Amanda Anisimova melanjutkan kisah ”comeback”. Dia selangkah menuju gelar Wimbledon pertamanya, bersaing dengan sesama debutan di final, Iga Swiatek.
11 Jul 2025 02:31 WIB · Olahraga
LONDON, KAMIS — Sejak berakhirnya babak ketiga, Wimbledon 2025 sudah memastikan akan melahirkan juara baru pada sektor tunggal putri. Kini, calon juara mengerucut ke Amanda Anisimova dan Iga Swiatek yang berhasil melaju ke partai puncak turnamen Grand Slam tersebut.
Amanda Anisimova melanjutkan kisah comeback-nya dengan melaju ke final Wimbledon untuk pertama kali dalam kariernya. Caranya meraih tiket ke partai puncak pun mengagumkan. Anisimova mengalahkan petenis peringkat satu dunia, Aryna Sabalenka, dengan skor 6-4, 4-6, 6-4 di All England Club, London, Inggris, Kamis (10/7/2025).
Lebih dari dua tahun lalu, Anisimova memutuskan untuk beristirahat dari tenis karena kelelahan secara mental. Setahun yang lalu, saat sedang berusaha kembali ke dunia tenis, petenis Amerika Serikat ini kalah ketika harus melewati babak kualifikasi Wimbledon.
Anisimova tak bisa masuk ke babak utama secara otomatis karena peringkatnya saat itu, ke-189, terlalu rendah. Untuk lolos tanpa kualifikasi ke Wimbledon, petenis harus berada di peringkat lebih tinggi dari ke-104 dunia pada sekitar enam minggu sebelum turnamen.
Kini, Anisimova mencapai babak final Wimbledon untuk pertama kalinya, yang juga menandai momen perdananya mencapai babak final turnamen Grand Slam. Pencapaian terbaik petenis berusia 23 tahun ini sebelumnya adalah semifinal di Perancis Terbuka 2019.
Iga Swiatek
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/fa8f595082acec661ed54a9d619de81f-wires_photo_7_.jpg)
Amanda Anisimova
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/545ce0f155defd8a12a70f4986f3fd7e-wires_photo_3_.jpg)
”Ini terasa tidak nyata sekarang,” kata Anisimova setelah mengakhiri pertandingan yang berlangsung selama 2 jam 36 menit dengan pukulan forehand winner pada match point keempatnya. ”Saya benar-benar kesulitan di pertandingan. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa menang.”
”Jika Anda bilang saya akan mencapai final Wimbledon, saya tidak akan percaya. Setidaknya tidak secepat ini karena sudah setahun sejak kembali dan berada di posisi ini sungguh tidak mudah. Sejujurnya, bisa mencapai final sungguh tak terlukiskan,” tutur Anisimova.
Sejak Mei hingga akhir 2023, Anisimova memutuskan beristirahat bertanding karena tak bisa mengatasi tekanan hingga mengalami gangguan kesehatan mental. Dia baru kembali pada 2024 dengan pencapaian terbaik final WTA 1000 Kanada.
Adapun bagi Sabalenka, kekalahan ini mencegahnya menjadi petenis putri pertama yang mencapai empat final Grand Slam berturut-turut sejak Serena Williams memenangi empat trofi utama beruntun satu dekade lalu. Sabalenka absen di Wimbledon tahun lalu karena cedera bahu kemudian memenangkan AS Terbuka pada bulan September untuk meraih gelar Grand Slam ketiganya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/5ca79b0887d37f1fb513f48b6e10018a-wires_photo_1_.jpg)
Sabalenka dan Anisimova saling beradu pukulan keras dan teriakan kencang. Sabalenka memukul bola dengan kecepatan mencapai 120 mil per jam, sementara Anisimova 112 mil per jam. Mereka mengakhiri poin dengan cepat berkat agresivitas pukulan pertama.
Pertukaran poin rata-rata berakhir hanya setelah tiga pukulan. Pada akhirnya, 167 dari total 214 poin berlangsung kurang dari lima pukulan dan hanya tujuh yang berisi sembilan pukulan atau lebih.
Pada final Sabtu (12/7/2025), Anisimova akan menghadapi Iga Swiatek, yang merupakan juara lima kali turnamen mayor. Bagi Swiatek, ini juga akan menjadi final Wimbledon pertamanya yang diraih berkat kemenangan 6-2, 6-0 atas Belinda Bencic.
Swiatek tampil dominan sepanjang pertandingan dan memastikan kemenangan dalam 71 menit dengan servis berkecepatan hingga 119 mil per jam dan pukulan winner dua kali lebih banyak, 26, dibandingkan kesalahan sendiri, 13. Hal ini menunjukkan ternyata Swiatek bisa bermain dengan baik di lapangan rumput.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/7789a5aaacf85c489ce7667f75256f3e-APTOPIX_Britain_Wimbledon_Tennis.jpeg)
”Tenis terus mengejutkan saya. Saya pikir saya telah melewati segalanya meskipun saya masih muda. Saya pikir saya telah mengalami segalanya di lapangan. Namun, saya tidak merasakan bermain bagus di lapangan rumput. Ini baru pertama kalinya,” tutur Swiatek.
Lapangan rumput merupakan tantangan terbesar Swiatek, berbeda dengan lapangan jenis lainnya. Swiatek memiliki rekor lima kemenangan dari lima final turnamen besar, empat di antaranya di lapangan tanah liat Perancis Terbuka dan satu kali di lapangan keras AS Terbuka. Namun, di Wimbledon, pencapaian terbaiknya sebelum ini adalah perempat final.
Pemenang laga final akan menjadi juara baru tunggal putri Wimbledon. Lahirnya juara baru di Wimbledon sebenarnya sudah bisa dipastikan sejak berakhirnya babak ketiga setelah mantan juara Wimbledon sudah berguguran di babak awal.
Juara Wimbledon 2024, Barbora Krejcikova, tersingkir pada babak ketiga setelah kalah dari petenis Amerika Serikat, Emma Navarro. Adapun juara edisi 2023, Marketa Vondrousova, sudah kalah pada babak kedua oleh andalan tuan rumah, Emma Raducanu. Sementara itu, juara Wimbledon 2022, Elena Rybakina, kalah pada babak ketiga dari petenis Denmark, Clara Tauson.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/01289c60f35c5bc4036c97ff1a27d01b-wires_photo_5_.jpg)
Mereka adalah tiga mantan juara yang tersisa yang masih aktif bermain tenis secara profesional. Lima mantan juara lainnya, yaitu Ashleigh Barty (Wimbledon 2021), Simona Halep (2019), Angelique Kerber (2018), Garbine Muguruza (2017), dan Serena Williams (2016), sudah pensiun.
Sejak 2016, ketika Serena terakhir kalinya menjuarai Wimbledon, juara tunggal putri berganti setiap tahun. Dalam delapan penyelenggaraan pada 2016-2024, delapan juara berbeda lahir. Sejak Serena juara pada 2015 dan 2016, tak ada tunggal putri yang bisa mempertahankan gelar atau juara lebih dari satu kali di Wimbledon.
(AP)
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan