Sejumlah kapal tanker putar haluan. Pelaku industri mencari jalur alternatif yang akan menambah waktu tempuh, biaya logistik, dan tekanan terhadap pasar energi.
22 Jul 2026 09:00 WIB · Internasional
AP
DUBAI, RABU — Kelompok Houthi di Yaman membuka front baru dalam perang di kawasan Timur Tengah yang meluas. Kini dua selat yang vital bagi perekonomian global, Hormuz dan Bab el-Mandeb, terganggu.
Laporan kantor berita Reuters, Rabu (22/7/2026), menyebutkan, Houthi telah mengeluarkan ancaman akan memblokade kapal-kapal komersial yang terkait dengan Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Akibatnya, perusahaan-perusahaan penyulingan Asia mengalihkan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Terusan Suez. Ini dikhawatirkan akan memperpanjang waktu pengiriman, meningkatkan biaya logistik, dan menekan pasokan energi global.
Dalam surat elektronik kepada perusahaan pelayaran, Houthi memperingatkan agar kapal tidak memuat ataupun membongkar muatan di pelabuhan Arab Saudi. Kelompok itu juga mengancam akan menyerang kapal yang tak mau patuh di lokasi mana pun.
Ancaman Houthi memengaruhi lalu lintas pelayaran di Laut Merah sejak Selasa (21/7/2026). Data pelacakan kapal menunjukkan, dua kapal tanker yang membawa minyak mentah Arab Saudi menuju Asia, Xin Long Yang dan Rodos, terpaksa putar balik. Xin Long Yang mengangkut 2 juta barel minyak untuk China, sementara Rodos membawa 700.000 barel untuk India.
Keduanya mengubah haluan menuju Terusan Suez dan menghindari lewat Selat Bab el-Mandeb di lepas pantai Yaman. Houthi mengklaim sudah memaksa kapal-kapal itu balik arah. Sementara kapal tanker New Prime yang dijadwalkan memuat minyak mentah di Pelabuhan Yanbu pada akhir pekan ini juga meninggalkan Oman tanpa masuk ke Laut Merah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/feecc288-46e7-4605-ac06-35d0625e6135_png.png)
Meski demikian, aktivitas ekspor minyak Arab Saudi belum berhenti. Tiga sumber pelayaran mengatakan, Pelabuhan Yanbu masih beroperasi normal dan tetap memuat minyak ke kapal-kapal yang sudah berada di Laut Merah maupun yang tiba melalui Terusan Suez. Data pelacakan juga menunjukkan kapal tanker Olympic Luck tetap berlayar menuju Yanbu melalui Suez diikuti beberapa kapal lain.
Situasi ini memaksa perusahaan penyulingan di Asia menyiapkan jalur pengiriman alternatif. Hyundai Oilbank dari Korea Selatan, misalnya, mencari kapal tanker besar untuk memuat minyak di Yanbu dengan pilihan melintasi Terusan Suez. Cara lainnya dengan memakai pipa SUMED di Mesir yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania sebelum lanjut ke Korsel. Namun, jalur itu tidak sepenuhnya mudah.
Kapal berukuran besar dan bermuatan penuh tidak dapat melintasi Terusan Suez karena keterbatasan tempat. Sebagian muatan harus lebih dulu dipindahkan melalui pipa SUMED sebelum kapal lanjut berlayar dan kembali mengambil muatannya di sisi Laut Mediterania.
Jalur itu selama ini lebih banyak digunakan untuk mengirim minyak dari Laut Merah ke Eropa. Kini jalur itu menjadi salah satu pilihan untuk mempertahankan pasokan minyak ke Asia.
Para analis memperkirakan, pengalihan rute itu menambah waktu pengiriman sekitar empat pekan dibandingkan jalur normal melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Arab. Perjalanan yang lebih panjang mengitari Laut Mediterania dan Tanjung Harapan di Afrika juga akan menambah biaya bahan bakar, ongkos angkut, dan premi asuransi risiko perang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/12/3132647b-e7d1-4880-a77f-3b823d9f098f_png.png)
Selat Bab el-Mandeb kian penting karena jalur itu menjadi alternatif setelah perang Amerika Serikat dan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz. Selama konflik, Pelabuhan Yanbu di Laut Merah menjadi pintu utama ekspor minyak Arab Saudi ke pasar internasional. Sejak April, Arab Saudi mengekspor rata-rata 4,5 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari dari Yanbu. Sekitar 70 persen di antaranya dikirim ke Asia.
Menurut perusahaan pialang kapal, Clarksons, rata-rata 10 kapal tanker minyak mentah melintasi Selat Bab el-Mandeb setiap hari. Blokade penuh Houthi diperkirakan sulit dilakukan mengingat sumber daya yang dibutuhkan. Namun, meningkatnya ketegangan tetap dapat mendorong Houthi menyerang kapal-kapal.
Jika itu terjadi, sebagian ekspor minyak dari Yanbu kemungkinan akan lebih banyak dialihkan ke pasar Eropa. Dampak dari ancaman Houthi tidak hanya dirasakan sektor pelayaran, tetapi bisa juga memicu kenaikan harga minyak setelah pasar terdampak gangguan di Selat Hormuz.
Presiden Statas Advisors John Paisie mengatakan, gangguan pengiriman minyak melalui Laut Merah juga berpotensi mendongkrak harga produk olahan, seperti solar dan bahan bakar jet, serta melemahkan perekonomian dunia. Harga minyak dapat kembali menembus kisaran 115-120 dolar AS per barel.
Kekhawatiran itu mulai terlihat di pasar. Harga minyak Brent pada perdagangan Selasa naik 2 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel. Ini level tertinggi dalam lima pekan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/17/07d2fedb146bd8e321ad5b3f91b63489-Screenshot_2026_07_17_121402.png)
Minyak mentah West Texas Intermediate menguat menjadi 84,91 dolar AS per barel. ”Ini bukan semata karena hilangnya pasokan minyak hari ini, melainkan karena pasar menilai kemungkinan gangguan logistik akan berlanjut, terutama jika ekspor Saudi ke Asia atau pelayaran di Laut Merah terhambat,” tulis analis Gelber & Associates.
Selat Hormuz dan sejumlah selat lain di seluruh dunia telah menjadi kunci utama perdagangan global sejak abad ke-16 dan memicu persaingan geopolitik sepanjang sejarah. Ketika Iran memperketat cengkeraman di Selat Hormuz, Houthi juga ingin mengganggu pengiriman di Laut Merah ke dan dari pelabuhan Arab Saudi yang mungkin mengganggu lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/28/b888e7fb5151e7654d45f70241efe5e7-IMG_20260428_212527.jpg)
Kapal harus lewat selat ini untuk mencapai Terusan Suez. Kedua jalur yang mengunci akses ke Teluk dan Laut Merah ini termasuk di antara belasan selat yang penting bagi perdagangan internasional. Kapal tanker minyak dan gas, kapal curah, serta kapal kontainer yang memuat bahan mentah dan barang melewati koridor alam yang sempit ini.
Ahli geografi di Sciences Po Bordeaux dan penulis Geopolitics of Maritime Spaces, Sylvain Domergue, menjelaskan, Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) menyebutkan, selat adalah fitur alami yang tidak boleh dikenakan biaya. UNCLOS ditandatangani di Teluk Montego pada 10 Desember 1982.
Prinsip navigasi bebas harus dijamin saat melintasinya. Sebaliknya, kanal-kanal seperti Panama atau Suez, yang merupakan saluran air buatan. Melintasinya mungkin akan dikenakan tarif oleh negara yang menguasai kanal-kanal tersebut.
”Di Hormuz, Iran yang belum meratifikasi Konvensi Teluk Montego hingga kini menghormatinya berdasarkan hukum adat. Portugal, yang para navigatornya adalah orang pertama yang membuka jalur laut ke Hindia, sejak 1507 mencoba menguasai Hormuz untuk mengamankan monopoli akses terhadap rempah-rempah dan kekayaan Timur,” kata Domergue.
Tesis Mare Liberum (kebebasan laut) dari ahli hukum dan filsuf Belanda, Hugo Grotius, menjadi populer pada awal abad ke-17. Selat dipandang penting untuk perdagangan internasional jarak jauh karena ”laut bukan milik siapa pun”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/26/ba1f5aec-2b5d-48d7-a707-b8fb71d99f5c_jpg.jpg)
Untuk menjamin kebebasan navigasi, semua pihak harus menjamin kebebasan melintasi selat-selat tersebut. Belanda mengadopsi doktrin ini dan membela kebebasan laut. Ini diikuti Inggris lalu AS yang hingga hari ini menghormati hampir seluruh UNCLOS, meskipun belum meratifikasinya.
Namun, prinsip navigasi bebas, kata Domergue, tidak menghalangi Inggris mengarahkan kolonisasi mereka sesuai dengan geografi selat. Pijakan militer utama Inggris didirikan di sepanjang jalur perairan strategis.
Pangkalan angkatan laut kolonialnya yang besar di Asia berada di Singapura, sehingga memungkinkan kendali atas Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas maritim global terbesar dari China. Inggris juga akan mendirikan pangkalan di Pulau Socotra, dekat Bab el-Mandeb dan pintu masuk ke Laut Merah.
Satu-satunya selat besar yang masih dikenai biaya adalah selat Bosphorus dan Dardanella, Turki, dalam kesepakatan yang ditandatangani di Montreux pada 1936. Dalam jangka panjang, Domergue khawatir akan ada masalah lain terkait Selat Taiwan.
Sudah ada ”perang pasir” di Selat Taiwan. Kapal-kapal China datang untuk mengumpulkan pasir laut untuk sektor konstruksi di China. Taiwan menyebutnya sebagai tindakan provokatif.
Tak menutup kemungkinan juga masalah di Selat Malaka yang dimiliki bersama oleh Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
”Ketika Iran mengumumkan rencana menerapkan tarif tol di Hormuz, perdana menteri Malaysia menyatakan itu ide bagus yang bisa ditiru di Malaka. Jika ada korban jiwa di Malaka, Singapura akan kehilangan sebagian kemegahannya dan statusnya sebagai hub Asia Timur,” kata Domergue. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase