Kompas.id Brief

Kapal Aktivis Diserang Terus, Bagaimana Nasib Misi Armada Global Sumud?

Cuaca buruk dan serangan pesawat tak berawak pada kapal misi kemanusiaan ke Gaza tak bikin para aktivis ciut. Mereka akan tetap ke Gaza meski butuh waktu lebih lama.

26 Sep 2025 17:00 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Apa misi yang dibawa oleh Armada Global Sumud?
  2. Siapa saja yang ikut dalam misi kemanusiaan ke Gaza ini?
  3. Mengapa sampai muncul inisiatif Armada Global Sumud?
  4. Hambatan apa saja yang dialami sepanjang perjalanan?
  5. Negara-negara mana saja yang janji akan beri perlindungan?

Apa misi yang dibawa oleh Armada Global Sumud?

copy title

Blokade Israel memperparah situasi kemanusiaan di Gaza. Komunitas internasional memperingatkan Gaza berada di ambang bencana kelaparan jika bantuan dalam jumlah besar tak boleh masuk terus.

Pada pertengahan Mei 2025, Israel baru mulai mengizinkan sedikit bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Namun, itu tak cukup.

Oleh karena itu, aktivis kemanusiaan dari berbagai negara bersama-sama menuju ke Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan dengan kapal-kapal layar.

(FILES) The first vessel "Sirius" of a civilian flotilla, carrying pro-Palestinian activists and humanitarian aid and aiming to break the Israeli blockade of the Gaza Strip, leaves the Barcelona port on September 1, 2025, after being forced to return due to bad weather. Spain is to send navy ship to assist Gaza aid flotilla, AFP reports on September 24, 2025. (Photo by Lluis GENE / AFP)

Mau tak mau cara itu yang dilakukan karena Israel menutup pintu perbatasan. Bantuan dari darat tak ada, bantuan kemanusiaan yang didrop dari udara pun tak bisa mencapai semua orang yang membutuhkan. 

Para aktivis memperkirakan pelayaran akan butuh waktu sekitar tujuh hari untuk sampai ke Gaza. Itu dengan catatan pelayaran mereka tidak dihentikan.

Lebih dari 50 kapal dari 44 negara berpartisipasi membawa bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza. Aktivis dari Australia, Brasil, Afrika Selatan, dan sejumlah negara Eropa ikut serta. Bergabung pula sejumlah aktivis dari Indonesia meski sebagian ternyata berhalangan berangkat dan kembali ke Tanah Air.

Siapa saja yang ikut dalam perjalanan misi kemanusiaan ke Gaza ini?

copy title

Armada Global Sumud (GSF) melibatkan penggiat kemanusiaan dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, juga ikut bergabung dengan kapal layar Madleen yang dioperasikan kelompok aktivis Freedom Flotilla Coalition (FFC).

Selain Greta, sejumlah aktivis lainnya bergabung dalam pelayaran itu. Mereka di antaranya ialah anggota Parlemen Eropa, Rima Hassan, dan pengacara Palestina-Amerika, Huwaida Arraf. Kantor Berita Euronews menyebutkan, Liam Cunningham, aktor serial legendaris Game of Thrones, juga turut dalam pelayaran itu.

Swedish climate activist Greta Thunberg waves from a boat taking part in a civilian flotilla bound for Gaza, aiming to break the Israeli blockade and deliver humanitarian aid, in Barcelona, Spain, Sunday, Aug. 31, 2025. (AP Photo/Emilio Morenatti)

Bagi FFC, upaya pelayaran ini merupakan pelayaran kedua. Pada pelayaran pertama di awal Mei 2025, kapal Conscience yang juga dioperasikan FFC gagal mencapai Gaza. Kapal Conscience diserang dua pesawat nirawak di perairan internasional di lepas Pantai Malta.

FFC menyatakan, Israel bertanggung jawab atas serangan yang merusak bagian depan kapal itu. Misi ini diorganisasikan empat koalisi besar, termasuk kelompok-kelompok yang berpartisipasi dalam upaya kampanye darat dan laut sebelumnya ke Gaza.

Mengapa muncul inisiatif Armada Global Sumud?

copy title

Untuk menempuh perjalanan sekitar 3.000 kilometer ke Gaza, kapal-kapal layar para aktivis butuh waktu 7-8 hari. Armada ini adalah sekelompok perahu atau kapal yang diorganisasikan untuk mengirimkan pasokan penting, seperti makanan, obat-obatan, dan material lain ke wilayah-wilayah yang sedang mengalami krisis.

Armada ini biasanya diorganisasikan ketika rute pasokan tradisional, seperti koridor udara dan darat, terblokir atau tidak dapat diakses.

Infografik Kebutuhan Bantuan Kemanusiaan di Jalur Gaza

Sejak sebelum perang, Gaza tidak memiliki pelabuhan yang berfungsi setelah Israel mengebom dan menghancurkan bandara internasional Gaza pada 2001. Armada kemanusiaan dan akar rumput biasanya beroperasi di bawah perlindungan organisasi internasional dan diatur oleh hukum angkatan laut.

Banyak kapal yang berupaya menembus blokade Gaza. Pada 2008, dua kapal dari Gerakan Gaza Bebas berhasil mencapai Gaza dan ini menandai pelanggaran pertama blokade laut Israel.

Hambatan apa saja yang dialami para aktivis sepanjang perjalanan?

copy title

Sejak awal berangkat, ada saja hambatan yang dialami para aktivis. Mulai dari cuaca buruk sampai serangan-serangan pesawat tak berawak. Karena memakai kapal layar, sulit untuk menembus angin kencang yang mencapai 30 knot atau 56 kilometer per jam.

Jika nekad menembusnya, keselamatan semua orang di atas kapal terancam bahaya. GSF juga diserang sejumlah pesawat tak berawak yang diduga kuat dikendalikan Israel. Serangan dilakukan waktu GSF berlayar di antara Pulau Kreta dan Pulau Gavdos, Yunani.

Displaced Palestinians move with their belongings southwards on a road in the Nuseirat refugee camp area in the central Gaza Strip on September 24, 2025, as Israel presses its air and ground offensive to capture Gaza City. Gaza's civil defence agency said Israeli forces killed dozens of people across the Palestinian territory on September 24, as the military pressed its assault on Gaza City that has displaced hundreds of thousands. (Photo by Eyad BABA / AFP)

Pesawat diduga membawa pengacak sinyal sehingga saluran komunikasi GSF terganggu. Pesawat juga menjatuhkan granat kejut dan aneka benda lain ke kapal-kapal GSF.

Sebelum armada itu berangkat, sudah ada dua kapal yang diserang pesawat nirawak. ”Serangan itu taktik menakut-nakuti, tetapi itu tidak akan menghentikan kami. (Gangguan) Pesawat-pesawat nirawak itu sudah dialami warga Palestina 24 jam 7 tujuh hari seminggu,” kata Thunberg.

Negara-negara mana saja yang akan bantu beri perlindungan kepada GSF?

copy title

Italia dan Spanyol berjanji akan segera mengirimkan kapal perang untuk mengawal GSF. Ada warga Indonesia di antara penumpang kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza itu.

Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengumumkan pengiriman kapal perang kedua. ”Kami telah mengirim satu kapal dan satu lagi sedang dalam perjalanan, siap menghadapi segala kemungkinan,” kata Crosetto kepada parlemen Italia.

This unlocated and undated handout picture released by the Italian Navy (Marina Militare) shows the Italian frigate Virginio Fasan (F 591) at sea. Italy's Defence Minister Guido Crosetto sent the navy frigate to assist a Gaza-bound flotilla on September 24, 2025, after organisers said several of their boats had been targeted by multiple drones off Greece. (Photo by Handout / Marina Militare / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  MARINA MILITARE - ITALIAN NAVY / BYLINE" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Roma sudah mengirimkan satu fregat untuk mengawal GSF yang berlayar dari Laut Tengah menuju Israel. Kapal perang pertama bergerak waktu kapal-kapal GSF berada 1.000 kilometer dari Israel. Ada 58 warga Italia yang ikut dalam GSF. Bukan cuma Italia, Spanyol juga mengumumkan salah satu kapal perangnya meninggalkan pangkalan di Cartagena, Kamis (25/9/2025).

Pangkalan itu berjarak 2.000 kilometer dari lokasi penyerangan terhadap kapal-kapal GSF. ”Pemerintah Spanyol berkeras bahwa hukum internasional harus dihormati dan hak warga negara kami harus dihormati untuk berlayar melalui Mediterania dalam kondisi aman,” ujar Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra