Andreeva, Menyeimbangkan Profesionalitas dan Sisi Emosinal Remaja

Mirra Andreeva mencapai hal yang sulit dilakukan petenis profesional, menjuarai WTA 1000 beruntun. Dia melakukannya dalam usia 17 tahun.

17 Mar 2025 11:43 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Usai kehilangan set pertama dalam final turnamen tenis WTA 1000 Indian Wells, Mirra Andreeva mengoceh sambil melihat ke arah tribun tim, terutama pada pelatihnya, Conchita Martinez. Dia menggelengkan kepala, membungkukkan badan, memutar (mengalihkan) pandangan matanya ke atas, serta menunjukkan berbagai bahasa tubuh yang memperlihatkan kesan negatif.

Momen itu terjadi saat Andreeva berhadapan dengan petenis tunggal putri nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, di Indian Wells Tennis Garden, California, Amerika Serikat, Minggu (16/3/2025) waktu setempat. Setelah kehilangan set pertama, Andreeva menang dengan skor 2-6, 6-4, 6-3.

Turnamen Indian Wells, yang melahirkan Jack Draper sebagai juara tunggal putra pada level ATP Masters 1000, adalah salah satu turnamen level tinggi dalam struktur kejuaraan profesional. ATP Masters/WTA 1000 Indian Wells, bahkan, mendapat julukan “Grand Slam Kelima”.

Andreeva bertahan dari groundstroke keras Sabalenka yang bisa menyerang dari baseline. Petenis Rusia berusia 17 tahun itu, bahkan, bisa memperoleh poin dari posisi bertahan, seperti ketika mengubah irama permainan dengan drop shot atau melancarkan passing shot saat Sabalenka menyerang dari dekat net. Bola dari passing shot melayang jauh dari jangkauan Sabalenka, tetapi masih jatuh di dalam lapangan.

Usai memenangi final dalam waktu dua jam empat menit, Andreeva lantas meminta maaf pada Martinez atas sikap buruknya. Apa yang diperlihatkan setelah kehilangan set pembuka memperlihatkan karakter sebagai seorang remaja yang masih mudah marah, meski namanya melesat dalam sebulan terakhir sebagai petenis profesional.

Petenis Rusia Mirra Andreeva mengembalikan bola ke petenis Belarusia Aryna Sabalenka pada laga final WTA 1000 Indian Wells di Indian Wells Tennis Garden, California, Amerika Serikat, Minggu (16/3/2025) waktu setempat.. Andreeva menang dengan skor 2-6, 6-4, 6-3.

 “Saya punya karakter yang keras. Saya tahu, seperti yang kamu sebutkan, saya nakal. Yang tadi terjadi adalah karena saya sangat gugup. Saya minta maaf untuk perilaku saya tadi,” tutur Andreeva yang ditujukan pada Martinez saat acara pemberian hadiah.

Trofi besar yang terbuat dari kristal didapat Andreeva setelah menapaki perjalanan luar biasa selama dua pekan di Indian Wells. Sebelum mengalahkan Sabalenka, dia menyingkirkan petenis ranking kedua dunia, Iga Swiatek, di semifinal. Itu menjadi kekalahan kedua beruntun bagi Swiatek dari Andreeva.

Swiatek, yang terkenal bisa bermain tenang karena didampingi psikolog olahraga sejak remaja, tak dapat menahan kekesalannya saat melawan Andreeva. Dia memukul bola dengan keras ke lantai saat menerimanya dari ball boy dan pantulan bola itu hampir mengenai ball boy tersebut. Swiatek pun dicemooh penonton.

Elina Svitolina juga dibuat frustasi oleh Andreeva yang mengalahkannya di perempat final. Adapun unggulan ketujuh, Elena Rybakina, dikalahkan Andreeva di babak keempat.

Rybakina, Swiatek, dan Sabalenka memiliki reputasi sebagai juara Grand Slam. Rybakina dan Swiatek juga dikalahkan Andreeva dalam perjalanan menjuarai WTA 1000 Dubai, 16-22 Februari. Rangkaian kemenangan atas petenis-petenis top dunia itu membuat Andreeva percaya diri bahwa dia bisa mengalahkan mereka pada masa mendatang.

Petenis Belarusia Aryna Sabalenka mengembalikan bola ke petenis Rusia Mirra Andreeva pada laga final WTA 1000 Indian Wells di Indian Wells Tennis Garden, California, Amerika Serikat, Minggu (16/3/2025) waktu setempat.. Andreeva menang dengan skor 2-6, 6-4, 6-3.

“Sebelumnya, saya hanya berusaha memenangi gim sebanyak mungkin saat bertanding. Sekarang, saya yakin punya kemampunya mengalahkan mereka,” katanya.

Pencapaian dalam sebulan terakhir ini menghasilkan beberapa catatan bagi Andreeva, salah satunya sebagai petenis termuda yang mengalahkan petenis peringkat teratas dan kedua dunia dalam satu turnamen, sejak 1990. Petenis yang mengidolakan Andy Murray itu juga menjadi petenis termuda yang menjuarai dua WTA 1000, yang sempat bernama WTA Premier dan WTA Tier I, secara beruntun sejak Martina Hingis pada 1997.

Memasuki tahun ketiga sebagai petenis profesional, Andreeva menempati peringkat keenam dunia berdasarkan daftar ranking yang dikeluarkan WTA pada Senin. Dia naik lima tingkat dari ranking sebelumnya.

Dengan posisi itu, Andreeva menjadi petenis termuda di jajaran petenis sepuluh besar dunia. Dia lebih muda dari rata-rata usia petenis pada posisi tersebut, yaitu 24,7 tahun.

Sebelum Andreeva, ada Cori “Coco” Gauff yang namanya naik daun pada usia 16 tahun, yaitu ketika mencapai babak keempat Wimbledon 2019 dengan mengalahkan Venus Williams pada babak pertama. Perkembangan Coco tak secepat Andreeva, tetapi Coco telah memiliki satu gelar Grand Slam, yaitu dari Amerika Serikat Terbuka 2023. Akan tetapi, Andreeva tak ingin dibandingkan dengan petenis lain.

Petenis Rusia Mirra Andreeva mengembalikan bola ke petenis Belarusia Aryna Sabalenka pada laga final WTA 1000 Indian Wells di Indian Wells Tennis Garden, California, Amerika Serikat, Minggu (16/3/2025) waktu setempat.. Andreeva menang dengan skor 2-6, 6-4, 6-3.

Menjadi juara Grand Slam dan perjalanan setelah itulah yang menjadi tantangan sebenarnya bagi petenis profesional. Andreeva akan berhadapan dengan tantangan itu dengan sorotan dunia setelah menjuarai WTA 1000, meski masih memiliki waktu begitu panjang untuk berkembang. Dengan usia sekarang, Andreeva, bahkan, masih bisa dikategorikan petenis yunior.

Sebelum berbicara tentang peluang menjuarai Grand Slam, Andreeva akan menjalani tantangan terdekat yang tak kalah sulit, yaitu meraih gelar “Sunshine Double”. Ini adalah istilah saat petenis menjuarai turnamen di Indian Wells dan Miami secara beruntun. Turnamen Miami, yang juga gabungan dari WTA 1000 dan ATP Masters 1000, diselenggarakan 18-30 Maret.

Perbedaan karakter lapangan meski sama-sama lapangan keras, jenis bola, cuaca, dan perbedaan waktu tiga jam menjadi tantangan bagi atlet. Apalagi, tak ada jeda antara penyelenggaraan turnamen di Indian Wells dan Miami.

Salah satu faktor yang masih harus dikendalikan saat bertanding adalah emosi, seperti yang terlihat saat melawan Sabalenka. Untuk mengatasi itu, Andreeva belajar menjadi sosok yang lebih baik berbekal kalimat yang pernah diucapkan bintang bola basket, LeBron James.

“Saya menggunakan kata-katanya sebagai motivasi. Dalam sebuah wawancara, James mengatakan, jika kamu tidak bisa tampil dengan kondisi fisik seratus persen, kamu bisa memilih siap seratus persen dari mental. Itu yang bisa membuat seseorang menjadi juara. Saya belajar menerapkan itu,” katanya dalam laman resmi WTA. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji