Antrean panjang terjadi di SPBU di wilayah Makassar dan Sulawesi Selatan. Beberapa pihak bahkan menjual BBM eceran hingga Rp 20.000 per liter.
31 Mar 2026 12:59 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/31/fe2888f9145b5e67e048bb94a6dc6374-IMG_1973.jpeg)
MAKASSAR, KOMPAS — Antrean panjang kendaraan terjadi hampir merata di semua stasiun pengisian bahan bakar untuk umum di Kota Makassar dan wilayah lain di Sulawesi Selatan. Warga khawatir kehabisan bahan bakar di tengah isu kenaikan harga meski Pertamina memastikan stoknya tetap aman.
Hingga Selasa (31/3/2026) siang, antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) terjadi di Kota Makassar. Kendaraan berbagai jenis, baik mobil maupun motor, mengantre demi mendapatkan bahan bakar.
Muhlis (52), pengemudi truk, menuturkan, telah antre sekitar satu jam. Ia khawatir kehabisan solar sebelum gilirannya tiba. Masih ada belasan kendaraan yang antre di depannya.
”Kira-kira masih dapat? Ini solar saya sudah mau habis,” ucapnya khawatir.
Ia mengatakan sempat ingin membeli solar di Maros. Namun, Muhlis urung melakukannya karena antreannya sangat panjang. Tidak hanya solar, antrean juga terlihat di bahan bakar lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/31/19169e400edf0e781720ebf873343b4f-IMG_1969.jpeg)
Di kawasan Perintis Kemerdekaan, Makassar, antrean kendaraan juga menumpuk. Bahkan, satu SPBU terlihat kosong karena kehabisan stok bahan bakar sejak malam sebelumnya.
”Sudah dua SPBU saya datangi, ada yang kosong, ada yang antreannya panjang sekali. Rencana mau ke kota saja cari yang tidak terlalu panjang antreannya,” ucap Iza (38), karyawan swasta di Makassar.
Situasi ini, tutur Iza, membuatnya kelimpungan dan panik. Orang-orang seolah ketakutan kehabisan bahan bakar di tengah isu melonjaknya harga minyak. Sejumlah rumor yang beredar juga membuatnya semakin kebingungan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/31/74b7420553104034c7b8ea8d575f2aab-IMG_1965.jpeg)
Situasi yang terjadi di Kota Makassar serupa dengan daerah lain di Sulsel. Di Bulukumba dan Sinjai, misalnya, antrean kendaraan sangat panjang dan SPBU telah diserbu sejak dini hari.
Sakti (30), warga Sinjai, menuturkan, tidak sanggup mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Ia terpaksa membeli Pertalite eceran warga dengan harga berkali lipat.
”Satu botol dijual Rp 18.000, bahkan hingga Rp 20.000. Kita tidak mau beli, tetapi butuh. Jadi, mau tidak mau, terpaksa beli,” katanya. Sebelumnya, harga sebotol atau kurang lebih 1 liter Pertalite di Makassar Rp 12.000-Rp 13.000.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi memastikan kondisi stok BBM di seluruh wilayah Sulawesi dalam keadaan aman dan terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
”Masyarakat tidak perlu panik dan diimbau membeli sesuai kebutuhan. Warga juga diminta tidak menimbun karena, selain mengganggu distribusi, juga dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan dan lingkungan sekitar,” tutur Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintah, Pertamina juga mendorong penggunaan energi secara bijak dan bertanggung jawab.
Lilik mengingatkan, penyalahgunaan BBM yang tidak sesuai dengan ketentuan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk konsekuensi hukum pidana.
Ia juga menegaskan, informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar di masyarakat saat ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM.
”Masyarakat diharapkan tidak terpengaruh informasi yang tidak memiliki sumber jelas,” ujarnya melanjutkan. Menurut Lilik, informasi resmi terkait harga dan produk BBM Pertamina hanya disampaikan melalui saluran komunikasi resmi perusahaan.
Penulis:
Saiful Rijal YunusEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra