Andreeva Jauhi Media Sosial demi ”Sunshine Double”

Setelah menjuarai turnamen WTA 1000 Indian Wells, Mirra Andreeva tampil di Miami. Dia bisa menjadi petenis putri kelima yang menjuarai turnamen itu secara beruntun.

20 Mar 2025 12:55 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

MIAMI, RABU — Mirra Andreeva tak punya waktu untuk merayakan gelar juaranya dari turnamen tenis WTA 1000 Indian Wells. Untuk mewujudkan peluang menciptakan ”Sunshine Double”, petenis putri berusia 17 tahun itu langsung fokus pada persiapan tampil di WTA 1000 Miami, termasuk tidak menggunakan media sosial.

Andreeva akan bersaing dalam turnamen gabungan putra dan putri, ATP Masters 1000/WTA 1000 Miami, di Florida, Amerika Serikat, 18-30 Maret. Kejuaaan ini berada pada level yang sama dengan dua turnamen yang dijuarainya secara beruntun di Dubai, Uni Emirat Arab, dan Indian Wells, AS.

Petenis Rusia itu menjadi juara di Indian Wells pada Minggu (16/3/2025), lalu sudah berada di Miami pada keesokan harinya. Sebagai salah satu unggulan, petenis unggulan ke-11 itu memang mendapat bye di babak pertama dan hingga Kamis belum mendapat giliran bermain untuk melawan Vera Kudermetova pada babak kedua. Andreeva baru dijadwalkan bermain pada nomor ganda bersama Diana Shnaider pada Kamis.

Meski demikian, menjalani dua turnamen besar beruntun bukan hal yang mudah. Apalagi, WTA Indian Wells dan Miami diselenggarakan, masing-masing, selama 12 dan 13 hari.

Faktor lain yang menjadi tantangan bagi petenis adalah karakteristik lapangan yang berbeda di kedua tempat tersebut meskipun berjenis lapangan keras. Lapangan di Indian Indian Wells Tennis Garden memantulkan bola lebih lambat dibandingkan dengan di Stadion Hard Rock, Miami. Bola yang digunakan pun berbeda.

Mirra Andreeva saat bertanding melawan Aryna Sabalenka pada final turnamen WTA 1000 Indian Wells, 16 Maret 2025. Seusai juara di Indian Wells, Andreeva langsung fokus di WTA 1000 Miami.

Cuaca juga berbeda dan terdapat perbedaan waktu tiga jam di antara kedua kota itu. Maka, beradaptasi, lalu bermain di Indian Wells dan Miami, dengan standar performa level tinggi yang konsisten tak kalah menantang dibandingkan dengan bersaing di ajang Grand Slam.

Maka, tak banyak petenis yang bisa menjuarai kedua turnamen itu pada tahun yang sama yang dikenal dengan istilah ”Sunshine Double”. Rafael Nadal dan Serena Williams yang masing-masing memiliki 22 dan 23 gelar Grand Slam pun tak dapat melakukannya.

Hanya ada tujuh petenis putra dan empat putri yang meraih ”Sunshine Double”. Mereka adalah Jim Courier, Michael Chang, Pete Sampras, Marcelo Rios, Andre Agassi, Roger Federer, dan Novak Djokovic di putra. Adapun petenis putri yang masuk dalam daftar ini adalah Steffi Graf, Kim Clijsters, Victoria Azarenka, dan Iga Swiatek.

Setelah menjuarai WTA Indian Wells, dengan mengalahkan dua petenis ranking teratas dunia, Andreeva memiliki kesempatan untuk masuk daftar peraih ”Sunshine Double”. Dia memiliki kepercayaan diri pada level tinggi setelah menjuarai WTA 1000 beruntun.

Di sisi lain, perjalanannya di Dubai dan Indian Wells yang selalu mencapai babak akhir bisa membuatnya kelelahan. Apalagi, petenis termuda di jajaran ranking sepuluh besar dunia ini akan menjalani debut di Miami. Dia mendapat kesempatan bermain pada 2024, tetapi tak jadi bermain karena cedera lengan.

Mirra Andreeva saat bertanding melawan Aryna Sabalenka pada final turnamen WTA 1000 Indian Wells, 16 Maret 2025.

”Saya mendapat momen yang bagus dan masih merasakan antusias dengan gelar yang diraih. Akan tetapi, saya harus segera fokus untuk Miami. Saya akan berusaha meraih kemenangan sebanyak mungkin di sini,” katanya.

Tanpa adanya jeda di antara dua turnamen, Andreeva dan timnya belum merayakan gelar di Indian Wells. Dia, bahkan, tak punya waktu untuk memantau reaksi komunitas tenis dan penggemar atas gelar juara di Indian Wells.

Selain karena harus segera berlatih lagi, atlet yang juga memiliki saudara petenis profesional ini (Erika Andreeva) sengaja menjauhkan diri dari media sosial untuk sementara. Andreeva tak ingin berbagai komentar atau pesan langsung kepadanya di media sosial berpengaruh negatif, seperti menambah beban untuk menjalani turnamen lain. Bagaimanapun, dia telah menjadi sorotan dunia internasional atas apa yang diraihnya dalam sebulan terakhir.

”Saya punya tim yang bagus dan juga membantu dalam menjauhkan saya dari media sosial. Kami memiliki waktu yang berkualitas saat bersama. Saat saya merasa tertekan atau ragu-ragu, saya lebih suka bicara kepada mereka untuk minta bantuan. Sejauh ini, bantuan itu sangat berpengaruh positif,” tutur Andreeva yang dilatih Conchita Martinez, mantan petenis Spanyol yang pernah mendampingi Garbine Muguruza.

Petenis yang berlatih di Cannes, Perancis, sejak 2022 itu juga akan belajar menghadapi berbagai situasi di saat kariernya menanjak dalam usia muda. Cori ”Coco” Gauff pernah merasakan itu ketika namanya melambung saat mencapa babak keempat Wimbledon 2019 pada usia 16 tahun dengan mengalahkan Venus Williams pada babak pertama.

”Tentu saja saya sangat bangga dengan pencapaian ini, tetapi saya harus belajar untuk tidak fokus pada hasil sebelumnya dan posisi dalam ranking. Saya harus fokus pada tantangan di depan mata,” ujarnya.

Mirra Andreeva berbicara kepada media jelang bertanding di WTA 1000 Miami di Miami Gardens, Florida, 18 Maret 2025.

Berdasarkan undian, jika bisa mengalahkan Kudermetova, Andreeva berpeluang bertemu Amanda Anisimova pada babak ketiga, lalu Emma Navarro di babak keempat. Petenis lain dalam paruh undian yang sama dengannya, di antaranya, ialah Jessica Pegula, Madison Keys, dan Swiatek.

Ada pula Emma Raducanu yang menang atas Sayaka Ishii, 6-2, 6-1, pada babak pertama, Rabu waktu setempat, serta petenis-petenis yang dikalahkannya di Indian Wells, yaitu Clara Tauson dan Elina Svitolina. 

Petenis tertua

Pada persaingan tunggal putra, Gael Monfils menjadi petenis tertua kedua yang menang pada turnamen Miami Masters. Petenis Perancis berusia 38 tahun itu menang tas Fabian Marozsan, 6-3, 3-6, 6-4, pada babak pertama untuk bertemu Jiri Lehecka di babak kedua.

Sebelum Monfils, ada Jimmy Connors sebagai petenis tertua yang meraih kemenangan di Miami Masters. Dia memenangi babak kedua, setelah bye di babak awal, pada 1992 saat berusia 39 tahun. Namun, langkahya dihentikan Sampras pada babak ketiga.

Dengan ranking ke-46 dunia, Monfils menjadi petenis tertua dalam peringkat 50 besar. Dia setahun lebih tua dibandingkan dengan Novak Djokovic pada posisi kelima.

Masa terbaiknya terjadi pada 2016 ketika mencapai perempat final Grand Slam Australia Terbuka dan semifinal AS Terbuka. Pada tahun itu pula, Monfils menempati ranking ke-11 sebagai posisi tertinggi yang pernah ditempatinya.

Gael Monfils saat bertanding melawan Fabian Marozsan pada turnamen Miami Masters, 19 Maret 2025.

Walaupun seusia dengan Nadal yang pensiun pada 2024, Monfils masih memilih berkarier di arena tenis profesional yang dijalani sejak 2004. Saat tampil pada babak pertama di Miami, ayah dari satu anak ini membuat lawan kesulitan dalam mengembalikan pukulan dengan sudut yang variatif.

”Saya berusaha membuatnya kesulitan mengantisipasi permainan saya dengan sudut pukulan yang variatif. Bola juga saya arahkan sedekat mungkin ke baseline agar dia tidak memiliki kesempatan mengontrol pertandingan,” tutur Monfils dalam laman resmi ATP.

Dua unggulan teratas Miami Masters ditempati Alexander Zverev dan Carlos Alcaraz. Undian menempatkan Alcaraz dan Djokovic pada paruh yang sama sehingga mereka berpeluang bertemu di semifinal.

Namun, menembus semifinal bukan hal yang mudah bagi Djokovic pada tahun ini. Dari empat turnamen, dia hanya sekali mencapai babak empat besar, yaitu di Australia Terbuka, melawan Zverev. Itu pun tak bisa diselesaikan karena Djokovic mengalami cedera hamstring.

Kekalahan di Melbourne Park itu menjadi bagian dari tiga kekalahan beruntun, hasil terakhir sebelum tampil di Miami. Djokovic kalah pada babak pertama di Doha, lalu babak kedua di Indian Wells. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .