Evaluasi Tahun Keempat Perang Rusia dan Ukraina

Selama hampir empat tahun bertahan dari invasi Rusia, Ukraina terbukti masih tangguh berdiri. Akankah Ukraina mampu bertahan lebih lama tanpa dukungan penuh dari AS?

25 Feb 2025 10:45 WIB · Riset

Oleh M Toto Suryaningtyas

Selama empat tahun menahan serangan Rusia ke negaranya, pemimpin dan rakyat Ukraina telah terbukti mampu mempertahankan negara dan sebagian besar wilayahnya sebaik mungkin. Namun memasuki tahun keempat, mampukah Ukraina terus menahan serangan militer dan ambisi geopolitik negara ”Beruang Merah” di tengah perubahan dukungan politik Presiden AS Donald Trump?

Mungkin rakyat Rusia dan Presiden Vladimir Putin tak pernah menyangka bahwa serangan militer yang dijalankan ke negeri tetangganya di barat itu sejak 24 Februari 2022 akan berlarut-larut hingga tahun keempat dan memakan banyak korban.

Sebelumnya, ketika mereka mencaplok wilayah Ukraina di Semenanjung Krimea Februari-Maret 2014, pasukan invasi Rusia hanya butuh hitungan hari dengan segelintir korban jiwa. Saat itu, Rusia berhasil menerapkan kombinasi hegemoni politik melalui pengaruh pada pemimpin ”boneka” Viktor Yanukovych di Ukraina, mengacaukan warga Ukraina dengan isu separatisme dan pro-Rusia, dan melemahkan kesigapan militer Ukraina melalui dalih ”latihan militer” serta pasukan ”sahabat dan stabilisator”.

Negara-negara Eropa dan AS juga tak memiliki kesigapan cukup dalam membantu Ukraina karena saat itu Ukraina masih dipandang sebagai ”Eropa Timur” dan warga Ukraina belum ”kompak” sungguh-sungguh berkeinginan menjadi bagian dari masyarakat Eropa (Barat). Tak terhindarkan ada bias ideologi politik antara budaya demokrasi Timur dan Barat dalam konteks ini. Ukraina ingin mengalihkan pandangan dari Rusia di timur kepada Eropa barat (dan aliansi militer Atlantik Utara NATO), ingin ”cara hidup baru” dan berlindung dari ancaman Rusia.

Kondisi saat ini sudah berubah di mana masyarakat Eropa, bahkan Eropa Timur pecahan Uni Soviet, secara umum jauh lebih ”perhatian” bahkan terlibat dengan kondisi Ukraina. Bantuan keuangan dan peralatan militer dari amunisi, tank, kendaraan militer sampai jet tempur, mengalir deras ke Ukraina. Beberapa negara, seperti Belanda, Denmark, dan Polandia, bahkan memberikan (hibah) jet tempur canggih F-16 ataupun Mig-27 sejumlah hampir semua unit operasional yang mereka miliki kepada Kyiv. 

Gambar yang diperoleh dari akun X Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menunjukkan Menteri Negara Kerja Sama Internasional Uni Emirat Arab Reem Al Hashimi (kanan) menyambut Zelensky (tengah) dan istrinya, Olena Zelenska (kiri), saat mereka tiba di UEA, Minggu (16/2/2025). Zelensky dalam kunjungan resmi ke negara-negara Arab di tengah perang.

Demikian pula bantuan finansial, baik dari institusi negara maupun lembaga relawan, mengalir deras ke Ukraina.  Menurut catatan Kiel Institute (ifw-kiel.de), selama tiga tahun ini donor Eropa merupakan yang terbesar dalam hal bantuan keuangan dan kemanusiaan dengan nilai sekitar 80 miliar euro per tahun. Bantuan-bantuan itu tak hanya menopang kebutuhan dampak perang, tetapi juga tetap menjalankan pemerintahan Ukraina yang ekonominya terus merosot.

Hasilnya, kemampuan bertahan sebagai sebuah pemerintahan dan negara Ukraina mampu ditingkatkan dan secara militer kesenjangan dengan Rusia mampu ditutupi. Jika di awal perang kemampuan militer Ukraina rata-rata 1 : 4 dalam kuantitas alutsista dan personel militer, kini sudah semakin menipis dan secara kualitas di lapangan mampu mengatasi keunggulan absolut militer Rusia.      

Laporan dari berbagai kanal pemerhati militer Ukraina ataupun Rusia menunjukkan, gerak maju pasukan Rusia sudah melambat sejak setahun terakhir dan wilayah yang menjadi garis depan cenderung stagnan tanpa perubahan teritorial besar.

Dilihat dari perspektif penguasaan luas wilayah, secara umum, pasukan Ukraina masih mampu menahan gerak maju militer Rusia yang berhasil merangsek wilayah timur Ukraina, meliputi lima oblast (setingkat provinsi), yaitu Kherson, Donetsk, Luhansk, Zaporizhiya, dan sebagian Kharkiv.

Penguasaan Rusia kini mencakup sekitar seperlima bagian (20 persen) wilayah Ukraina atau lebih kurang seluas 160.00 km persegi (bandingkan luas Pulau Jawa 128.000 km persegi). Garis depan yang direbut Rusia dari Ukraina relatif tak bergerak maju atau mundur selama hampir sepanjang tahun 2024 karena baik Rusia maupun Ukraina sama-sama bertempur dengan heroik dan telah sampai pada batas kemampuan mereka.

Belasan kendaraan hangus terbakar di wilayah pemukiman penduduk di Belgorod, Ukraina, Jumat (22/3/2024) setelah puluhan rudal diluncurkan militer Rusia ke Ukraina. Burned-out cars are seen in a residential area of the city of Belgorod following fresh aerial attacks on March 22, 2024. (Photo by STRINGER / AFP)

Beban Rusia

Berdasarkan catatan Kementerian Pertahanan Ukraina, per 24 Februari 2025, sudah 800.000 lebih anggota pasukan Rusia yang meninggal dan terluka serta ratusan ribu peralatan perang Rusia hancur di medan laga. Jumlah korban tentara dan peralatan perang Rusia ini menjadi yang terbesar sejak era Perang Dunia II. Pada Perang Dunia II, data menyebutkan, Rusia menjadi negara dengan korban perang terbesar. Setidaknya ada 26 juta korban tewas di Rusia yang mayoritas berasal dari kalangan sipil.

Defisit kemampuan tempur Rusia di garis depan terlihat dari upaya Presiden Putin meminta bantuan Korea Utara (dan sebelumnya China) berperang di garis depan dan kian sporadik dan sederhananya kondisi peralatan tempur pasukan Rusia. Ada pasukan yang hanya menggunakan sepeda motor, sepeda kayuh, bahkan dalam kondisi cedera memakai tongkat penyangga dipaksa maju ke garis depan.

Senjata canggih, seperti pesawat jet tempur, rudal jelajah, dan rudal hipersonik, masih terus dipakai tetapi dalam kuantitas yang relatif berkurang dibandingkan awal perang. Sebaliknya, drone ”murah”, seperti Geran-2 dan Shahed-136 buatan Iran, menjadi andalan dalam serangan-serangan terbaru Rusia. Bahkan dalam proses mediasi perang yang terjadi di Arab Saudi, Sabtu (22/2/2025), Rusia mengerahkan serangan drone terbesarnya, lebih dari 250 unit ke lima kawasan Ukraina.  

Selain itu, di bidang perekonomian, hubungan antarnegara dan reputasi internasional Rusia kini terpuruk terutama di mata negara Eropa tetangganya. Rusia dipandang sebagai rezim berbahaya bagi perdamaian kawasan dan dunia, yang tak segan menggunakan kekerasan dalam menjalankan ambisi geopolitiknya. Rusia dilihat sebagai negara dengan pendekatan hard power,  yaitu ambisi geopolitik negara yang dijalankan dengan unjuk kekuatan militer dan kekerasan.

A grab taken from a handout footage released by the Russian Defence Ministry on July 2, 2024, shows what it said was a strike on an air base near the central Ukrainian city of Myrgorod. Russia claimed on July 2, 2024 to have destroyed five Ukrainian military jets in a strike on an air base that comes as Kyiv prepares for the arrival of long-awaited F-16 fighters. (Photo by Handout / Russian Defence Ministry / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / Russian Defence Ministry" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS. Foto yang dibagikan Kementerian Pertahanan Rusia, Selasa (2/7) menampilkan gambar pangkalan udara di Myrgorod, Ukraina yang diserang Rusia. Pihak Rusia mengklaim menghancurkan lima jet tempur Su - 27 Angkatan Udara Ukraina di pangkalan tersebut. (Kementerian Pertahanan Rusia/AFP) *** Local Caption *** Foto yang dibagikan Kementerian Pertahanan Rusia, Selasa (2/7) menampilkan gambar pangkalan udara di Myrgorod, Ukraina yang diserang Rusia. Pihak Rusia mengklaim menghancurkan lima jet tempur Su - 27 Angkatan Udara Ukraina di pangkalan tersebut. (Kementerian Pertahanan Rusia/AFP)

Semakin banyak warga negara Eropa yang memandang Rusia sebagai musuh atau rival. Hasil survei di 11 negara Eropa oleh lembaga European Council on Foreign Relation (ECFR) baru-baru ini menemukan bahwa dua kali lipat lebih warga Eropa yang kini menilai Rusia adalah musuh Eropa.

Proporsi masyarakat Uni Eropa yang berpendapat demikian misalnya di Denmark (74 persen), Polandia (71 persen), Swedia (70 persen), Belanda (67 persen), Jerman (62 persen), Perancis-Spanyol-Austria (sekitar 50 persen), Italia (37 persen), dan Bulgaria (17 persen) .

Sebagaimana hasil survei ECFR tersebut, yang dilaporkan The Guardian (7/6/2024), mayoritas warga yang disurvei setuju negara-negara Uni Eropa menaikkan kemampuan pertahanan negaranya daripada bersandar pada jaminan keamanan dari Amerika Serikat. Hal itu demi memiliki kemampuan menangkal atau menahan serangan Rusia dalam hal negara itu meluaskan invasinya.

Dalam praktiknya, pemerintahan negara-negara Eropa memang tampak ”menggeliat” setelah Presiden Trump terang-terangan mempersoalkan dukungan AS ke Ukraina. Polandia, misalnya, menaikkan anggaran pertahanannya menjadi 4 persen dari PDB.

Jet tempur F - 16 terbang formasi di udara Ibukota Warsawa, Polandia, dalam parade militer Polandia, 15 Agustus 2023. Ukraina menerima gelombang pertama bantuan jet tempur F - 16 dari NATO untuk berperang melawan Rusia, Selasa (30/7/2024). (AP/Czarek Sokolowski) FILE - U.S. made F-16 fighter jets fly in the sky over Poland's capital as they take part in a massive military parade to celebrate the Polish Army Day, in Warsaw, Poland, Aug. 15, 2023. Ukraine has received the first tranche of western F-16 fighter jets that it has sought for months to be able to fight back against an onslaught of Russian missile strikes, a U.S. official confirmed to the Associated Press. Ukraine has been pushing to get Western F-16s for Ukraine for months, saying they were critically needed to fight back against the onslaught of missiles Russia has fired against them. (AP Photo/Czarek Sokolowski, File) *** Local Caption *** Jet tempur F - 16 terbang formasi di udara Ibukota Warsawa, Polandia, dalam parade militer Polandia, 15 Agustus 2023. Ukraina menerima gelombang pertama bantuan jet tempur F - 16 dari NATO untuk berperang melawan Rusia, Selasa (30/7/2024). (AP/Czarek Sokolowski)

Polandia termasuk yang paling kuat mendukung nasib Ukraina, dan bahkan menyatakan ”tak akan pernah menerima kekalahan Ukraina”. Bahkan, negara yang kini menjadi anggota NATO tersebut pernah menyatakan akan ”terpaksa ikut berperang” jika Ukraina kalah.

Presiden Perancis Emmanuel Macron pada Senin (3/2/2025) juga mengumumkan negaranya akan melipatgandakan anggaran pertahanan dan meluncurkan sejumlah proyek strategis besar. Sementara negara Eropa lainnya berencana menaikkan anggaran dari 2 persen menjadi 3 persen PDB. Sekjen NATO Mark Rute menyerukan kepada anggota NATO agar beradaptasi dengan ”pola pikir berperang” dan secara signifikan meningkatkan anggaran pengeluaran pertahanan.

Di sisi lain, catatan lembaga Carnegie Endowment, Februari 2025, menunjukkan, perekonomian Rusia mengalami stagnasi-menurun setelah mengalami kontraksi akibat pembelanjaan militer besar-besaran sejak perang ini dimulai hingga hari ini. Pusat pemerintahan di Kremlin tengah menghadapi tantangan yang besar dalam mempertahankan kemampuan perang, serta mendanai program sosial dan infrastruktur.

Anggaran pertahanan negara tahun 2025 ini sudah mencakup 8 persen PDB atau 40 persen pengeluaran total anggaran negara. Jumlah yang ditujukan untuk pembiayaan militer di tengah perang ini belum pernah terjadi sejak zaman Uni Soviet sekalipun. Anggaran itu oleh Rusia melipatgandakan kemampuan produksi senjata serta drone dan merekrut hingga 30.000 prajurit baru setiap bulan.

Dua indikator ekonomi Rusia menandakan instabilitas: inflasi yang mencapai 9 persen sejak awal 2024, dan tingkat suku bunga yang mencapai 21 persen. Dinamika ini menekan nilai tukar mata uang rubel Rusia, di mana pada November 2024 turun 25 persen daripada tahun 2022 sebelum perang. Dengan semua gambaran itu, diperkirakan oleh lembaga ini pada tahun 2026-2027, kemampuan fiskal dan sosial Rusia bisa terjerumus pada situasi krisis.  

Mykhailo Fedorov, Ukrainian minister of digital transformation, poses for a photo in front of 1700 drones that are being sent to the frontline to be used against Russian forces, in Kyiv, Ukraine, Tuesday, July 25, 2023. (AP Photo/Libkos) == Mykhailo Fedorov, Menteri Tranformasi Digital Ukraina, berpose di depan 1.700 drone yang akan digunakan untuk menyerang tentara Rusia, 25 Juli 2023.

Beban Ukraina

Naiknya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat agaknya membawa perubahan cara pandang Amerika dalam perang Rusia-Ukraina. Alih-alih membahas bantuan persenjataan Ukraina, Trump justru gencar menyerang sikap Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang dianggap memicu perang dengan Rusia. Trump bahkan menyerang pribadi Zelenskyy dalam pidatonya (22/2/2025) dengan menyebutnya sebagai ”pelawak” yang sukses dan ”diktator tanpa pemilu”.

Perubahan drastis cara pandang Presiden AS pasca-Joe Biden ini sebetulnya sudah dikhawatirkan banyak pihak, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang mengantisipasi dengan berbagai kunjungan politik jelang transisi kekuasaan Joe Biden ke Donald Trump, 20 Januari 2025. Joe Biden bahkan mengantisipasi secara taktis dengan mempercepat dan meningkatkan bantuan militer dan keuangan AS kepada Ukraina di medio Desember 2024.

Betapapun demikian, perubahan kebijakan AS yang tiba-tiba berbalik menyalahkan Ukraina sebagai penyebab dimulainya perang dan permintaan Donald Trump agar Ukraina membayar semua bantuan AS jelas mengguncang kubu Ukraina dan negara Eropa. Apalagi selama ini, dari total seluruh bantuan persenjataan militer dan keuangan, AS memberikan dalam porsi terbesar. Ada gap antara bantuan AS dan bantuan Eropa terhadap Ukraina yang tentu harus ditambal jika ingin Ukraina terus mampu melawan Rusia.

Kemampuan berperang Ukraina yang mampu survive sementara ini karena dukungan AS dan Eropa menjadi suram jika tak lagi ada sokongan kuat dari AS. Menurut analisis lembaga Kiel, saat ini terbentang pertempuran di 1.100 km garis depan dengan titik terpanas ada di wilayah Kursk Rusia, wilayah Donetsk dan Pokrovsk di Ukraina. Di garis depan di sisi Rusia diyakini ada 700.000 tentara kamerad yang berada di garis depan, sedangkan di sisi Ukraina diyakini ”hanya” terdapat 400.000 personel.

Dengan demikian, rentang wilayah yang menjadi tanggung jawab pasukan Ukraina menjadi lebih berat daripada Rusia untuk bentang wilayah yang sama. Diperkirakan, setiap dua brigade tempur harus menjaga arena pertempuran selebar 27 km yang tentunya sangat berat bagi pasukan Ukraina. Tentara cadangan Ukraina lainnya diyakini masih ada 400.000 orang namun berada di bagian barat Ukraina dan menjaga kota-kota tersebut.

Konsep perang yang dianut Rusia adalah memperpanjang perang selama mungkin untuk mengikis kemampuan bertempur Ukraina. Tak hanya melalui serangan di garis depan, tetapi juga sarana infrastruktur sipil, seperti pusat-pusat energi dan pembangkit, termasuk obyek-obyek vital strategis untuk melemahkan dukungan logistik perang Ukraina.

Menurut perhitungan Kiel, setiap hari Rusia mengirimkan 100 serangan drone kamikaze, terutama jenis Shahed-136, ke kota-kota sebelah barat Ukraina. Sementara itu, seminggu sekali Rusia meluncurkan menu lain: misil dan rudal yang menyasar sasaran sipil strategis Ukraina jauh di dalam wilayah barat.

Bagaimanapun, kota-kota di wilayah timur Ukraina sebagian besar sudah hancur lebur. Menurut Rusia, sudah sejuta tentara Ukraina yang tewas karena perang ini. Butuh berpuluh tahun untuk mengembalikan lahan-lahan yang menjadi medan pertempuran untuk kembali layak dihuni. Banyak ranjau dan berbagai kehancuran di sana yang membuat kawasan-kawasan titik panas pertempuran nyaris menjadi kota mati, kecuali yang sudah berjalan di bawah administrasi baru Rusia.

Anggota kru Ukraina mengendarai tank Gepard buatan Jerman yang digunakan untuk menargetkan drone yang diluncurkan Rusia saat demonstrasi kendaraan tersebut kepada media di pinggiran Kyiv di tengah invasi Rusia ke Ukraina, Kamis (3011/2023). Ukraina yang mengandalkan bantuan dan amunisi dari sekutu Barat mendorong para pendukungnya untuk tetap memberikan dukungan di tengah penundaan pendanaan dari Amerika Serikat dan Eropa. AFP/Roman PILIPEY 301-11-2023 *** Local Caption *** Ukrainian crew members drive a German Gepard anti-aircraft-gun tank that is used to target Russian launched drones, during the vehicle's demonstration to the media, in the outskirts of Kyiv, on November 30, 2023, amid the Russian invasion of Ukraine. Members of the drone hunting team gathered to receive a military award for their actions in shooting down drones on November 25, when Ukraine said they had downed 74 out of 75 drones that Russia launched at it, in what it said was the biggest such attack since the start of the invasion. The Ukrainian army said that day Russia had launched a "record number" of Iranian-made Shahed drones, the majority of which targeted Kyiv. (Photo by Roman PILIPEY / AFP)

Kegigihan tekad Ukraina

Di sisi lain kegigihan rakyat Ukraina dan keuletan pasukan militer terbukti mampu menahan serangan terbuka dari sebuah negara adidaya. Rusia dengan kekuatan militer berkali-kali lipat dari Ukraina ternyata mampu dihambat, bahkan dibuat repot hingga saat ini. Kekuatan militer negara Ukraina yang jauh di bawah Rusia, dibantu dengan keuletan diplomasi Presiden Volodymyr Zelenskyy telah menghasilkan banyak dukungan bagi kemampuan bertahan Ukraina.

Ukraina mampu bertahan dan tiga kali memberikan serangan militer kejutan yang mengembalikan kawasan Kharkiv di utara dan sebagian Kherson di selatan Ukraina ke pangkuan mereka. Bahkan ada wilayah teritorial Rusia yang diinvasi balik oleh Ukraina, yaitu di sebagian kecil oblast Kursk di mana Ukraina mampu merebut dan mempertahankan kawasan seluas sekitar 700 km persegi selama lebih dari enam bulan berjalan. Kawasan yang membuat berang dan malu seluruh orang Rusia itu kini menjadi arena peperangan terpanas yang melibatkan tak hanya tentara Rusia, tetapi juga tentara Korea Utara.

Sebaliknya, Ukraina juga tak tinggal diam atas serangan Rusia pada infrastruktur sipilnya. Ukraina pun  menyerang berbagai kilang minyak Rusia dan infrastruktur ekonominya. Sebanyak 5 persen dari kemampuan kilang minyak Rusia kini hancur atau rusak diserang Ukraina.

Perang Rusia-Ukraina membuktikan bahwa tidak mudah mengokupasi sebuah wilayah luas dengan berbagai corak bentang alam dan vegetasi. Ukraina terbukti mampu memanfaatkan sebaik mungkin berbagai hambatan alamiah yang dimiliki negaranya untuk mengatasi serangan Rusia.

Hal itu terbukti pada awal perang April 2020 di mana pasukan Ukraina yang diserang dari sisi utara mampu memanfaatkan daratan yang banjir untuk mengusir pasukan Rusia. Serangan cepat Ukraina mengejutkan Rusia yang akhirnya memberikan keuntungan teritorial direbut kembali oleh Ukraina. Seandainya hal itu tidak dilakukan, ibu kota Kyiv terancam secara langsung oleh pasukan Rusia.

Kelihaian Ukraina itu diulangi lagi sewaktu Ukraina mengurung 20.000 anggota pasukan Rusia di sisi sungai Dnipro, Kherson, dan akhirnya berhasil memaksa pasukan Rusia mundur dari wilayah yang dikuasai.

infografik Perbatasan Rusia-Ukraina: Konfik 10 Tahun

Bantuan senjata ke Ukraina

Tentu saja, kelihaian pasukan Ukraina itu tak hanya didukung oleh persenjataan dan artileri sendiri. Sejak awal perang, Ukraina sudah memperoleh banyak bantuan dari negara barat dan sekutu Ukraina. Jenis persenjataan dan tingkat kecanggihan senjata itu semakin bertambah seiring meningkatnya peperangan dan jenis senjata yang dipakai Rusia.

Di awal peperangan berbagai bantuan persenjataan membanjir dari negara-negara Barat. Tercatat ada rudal antitank berpemandu (ATGM) Javelin (AS), NLAW (Inggris), Panzerfaust (Jerman), dan Stugna-P (Ukraina). Jika Javelin dinilai jago menjebol atap tank, Stugna dijagokan karena memiliki daya jangkau lebih jauh (hingga 5 km), hulu ledak lebih besar dan lebih murah.

Pada Juni 2022, Amerika juga telah mengirimkan 20 kendaraan rudal mobilitas tinggi (HIMARS) yang terbukti mampu menjadi pengubah permainan (game changer) saat itu dengan membuat kerusakan strategis kepada pasukan dan infrastruktur perang Rusia. 

Selain Himars, yang mengundang decak kagum adalah kemampuan peluru meriam buatan AS jenis M982 Excalibur yang mampu menghantam secara sangat tepat sasaran dari jarak puluhan kilometer (maksimum 64 km) dari meriam howitzer M777. Sebuah peluru Excalibur bisa ”menyelesaikan” sebuah sasaran yang jika memakai peluru biasa akan menghabiskan puluhan kali tembakan.

Untuk menghalau serangan udara Rusia, Amerika juga mengirim rudal panggul Stinger, yang populer digunakan pejuang Mujahidin di era invasi Uni Soviet 1979-1989. Inggris juga mengirimkan sistem rudal antiserangan udara andalannya, Starstreak. Video rudal ini menjatuhkan helikopter Rusia pernah viral di media sosial.

Ketika Ukraina menjadi bulan-bulanan artileri Rusia, Amerika Serikat cukup lama memberikan bantuan Himars dan amunisi meriam akurat 155 mm jenis Excalibur. Selain lama, juga menimbulkan polemik karena Rusia mengancam bantuan persenjataan itu akan diperhitungkan sebagai tindakan permusuhan dari barat secara langsung.

Kulminasi dari bantuan barat adalah alutsista utama, baik di darat maupun udara. Di darat, Amerika akhirnya mengirimkan tank Abrams M1, Jerman mengirimkan tank Leopard I, sedangkan Perancis mengirimkan tank AMX. Di matra udara, Amerika akhirnya mengirimkan jet tempur F-16 yang sangat dinantikan. Pengiriman F-16 ini sempat menaikkan ketegangan politik Rusia dan Amerika.

Infografik Sejumlah Senjata Bantuan Barat/NATO kepada Ukraina

Dengan berbagai bantuan militer dari negara Eropa dan Amerika itu, kekuatan perang Ukraina bisa agak ”diseimbangkan” agar tak terjadi genosida sebagaimana di kota Bucha, Kharkiv.

Sebagai catatan, di awal perang Ukraina memiliki sekitar 900 tank dari seri T-64s, T-72s, dan T-80s peninggalan Uni Soviet. Jumlah itu bertambah dengan 240 tank T-72 bantuan Polandia dan puluhan tank serupa dari Republik Czech. Ada pula 500 lebih tank hasil rampasan Ukraina di medan perang.

Jerman akhirnya setuju mengirim 14 tank Leopard 2A6 dan Inggris menyetujui pengiriman 14 MBT Challenger 2. Tak hanya Leopard 2, Zelenskyy sebelumnya juga sudah meminta Presiden AS Joe Biden mengirimkan MBT M1 A2 Abrams buatan Amerika. Perancis akhirnya juga memberi isyarat akan mengirimkan MBT mereka, yakni Leclerc.

Secara keseluruhan, Ukraina mendapat 100 lebih tank tempur utama berbagai jenis secara bertahap mulai Maret 2023. Amerika juga menyetujui pengiriman 50 kendaraan tempur infanteri (IFV) M2 Bradley yang disusul Jerman dan Perancis mengirimkan IFV seri Marder dan AMX-10 RC. Senjata-senjata buatan negara Barat, khususnya NATO, sudah bertaburan di Ukraina dan saling ”adu otot” dengan senjata Rusia dan Ukraina sendiri.

Hampir semua persenjataan canggih Rusia ”dikeluarkan” di medan laga, termasuk tank T-90, sistem radar terbaru, drone Lancet terbaru, serta pesawat jet Su-57 dan jet MiG-31. Namun ternyata mampu ditangkal secara mencukupi oleh Ukraina dengan peralatan militer bantuan barat. 

Pada akhirnya, perang Rusia-Ukraina ini tak ”sekadar” adu senjata dan strategi militer, tetapi juga telah menjadi ajang adu gengsi sejauh mana teknologi, kecanggihan dan strategi masing-masing pihak benar-benar bisa menggentarkan dan ”menggigit” lawan di medan laga.

Foto yang dirilis Layanan Media Istana Kepresidenan Ukraina memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berjabat tangan dengan calon presiden Amerika Serikat Donald Trump usai bertemu di New York, Jumat (27/9/2024). This handout photograph released by the Ukrainian presidential press service on September 27, 2024 shows Ukrainian President Volodymyr Zelensky (L) and Republican presidential nominee former US President Donald Trump, shake hands during a meeting on September 27, 2024 in New York. The meeting coincides with Zelensky's visit to New York for the United Nations General Assembly. (Photo by Handout / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Perubahan politik AS

Tak hanya dalam bertempur, kelihaian Ukraina juga tampak dalam menanggapi perang kata-kata antara Washington dan Ukraina+Eropa. Presiden Zelenskyy dalam tanggapan terbarunya atas gagasan Donald Trump menyatakan bersedia mundur dari tampuk kepemimpinan Ukraina dengan imbalan asalkan Ukraina mendapatkan perdamaian dan perlindungan aliansi NATO. Pernyataan itu disampaikan (24/2/2025) pada sebuah konferensi pers sebelum peringatan tiga tahun serangan Rusia.

Menjawab pertanyaan wartawan pada saat itu bahwa apakah dia senang jika mundur dari kursi kepresidenan jika itu membawa perdamaian Ukraina, Zelenskyy menjawab,” Ya saya senang, jika ada perdamaian bagi Ukraina. Jika anda sungguh-sungguh ingin saya mundur dari jabatan ini saya siap. Saya juga mau menukarnya (jabatan presiden) dengan (keanggotaan) di NATO, jika ada peluang untuk itu. Saya akan melakukannya segera tanpa banyak pembicaraan soal itu,”.

Sikap penentangan Zelenskyy kepada Trump juga lebih lunak dari sebelumnya, yang menyebut bahwa informasi yang diperoleh Donald Trump hanya empat persen dari yang sebenarnya berlangsung. Kini dia menyatakan bahwa tak tersinggung dengan sebutan ”diktator”. Zelenskyy menyatakan, ”Saya fokus pada keamanan Ukraina saat ini, bukan pada 20 tahun (masa jabatan), dan saya tak akan menjabat selama berdekade, itu bukan impian saya.” (BBC.com 24/2/2025)

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (tengah) tiba di Konferensi Keamanan Muenchen (MSC) ke-61 di Muenchen, Jerman selatan pada 14 Februari 2025. Presiden AS Trump mendesak agar konflik segera diakhiri, sementara Zelensky menyerukan jaminan keamanan yang ketat dari Washington sebagai bagian dari kesepakatan apa pun dengan Rusia.

Keinginan agar Zelenskyy mundur dari kursi kepresidenan itu juga merupakan keinginan Moskwa sejak 2019 ketika sang mantan pelawak populer itu terpilih sebagai Presiden Ukraina. Dia mengalahkan kandidat petahana Petro Poroshenko dengan kemenangan hampir 75 persen pemilih di putaran kedua pemilu presiden 2019. Bagaimanapun, dibandingkan Poroshenko, Rusia lebih tidak bisa mengandalkan Zelenskyy untuk mengamankan Ukraina dari pengaruh negara-negara Barat.

Kini arah masa depan peperangan Rusia-Ukraina dan kapan akan berakhir tampaknya ditentukan oleh sejauh mana pembicaraan damai yang diinisiasi Amerika Serikat dan Rusia akan menemukan kata sepakat, yang disetujui Eropa dan Ukraina sendiri. Tak akan mungkin meninggalkan Ukraina di meja perundingan perdamaian tanpa keikutsertaan Ukraina sekalipun ”jasa” Amerika Serikat begitu besar. Apalagi tekad mempertahankan kemerdekaan dan membela posisi Ukraina semakin keras disuarakan Eropa dan para sahabat Ukraina.

Sementara di medan peperangan, para jenderal Rusia sudah berliur ketika mendengar kabar bakal ditariknya dukungan AS bagi persenjataan dan keuangan Ukraina.  Bagi mereka, kabar itu adalah kunci dari kemenangan Rusia atas Ukraina.

”Beri kami sebulan atau satu setengah bulan, untuk mengalahkan Ukraina tanpa dukungan logistik perang AS,” tutur salah satu jenderal perang Rusia. Mungkin sang jenderal lupa, dulu pada awal perang mereka juga berpikir akan mudah menguasai Ukraina dalam tiga hari saja. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

M Toto Suryaningtyas
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Infografik:

Ismawadi .
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari