Bulan Mei 2025 terdapat beberapa rekor capaian baru dalam pendakian Everest.
02 Jun 2025 11:07 WIB · Foto Cerita
Kami Rita, seorang Sherpa pemandu berusia 55 tahun yang dijuluki ”Manusia Everest”, mencapai puncak Everest, gunung tertinggi di dunia, untuk ke-31 kalinya pada hari Selasa, 27 Mei 2025. Ia memecahkan catatan rekor dirinya sendiri, yang mencapai puncak Everest ke-30 di bulan Mei tahun lalu.
Ia telah mencoba mendaki ke puncak beberapa hari yang lalu, tetapi terpaksa kembali karena cuaca buruk. Ratusan pendaki lain telah mencoba mendaki Gunung Everest dari sisi puncak Nepal di selatan musim ini, yang berakhir akhir pekan ini.
Menurut Departemen Pariwisata Nepal, 214 pendaki telah diberi izin untuk mendaki Gunung Everest dari sisi puncak Nepal di selatan pada musim pendakian ini. Sebagian besar pendakian Everest dan puncak Himalaya dilakukan pada bulan April dan Mei saat kondisi cuaca paling mendukung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/a401bfce-571e-4748-8d9b-c1f8fa65d353_jpg.jpg)
Kami Rita terbang ke Gunung Everest pada hari Minggu dari Kathmandu untuk memandu tim militer India yang akan mencoba mencapai puncak setinggi 8.849 meter.
”Saya siap secara mental, emosional, dan fisik untuk mendaki gunung,” kata Kami Rita kepada The Associated Press di bandara Kathmandu. ”Saat ini, kondisi fisik saya sedang prima.” Pada bulan Mei tahun lalu, ia mendaki puncak tersebut dua kali.
”Prioritas utama saya adalah membawa klien saya ke puncak gunung. Setelah itu, saya akan memutuskan apakah saya akan mendaki puncak gunung lebih dari satu kali selama musim. Itu tergantung pada cuaca dan kondisi di gunung,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/b423e485-f60c-4753-a473-b50606a72bbd_jpg.jpg)
Kami Rita mendaki Everest pertama kali pada 1994 dan sejak itu hampir setiap tahun ia mencapai puncak gunung tertinggi itu. Ia adalah salah satu dari banyak pemandu sherpa yang keahlian dan keterampilannya sangat penting bagi keselamatan dan keberhasilan pendaki yang ingin berdiri di puncak gunung setinggi 8.849 meter ini.
Pesaing terdekatnya untuk pendakian Gunung Everest terbanyak adalah sesama pemandu sherpa Pasang Dawa, yang telah melakukan 29 pendakian gunung.
Puncak Everest pertama kali didaki pada tahun 1953 oleh warga Selandia Baru, Edmund Hillary dan Sherpa Nepal Tenzing Norgay. Kami Rita dan Tenzing Norgay berasal dari desa yang sama di Desa Thame, Distrik Solukhumbu, Nepal. Selain Everest, Kami Rita telah mendaki puncak-puncak lain yang termasuk yang tertinggi di dunia, termasuk K2, Cho Oyu, Manaslu, dan Lhotse.
Nepal telah mengeluarkan lebih dari 1.100 izin untuk pendaki gunung musim ini, termasuk 458 untuk Everest. Negara ini adalah rumah bagi delapan dari 10 puncak tertinggi di dunia dan menyambut ratusan petualang setiap musim semi. Musim saat suhu lebih hangat dan angin biasanya lebih tenang.
Lebih dari 500 pendaki dan pemandu mereka telah mencapai puncak Everest sejak rute dibuka, memanfaatkan cuaca baik yang singkat, menurut departemen pariwisata Nepal.
Musim ini juga mencatat jumlah kematian paling sedikit di Everest dalam beberapa tahun terakhir. Dua pendaki, seorang Filipina dan seorang India, telah meninggal di perkemahan tingginya.
Capaian besar juga diraih pendaki Nepal lainnya, Tashi Gyalzen. Sherpa berusia 29 tahun ini tiba kembali ke ibu kota Kathmandu pada hari Selasa setelah ia memecahkan rekor empat kali mendaki puncak Everest hanya dalam waktu 15 hari. Pendakian terakhir dilakukan pada 23 Mei 2025 lalu.
”Saya merasa bangga, itu adalah tugas yang sangat sulit, tetapi saya berhasil melakukannya,” kata Gyalzen Sherpa kepada AFP setelah mendarat di Kathmandu, tempat keluarganya dan penggemar pendakian gunung menyambutnya. ”Sebelumnya, banyak pionir telah mendaki Everest berkali-kali, tetapi tidak empat kali dalam satu musim.”
Sementara pemandu gunung asal Inggris, Kenton Cool, 51 tahun, juga berhasil mendaki Everest pada hari minggu untuk ke-19 kalinya, memperpanjang rekornya sendiri untuk puncak terbanyak yang dicapai pemandu gunung oleh orang non-Nepal.
Kenton Cool mendaki puncak Everest bersama dengan beberapa pendaki lainnya dan dia dalam keadaan baik dan dalam perjalanan turun dari puncak, kata Iswari Paudel dari Himalayan Guides Nepal, yang melengkapi ekspedisinya. Cool pertama kali mendaki Gunung Everest pada tahun 2004 dan telah melakukannya hampir setiap tahun sejak saat itu.
Ia tidak dapat mendaki Everest pada tahun 2014 karena musim pendakian dibatalkan setelah 16 pemandu Sherpa tewas dalam longsoran salju, dan pada tahun 2015 ketika gempa bumi memicu longsoran salju yang menewaskan 19 orang. Musim pendakian tahun 2020 dibatalkan karena pandemi virus corona.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/02/853ba1a8-dd3e-4ee6-956b-5b7cc5bdf1ff_jpg.jpg)
Hal menarik dari capaian ke-31 Kami Rita adalah sifatnya yang rendah hati. Berbicara di depan wartawan untuk pendakian ke-30 puncak Everest tahun lalu, Ia mengatakan bahwa ia ”hanya bekerja” dan tidak berencana untuk memecahkan rekor. ”Saya lebih senang bahwa pendakian saya membantu Nepal dikenal di dunia,” katanya kepada AFP pada Mei 2024.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .