TEHERAN, SENIN — Iran meluaskan latihan penggunaan senjata untuk warga sipil. Sementara tetangga Iran melaporkan serangan pesawat nirawak. Semua di tengah bayang-bayang serangan lanjutan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Amunisi tambahan telah dikirim ke Israel.
Dilaporkan CNN dan Al Jazeera pada Senin (18/5/2026), pelatihan penggunaan senjata digelar di berbagai kesempatan. Selain di berbagai lokasi, materi pelatihan disiarkan sejumlah stasiun televisi.
Hukum Iran sebenarnya mengatur ketat kepemilikan pistol dan senapan oleh warga sipil. Walakin, sejak AS-Israel menyerang, aturan dilonggarkan dengan cara mempermudah izin kepemilikan senjata.
Bahkan, pelatihan semakin gencar setelah terdengar kabar AS-Israel bersiap melanjutkan serangan ke Iran. Serangan dihentikan lewat gencatan sejak 7 April 2026. Sejak itu sampai sekarang, AS-Iran tak kunjung bisa bersepakat soal berbagai hal.
AS menuntut Iran membuka blokade Selat Hormuz dan menyerahkan cadangan uranium yang sudah diperkaya. Iran juga dituntut melucuti total program nuklir dan rudalnya, termasuk membongkar fasilitas di bawah tanah. AS juga menuntut Iran berhenti menyokong berbagai kelompok bersenjata di kawasan.
Sebaliknya, Iran meminta jaminan AS dan sekutunya tak akan lagi menyerang Iran dengan alasan apa pun. Iran meminta semua perang di kawasan, termasuk yang dilancarkan Israel ke tetangganya, dihentikan.
Selain itu, Iran meminta pencabutan total sanksi yang diberlakukan AS dan sekutunya sejak 1979. Soal Selat Hormuz, Iran meminta haknya diakui.
Iran pun tidak mau dipermainkan berulang kali, diserang di tengah perundingan. ”Militer kita terus siaga walau diplomasi tetap berjalan,” kata Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran.
Perundingan AS-Iran buntu dan tak jelas kelanjutannya. Pada Sabtu lalu, Presiden AS Donald Trump dan para petinggi AS dilaporkan membahas masalah Iran. ”Bagi Iran, waktu semakin habis dan mereka sebaiknya bergerak cepat, atau tak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu adalah kunci,” tulis Trump di media sosial.
Departemen Pertahanan AS telah memaparkan rencana serangan lanjutan. Sasarannya termasuk fasilitas energi, jalan, jembatan, sampai bandara di Iran.
Trump juga dilaporkan membahas isu itu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sejumlah stasiun televisi Israel menyebut, militer Israel juga bersiap melanjutkan serangan ke Iran. ”Mata kita selalu terbuka lebar saat membahas Iran. Kita siap untuk berbagai kemungkinan,” kata Netanyahu dalam sidang kabinet.
Media Israel, Channel 13, melaporkan pesawat-pesawat angkut militer AS datang dari Jerman ke Israel. Pesawat itu mengangkut amunisi dari gudang senjata AS di Jerman. Sebelum menyerang Iran pada Juni 2025 dan akhir Februari 2026, AS juga meningkatkan pasokan amunisi ke Israel.
Wakil Presiden Quincy Institute di AS, Trita Parsi, menyebut bahwa AS-Israel yakin posisi mereka akan menguat kalau serangan ke Iran dilanjutkan. ”Saya pikir Trump amat serius mempertimbangkan tindakan militer tambahan,” katanya kepada Al Jazeera.
Pertimbangan itu mengindikasikan semua upaya menekan Iran selama ini telah gagal. Sejak 13 April 2026, AS mencegat seluruh kapal tujuan Iran. Selain sebagai pembalasan atas blokade Iran di Selat Hormuz, pencegatan itu untuk memutus sumber utama pendapatan Iran.
Di sisi lain, serangan lanjutan akan membuat kubu garis keras Iran semakin mendapat pembenaran. Selama ini, mereka yang selalu menentang perundingan dengan AS.
Hambatan utama perundingan AS-Iran, kata Parsi, adalah tuntutan agar Iran menyerah total. Bagi Trump, kondisi itu amat penting. ”Dari perspektif Trump, dia mau menarasikan memenangi perang dan menyangkal versi kemenangan pihak lain,” ujarnya.
Serangan dan pangkalan
Situasi semakin rumit dengan laporan serangan pesawat nirawak ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Riyadh menyebut, serangan diluncurkan dari Irak.
Serangan ke Arab Saudi diungkap sehari setelah The New York Timesmengulas pangkalan lain Israel di Irak. Pangkalan dekat Al-Nukhaib itu terdiri dari landas pacu, drum, dan sejumlah tenda. Pangkalan disebut lokasi evakuasi sementara dan pengisian bahan bakar bagi pesawat.
Pada 9 Mei 2026, The Wall Street Journal juga mengulas pangkalan lain Israel yang dibuat diam-diam di Irak. Menurut NYT dan WSJ, pangkalan-pangkalan itu dipakai Israel untuk menyerang Iran dari Irak. Israel menyerang warga Irak yang mengetahui pangkalan rahasia itu.
Menurut NYT, setidaknya sejak Juni 2025, AS tahu soal pangkalan rahasia Israel di Irak. Sejumlah pihak di Irak juga diduga tahu soal pangkalan itu. Walakin, juru bicara militer Iran, Letnan Jenderal Saad Maan, menyatakan tak ada informasi soal pangkalan itu.
Sementara dari Dubai dilaporkan kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah milik UEA. Tidak ada korban ataupun bahaya radiasi yang timbul akibat serangan itu.
Sejumlah pihak di UEA menuduh Iran melancarkan serangan tersebut. Belum lama berselang UEA juga menuduh Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke Fujairah, wilayah timur UEA, dekat Selat Hormuz.
Kementerian Pertahanan UEA mengatakan, tiga pesawat menghantam wilayahnya dekat Arab Saudi. Ada dua pesawat nirawak ditembak jatuh dan sedang diselidiki siapa yang melancarkan serangan.
Abu Dhabi tak secara langsung menyebut siapa pelaku serangan. ”Serangan tersebut bisa saja dilakukan oleh aktor negara atau melalui kaki tangan mereka untuk memicu eskalasi,” kata penasihat hubungan luar negeri UEA, Anwar Gargash.
Beroperasi sejak 2020, PLTN Barakah dibangun dengan biaya 20 miliar dolar AS. Hingga 25 persen kebutuhan listrik UEA dipasok PLTN yang pembangunannya dikerjakan Korea Selatan itu.
Operator Barakah yang menggunakan empat reaktor mengatakan serangan tersebut tidak menimbulkan bahaya dan semua unit beroperasi dalam keadaan aman. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga menyatakan semua dalam keadaan terkendali di PLTN Barakah.
Itu adalah serangan pertama terhadap PLTN Barakah sejak AS-Israel menyerang Iran, Februari 2026. Namun, pada tahun 2017, Houthi di Yaman melancarkan serangan udara terhadap proyek pembangunan Barakah.
UEA memiliki perjanjian kerja sama nuklir dengan AS dalam kesepakatan 123 tentang pengayaan uranium dan penanganan limbah radio aktif. Uranium di Barakah didatangkan dari luar negeri.
Sementara Iran juga menggelar program nuklir dengan tujuan damai yang oleh AS dan Israel dituduh memiliki tujuan membuat senjata nuklir. Pada saat yang sama, Israel dipercayai menjadi satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah. Israel tidak pernah diperiksa oleh IAEA.
Selama agresi AS-Israel, PLTN Bushehr milik Iran yang dioperasikan tenaga ahli Rusia juga diserang. IAEA turut memantau kerusakan PLTN Bushehr yang dikhawatirkan dapat memicu bencana radio aktif di Teluk Persia. (AP/AFP/REUTERS)
TEHERAN, SENIN — Iran meluaskan latihan penggunaan senjata untuk warga sipil. Sementara tetangga Iran melaporkan serangan pesawat nirawak. Semua di tengah bayang-bayang serangan lanjutan Amerika Serikat-Israel ke Iran. Amunisi tambahan telah dikirim ke Israel.
Dilaporkan CNN dan Al Jazeera pada Senin (18/5/2026), pelatihan penggunaan senjata digelar di berbagai kesempatan. Selain di berbagai lokasi, materi pelatihan disiarkan sejumlah stasiun televisi.
Hukum Iran sebenarnya mengatur ketat kepemilikan pistol dan senapan oleh warga sipil. Walakin, sejak AS-Israel menyerang, aturan dilonggarkan dengan cara mempermudah izin kepemilikan senjata.
Serial Artikel
Biaya Perang AS di Iran Membengkak Rp 508,1 Triliun
Biaya ini naik dari pernyataan awal dalam sidang anggaran di Capitol Hill, dua pekan lalu.
Bahkan, pelatihan semakin gencar setelah terdengar kabar AS-Israel bersiap melanjutkan serangan ke Iran. Serangan dihentikan lewat gencatan sejak 7 April 2026. Sejak itu sampai sekarang, AS-Iran tak kunjung bisa bersepakat soal berbagai hal.
AS menuntut Iran membuka blokade Selat Hormuz dan menyerahkan cadangan uranium yang sudah diperkaya. Iran juga dituntut melucuti total program nuklir dan rudalnya, termasuk membongkar fasilitas di bawah tanah. AS juga menuntut Iran berhenti menyokong berbagai kelompok bersenjata di kawasan.
Sebaliknya, Iran meminta jaminan AS dan sekutunya tak akan lagi menyerang Iran dengan alasan apa pun. Iran meminta semua perang di kawasan, termasuk yang dilancarkan Israel ke tetangganya, dihentikan.
Selain itu, Iran meminta pencabutan total sanksi yang diberlakukan AS dan sekutunya sejak 1979. Soal Selat Hormuz, Iran meminta haknya diakui.
Iran pun tidak mau dipermainkan berulang kali, diserang di tengah perundingan. ”Militer kita terus siaga walau diplomasi tetap berjalan,” kata Mohsen Rezaei, penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran.
Perundingan AS-Iran buntu dan tak jelas kelanjutannya. Pada Sabtu lalu, Presiden AS Donald Trump dan para petinggi AS dilaporkan membahas masalah Iran. ”Bagi Iran, waktu semakin habis dan mereka sebaiknya bergerak cepat, atau tak akan ada yang tersisa dari mereka. Waktu adalah kunci,” tulis Trump di media sosial.
Departemen Pertahanan AS telah memaparkan rencana serangan lanjutan. Sasarannya termasuk fasilitas energi, jalan, jembatan, sampai bandara di Iran.
Trump juga dilaporkan membahas isu itu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sejumlah stasiun televisi Israel menyebut, militer Israel juga bersiap melanjutkan serangan ke Iran. ”Mata kita selalu terbuka lebar saat membahas Iran. Kita siap untuk berbagai kemungkinan,” kata Netanyahu dalam sidang kabinet.
Media Israel, Channel 13, melaporkan pesawat-pesawat angkut militer AS datang dari Jerman ke Israel. Pesawat itu mengangkut amunisi dari gudang senjata AS di Jerman. Sebelum menyerang Iran pada Juni 2025 dan akhir Februari 2026, AS juga meningkatkan pasokan amunisi ke Israel.
Serial Artikel
Israel Operasikan Pangkalan Rahasia di Irak
Pangkalan rahasia yang dijaga pasukan khusus itu mendukung operasi jet tempur Israel dalam agresi ke Iran. Lokasi pangkalan di gurun pasir dekat Jordania dan Iran.
Wakil Presiden Quincy Institute di AS, Trita Parsi, menyebut bahwa AS-Israel yakin posisi mereka akan menguat kalau serangan ke Iran dilanjutkan. ”Saya pikir Trump amat serius mempertimbangkan tindakan militer tambahan,” katanya kepada Al Jazeera.
Pertimbangan itu mengindikasikan semua upaya menekan Iran selama ini telah gagal. Sejak 13 April 2026, AS mencegat seluruh kapal tujuan Iran. Selain sebagai pembalasan atas blokade Iran di Selat Hormuz, pencegatan itu untuk memutus sumber utama pendapatan Iran.
Di sisi lain, serangan lanjutan akan membuat kubu garis keras Iran semakin mendapat pembenaran. Selama ini, mereka yang selalu menentang perundingan dengan AS.
Hambatan utama perundingan AS-Iran, kata Parsi, adalah tuntutan agar Iran menyerah total. Bagi Trump, kondisi itu amat penting. ”Dari perspektif Trump, dia mau menarasikan memenangi perang dan menyangkal versi kemenangan pihak lain,” ujarnya.
Serangan dan pangkalan
Situasi semakin rumit dengan laporan serangan pesawat nirawak ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Riyadh menyebut, serangan diluncurkan dari Irak.
Serangan ke Arab Saudi diungkap sehari setelah The New York Timesmengulas pangkalan lain Israel di Irak. Pangkalan dekat Al-Nukhaib itu terdiri dari landas pacu, drum, dan sejumlah tenda. Pangkalan disebut lokasi evakuasi sementara dan pengisian bahan bakar bagi pesawat.
Pada 9 Mei 2026, The Wall Street Journal juga mengulas pangkalan lain Israel yang dibuat diam-diam di Irak. Menurut NYT dan WSJ, pangkalan-pangkalan itu dipakai Israel untuk menyerang Iran dari Irak. Israel menyerang warga Irak yang mengetahui pangkalan rahasia itu.
Menurut NYT, setidaknya sejak Juni 2025, AS tahu soal pangkalan rahasia Israel di Irak. Sejumlah pihak di Irak juga diduga tahu soal pangkalan itu. Walakin, juru bicara militer Iran, Letnan Jenderal Saad Maan, menyatakan tak ada informasi soal pangkalan itu.
Serial Artikel
Perang Iran yang Ditanggung Dubai
Dubai mati-matian mempertahankan reputasi sebagai negara paling aman di tengah perang Iran yang menyasar negaranya.
Sementara dari Dubai dilaporkan kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah milik UEA. Tidak ada korban ataupun bahaya radiasi yang timbul akibat serangan itu.
Sejumlah pihak di UEA menuduh Iran melancarkan serangan tersebut. Belum lama berselang UEA juga menuduh Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke Fujairah, wilayah timur UEA, dekat Selat Hormuz.
Kementerian Pertahanan UEA mengatakan, tiga pesawat menghantam wilayahnya dekat Arab Saudi. Ada dua pesawat nirawak ditembak jatuh dan sedang diselidiki siapa yang melancarkan serangan.
Abu Dhabi tak secara langsung menyebut siapa pelaku serangan. ”Serangan tersebut bisa saja dilakukan oleh aktor negara atau melalui kaki tangan mereka untuk memicu eskalasi,” kata penasihat hubungan luar negeri UEA, Anwar Gargash.
Beroperasi sejak 2020, PLTN Barakah dibangun dengan biaya 20 miliar dolar AS. Hingga 25 persen kebutuhan listrik UEA dipasok PLTN yang pembangunannya dikerjakan Korea Selatan itu.
Operator Barakah yang menggunakan empat reaktor mengatakan serangan tersebut tidak menimbulkan bahaya dan semua unit beroperasi dalam keadaan aman. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga menyatakan semua dalam keadaan terkendali di PLTN Barakah.
Itu adalah serangan pertama terhadap PLTN Barakah sejak AS-Israel menyerang Iran, Februari 2026. Namun, pada tahun 2017, Houthi di Yaman melancarkan serangan udara terhadap proyek pembangunan Barakah.
Serial Artikel
PLTN Bushehr, Titik Rawan Bencana Nuklir dalam Perang Iran
PLTN Bushehr milik Iran dihantam proyektil. Bencana radiasi nuklir dari PLTN Bushehr dapat mengancam keselamatan Arab Saudi dan negara-negara Teluk.
UEA memiliki perjanjian kerja sama nuklir dengan AS dalam kesepakatan 123 tentang pengayaan uranium dan penanganan limbah radio aktif. Uranium di Barakah didatangkan dari luar negeri.
Sementara Iran juga menggelar program nuklir dengan tujuan damai yang oleh AS dan Israel dituduh memiliki tujuan membuat senjata nuklir. Pada saat yang sama, Israel dipercayai menjadi satu-satunya pemilik senjata nuklir di Timur Tengah. Israel tidak pernah diperiksa oleh IAEA.
Selama agresi AS-Israel, PLTN Bushehr milik Iran yang dioperasikan tenaga ahli Rusia juga diserang. IAEA turut memantau kerusakan PLTN Bushehr yang dikhawatirkan dapat memicu bencana radio aktif di Teluk Persia. (AP/AFP/REUTERS)