Presiden AS Donald Trump menghentikan bantuan militer ke Ukraina dan memberi sinyal akan menarik kembali komitmen lama AS untuk melindungi sekutu di Benua Eropa.
23 Mar 2025 05:55 WIB · Riset
Amerika Serikat mengambil sikap politik berbalik badan setelah Presiden Donald Trump menyatakan prinsip ”America First” yang berimplikasi pada cara memandang perang Rusia-Ukraina. Alih-alih menganggap Rusia sebagai pemula perang, Trump justru menuduh Ukraina yang memulai perang. Tak hanya itu, Trump juga menyerang personalitas Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Presiden Trump menuntut Ukraina ”membayar kembali” berbagai bantuan yang diberikan AS selama tiga tahun terakhir. Trump menuntut Presiden Zelenksyy menyetujui tuntutan AS agar mengalokasikan separuh dari kekayaan mineral, terutama logam jarang tanah (rare earth), yang diperlukan oleh industri komponen elektronik dan sensor alat perang AS. Penolakan Ukraina atas permintaan AS yang dianggap terlalu besar ini memicu perubahan dukungan AS kepada Ukraina.
Atas perintah Trump, Amerika sempat menghentikan semua bentuk bantuan AS dalam perang Rusia-Ukraina yang segera berimplikasi pada kemampuan militer Ukraina. Penghentian bantuan yang strategis terutama dalam data intelijen pergerakan pasukan Rusia dan pengiriman lanjutan senjata-senjata canggih AS. Perkembangan terakhir hingga Senin (17/3/2025) masih belum pasti keberlanjutan bantuan militer AS meski Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bantuan tersebut akan dilanjutkan.
Menghadapi berbaliknya sikap politik Amerika Serikat di bawah Presiden Trump, para pemimpin negara-negara Eropa tampak kompak dalam membela posisi Ukraina. Tak ada satu pun negara besar Eropa, khususnya yang tergabung dalam Uni Eropa (UE), mengambil posisi politik sama dengan AS, padahal mereka sama-sama bernaung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
”Ada kebutuhan mendesak untuk mengisi celah kekurangan dari suplai militer Ukraina, dan menyediakannya dengan jaminan pasti, bukan tentang Ukraina, melainkan tentang semua Benua Eropa. Presiden Rusia Vladimir Putin sudah membuktikan lagi dan lagi bahwa dia adalah tetangga yang ganas dan tak dapat dipercaya,” tutur Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di depan sidang Komisi Eropa, Minggu (9/3/2025).
Berbagai media besar dunia, Selasa (4/3/2025), menayangkan rekaman video dimana Ursula von der Leyen juga menyampaikan proposalnya untuk ”mempersenjatai Eropa” kepada para pemimpin dari 27 negara anggota UE. ”Saya tidak perlu menjelaskan sifat serius dari ancaman yang kita hadapi. Kita berada di era mempersenjatai kembali dan Eropa siap untuk meningkatkan anggaran pertahanannya secara besar-besaran," kata Ursula.
Pernyataan Ursula tersebut menyusul berita pada hari Senin (3/3/2025) malam bahwa Gedung Putih menunda dan meninjau bantuan militer AS ke Ukraina. Presiden Trump menuduh Presiden Zelenskyy tidak tahu berterima kasih dan tidak siap untuk perdamaian pascaperdebatan sengit antara Zelenskyy dan Trump.
Kepala cabang eksekutif Uni Eropa telah mengusulkan rencana senilai 840 miliar dollar AS untuk segera membangun anggaran pertahanan di Eropa. Jumlah tersebut berlipat kali dari anggaran tahun 2024 (326 miliar dollar AS) maupun anggaran tahun 2023 (279 miliar dollar AS) sebagaimana diumumkan The European Defence Agency (EDA). Uniknya, jumlah anggaran pertahanan yang diajukan Komisi Eropa tersebut sama besarnya dengan anggaran pertahanan Amerika Serikat 2024 yang sebesar 841 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/10/590b2ec2-d322-448e-8dec-fe15bff716b1_jpg.jpg)
Bisa dibilang, sikap politik negara Eropa kini berlawanan secara diametral dengan sikap politik Amerika Serikat. Ada perkecualian bahwa sejumlah negara Eropa Timur yang berbatasan dengan Rusia, seperti Hongaria, Romania, dan Serbia, memang kurang kuat dalam menyatakan sikap dukungan terhadap Ukraina tetapi secara umum tidak mengambil sikap berbalik diametral seperti yang dilakukan AS.
Sikap para pemimpin Eropa yang menegaskan tekad mereka untuk tetap membela Ukraina rupanya juga sejalan dengan kehendak warga umumnya di Eropa. Jajak pendapat publik di seluruh UE yang dilakukan Eurobarometer bersama Komisi Eropa (EC) menunjukkan bahwa warga Eropa secara umum setuju dengan dukungan terhadap Ukraina.
Hasil survei di 11 negara Eropa oleh lembaga European Council on Foreign Relation (ECFR) baru-baru ini menemukan bahwa dua kali lipat lebih warga Eropa yang kini menilai Rusia adalah musuh Eropa Proporsi masyarakat Uni Eropa yang berpendapat demikian misalnya di Denmark (74 persen), Polandia (71 persen), Swedia (70 persen), Belanda (67 persen), Jerman (62 persen), Perancis-Spanyol-Austria (sekitar 50 persen), Italia (37 persen), dan Bulgaria (17 persen) .
Sebagaimana hasil survei ECFR tersebut, yang dilaporkan The Guardian (7/6/2024), mayoritas warga yang disurvei setuju negara-negara Uni Eropa menaikkan kemampuan pertahanan negaranya daripada bersandar pada jaminan keamanan dari Amerika Serikat. Hal itu demi memiliki kemampuan menangkal atau menahan serangan Rusia dalam hal negara itu meluaskan invasinya.
Jajak pendapat yang berbeda dilakukan Eurobarometer terhadap 26.525 responden warga Eropa pada bulan Oktober dan November 2024 menemukan kesimpulan dukungan yang sangat besar untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada orang-orang yang terkena dampak perang. Hampir sembilan dari sepuluh warga Eropa (87 persen) setuju untuk memberikan dukungan kemanusiaan kepada orang-orang yang terkena dampak perang.
Kantor Komisi Eropa memperkirakan hampir 7 juta warga Ukraina telah melarikan diri sejak dimulainya perang dan korban di pihak Ukraina (meninggal maupun luka-luka), diperkirakan mencapai sejuta orang baik sipil maupun militer.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/83e780f0-7490-4da9-ab94-4c0214d76c83_jpg.jpg)
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa hampir 70 persen warga Eropa mendukung pemberian bantuan keuangan kepada Ukraina serta sanksi bagi perusahaan maupun individu Rusia yang terlibat kejahatan perang.
Sementara tingkat persetujuan untuk memberikan status kandidat UE kepada Ukraina didukung oleh 60 persen warga negara UE. Sementara terhadap pemberian bantuan untuk mendanai pasokan peralatan militer Ukraina disetujui oleh 58 persen responden.
Dukungan publik untuk terus membantu Ukraina mempertahankan diri sangat penting, karena dukungan dari Amerika Serikat tidak lagi tanpa syarat. Upaya yang lebih besar oleh negara-negara Eropa akan diperlukan karena besarnya dana yang perlu disiapkan untuk anggaran pertahanan besar-besaran.
Laman Eurobarometer official of the European Commission juga menyebutkan sebanyak 71 persen warga Uni Eropa mendukung sanksi ekonomi terhadap pemerintah, perusahaan, dan individu Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/14/85557832-8960-4bd6-96f1-062b453d6e53_jpg.jpg)
Selama sepuluh tahun terakhir, Eropa—sebagaimana disampaikan oleh Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen—telah menikmati war dividend, yaitu sebuah situasi dimana keuntungan ekonomi sebuah negara akibat berhentinya peperangan dan dikuranginya anggaran dana pembiayaan perang. Anggaran yang demikian berlebih lalu dialihkan untuk membiayai sektor lain dan membangun negara.
”Saya kira Eropa telah menikmati war dividend, tetapi ternyata (kini akibatnya) justru defisit pertahanan,” tutur Ursula menyoroti rendahnya anggaran pertahanan Eropa sejak benua itu terbebas dari bayang-bayang era Perang Dingin yang berakhir 1991. Anggaran pertahanan negara-negara Eropa selama ini rata-rata hanya 1-2 persen dari PDB, karena mereka bergantung pada payung perlindungan nuklir dan militer Amerika Serikat.
Bandingkan dengan anggaran pertahanan Indonesia yang biasanya hanya 0,7-0,8 persen dari PDB dan pada 2025 yang direncanakan mencapai 1-1,5 persen PDB. Anggaran Kementerian Pertahanan Indonesia mencapai Rp 166 triliun pada tahun anggaran 2025.
Sekjen NATO Mark Rutte sudah mendesak para pemimpin Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanannya yang jumlahnya lebih tinggi dari 2 persen PDB pada acara pertemuan informal pertahanan di Brussels, Belgia, Senin (3/2/2025). Demikian pula Presiden Trump sebelumnya sudah mengkritik negara-negara Eropa yang hidup nyaman dari perlindungan AS dan hanya mengeluarkan sedikit anggaran pertahanan negara mereka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/17/ca2888ae-8dbd-4677-9eef-9d75a3fa5685_jpg.jpg)
Dalam pertemuan para pemimpin bisnis di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss (31/1/2025) Trump bahkan mendesak negara-negara anggota NATO untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga lima persen PDB. Presiden Perancis Emmanuelle Macron menyatakan negaranya akan melipatgandakan anggaran pertahanan negaranya.
”Perancis akan meningkatkan sampai dua kali lipat anggaran pertahannnya setelah selesainya dua undang-undang pemrograman militer dan akan meluncurkan sejumlah proyek strategis besar,” kata Macron menyikap keputusan Amerika Serikat yang berubah haluan.
Sepanjang tiga tahun peperangan Rusia-Ukraina, Eropa mengklaim sudah memberikan bantuan lebih dari 130 miliar dollar AS, terutama dalam bentuk bantuan kemanusiaan dan keuangan. Jumlah itu relatif sama besar dengan bantuan berupa mayoritas persenjataan militer dari AS meskipun hal tersebut disangkal Trump.
Namun, jumlah berapa pun yang diberikan Amerika Serikat, kini negara-negara Uni Eropa sudah tersadarkan dan bangkit dari kenyamanan ala ”War Dividend”. Sebagai negara maju dan berkemampuan teknologi tinggi, Eropa kini ”disapih” oleh Trump dan bayang-bayang ancaman ”Negara Beruang Merah”.
Akankah Eropa mampu memberi dampak positif bagi kemampuan berperang Ukraina dan menjamin kehadiran efek menggentarkan bagi Rusia masih akan ditunggu oleh warga dunia. Yang jelas, kini Eropa bangkit mempersenjatai dirinya sendiri. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
Andreas Yoga PrasetyoInfografik:
Dicky Indratno