Ancang-ancang BPI Danantara Kelola Dana Abadi, Investasi, dan Aset Negara

Setelah menunda peluncurannya pada 7 November 2024, BPI Danantara memanggil sejumlah BUMN sebagai perkenalan. Danantara akan mengemban tiga fungsi utama.

19 Nov 2024 20:16 WIB · Ekonomi

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara mulai memperkenalkan diri kepada sejumlah badan usaha milik negara yang rencananya akan bergabung dalam lembaga superholding tersebut. Nantinya, Danantara akan menjalan tiga tugas utama, yakni sebagai pengelola dana abadi, pengelola investasi pembangunan, serta pengelola aset negara.

Semula, peluncuran Danantara direncanakan pada Kamis (7/11/2024). Namun, rencana tersebut ditunda atas perintah Presiden yang menghendaki agar peluncuran Danantara tidak terburu-buru, dengan mempertimbangkan beberapa tahapan yang harus ditempuh terlebih dahulu.

Wakil Kepala BPI Danantara Kaharuddin Djenod mengatakan, saat ini, Danantara masih dalam proses persiapan. Proses tersebut, antara lain, dilakukan dengan mengundang sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang nantinya akan tergabung ke dalam kendaraan finansial negara itu.

Danantara (tengah) melakukan persiapan-persiapan formalitas. Kemudian, kami ingin juga mengenal lebih lanjut dengan BUMN-BUMN yang akan bergabung dengan Danantara. Dan, saya pikir, BUMN-BUMN yang akan bergabung juga membutuhkan informasi tentang Danantara,” katanya saat ditemui di Jakarta, Selasa (19/11/2024).

Oleh sebab itu, dalam sepakan ke depan, Danantara akan mengadakan pertemuan dengan jajaran direksi sejumlah BUMN. Pertemuan tersebut dimulai dengan jajaran direksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk di kantor Danantara, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2024).

Konpers Danantara

Kemudian, Danantara akan memanggil jajaran direksi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) Tbk atau MIND ID pada Rabu (20/11/2024). Selain itu, Danantara juga akan mengadakan pertemuan dengan jajaran direksi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Pertamina (Persero) pada Senin (25/11/2024).

Kaharuddin menambahkan, pertemuan tersebut sebagai bagian dari pengenalan, baik dari sisi Danantara maupun BUMN yang akan bergabung di dalamnya. Upaya ini pun disambut dengan positif, salah satunya oleh jajaran direksi BRI.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Utama BRI Sunarso datang menghadap ke kantor Danantara sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, setelah sekitar satu jam menghadap Kepala BPI Danantara Muliaman Hadad, Sunarso enggan memberikan tanggapan kepada awak media.

”(Responsnya) Sangat positif setelah mengetahui bahwa kita akan bergerak seperti apa dan kita semuanya, Danantara, dan BRI, sangat-sangat mendukung visi presiden untuk membangun Indonesia,” tutur Kaharuddin.

Direktur Utama BRI Sunarso tiba di Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (19/11/2024). Danantara mengundang jajaran 7 direksi BUMN yang sudah menjadi bagian dari BPI Danantara sebagai langkah pengenalan awal.

Di sisi lain, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar, saat ditemui di Kompleks DPR, di Jakarta, Rabu (13/11/2024), mengaku, belum mendapatkan arahan langsung secara resmi terkait masuknya BNI dalam Danantara. Kendati demikian, BNI akan mendukung wacana tersebut selama berdampak positif bagi perekonomian nasional.

’’Saya belum tahu strukturnya (Danantara). Belum tahu ini. Kami ikut saja yang terbaik sepanjang itu bagus untuk negara,” katanya.

Tiga fungsi Danantara

Sebelumnya, pemerintah juga telah membentuk lembaga pengelola investasi, yakni Indonesia Investment Authority (INA) pada Februari 2021. Sejak berdiri hingga akhir 2023, INA telah menyalurkan investasi senilai Rp 31,3 triliun dengan total aset kelolaan atau assets under management (AUM) mencapai Rp 147,6 triliun.

Merujuk data media presentasinya, pada tahap awal, Danantara akan mengonsolidasikan aset INA dan tujuh aset BUMN. Ketujuh BUMN itu, meliputi Bank Mandiri, BRI, PLN, Pertamina, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Telkom Indonesia, dan MIND ID dengan total nilai aset Rp 8.900 triliun.

Quote

Ini (seperti) INA yang di-expand, INA yang dibesarkan, INA yang dilengkapi. Seluruhnya kita akan mengoptimalkan seluruh aset yang digabung. Seluruh aset BUMN dan aset-aset lain yang berada di luar APBN.

Apabila dijumlahkan, total aset kelolaan Danantara akan mencapai Rp 9.085 triliun pada saat awal atau sekitar 605 miliar dollar AS. Jumlah ini dua kali lipat dibandingkan dengan Temasek, badan pengelolaan aset BUMN di Singapura, yang pada 2024 mengelola aset senilai 389 miliar dollar Singapura atau 291,8 miliar dollar AS (Kompas.id, 19/11/2024).

Dalam praktiknya nanti, ujar Kaharuddin, Danantara akan menjalankan tiga fungsi. Ketiga fungsi tersebut adalah sebagai badan pengelola dana abadi (sovereign wealth fund/SWF), pengelola investasi pembangunan (development investment), serta pengelola aset (asset management).

Infografis BUMN

Sebagai gambaran, Singapura juga memiliki entitas yang berfungsi sebagai SWF dan menjalankan pengelolaan aset negara, yakni GIC Limited dan Temasek. Dalam konteks di Indonesia, Danantara akan menggabungkan kedua entitas tersebut menjadi satu entitas. Adapun konsep dan pemilihan nama Danantara merupakan gagasan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Kaharuddin, Danantara merupakan versi lain dari INA dengan komposisi aset kelolaan yang jauh lebih lengkap dan lebih besar. Dalam hal ini, lembaga yang digadang-gadang dapat menyaingi Temasek di Singapura tersebut akan mengoptimalkan seluruh aset BUMN yang bergabung di dalamnya serta aset-aset lain di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

”Ini (seperti) INA yang di-expand, INA yang dibesarkan, INA yang dilengkapi. Seluruhnya, kita akan mengoptimalkan seluruh aset yang digabung. Seluruh aset BUMN dan aset-aset lain yang berada di luar APBN,” tuturnya.

Terpisah, pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menjelaskan, pembentukan BPI Danantara dapat diartikan sebagai tindak lanjut atas upaya pemerintah dalam merestrukturisasi BUMN. Terbentuknya lembaga superholding tersebut diharapkan tidak hanya dapat mengelola aset-aset BUMN, tetapi juga aset-aset nasional lainnya, yang berpotensi dikembangkan nilainya ke depan.

SWF di negara-negara defisit

Alih-alih hanya berkiblat kepada Temasek di Singapura, kata Toto, Danantara idealnya dapat mencontoh model pengelolaan superholding Khazanah National Berhad di Malaysia. Berbeda dengan Temasek yang hanya mengelola portofolio secara komersial, Khazanah turut mengelola aset-aset BUMN yang dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi.

’’Fungsi Khazanah sebagai holding itu mungkin agak lebih mirip dengan cita-cita Indonesia membentuk superholding yang BUMN-nya tidak semata-mata seluruhnya komersial,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Namun, dalam mewujudkan impian tersebut, pemerintah harus dapat meyakinkan pasar bahwa BPI Danantara mampu bertumbuh dan berkembang sebagai lembaga investasi yang kredibel. Artinya, aset-aset kelolaan Danantara dikelola oleh profesional yang memiliki rekam jejak di level global.

Quote

Dalam kerangka itu, diasumsikan Danantara ke depan bisa membuat investor global masuk sebagai foreign direct investment (penanaman modal langsung), bukan investasi di portfolio. Ini akan meningkatkan nilai investasi di Indonesia, sehingga target pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo itu lebih mungkin dikerjakan.

Hal ini mengingat Danantara diharapkan tidak hanya mengelola portofolio, tetapi juga menarik investor global untuk masuk dalam proyek-proyek nasional. Menurut Toto, masuknya tujuh BUMN beraset jumbo dalam tahap awal pembentukan Danantara dapat memberikan kredibilitas bagi investor.

’’Dalam kerangka itu, diasumsikan Danantara ke depan bisa membuat investor global masuk sebagai foreign direct investment (penanaman modal langsung), bukan investasi di portfolio. Ini akan meningkatkan nilai investasi di Indonesia sehingga target pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo itu lebih mungkin dikerjakan,” tuturnya.

Toto menambahkan, berbagai upaya tersebut juga perlu diiringi dengan pelaksanaan tata kelola yang baik. Komitmen pelaksanaan tata kelola tersebut, antara lain, dapat diwujudkan melalui penerbitan undang-undang sebagai payung hukum yang dengan kata lain akan turut merevisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN.

Saham amblas

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin berpendapat, BPI Danantara memiliki implikasi yang positif, antara lain bagi bank BUMN yang masuk di dalamnya. Kendati demikian, dibutuhkan penjelasan terperinci dan kepastian terkait konsep Danantara, mengingat saham-saham Bank BUMN tersebut hingga kini masih terkoreksi.

Menjelang peluncuran Danantara yang semula direncanakan pada 7 November 2024, saham-saham bank BUMN yang akan bergabung di dalamnya, seperti Bank Mandiri, BRI, dan BNI, amblas serentak. Pada perdagangan pasar 6 November 2024, saham Bank Mandiri ditutup dengan terkoreksi 5,42 persen, BRI terkoreksi 2,34 persen, dan BNI terkoreksi 5,09 persen.

’’Ini karena di awal belum ada penjelasan, kemudian kepastian bagaimana konsep lembaga ini ke depan atau disusun untuk seperti apa itu belum jelas dan belum bisa meyakinkan, sehingga perlu ada informasi yang disampaikan lebih detail terkait dengan hal itu,” kata Amin saat dihubungi dari Jakarta.

Kinerja Bank Himbara Triwulan I 2024

Secara umum, Amin melanjutkan, Danantara akan memiliki aset-aset BUMN, termasuk ketiga bank BUMN tersebut yang notabene tergolong beraset besar. Sebagai superholding, Danantara diharapkan dapat lebih fleksibel dalam menarik investor dan mengelola aset, dengan tetap memperhatikan aspek tata kelola.

Di sisi lain, menurut Amin, butuh kejelasan terhadap tata kelola dari tiga bank ketika nantinya masuk dalam Danantara. Hal ini mengingat bank-bank tersebut telah memiliki anak usaha yang juga merupakan holding, antara lain BRI dengan Holding Ultra Mikro-nya.

’’Ini mesti dilihat secara bijak, kemudian apa yang bisa menjadikan nilai tambah untuk mereka bisa mengontribusikan profit yang lebih optimal,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta