Angkatan Laut Israel Serbu Armada Kemanusiaan Sumud

50 kapal kemanusiaan Sumud Flotilla dihadang 20 kapal perang Israel bersenjata lengkap didukung pasukan komando AL Israel. Para aktivis digelandang ke Israel.

02 Okt 2025 09:14 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

GAZA, RABU — Ratusan pelaut dan pasukan komando Angkatan Laut Israel menyerbu kapal-kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan Gaza, Rabu (1/10/2025) malam. Kapal-kapal AL Israel menghadang laju 50 kapal kecil yang ditumpangi 500 sukarelawan kemanusiaan internasional.

Salah satu kapal yang dicegat ditumpangi aktivis perubahan iklim asal Swedia, Greta Thunberg. Kementerian Luar Negeri Israel memperlihatkan rekaman gambar saat Thunberg mengambil barang-barang miliknya dari kapal yang dihadang militer Israel.

”Sekitar pukul 20.30 waktu Gaza, kapal-kapal Global Sumud Flotilla (GSF), termasuk Alma, Sirius, dan Adara, secara ilegal dihadang dan diserbu pasukan pendudukan Israel di perairan internasional,” demikian keterangan Sumud Flotilla.

Para aktivis mengatakan, Israel juga melancarkan serangan elektronik dengan melakukan jamming terhadap komunikasi Sumud Flotilla. ”Selain dari pencegatan militer Israel, siaran daring secara langsung dan komunikasi dengan kapal-kapal lain juga terputus,” demikian keterangan lanjutan para aktivis kemanusiaan.

Sekurangnya 20 kapal perang Israel mengepung kapal-kapal misi kemanusiaan tidak bersenjata. Mereka memerintahkan Sumud Flotilla berputar balik. Ketika tidak diindahkan, militer Israel mencegat dan menyebut satu per satu kapal-kapal pengangkut bantuan kemanusiaan.

Swedish climate activist Greta Thunberg waves from a boat taking part in a civilian flotilla bound for Gaza, aiming to break the Israeli blockade and deliver humanitarian aid, in Barcelona, Spain, Sunday, Aug. 31, 2025. (AP Photo/Emilio Morenatti)

Kemenlu Israel dalam akun X menyampaikan, ”Beberapa kapal Sumud Flotilla berhasil dihentikan dengan aman dan para penumpang dipindahkan untuk diturunkan di pelabuhan wilayah Israel”.

”Greta dan kawan-kawannya dalam keadaan aman dan sehat,” lanjut keterangan Kemenlu Israel.

Dikecam

Hamas mengecam pencegatan Sumud Flotilla di perairan internasional sebagai ”tindakan bajak laut dan terorisme maritim”. Tindakan Israel di perairan internasional itu melanggar kebebasan pelayaran (freedom of navigation).

Rima Hassan, anggota Parlemen Eropa asal Perancis yang ikut dalam rombongan, pada Rabu petang mengunggah di akun X, ratusan orang secara ilegal ditangkap dan ditahan Israel dalam pencegatan di laut.

Sebelumnya, Spanyol dan Italia yang mengirim kapal angkatan laut untuk mengawal Sumud Flotilla sudah mengimbau agar rombongan aktivis menghentikan pelayaran sebelum memasuki daerah perairan eksklusi Gaza yang dikuasai Israel. Fregat Italia dan Spanyol tidak akan melintasi garis eksklusi yang diterapkan sepihak oleh Israel.

Sebelum disergap Israel, setelah 10 hari berhenti di Tunisia, Sumud Flotilla mengalami serangan drone dua kali. Mereka melanjutkan pelayaran kemanusiaan tanggal 15 September. Pada pukul 15.00 kemarin, Sumud Flotilla berjarak kurang dari 90 mil (170 kilometer) dari pantai Gaza.

Salah satu kapal utama, Alma, dikepung kapal-kapal perang Israel. Selanjutnya, kapal lainnya, yakni Sirius, juga mengalami nasib yang sama.

Tidak gentar

Kepada media, Sumud Flotilla menyatakan tekadnya mengantarkan makanan dan bantuan kemanusiaan di pantai Gaza walau diintimidasi militer Israel. Sumud Flotilla dalam akun X mengatakan tetap siaga saat memasuki perairan di mana misi sebelumnya dihadang atau diserang Israel.

A protester holds a placard during a gathering near the Israeli port of Ashdod on June 9, 2025, after Israeli forces intercepted a Gaza-bound aid boat. Israeli forces intercepted a Gaza-bound aid boat on June 9, preventing the activists on board -- including Swedish campaigner Greta Thunberg -- from reaching the blockaded Palestinian territory. (Photo by MAYA LEVIN / AFP)

”Kami terus berlayar meski ada intimidasi Israel,” kata Sumud Flotilla yang juga diikuti cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela. Semasa hidup, Nelson Mandela mengatakan, Afrika Selatan belum benar–benar merdeka jika Palestina belum menjadi negara merdeka.

Mendengar kabar bahwa Sumud Flotilla dicegat tentara Israel, ratusan orang di kota Roma turun ke jalan. Pengunjuk rasa di kota Napoli menghadang kereta api di stasiun utama selama sejam sebelum dibubarkan oleh polisi.

Serikat buruh Italia mendesak mogok kerja pada hari Jumat untuk mendesak Pemerintah Italia menindak Israel. Para pengunjuk rasa di Italia itu mengecam tindakan Israel atas misi kemanusiaan tersebut.

Sebaliknya, Duta Besar Israel di Italia Jonathan Peled mencibir misi Sumud Flotilla. Dalam akun X, Peled mengatakan, operasi kemanusiaan tersebut adalah drama politik belaka.

Sementara di Amerika Latin, Presiden Kolombia Gustavo Petro mengusir duta besar dan seluruh diplomat Israel atas penghadangan Sumud Flotilla. Petro mengatakan, dua perempuan Kolombia yang turut dalam misi Sumud Flotilla ditangkap militer Israel di perairan internasional.

Presiden Kolombia Gustavo Petro menyebut pencabutan visa merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip imunitas yang menjadi landasan kerja PBB dan mencerminkan ketidakpatuhan AS terhadap hukum internasional.

Kedua warga Kolombia itu adalah Manuela Bedoya dan Luna Baretto. Petro mendesak agar Israel segera membebaskan mereka.

Petro yang beraliran politik kiri memutus hubungan dengan Israel tahun lalu. Namun, empat diplomat Israel tetap ada di Bogota. Petro juga menghapuskan kesepakatan perdagangan bebas dengan Israel yang diberlakukan sejak tahun 2020.

Presiden Kolombia itu dalam berbagai kesempatan menyebut PM Israel Benjamin Netanyahu melakukan kejahatan genosida dan Presiden AS Donald Trump turut terlibat. Pekan lalu, dalam demo pro-Palestina di kota New York, Petro mendesak militer AS untuk mengabaikan perintah Trump. Akibatnya, AS mencabut visa Petro.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Turki menyebut tindakan Israel sebagai terorisme. Menurut Turki, penyergapan di laut itu merupakan pelanggaran serius Hukum Internasional serta membahayakan nyawa warga sipil.

Israel menghadang misi serupa pada Juni dan Juli 2025. (AP/AFP/REUTERS)

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan