Anggota Terakhir Ekspedisi Perintis Gunung Everest Meninggal Dunia

Kanchha Sherpa, yang bersama pendaki legendaris Sir Edmund Hillary mendaki Everest pada 1953, meninggal dunia.

17 Okt 2025 12:00 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Kabar duka datang dari Nepal. Asosiasi Pendakian Gunung Nepal memberitakan kabar duka pada Kamis (16/10/2025) bahwa Kanchha Sherpa, anggota terakhir tim ekspedisi pendakian gunung yang pertama kali menaklukkan Gunung Everest, telah meninggal pada Kamis dini hari.

Kanchha Sherpa merupakan salah satu dari 35 anggota tim yang menempatkan Edmund Hillary, warga Selandia Baru, dan pemandu Sherpa-nya, Tenzing Norgay, di puncak gunung setinggi 8.849 meter pada 29 Mei 1953. 

Fur Gelje Sherpa, presiden asosiasi pendakian gunung Nepal, mengatakan bahwa mereka telah kehilangan sosok panutan. ”Beliau adalah legenda hidup dan inspirasi bagi semua orang di dunia pendakian gunung dan mereka yang bekerja di industri ini,” tambah Fur Gelje.

Kanchha Sherpa duduk di kursi selama wawancara dengan Associated Press di kediamannya di Kathmandu, Nepal, Sabtu, 2 Maret 2024. Kanchha Sherpa, 91 tahun, termasuk di antara 35 anggota tim yang menempatkan orang Selandia Baru Edmund Hillary dan pemandu Sherpa-nya Tenzing Norgay di puncak 8.849 meter pada 29 Mei 1953.

Kanchha bekerja sebagai pemandu gunung hampir sepanjang hidupnya. Ia adalah salah seorang dari tiga Sherpa yang mencapai perkemahan terakhir sebelum puncak bersama Hillary dan Tenzing.

Yang mengherankan, Kanchha sendiri tidak pernah mencapai puncak Everest karena istrinya menganggapnya terlalu berisiko, ujarnya dalam sebuah wawancara pada Maret 2024. Ia juga melarang anak-anaknya menjadi pendaki gunung.

Kanchha lahir pada tahun 1933 di Desa Namche di kaki bukit Everest. Pada zaman itu, sebagian besar anggota masyarakat Sherpa Nepal mencari nafkah dengan bertani kentang dan menggembalakan yak.

Sir Edmund Hillary (kiri) dan Tenzing Norgay Sherpa memajang perlengkapan pendakian mereka di Kedutaan Besar Inggris di Kathmandu setelah penaklukan mereka atas Gunung Everest pada tahun 1953 dalam foto selebaran tanpa tanggal ini.
Gunung Everest (8.848 meter di atas permukaan laut) terlihat di wilayah Everest, sekitar 140 km timur laut Kathmandu, Nepal, 27 Mei 2019. Dalam dua minggu itu, sepuluh pendaki tewas setelah cuaca buruk terjadi di kawasan itu saat musim pendakian. Banyaknya pendaki yang datang membuat mereka harus antre berjam-jam agar bisa mencapai puncak. Antrean ini menyebabkan pendaki mengalami kelelahan dan kehabisan oksigen.
Dalam foto yang diambil pada tanggal 27 April 2019 ini, pemandangan udara Gunung Everest terlihat dari penerbangan dari Nepal ke Bhutan.
Gunung Pumori menjulang di latar belakang saat seorang pendaki gunung menuruni Air Terjun Es Khumbu untuk turun ke Everest Base Camp, di Nepal, 4 Mei 2025.
Para pendaki gunung naik ke Camp 2 dalam perjalanan mereka ke puncak Gunung Everest di Nepal, 1 Mei 2025.
Pendaki gunung membentuk antrean saat mereka mendekati puncak Gunung Everest di Nepal, 18 Mei 2025.

Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya dengan berdagang kentang di Tibet, negara tetangga, untuk mencari nafkah. Saat ia dan beberapa temannya kemudian mengunjungi Darjeeling, India, ia dibujuk untuk berlatih mendaki gunung, dan ia pun mulai bekerja sama dengan para pendaki asing.

Ia mulai mendaki gunung saat berusia 19 tahun dan tetap aktif di sektor ekspedisi hingga usia 50 tahun. Pada tahun 1953, persahabatan ayahnya dengan Tenzing Norgay membantu Kanchha mendapatkan pekerjaan sebagai porter dataran tinggi untuk Tenzing dan warga Selandia Baru, Edmund Hillary, saat mereka mencapai puncak Everest pertama di dunia.

Kolonel John Hunt berbicara dengan Edmund Hillary saat mereka kembali dari ekspedisi Everest yang sukses pada tanggal 27 Juni 1953.

Dia adalah salah satu dari tiga Sherpa yang mencapai perkemahan terakhir di bawah puncak, di atas South Col yang tingginya 7.900 mdpl. Mereka pertama kali mendengar tentang pendakian yang sukses itu melalui radio dan bertemu kembali dengan pasangan pendaki puncak di Camp 2, pada ketinggian sekitar 6.400 mdpl.

”Kami semua berkumpul di Camp 2, tapi tidak ada alkohol, jadi kami merayakannya dengan teh dan camilan,” ujarnya. Sejak itu, Kanchha kerap melakukan pendakian Everest lainnya selama bertahun-tahun dan mencapai berbagai ketinggian.

”Lanchha sangat disukai dan dihormati secara luas di komunitas pendaki. Ia dikenal sebagai pendaki yang penuh energi. Bahkan, setelah pensiun dan di usia tuanya, ia masih melakukan perjalanan ke biara-biara di seluruh wilayah Everest untuk upacara keagamaan,” kata Ang Tshering Sherpa dari Asosiasi Pendakian Gunung Nepal.

Pemandangan Kamp 1 dalam perjalanan menuju puncak Gunung Everest di Nepal, Kamis, 1 Mei 2025.
Personel Angkatan Darat India mengambil bagian dalam sesi pelatihan di Kamp Pangkalan Everest sebelum memulai pendakian mereka ke Gunung Everest di Nepal, 26 April 2025.
Pendaki gunung menuruni Air Terjun Es Khumbu saat mereka naik menuju puncak Gunung Everest, Nepal, 11 Mei 2025.
Para pendaki mengantre di bawah Camp 4 dalam perjalanan ke puncak Gunung Everest di Nepal, 17 Mei 2025.
Siluet seorang pendaki gunung di Gunung Ama Dablam dalam perjalanannya ke puncak Gunung Everest di Nepal, 24 April 2025.
Anggota ekspedisi ke puncak Gunung Everest berdiri di dekat tenda mereka di Everest Base Camp di Nepal, 28 April 2025.

Namun, di usia senjanya, Kanchha memiliki perasaan campur aduk tentang nasib gunung tersebut sebagai destinasi wisata petualangan. Dalam wawancara dengan Associated Press pada Maret 2024, ia mengungkapkan kekhawatirannya tentang kepadatan dan kotornya puncak tertinggi dunia tersebut.

Ia mendesak masyarakat untuk menghormati gunung tersebut, yang dihormati sebagai dewi ibu Qomolangma di kalangan Sherpa, suku Himalaya yang dikenal sebagai pemandu pendakian gunung. ”Akan lebih baik bagi gunung untuk mengurangi jumlah pendaki,” katanya.

Pada tahun 2013, Kanchha mendapat kehormatan dari Pemerintah Nepal dalam peringatan 50 tahun penaklukan Gunung Everest. Bersama dengan kerabat Tenzing dan Hillary, mereka berkeliling kota Kathmandu dalam sebuah pawai.

Kanchha Sherpa, 91 tahun, saat wawancara dengan Associated press di Kathmandu, Nepal, 2 Maret 2024.

Saat pensiun, Kanchha tinggal di Namche, tempat keluarganya mengelola hotel kecil yang melayani para trekker dan pendaki. Kanchha Sherpa meninggalkan seorang istri, empat putra, dua putri, dan cucu. Kanchha beristirahat dalam keabadian Gunung Everest.

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto