Berharap Besok Akan Lebih Baik, Obituari Jurnalis Gaza

Gaza telah menjadi kuburan besar bagi 189 jurnalis sejak dimulainya perang.

27 Agt 2025 09:44 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

”Besok akan lebih baik,” adalah kalimat penutup Hussam al-Masri, jurnalis Reuters, dalam komunikasi terakhirnya dengan rekan sesama jurnalis visual di Reutres, Mohamed Salem. Salem mengenal mengenal Masri sejak tahun 2003 saat bersama-sama meliput dan bekerja sama di Rafah, di selatan Gaza, tahun lalu.

Salem meninggalkan Gaza pada akhir tahun 2024, tetapi masih rutin berhubungan setiap hari dengan Masri. Komunikasi mereka terakhir terjadi pada Senin (25/8/2025) pagi. Masri masih seperti biasa, menunjukkan optimisme dengan senyum saat bercerita situasi di Gaza, bahkan ketika kondisi di daerah kantong Palestina itu semakin terpuruk dalam kelaparan dan keputusasaan. 

Warga Palestina mengangkut petugas medis yang terluka dalam serangan Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada Senin (25/8/2025). Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan, serangan Israel di rumah sakit menewaskan sedikitnya 20 orang pada 25 Agustus, termasuk empat jurnalis.
Pelayat membawa jenazah salah satu dari lima jurnalis yang tewas dalam serangan Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan saat pemakaman mereka pada Senin (25/8/2025).
Warga berduka atas kematian jurnalis akibat serangan Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan, Senin (25/8/2025).
Moaz Abu Taha, jurnalis Palestina, berswafoto dengan sesama jurnalis di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 18 Januari 2025. Asosiasi Pers Asing pada 25 Agustus menyerukan ”penjelasan segera” dari militer Israel dan kantor perdana menteri setelah serangan Israel terhadap sebuah rumah sakit yang menewaskan lima jurnalis, termasuk Moaz Abu Taha dan Mariam Dagga.
Masyarakat Mexico City, Meksiko, menyalakan lilin untuk menuntut keadilan bagi koresponden Al Jazeera, Anas al-Sharif, dan jurnalis lainnya yang tewas dalam serangan udara Israel di Gaza, Selasa (12/8/2025).
Helm dan rompi bertuliskan ”PRESS” diletakkan dalam unjuk rasa solidaritas jurnalis yang terbunuh oleh serangan Israel di Jalur Gaza, di Kota Gaza, Selasa (26/8/2025).

Masri yang saat ini berusia 49 tahun adalah juru kamera berpengalaman yang selalu melakukan pendekatan positif, bahkan dalam situasi paling berbahaya sekalipun. Itu membuatnya populer di kalangan komunitas wartawan Gaza. Pemimpin Redaksi Reuters Alessandra Galloni mengatakan, ”Hussam sangat berdedikasi dalam menceritakan kisah Gaza kepada dunia.”

Masri mulai bekerja untuk Reuters sebagai pegawai kontrak di Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir, pada Mei 2024, delapan bulan setelah konflik dimulai. Dalam liputannya, ia kerap melakukan siaran langsung dari kamp-kamp pengungsian dan merekam masuknya bantuan kemanusiaan melalui pelintasan perbatasan Rafah. Sejak kembali ke Khan Younis, ia bertanggung jawab atas siaran harian Reuters dari Rumah Sakit Nasser yang menyediakan tayangan langsung Gaza untuk mengabarkan ke seluruh dunia. 

Kisah terakhirnya, yang direkam pada hari Sabtu, menunjukkan keluarga-keluarga berduka atas jenazah kerabat, termasuk anak-anak, yang tewas dalam serangan Israel yang telah merenggut sedikitnya 62.000 nyawa warga Palestina dalam perang tersebut.

Rekan-rekan meratapi kematian jurnalis Palestina Hassan Essliah saat pemakamannya, setelah dia tewas dalam serangan tentara Israel semalam di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza, Selasa, 13 Mei 2025. (

”Masri memilih untuk mengawasi siaran langsung di Rumah Sakit Nasser karena ia yakin itu adalah tempat teraman baginya untuk melakukan operasi,” kata Salem, yang berbicara kepadanya setiap pagi saat ia menyiapkan kameranya. Selama percakapan terakhir mereka, Masri menggambarkan betapa sulitnya kehidupan di Gaza dan perjuangan untuk mencari makanan.

Jenazah Masri ditemukan bersama kameranya di tangga luar rumah sakit, tempat ia menyiarkan pemandangan Khan Younis ketika serangan Israel menghantam lokasi itu, seperti yang ditunjukkan dalam video Reuters. Ledakan kedua di tangga beberapa menit kemudian menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk petugas penyelamat dan empat jurnalis yang pernah bekerja untuk berbagai media, termasuk Associated Press dan Al Jazeera. 

Jurnalis memegang kamera berlumuran darah milik jurnalis foto Palestina, Mariam Dagga. Dagga adalah jurnalis yang bekerja lepas untuk AP sejak awal perang. Ia tewas dalam serangan Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan, dan dimakamkan pada Senin (25/8/2025).
Mariam Dagga (kiri), jurnalis visual Palestina yang bekerja lepas untuk AP sejak awal perang, memeluk sesama jurnalis di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 18 Januari 2025. Asosiasi Pers Asing, Senin (25/8/2025), menyerukan ”penjelasan segera” dari militer Israel dan kantor perdana menteri, setelah serangan Israel terhadap sebuah rumah sakit menewaskan lima jurnalis, termasuk Moaz Abu Taha dan Mariam Dagga.
Potret Mariam Dagga, jurnalis visual Palestina yang bekerja lepas untuk AP sejak awal perang, berdiri di depan kamera di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 18 Januari 2025.
Gambar terbaru tanpa tanggal ini, diambil dari video yang disiarkan stasiun televisi Al Jazeera, menunjukkan koresponden Gaza, Anas al-Sharif, melaporkan di kamera di Gaza. Al-Sharif dan empat anggota staf Al Jazeera lainnya tewas oleh serangan pesawat tak berawak Israel di tenda mereka di Kota Gaza sebelum tengah malam pada Minggu.
Seorang wanita membawa poster yang menunjukkan jurnalis Palestina, Anas al-Sharif (kiri) dan Mohamed Qreiqeh yang tewas dalam sebuah serangan udara pada Minggu (10/8/2025) malam di Gaza, dalam sebuah aksi unjuk rasa di kota Ramallah, Tepi Barat, Senin (11/8/2025).
Wartawan memeriksa tenda yang hancur di mana wartawan, termasuk koresponden Al Jazeera Anas al-Sharif dan Mohamed Qureiqa, terbunuh oleh serangan udara Israel di luar kompleks Rumah Sakit Shifa Kota Gaza Senin (11/8/2025).
Suasana saat para pelayat mengucapkan selamat tinggal kepada rekannya yang tewas di pemakaman Sheikh Radwan di Kota Gaza pada 11 Agustus 2025.

Menjalani apa yang diliput

Salah satu jurnalis lain yang tewas dalam serangan rudal di RS Nasser adalah Mariam Dagga. Ia adalah perempuan jurnalis berusia 33 tahun, yang bekerja untuk Associated  Press dan media berita lainnya selama perang Gaza. Dagga secara rutin meliput berbagai media dari rumah sakit, termasuk berita terbaru untuk AP tentang para dokter yang berjuang menyelamatkan anak-anak dari kelaparan. 

Ketika jurnalis meliput bencana kelaparan di Gaza, mereka juga menghadapi kesulitan yang sama untuk mencari makanan, baik untuk diri mereka sendiri maupun keluarga mereka. Mereka menjalani dan merasakan sendiri apa yang mereka liput. Putra Dagga yang berusia 13 tahun dievakuasi dari Gaza pada awal perang, dan ia sendiri telah mengungsi beberapa kali.

Mariam Dagga, jurnalis yang telah bekerja dengan Associated Press dan kantor berita lainnya selama perang Gaza, berpose untuk sebuah potret di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 14 Juni 2024. Dagga adalah salah satu dari beberapa jurnalis yang tewas bersama dengan orang lain dalam serangan Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis pada hari Senin (25/8/2025).

Dagga sering kali bermarkas di Nasser, dan ia baru saja meliput perjuangan rumah sakit tersebut untuk menyelamatkan anak-anak dari kelaparan. Ia berhasil merekam dan menyiarkan rangkaian foto yang memilukan dari daerah itu. Independent Arabia, versi bahasa Arab dari koran Inggris, Independent, mengatakan, Dagga juga bekerja sama dengan organisasi tersebut.

Selama menjadi pekerja lepas di AP, foto-foto yang diabadikan Dagga telah membuka mata dunia. Foto perjuangan warga Palestina yang berebut bantuan di atas truk menjadi bukti penderitaan Gaza. Juga potret seorang bocah kurus kering penderita malanutrisi dalam gendongan ibunya. Selain itu, foto pengeboman militer Israel di Gaza juga menjadi bukti risiko kematian warga di sana.

Ia kerap membagikan unggahan Facebook yang pendek dan muram, merenungkan kehidupannya di Gaza. Dalam salah satu unggahan terakhirnya, pada hari Minggu, ia menulis, ”Ketika kau melihat tanah menutupi hal paling berharga yang kau miliki, barulah kau akan menyadari betapa remehnya hidup ini.” 

Matahari terbenam di belakang bangunan yang hancur di Jalur Gaza, Selasa (26/8/2025).
Perjuangan warga Palestina menaiki truk yang sarat dengan makanan dan bantuan kemanusiaan di sepanjang koridor Morag dekat Rafah, di Jalur Gaza selatan, 4 Agustus 2025.
Pria dan anak laki-laki Palestina memegang panci kosong mereka di depan dapur amal di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 21 Agustus 2025. Kelompok hak asasi manusia Amnesty International awal pekan ini menuduh Israel memberlakukan ”kebijakan yang disengaja” kelaparan di Gaza.
Warga Palestina membawa jenazah jurnalis, termasuk koresponden Al Jazeera Anas al-Sharif dan Mohamed Qreiqeh, yang tewas dalam serangan udara Israel di luar kompleks Rumah Sakit Shifa Kota Gaza, Senin, (11/8/2025).
Wartawan memeriksa tenda yang hancur tempat wartawan, termasuk koresponden Al Jazeera Anas al-Sharif dan Mohamed Qureiqa, terbunuh oleh serangan udara Israel di luar kompleks Rumah Sakit Shifa Kota Gaza Senin (11/8/2025).
Tenda-tenda di pantai dan daerah sekitarnya di Jalur Gaza terlihat dari pesawat C-130 Angkatan Udara Jordania saat pengiriman bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina, 7 Agustus 2025.
Suasana saat ribuan warga Palestina berebut bahan makanan dari konvoi bantuan kemanusiaan di Gaza, 1 Agustus 2025.

Pembungkaman media

Ezzeldin al-Masri, salah seorang saudara Masri, mengatakan, peran Masri, juga jurnalis lain di Gaza, hanyalah menyampaikan kebenaran di medianya. ”Kamera merekam, entah mendukung atau menentang kami. Kamera merekam apakah ada orang Palestina bersenjata atau pasukan pendudukan Israel.”

Thibaut Bruttin, Direktur Jenderal Reporters Without Borders, mengatakan, para pendukung kebebasan pers belum pernah melihat kemunduran yang begitu parah bagi keselamatan wartawan. Ia mencatat bahwa para jurnalis telah terbunuh baik dalam serangan membabi buta maupun dalam serangan terarah yang diakui dilakukan oleh militer Israel.

Aktivis memegang poster dengan gambar jurnalis Al Jazeera, Anas al-Sharif, terbunuh oleh serangan Israel di Gaza, dan pesan yang bertuliskan ”Hentikan Pembunuhan Jurnalis” saat protes di Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/8/2025).
Demonstran memegang poster untuk menghormati jurnalis Al Jazeera, Anas al-Sharif, yang terbunuh oleh serangan Israel di Gaza, saat rapat umum pro-Palestina dan menentang tindakan Israel di Jalur Gaza, Jumat (22/9/2025).
Helm dan rompi bertuliskan ”PRESS” diletakkan dalan unjuk rasa solidaritas jurnalis yang terbunuh oleh serangan Israel di Jalur Gaza, di Kota Gaza, Selasa (26/8/2025).
Masyarakat mengenang jurnalis yang terbunuh dalam serangan Israel di Kota Gaza, saat berunjuk rasa di pusat kota Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (16/8/2025).
Aktivis Palestina dan Israel mengambil bagian dalam protes terhadap pembunuhan jurnalis di Jalur Gaza di kota Tepi Barat Beit Jala, Jumat (15/8/2025).
Aktivis Filipina menyalakan lilin saat sambil memegang foto jurnalis Palestina yang tewas dalam serangan udara Israel baru-baru ini di Gaza, dalam protes di kota Quezon, Filipina, Rabu (13/8/2025).

”Mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk membungkam suara-suara independen yang mencoba melaporkan tentang Gaza,” kata Bruttin. Hari paling mematikan bagi jurnalis dalam perang Gaza, menurut CPJ, terjadi dua minggu lalu ketika enam jurnalis tewas, termasuk koresponden Al Jazeera, Anas al-Sharif. 

Reporters Without Borders menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk memeriksa apa yang disebutnya kegagalan Israel dalam menegakkan resolusi PBB yang melindungi jurnalis independen di masa konflik. 

Seorang wanita mengambil gambar "Malaikat", yang dilukis awal tahun ini oleh seniman jalanan Harry Greb. Gambar itu seorang malaikat mengenakan rompi anti peluru itu didedikasikan untuk jurnalis yang terbunuh di Gaza.

Asosiasi Pers Asing telah mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Israel atas keputusan Israel untuk memblokade akses jurnalis ke Gaza. ”Terlalu banyak jurnalis di Gaza yang dibunuh oleh Israel tanpa pembenaran,” kata organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan.

Mereka juga meminta organisasi internasional terlibat dalam upaya perlindungan kepada pekerja media di Gaza. ”Kami tidak bisa melakukannya sendiri.” (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto