Antusiasme pelari terhadap lomba Semarang 10K cukup tinggi. Usulan agar jumlah peserta ditambah terus muncul. Potensi penambahan peserta dan nomor lomba pun dikaji.
15 Des 2024 17:20 WIB · Olahraga
SEMARANG, KOMPAS — Lomba lari Semarang 10K yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (15/12/2024), berlangsung semarak. Antusiasme yang tinggi dari para pelari mendorong penyelenggara untuk terus berinovasi pada lomba-lomba mendatang. Salah satu yang diwacanakan adalah penambahan peserta dan nomor lomba.
Semarang 10K 2024 yang terselenggara berkat kerja sama Pemerintah Kota Semarang, harian Kompas, dan Le Minerale membuka pendaftaran untuk 2.500 pelari. Dari jumlah tersebut, 2.475 pelari ikut dalam perlombaan dan lebih dari 98 persen atau 2.436 pelari berhasil finis.
Jumlah pelari yang berkompetisi tahun ini bertambah 500 orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada Semarang 10K 2023, jumlah pelari yang turut dalam lomba sekitar 2.000 orang.
”Sampai dengan last minutes, orang-orang masih minta untuk bisa ikut, tapi kan memang dibatasi untuk 2.500 pelari. Dengan antusiasme yang luar biasa ini, mungkin tahun depan bisa lebih banyak pesertanya,” kata Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dalam konferensi pers seusai lomba Semarang 10K 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/27977179-d364-4e88-9c6f-082bd65e5889_jpg.jpg)
Hevearita menyebut, tingginya antusiasme masyarakat untuk mengikuti event tersebut, antara lain, dipengaruhi oleh rute lomba yang ditawarkan. Selain karena jalanan yang lebar, rute Semarang 10K juga cukup datar dan steril.
Di samping itu, pelari juga diajak melintasi sejumlah tempat bersejarah dan bangunan ikonik di Kota Semarang yang memanjakan mata. Bangunan dan kawasan yang dilewati itu, misalnya, Lawang Sewu, Tugu Muda, kawasan Simpang Lima, Gereja Gedangan St Yusuf, kawasan Kota Lama Semarang, Gereja Blenduk, Jembatan Mberok, dan Kantor Pos Indonesia.
”Gereja Blenduk yang di kawasan Kota Lama yang saat ini sedang direvitalisasi (pagar penutupnya) dibuka khusus untuk Semarang 10K. Setelah lomba, ditutup kembali,” ujar Hevearita.
Hevearita berharap Semarang 10K bisa terus diadakan di tahun-tahun mendatang. Hal itu karena kedatangan ribuan pelari ke Kota Semarang dinilai Hevearita membawa dampak ekonomi yang luar biasa, misalnya bagi para pengusaha penginapan dan kuliner.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/15/ab98dd9376124b7b0e9c76426fd97d32-IMG_9834.JPG)
Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Adi Prinantyo menyebut, Semarang 10K menjadi trade mark event penutup tahun bagi para pelari. Selain untuk berkompetisi sekaligus menguji hasil latihan lari selama satu tahun, para pelari juga datang untuk berwisata dan berbelanja.
”Jadi, ada dua sisi yang bergerak dalam lomba ini. Sisi pertama yaitu olahraga, baik olahraga prestasi maupun olahraga kebugaran. Di samping atlet yang ingin mencatatkan prestasi, ada pelari publik yang menjadikan event ini untuk menambah kebugaran,” ucap Adi.
Sisi kedua yang bergerak karena lomba itu adalah ekonomi dan pariwisata. Sebelum dan sesudah berlomba, para pelari, khususnya yang dari luar kota, akan berwisata dan berbelanja. Selama berada di Kota Semarang, mereka menggunakan jasa penginapan dan transportasi.
Menurut Adi, ke depan, penyelenggara berkomitmen untuk terus berinovasi dalam menyelenggarakan Semarang 10K. Inovasi yang dinilai Adi dimungkinkan untuk dilakukan adalah menambah jumlah peserta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/888f7195-3d40-45dc-bc4c-f8f0d1e0bc76_jpg.jpg)
Sejak beberapa tahun terakhir, penambahan peserta Semarang 10K menjadi 5.000 orang sering diwacanakan. Namun, rencana itu urung dilakukan akibat keterbatasan daya tampung di race village yang berada di Balai Kota Semarang. Ke depan, wacana itu diharapkan bisa terwujud.
”Kami mengutamakan kenyamanan para pelari karena kalau peserta ditambah tetapi race village-nya tetap di Balai Kota, pasti akan padat sekali. Kalau, misalnya, geser dari Balai Kota kok sepertinya susah, ini kan yang punya gawe-nya Pemerintah Kota Semarang. Nanti (diupayakan) tetap ditambah dan tetap di Balai Kota Semarang, tapi dibuat lebih nyaman,” tuturnya.
Di samping menembah jumlah peserta, penambahan nomor lomba dalam Semarang 10K juga direncanakan untuk dilakukan. Nomor lomba yang bakal ditambahkan adalah separuh maraton atau 21 kilometer.
”Kalau ditambah separuh maraton, artinya perlu penambahan rute sekitar 11 kilometer lagi. Kemungkinan, jika ditambah kategori separuh maraton, selesai lombanya tentu akan lebih siang. Dengan demikian, mungkin akan dimulai lebih pagi, misalnya pada pukul 04.45,” ungkap Adi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/b4fafa7d-7cf9-4ef5-9cc4-64cde85dce12_jpg.jpg)
Pelari nasional Odekta Elvina Naibaho menyebut, Semarang 10K menjadi ajang bagi dirinya untuk mengukur performa lari jarak 10 kilometer terakhirnya di tahun 2024 sebelum memasuki low season. Itulah kenapa Odekta benar-benar menampilkan kemampuan terbaiknya dalam ajang tersebut.
Dalam lomba tersebut, Odekta berhasil finis dalam waktu 34 menit 45 detik. Catatan waktu tersebut memecahkan rekor waktu finis tercepat untuk kategori putri yang sebelumnya dipegang oleh pelari asal Kenya, Lucy Nthenya Ndambuki, yang pada Semarang 10K 2023 finis dalam waktu 34 menit 55 detik.
Sampai dengan last minutes, orang-orang masih minta untuk bisa ikut, tapi kan memang dibatasi untuk 2.500 pelari. Dengan antusiasme yang luar biasa ini, mungkin tahun depan bisa lebih banyak pesertanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/a197cff7-4655-494f-b868-e2d986015fa2_jpg.jpg)
Selain memecahkan rekor Semarang 10K, Odekta juga memecahkan catatan waktu personal terbaiknya untuk jarak 10 kilometer di jalan raya. Sebelumnya, catatan waktu terbaik Odekta adalah 35 menit 5 detik.
”Rutenya mendukung, cuacanya juga mendukung. Saya kira itu juga yang bisa membuat saya bisa menaklukkan diri sendiri,” katanya.
Selain itu, Odekta juga mengapresiasi keberadaan marshal di sepanjang lintasan. Mereka dengan sigap mengarahkan Odekta sepanjang lomba. Marshal sepeda juga diakui Odekta turut membantu memberi tahu dirinya ketika hendak melintasi jalan menikung. Dengan begitu, Odekta bisa bersiap.
”Water station-nya juga sangat pas. Di setiap 2,5 kilometer ada. Jadi, sebelum kami haus sudah bisa minum lagi,” ungkap Odekta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/41cb0cc8-9bf9-47c0-80da-2ec75335bcb6_jpg.jpg)
Brand Manager Le Minerale Kelvin Andika mengatakan, pemenuhan kebutuhan hidrasi sangat penting untuk para pelari. Untuk itu, Le Minerale hadir di setiap pos hidrasi Semarang 10K.
”Le Minerale hadir untuk memberikan kesegaran bagi para pelari dan memastikan kebutuhan mineral mereka terpenuhi. Dengan demikian, mereka bisa meningkatkan performa lari mereka sampai ke garis finis,” ucapnya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Haris Firdaus