 86kg, dan +86 kg ditetapkan pada sektor putri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/82e64bcbf0e03a27f99bce8b32027280-Rizki1_683x1024.jpg)
”Kita saling ’intai’ kekuatan masing-masing, memetakan kekuatan,” kata Djoko merujuk pada rivalitas dengan sesama lifter Asia Tenggara.
Dari persaingan di Kejuaraan Dunia, kata Djoko, akan terbaca rivalitas di SEA Games nanti. Dengan catatan, negara-negara Asia Tenggara lain juga mengeluarkan lifter-lifternya di Kejuaraan Dunia. Lifter Indonesia yang tampil di Kejuaraan Dunia adalah lifter yang juga akan berjuang di SEA Games mendatang.
Pada beberapa kelas, meski belum menggambarkan persaingan sepenuhnya di SEA Games Thailand, rivalitas itu sudah terlihat. Dari hasil Kejuaraan Dunia pula dilihat Indonesia terancam kehilangan tiga medali emas.
Pada SEA Games Kamboja 2023, Indonesia keluar sebagai juara umum dengan torehan 5 medali emas, 2 perak, dan 4 perunggu. Medali emas itu dipersembahkan Eko Yuli (61 kg), Rizki Juniansyah (73 kg), Rahmat Erwin (81 kg), Juliana Klarisa (55 kg) dan Tsabitha Alfiah (64 kg).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/15/d67911b4-e501-4b5b-b1d1-f5c08f94549f_jpg.jpg)
Eko memang tidak pulang dengan tangan hampa di Kejuaraan Dunia. Dia berhasil meraih perunggu untuk angkatan snatch seberat 137 kg. Peraih emas dan perak snatch merupakan lifter luar Asia Tenggara, yakni Muhammad Frukan Ozbek (Turki) dan Ivav Petkok Dimov (Bulgaria).
Di ajang multicabang olahraga seperti SEA Games, yang hanya menyediakan tiga set medali untuk total angkatan (gabungan antara angkatan terbaik snatch dan clean and jerk), maka hasil total angkatan yang jadi patokan. Di Kejuaraan Dunia, Eko menempati peringkat ke-7 dengan total angkatan 300 kg (snatch 137 kg, clean and jerk 163 kg).
Tiga lifter peraih podium adalah lifter Turki, Korea Utara, dan Amerika Serikat. Namun, pada peringkat ke-5, ada lifter Asia Tenggara, yakni Muhammad Aznil bin Bidin asal Malaysia. Total angkatannya 301 kg (snatch 135 kg, clean and jerk 166 kg), terpaut satu kilogram dari total angkatan Eko.
Memang, ada perbedaan strategi ketika lifter berlomba di ajang tunggal dan multicabang. Di ajang tunggal, dengan fokus dan memaksimalkan pada satu jenis angkatan saja, lifter bisa meraih medali. Meski begitu, kemunculan Muhammad Aznil tetap harus diwaspadai.
Memang betul lifter Malaysia bisa jadi ancaman. Namun, kita akan berusaha untuk menyempurnakan angkatan, terutama clean and jerk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/13/0d801865-175c-4db4-8f0a-424ac2c45fe5_jpg.jpg)
Hal itu diamini pelatih tim angkat besi Indonesia yang menangani Eko, Erwin Abdullah. Menurut Erwin, lifter-lifter Asia Tenggara lain, termasuk dari Malaysia, memang bisa menjadi ancaman bagi Eko untuk kembali meraih emas. Meski begitu, dengan waktu yang tersisa, dia dan Eko masih akan berusaha untuk menaikkan angkatan.
”Memang betul lifter Malaysia bisa jadi ancaman. Namun, kita akan berusaha untuk menyempurnakan angkatan, terutama clean and jerk. Kalau itu sudah baik, seharusnya angkatan juga akan bertambah,” tutur Erwin.
Aznil pernah bersaing dengan Eko di kelas 61 kg SEA Games Vietnam 2021. Saat itu, Aznil meraih perak setelah mencatatkan total angkatan 287 kg yang merupakan rekor nasional. Eko sukses meraih emas dengan keunggulan tiga kilogram atas Aznil.
Sementara Eko berpotensi bersaing ketat dengan Aznil dan lifter Asia Tenggara lain untuk meraih emas, Rizki dan Rahmat kemungkinan besar bisa kembali meraih emas meski tampil di kelas baru. Emas untuk total angkatan 367 kg di Kejuaraan Dunia sudah menunjukkan Rizki terbaik di dunia, bukan hanya di Asia Tenggara ataupun Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/07/acf627d3f50968d172214897504bb366-PodiumM79_1024x683.jpg)
Rahmat, yang akan turun di kelas 88 kg, pun seharusnya tanpa hambatan di kategori berat badan baru. Di Kejuaraan Dunia, memang tidak ada lifter Asia Tenggara yang ikut serta sehingga sulit memetakan persaingan untuk SEA Games nantinya. Kelas ini memang didominasi lifter Eropa, tetapi Rahmat punya rekam jejak prestasi di level dunia lengkap dengan rekor.
Ancaman lain justru datang pada sektor putri. Juliana Klarisa, yang meraih emas di kelas 55 kg SEA Games Kamboja 2023, pulang tanpa medali di Kejuaraan Dunia. Klarisa tampil di kelas 53 kg dan menempati peringkat ke-9 dengan total angkatan 183 kg (snatch 80 kg, clean and jerk 103 kg). Rekan senegara yang turun di kelas yang sama, Basilia Barmerop, di peringkat ke-11 dengan 181 kg (snatch 80, clean and jerk 101 kg).
Di kelas ini, lifter Thailand Surodchana Khambao sukses meraih medali perunggu dengan total angkatan 200 kg (snatch 90, clean and jerk 110 kg). Surodchana sebelumnya meraih emas di SEA Games Vietnam 2021 dan meraih perak Olimpiade Paris 2024 saat turun di kelas 49 kg. Kehadirannya di kelas 53 kg bisa jadi ancaman bagi Klarisa untuk meraih medali emas lagi di Thailand.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/05/8b2f7d54bc9f2c59af60b41464c37d29-20251003_GSca_GS20875_1536x1024.jpg)
Adapun lifter Indonesia terakhir yang meraih emas di Kamboja, Tsabitha Alfiah, tidak tampil di Kejuaraan Dunia. Tsabitha juga absen di Thailand untuk mempersiapkan kelahiran.
Kendati tidak mencerminkan sepenuhnya persaingan di Thailand mendatang, hasil Kejuaraan Dunia dapat menjadi bahan evaluasi tim angkat besi Indonesia untuk lebih meningkatkan kemampuan. Apalagi, lifter-lifter Asia Tenggara lain terus menunjukkan perkembangan, tidak terkecuali tuan rumah Thailand.
Di Kejuaraan Dunia, Thailand mengirim masing-masing tiga lifter putra dan putri. Meski kuantitas atlet lebih sedikit dari Indonesia, kualitas medalinya lebih baik. Thailand berhasil meraih 3 emas, 2 perak, dan 3 perunggu.
Selain Thailand, ancaman juga bisa datang dari Filipina. Adapun Vietnam tidak mengirimkan wakil di Kejuaraan Dunia sehingga lebih sulit untuk menakar kekuatan mereka.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji