Gaza telah menjadi kuburan besar bagi 189 jurnalis sejak dimulainya perang.
27 Agt 2025 09:44 WIB · Internasional
”Besok akan lebih baik,” adalah kalimat penutup Hussam al-Masri, jurnalis Reuters, dalam komunikasi terakhirnya dengan rekan sesama jurnalis visual di Reutres, Mohamed Salem. Salem mengenal mengenal Masri sejak tahun 2003 saat bersama-sama meliput dan bekerja sama di Rafah, di selatan Gaza, tahun lalu.
Salem meninggalkan Gaza pada akhir tahun 2024, tetapi masih rutin berhubungan setiap hari dengan Masri. Komunikasi mereka terakhir terjadi pada Senin (25/8/2025) pagi. Masri masih seperti biasa, menunjukkan optimisme dengan senyum saat bercerita situasi di Gaza, bahkan ketika kondisi di daerah kantong Palestina itu semakin terpuruk dalam kelaparan dan keputusasaan.
Masri yang saat ini berusia 49 tahun adalah juru kamera berpengalaman yang selalu melakukan pendekatan positif, bahkan dalam situasi paling berbahaya sekalipun. Itu membuatnya populer di kalangan komunitas wartawan Gaza. Pemimpin Redaksi Reuters Alessandra Galloni mengatakan, ”Hussam sangat berdedikasi dalam menceritakan kisah Gaza kepada dunia.”
Masri mulai bekerja untuk Reuters sebagai pegawai kontrak di Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir, pada Mei 2024, delapan bulan setelah konflik dimulai. Dalam liputannya, ia kerap melakukan siaran langsung dari kamp-kamp pengungsian dan merekam masuknya bantuan kemanusiaan melalui pelintasan perbatasan Rafah. Sejak kembali ke Khan Younis, ia bertanggung jawab atas siaran harian Reuters dari Rumah Sakit Nasser yang menyediakan tayangan langsung Gaza untuk mengabarkan ke seluruh dunia.
Kisah terakhirnya, yang direkam pada hari Sabtu, menunjukkan keluarga-keluarga berduka atas jenazah kerabat, termasuk anak-anak, yang tewas dalam serangan Israel yang telah merenggut sedikitnya 62.000 nyawa warga Palestina dalam perang tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/14/2b68d6a9-2cff-4af6-9387-7ff9ca2ebf82_jpg.jpg)
”Masri memilih untuk mengawasi siaran langsung di Rumah Sakit Nasser karena ia yakin itu adalah tempat teraman baginya untuk melakukan operasi,” kata Salem, yang berbicara kepadanya setiap pagi saat ia menyiapkan kameranya. Selama percakapan terakhir mereka, Masri menggambarkan betapa sulitnya kehidupan di Gaza dan perjuangan untuk mencari makanan.
Jenazah Masri ditemukan bersama kameranya di tangga luar rumah sakit, tempat ia menyiarkan pemandangan Khan Younis ketika serangan Israel menghantam lokasi itu, seperti yang ditunjukkan dalam video Reuters. Ledakan kedua di tangga beberapa menit kemudian menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk petugas penyelamat dan empat jurnalis yang pernah bekerja untuk berbagai media, termasuk Associated Press dan Al Jazeera.
Menjalani apa yang diliput
Salah satu jurnalis lain yang tewas dalam serangan rudal di RS Nasser adalah Mariam Dagga. Ia adalah perempuan jurnalis berusia 33 tahun, yang bekerja untuk Associated Press dan media berita lainnya selama perang Gaza. Dagga secara rutin meliput berbagai media dari rumah sakit, termasuk berita terbaru untuk AP tentang para dokter yang berjuang menyelamatkan anak-anak dari kelaparan.
Ketika jurnalis meliput bencana kelaparan di Gaza, mereka juga menghadapi kesulitan yang sama untuk mencari makanan, baik untuk diri mereka sendiri maupun keluarga mereka. Mereka menjalani dan merasakan sendiri apa yang mereka liput. Putra Dagga yang berusia 13 tahun dievakuasi dari Gaza pada awal perang, dan ia sendiri telah mengungsi beberapa kali.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/26/d4d90c1b-4f66-4560-9b10-d6365cc603b5_jpg.jpg)
Dagga sering kali bermarkas di Nasser, dan ia baru saja meliput perjuangan rumah sakit tersebut untuk menyelamatkan anak-anak dari kelaparan. Ia berhasil merekam dan menyiarkan rangkaian foto yang memilukan dari daerah itu. Independent Arabia, versi bahasa Arab dari koran Inggris, Independent, mengatakan, Dagga juga bekerja sama dengan organisasi tersebut.
Selama menjadi pekerja lepas di AP, foto-foto yang diabadikan Dagga telah membuka mata dunia. Foto perjuangan warga Palestina yang berebut bantuan di atas truk menjadi bukti penderitaan Gaza. Juga potret seorang bocah kurus kering penderita malanutrisi dalam gendongan ibunya. Selain itu, foto pengeboman militer Israel di Gaza juga menjadi bukti risiko kematian warga di sana.
Ia kerap membagikan unggahan Facebook yang pendek dan muram, merenungkan kehidupannya di Gaza. Dalam salah satu unggahan terakhirnya, pada hari Minggu, ia menulis, ”Ketika kau melihat tanah menutupi hal paling berharga yang kau miliki, barulah kau akan menyadari betapa remehnya hidup ini.”
Pembungkaman media
Ezzeldin al-Masri, salah seorang saudara Masri, mengatakan, peran Masri, juga jurnalis lain di Gaza, hanyalah menyampaikan kebenaran di medianya. ”Kamera merekam, entah mendukung atau menentang kami. Kamera merekam apakah ada orang Palestina bersenjata atau pasukan pendudukan Israel.”
Thibaut Bruttin, Direktur Jenderal Reporters Without Borders, mengatakan, para pendukung kebebasan pers belum pernah melihat kemunduran yang begitu parah bagi keselamatan wartawan. Ia mencatat bahwa para jurnalis telah terbunuh baik dalam serangan membabi buta maupun dalam serangan terarah yang diakui dilakukan oleh militer Israel.
”Mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk membungkam suara-suara independen yang mencoba melaporkan tentang Gaza,” kata Bruttin. Hari paling mematikan bagi jurnalis dalam perang Gaza, menurut CPJ, terjadi dua minggu lalu ketika enam jurnalis tewas, termasuk koresponden Al Jazeera, Anas al-Sharif.
Reporters Without Borders menyerukan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk memeriksa apa yang disebutnya kegagalan Israel dalam menegakkan resolusi PBB yang melindungi jurnalis independen di masa konflik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/27/ef89478b-f3c1-4e92-a2af-125f42793530_jpg.jpg)
Asosiasi Pers Asing telah mengajukan petisi ke Mahkamah Agung Israel atas keputusan Israel untuk memblokade akses jurnalis ke Gaza. ”Terlalu banyak jurnalis di Gaza yang dibunuh oleh Israel tanpa pembenaran,” kata organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan.
Mereka juga meminta organisasi internasional terlibat dalam upaya perlindungan kepada pekerja media di Gaza. ”Kami tidak bisa melakukannya sendiri.” (AP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto