Perkembangan lifter Asia Tenggara, terutama Thailand sebagai tuan rumah SEA Games 2025 mendatang, berpotensi jadi ancaman angkat besi Indonesia.
16 Mei 2025 14:06 WIB · Olahraga
SLEMAN, KOMPAS — Indonesia membawa pulang prestasi dari dua Kejuaraan Angkat Besi level Asia dan dunia kategori remaja, yunior, dan senior. Di sisi lain, lifter-lifter negara Asia Tenggara, terutama Thailand sebagai tuan rumah SEA Games 2025, juga makin muncul ke permukaan. Perkembangan lifter negara tetangga patut diwaspadai menjelang ajang multicabor tersebut dan persaingan menuju Olimpiade LA 2028.
Dari Kejuaraan Angkat Besi Asia 2025 di Jiangshan, China, pada 9-15 Mei, Indonesia membawa pulang tiga medali emas, dua perak, dan dua perunggu, dari Rahmat Erwin Abdullah, Rizki Juniansyah, dan Juliana Klarisa. Berdasarkan peringkat akhir yang dirilis Kamis (15/5/2025) malam, Indonesia menempati peringkat ketujuh, diapit oleh Thailand dan Vietnam.
Thailand menempati peringkat lebih tinggi dari Indonesia berkat raihan tiga medali emas dan tiga perak. Meskipun secara kuantitas lebih sedikit, kualitas medali Thailand lebih baik dari Indonesia. Sementara Vietnam meraih dua emas, tiga perak, dan lima perunggu.
Thailand pun hanya mengirimkan total tiga lifter, sedangkan Indonesia mengirimkan total 10 lifter. Tiga emas Thailand berasal dari lifter kelas 49 kilogram putri, Sukcharoen Thanyathon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/62f29cc15447957f30426c87a677c058-496411767_999383819020261_6687737212437982625_n.jpg)
Pada kelas 49 kg putri, Indonesia tidak memiliki wakil. Indonesia pernah memiliki Windy Cantika Aisah dengan puncak prestasi medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020. Baik Windy maupun lifter putri lain di kelas tersebut belum mampu menembus Olimpiade pada edisi selanjutnya di Paris.
Memang kalau kelas 73 kg atau 81 kg itu bisa dibilang kelas neraka.
Salah satu lifter putri Indonesia yang menjadi harapan regenerasi pada kelas ini adalah Luluk Diana Tri Wjayana (19). Luluk yang pernah memborong tiga medali emas Kejuaraan Dunia Remaja 2022 dan meraih satu medali emas di Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 masih berlaga pada kategori yunior.
Adapun pada kelas 59 kg putri, Indonesia menurunkan Natasya Beteyob. Pada kelas ini, Thailand lewat Suratwadee Yodsarn meraih tiga medali perak, sedangkan Natasya Beteyob finis pada peringkat keenam angkatan clean and jerk seberat 115 kg. Namun, dia gagal pada tiga percobaan angkatan snatch.
Setahun terakhir, Thailand memberi kejutan dengan kemunculan lifter-lifter putra sejak kualifikasi Olimpiade hingga persaingan Olimpiade itu sendiri. Salah satunya adalah lifter kelas 73 kg, Weeraphon Wichuma.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/09/40f77b17-f91e-449e-a98d-9ac96448e6d4_jpeg.jpg)
Wichuma sudah mencuri perhatian sejak kejuaraan-kejuaraan kualifikasi Olimpiade. Saat tampil di Olimpiade Paris 2024, Wichuma yang saat itu bahkan belum genap berusia 20 tahun berhasil meraih medali perak. Dia hanya kalah dari lifter andalan Indonesia, Rizki Juniansyah, yang meraih emas.
Di Paris, Mohammad Aniq juga sebenarnya berpeluang meraih medali pada kelas 61 kg. Total angkatan Aniq hanya terpaut satu kilogram dari peraih medali perunggu, Hampton Morris, yang mencatatkan 298 kg.
”Memang kalau kelas 73 kg atau 81 kg itu bisa dibilang kelas neraka. Sebagian besar (lifter) dari Asia, sekarang Asia Tenggara seperti Thailand, juga bersaing ketat,” ujar Rizki Juniansyah saat ditemui di sela-sela Kejuaraan Nasional Angkat Besi 2025 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (15/5/2025).
Pada Kejuaraan Dunia Remaja dan Yunior 2025 di Peru, Lima, 30 April-5 Mei, kondisinya tidak jauh berbeda. Negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam, turut memberikan ancaman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/d1c9c2ba52cc97f086ef163f82637533-DSC08985.JPG)
Dari ajang ini, selain satu medali emas dari Luluk Diana di kelas 49 kg putri, Indonesia ”hanya” berhasil meraih tiga perunggu dari Alyamaulida Kartika Pertiwi pada kelas 81 kg. Indonesia mengirimkan 11 lifter remaja dan yunior ke Lima.
Pada saat yang sama, Filipina yang diperkuat delapan lifter membawa pulang delapan medali emas, dua perak, dan dua perunggu. Dua emas dan satu perak di antaranya diraih dari kelas 49 kg putra remaja lewat aksi Jay R Colonia. Atlet Indonesia yang berlaga di kelas yang sama, Alvin Saputra, gagal menembus tiga besar.
Kondisi serupa terjadi pada kelas 55 kg putra remaja. Lifter Indonesia, Kevin Andrian Ramadhan, gagal menembus tiga besar, sedangkan lifter Vietnam, Van The Hung, meraih dua perak.
Pada persaingan yunior putri, Thailand menjadi tim dengan prestasi paling baik di antara negara Asia Tenggara lainnya dengan membawa pulang tiga emas, satu perak, dan dua perunggu. Thailand menempati peringkat kedua setelah China.
Adapun Indonesia berada pada posisi ke-11 berkat satu emas dari Luluk. Padahal, jumlah kekuatan Indonesia dan Thailand berimbang, yakni sama-sama tiga atlet putri yunior.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/15/e5b3c09d-669e-444d-bf2f-032c2491e360_jpg.jpg)
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono mengatakan, prestasi dari para lifter Indonesia pada dua kejuaraan tersebut cukup membanggakan. Namun, Djoko mengamini bahwa persaingan pun mulai ketat di antara sesama negara Asia Tenggara.
”Prestasi ini masih memerlukan perbaikan dan perlu berbenah diri menyongsong Olimpide 2028, terutama untuk pembinaan remaja dan yunior agar tidak tertinggal dari sesama negara berkembang. Sesama negara Asia Tenggara saja sekarang sudah maju, yaitu Filipina yang mengalahkan kita pada dua kelas, Vietnam, dan Thailand,” ujar Djoko.
”Ini saingan kita. Untuk SEA Games saja kita tidak bisa berleha-leha lagi. Hati-hati para pelatih dan atlet,” ucap Djoko.
Pada SEA Games sebelumnya, Indonesia menjadi juara umum setelah meraih lima medali emas, dua perak, dan empat perunggu. Persaingan melibatkan Vietnam yang menempati posisi kedua dengan empat emas, satu perak, dan tiga perunggu. Setelah itu, Thailand dengan dua emas, tujuh perak, dan satu perunggu. Adapun Filipina menempati peringkat keempat dengan dua medali emas, empat perak, dan satu perunggu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/21/faed326f-18aa-483a-be24-d0f79419c8e2.jpg)
SEA Games 2025 akan digelar di Thailand. Bukan tidak mungkin, tuan rumah akan menyiapkan lifter terbaiknya untuk memborong medali dan meningkatkan persaingan dengan Indonesia.
Saat itu, atlet-atlet seperti Weeraphon atau peraih medali perak kelas 61 kg Olimpiade Paris 2024, Theerapong Silachai, tidak ikut persaingan. Di Paris, debutan di Olimpiade berusia 21 tahun, Silachai, ”merebut” medali yang pada Olimpiade Tokyo 2020 diraih lifter veteran Indonesia, Eko Yuli Irawan. Sementara Eko tidak berhasil membawa pulang apa pun dari Paris 2024 karena masalah cedera paha.
Apabila Eko masih bersaing di SEA Games mendatang dan Silachai berlomba pada kelas yang sama dengan sang lifter veteran, bukan tidak mungkin dia akan kembali jadi ancaman. Dia bisa saja mengganggu dominasi Eko yang sudah mengoleksi tujuh medali emas ajang multicabang dua tahunan itu.
Walakin, Djoko optimistis para lifter Indonesia akan menyiapkan diri sebaik mungkin dan mampu menjaga keunggulan dari negara tetangga. ”Tantangan prestasi makin berat, terutama setelah emas Olimpiade Paris. Namun, ini selalu jadi titik awal puncak untuk pembinaan lebih baik,” ujarnya.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji