Angin dari Barat yang Kucilkan Israel

Pernyataan Trump soal kelaparan akut di Gaza diharapkan bisa menekan Netanyahu dan Israel untuk membuka blokade dan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.

31 Jul 2025 05:45 WIB · Tajuk Rencana

Oleh REDAKSI

Israel kian terisolasi. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mematahkan bantahan Israel soal kelaparan di Gaza. PM Inggris Keir Starmer siap mengakui Palestina.

Dalam sepekan terakhir ini, seiring masih tersendatnya pasokan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Jalur Gaza, beberapa peristiwa penting perlu mendapat perhatian. Peristiwa-peristiwa itu menandai angin perubahan di lingkar kelompok negara yang selama ini jadi pendukung dan mitra dekat Israel dalam krisis di Gaza dan isu Palestina.

Pertama, keputusan Perancis untuk mengakui negara Palestina pada sidang Majelis Umum PBB di New York, AS, September mendatang. Keputusan ini diumumkan Presiden Perancis Emmanuel Macron, 24 Juli. Bersama Arab Saudi, Perancis mengorkestrasi Konferensi Tingkat Tinggi Internasional mengenai Solusi Dua Negara di New York, 28-30 Juli.

Tidak hanya menyerukan diakhirinya perang Gaza dan masuknya bantuan kemanusiaan, deklarasi konferensi yang diikuti 125 perwakilan negara itu juga menyusun peta jalan internasional untuk implementasi solusi dua negara dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Solusi ini coba dikubur oleh para politisi Israel di bawah pemerintahan PM Benjamin Netanyahu dengan menolak pembentukan negara Palestina.

UN Two State Solution

Kedua, hanya berselang beberapa hari setelah pernyataan Macron, PM Inggris Keir Starmer mengumumkan Inggris juga akan mengakui negara Palestina jika Israel tak mengupayakan gencatan senjata di Gaza. Satu demi satu negara-negara mitra dekat Israel menjadi bagian dari angin perubahan yang bertiup semakin kencang di Barat untuk mengakui Palestina.

Quote

Satu demi satu negara-negara mitra dekat Israel menjadi bagian dari angin perubahan yang bertiup semakin kencang di Barat untuk mengakui Palestina.

Ketiga, dalam lawatan di Skotlandia, 28 Juli, Trump secara terbuka menyebut ada kelaparan akut di Gaza. Harus ada bantuan pangan di sana. Pernyataan ini mematahkan propaganda yang terus ditiupkan Netanyahu dan pejabat Israel lain bahwa tidak ada kelaparan di Gaza.

Pernyataan Trump diharapkan bisa menekan Netanyahu dan Israel membuka blokade dan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Bantuan itulah yang saat ini mendesak disalurkan bagi warga Gaza. Otoritas internasional dalam krisis pangan, Integrated Food Security Phase Classification (IPC), Selasa (29/7/2025), mengeluarkan peringatan terbaru bahwa jika tak ada tindakan segera saat ini, kematian bakal meluas di Gaza.

Suka atau tidak, hanya Trump yang didengar dan dipedulikan oleh Netanyahu. Bagi Israel, yang kini semakin terkucil, ada ketergantungan yang semakin besar pada Washington. Selama puluhan tahun sejak berdiri pada 1948, Israel selalu mengandalkan AS sebagai pelindung keamanan dan diplomatik. Itu sebabnya, hanya AS yang bisa mengendalikan Israel.

Wajar jika Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Senin (28/7/2025), meminta Trump turun tangan menghentikan perang Gaza dan membuka akses bantuan ke wilayah itu. Penting untuk terus menggulirkan desakan pada Washington bahwa mereka punya tanggung jawab menghentikan tragedi di Gaza. Caranya, hentikan perang dan buka saluran bantuan kemanusiaan ke Gaza.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Marcellus Hernowo