Dampak Perang Israel-Hamas Tak Sekadar Statistik

Dua tahun konflik Israel-Hamas yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

08 Okt 2025 11:03 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Kemarin, Selasa (7/10/2025), tepat dua tahun peringatan serangan dan kelompok bersenjata ke Israel. Angka saja tidak dapat menggambarkan korban dan kerusakan di Gaza. Namun, dengan angka, kita bisa menggambarkan seberapa daya rusak konflik selama dua tahun itu.

Perang tersebut telah mengubah kehidupan 2,1 juta warga Palestina yang semula tinggal di wilayah tersebut dan menghancurkan wilayah seluas 365 kilometer persegi. Dari setiap 10 orang, satu orang tewas atau terluka dalam serangan Israel dan sembilan orang mengungsi.

Setidaknya tiga orang tidak makan selama berhari-hari. Dari setiap 100 anak, empat orang kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. Dari setiap sepuluh bangunan yang berdiri di Gaza sebelum perang, delapan rusak bahkan telah rata dengan tanah. Dari setiap sepuluh hektar lahan pertanian, delapan hektar telah diratakan.

Warga Palestina memeriksa puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Minggu (28/9/2025). Selama hampir dua tahun, operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 65.549 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan di Gaza.
Warga Palestina mengungsi dari Gaza utara di sepanjang jalan pesisir dekat Wadi Gaza, Jumat (26/9/2025).
Warga Palestina berjalan melalui perkemahan pengungsi di Muwasi, sebuah area yang telah ditetapkan Israel sebagai zona aman, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Kamis (25/9/2025).
Warga Palestina melarikan diri dari Jalur Gaza utara sambil membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir, dekat Wadi Gaza, Rabu (24/9/2025).
Penduduk berjalan di koridor Netzarim, di Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (26/9/2025). Militer Israel menyatakan bahwa 700.000 warga Palestina telah melarikan diri dari Kota Gaza sejak akhir Agustus karena menghindari serangan udara dan darat di pusat kota.
Warga Palestina melarikan diri dari Kota Gaza dengan berjalan kaki dan naik kendaraan, membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir menuju Gaza selatan, Kamis (18/9/2025).

Perang dimulai ketika militan Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Sejak saat itu, Israel berjanji akan membuat pembalasan.

Hasilnya, pemakaman terjadi setiap hari. Kuburan massal memenuhi jalur Gaza. Sebanyak 2.000 orang tewas saat mencari makanan. Dalam beberapa kasus, Israel mengakui telah melepaskan tembakan peringatan ke arah kerumunan.

Warga Palestina bergerak dengan barang-barang mereka ke selatan di sebuah jalan di daerah kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah Sabtu (20/9/2025). September 2025. Israel telah menyerbu Kota Gaza dengan serangan udara dan tembakan tank.

Perang ini juga merupakan konflik paling mematikan bagi jurnalis, pekerja kesehatan, dan pekerja bantuan PBB dalam sejarah, menurut Komite Perlindungan Jurnalis dan PBB. British Medical Journal menyatakan prevalensi pasien dengan cedera akibat bahan peledak di Gaza sebanding dengan data pasukan tempur AS yang terluka di Irak dan Afghanistan.

Secara keseluruhan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 67.000 warga Palestina dan melukai hampir 170.000 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Lebih dari 40.000 di antaranya mengalami cedera yang mengancam jiwa. Jumlah korban tewas tidak termasuk ribuan orang yang diyakini terkubur di bawah reruntuhan. 

Militer Israel telah menguasai sebagian besar wilayah Gaza, mendorong sebagian besar penduduk Palestina ke zona kecil di sepanjang pantai selatan. Di bawah kendali Israel, wilayah Gaza telah berubah. Pasukan Israel telah meratakan atau menghancurkan seluruh permukiman di Kota Gaza dan kota-kota pertanian kecil di sepanjang perbatasan, dan membangun jalan baru dan pos-pos militer baru.

Peluru dari pengeboman Israel mendarat di perairan di pelabuhan laut Kota Gaza pada Kamis (11/10/2023). Menjelang peringatan kedua serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang memicu perang, delegasi dari Hamas, Israel, dan Amerika Serikat akan berkumpul di Mesir untuk pembicaraan mengakhiri konflik.
Gumpalan asap membubung di atas bangunan di Kota Gaza pada Sabtu (7/10/2023), saat Israel balas menyerang Hamas.
Orang-orang berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Khan Younis, Jalur Gaza, Jumat (16/5/2025).
Eliya memegang foto kakeknya, Alex Dancyg, yang meninggal setelah diculik kelompok Hamas, saat rapat umum yang menyerukan pembebasan sandera yang ditahan di Jalur Gaza, di Tel Aviv, Israel, Selasa (23/7/2025).
Hossam Azzam memegang mayat anaknya, Amir, yang tewas dalam serangan udara militer Israel di Gaza, di Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, Selasa (15/7/2025).
Warga melihat rumah mereka yang rusak setelah serangan Israel di Rafah, Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/1/2024).
Kamp pengungsi Palestina membentang di antara reruntuhan bangunan yang dihancurkan oleh pengeboman Israel di Kota Gaza barat, Sabtu (21/6/2025).
Mobil Palang Merah Internasional menunggu tawanan Israel, Ohad Ben Ami, Eli Sharabi, dan Or Levy, yang telah disandera oleh Hamas di Gaza sejak 7 Oktober 2023, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Sabtu (8/2/2025).

Menggunakan citra satelit Gaza dari luar angkasa, Pusat Satelit PBB menyatakan setidaknya 102.067 bangunan telah hancur. Di antara puing-puing tersebut terdapat reruntuhan sekolah dasar dan universitas, klinik medis, masjid, rumah kaca, dan rumah keluarga.

Ratusan warga Palestina setiap hari memadati dapur amal, berebut semangkuk lentil. Bayi-bayi sangat kurus sehingga berat badan mereka lebih ringan dari saat lahir. Otoritas pangan dunia pada bulan Agustus mangatakan bahwa Kota Gaza telah dilanda kelaparan. Namun, Israel membantah pernyataan tersebut.

Kota-kota yang tersebar di sepanjang jalur Gaza dulu adalah tempat para petani Palestina menanam stroberi, semangka, gandum, dan sereal, kini telah diratakan. Kota Khuzaa, yang dahulu adalah lumbung pangan bagi kota Khan Younis, kini tak bersisa.

Matahari terbenam di belakang bangunan yang hancur di Jalur Gaza, Selasa (26/8/2025).

Serangan Israel terus berlanjut dengan berdalih menumpas Hamas dan membebaskan 48 sandera yang masih ditahan di Gaza, yang 20 di antaranya diyakini masih hidup. Perundingan yang diadakan tepat dua tahun peristiwa penyerangan belum menunjukkan hasil. Namun, semua mengharapkan hasil yang terbaik, perang diakhiri, dan semua sandera dibebaskan. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji