Dua tahun konflik Israel-Hamas yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
08 Okt 2025 11:03 WIB · Internasional
Kemarin, Selasa (7/10/2025), tepat dua tahun peringatan serangan dan kelompok bersenjata ke Israel. Angka saja tidak dapat menggambarkan korban dan kerusakan di Gaza. Namun, dengan angka, kita bisa menggambarkan seberapa daya rusak konflik selama dua tahun itu.
Perang tersebut telah mengubah kehidupan 2,1 juta warga Palestina yang semula tinggal di wilayah tersebut dan menghancurkan wilayah seluas 365 kilometer persegi. Dari setiap 10 orang, satu orang tewas atau terluka dalam serangan Israel dan sembilan orang mengungsi.
Setidaknya tiga orang tidak makan selama berhari-hari. Dari setiap 100 anak, empat orang kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. Dari setiap sepuluh bangunan yang berdiri di Gaza sebelum perang, delapan rusak bahkan telah rata dengan tanah. Dari setiap sepuluh hektar lahan pertanian, delapan hektar telah diratakan.
Perang dimulai ketika militan Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Sejak saat itu, Israel berjanji akan membuat pembalasan.
Hasilnya, pemakaman terjadi setiap hari. Kuburan massal memenuhi jalur Gaza. Sebanyak 2.000 orang tewas saat mencari makanan. Dalam beberapa kasus, Israel mengakui telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kerumunan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/23/2f0d6b52-0945-437b-a026-0478201530f4_jpg.jpg)
Perang ini juga merupakan konflik paling mematikan bagi jurnalis, pekerja kesehatan, dan pekerja bantuan PBB dalam sejarah, menurut Komite Perlindungan Jurnalis dan PBB. British Medical Journal menyatakan prevalensi pasien dengan cedera akibat bahan peledak di Gaza sebanding dengan data pasukan tempur AS yang terluka di Irak dan Afghanistan.
Secara keseluruhan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan melukai hampir 170.000 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Lebih dari 40.000 di antaranya mengalami cedera yang mengancam jiwa. Jumlah korban tewas tidak termasuk ribuan orang yang diyakini terkubur di bawah reruntuhan.
Militer Israel telah menguasai sebagian besar wilayah Gaza, mendorong sebagian besar penduduk Palestina ke zona kecil di sepanjang pantai selatan. Di bawah kendali Israel, wilayah Gaza telah berubah. Pasukan Israel telah meratakan atau menghancurkan seluruh permukiman di Kota Gaza dan kota-kota pertanian kecil di sepanjang perbatasan, dan membangun jalan baru dan pos-pos militer baru.
Menggunakan citra satelit Gaza dari luar angkasa, Pusat Satelit PBB menyatakan setidaknya 102.067 bangunan telah hancur. Di antara puing-puing tersebut terdapat reruntuhan sekolah dasar dan universitas, klinik medis, masjid, rumah kaca, dan rumah keluarga.
Ratusan warga Palestina setiap hari memadati dapur amal, berebut semangkuk lentil. Bayi-bayi sangat kurus sehingga berat badan mereka lebih ringan dari saat lahir. Otoritas pangan dunia pada bulan Agustus mangatakan bahwa Kota Gaza telah dilanda kelaparan. Namun, Israel membantah pernyataan tersebut.
Kota-kota yang tersebar di sepanjang jalur Gaza dulu adalah tempat para petani Palestina menanam stroberi, semangka, gandum, dan sereal, kini telah diratakan. Kota Khuzaa, yang dahulu adalah lumbung pangan bagi kota Khan Younis, kini tak bersisa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/27/df8cf9d9-98a3-4ce7-b4d0-9a86e55ba6b8_jpg.jpg)
Serangan Israel terus berlanjut dengan berdalih menumpas Hamas dan membebaskan 48 sandera yang masih ditahan di Gaza, yang 20 di antaranya diyakini masih hidup. Perundingan yang diadakan tepat dua tahun peristiwa penyerangan belum menunjukkan hasil. Namun, semua mengharapkan hasil yang terbaik, perang diakhiri, dan semua sandera dibebaskan. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji