Sumber pendapatan komersial FIFA dari sejumlah pilar utama, seperti hak siar televisi, penjualan tiket, pelayanan kepada pelanggan, sponsor, hingga lisensi.
25 Mei 2026 17:00 WIB · Olahraga
AFP
1. Sumber Hadiah Piala Dunia 2026
2. Tiket Piala Dunia Tersedia, tetapi Harga Makin Melangit
3. Harga Tiket Piala Dunia 2026 Mencapai Rp 580 Juta
4. Harga Tiket Piala Dunia 2026 Selangit, FIFA Dinilai Mengkhianati Suporter
Dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026, FIFA diproyeksikan mendulang keuntungan 11 miliar-13 miliar dolar AS atau Rp 192 triliun-Rp 227 triliun (kurs Rp 17.500 per dolar AS) untuk turnamen empat tahunan itu.
Selain untuk kegiatan operasional FIFA dan hadiah bagi peserta Piala Dunia, sebagian besar pendapatan itu didistribusikan kepada 211 asosiasi anggota melalui program pengembangan dan peningkatan kualitas sepak bola dunia dengan membangun infrastruktur sepak bola, akademi, dan mendukung tim nasional di negara-negara anggota.
Sumber utama pendapatan komersial FIFA terutama berasal dari sejumlah pilar utama yang mengalami pertumbuhan signifikan pada siklus kali ini, antara lain hak siar televisi, penjualan tiket, pelayanan kepada pelanggan (hospitality), sponsor, hingga lisensi.
Penjualan hak siar global menjadi penyumbang terbesar. Keputusan ekspansi peserta dari 32 menjadi 48 tim meningkatkan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104 laga. Hal ini memberikan lebih banyak konten untuk dijual kepada penyiar di pasar besar seperti Amerika Utara dan Eropa.
Pada Piala Dunia 2026, FIFA menargetkan pendapatan dari penjualan hak siar minimal 4 miliar dolar AS (Rp 70 triliun). Sementara pada Piala Dunia 2022, penjualan hak siar memberi FIFA pemasukan lebih dari 2,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 49,6 triliun.
Berikutnya, target penjualan tiket dan hospitality melonjak menjadi 3 miliar dolar AS atau Rp 595 triliun. FIFA menerapkan skema harga dinamis yang memicu kritik pedas dari penggemar sepak bola. Tiket termahal untuk laga final di Stadion MetLife New York New Jersey dibanderol mencapai 32.970 dolar AS (sekitar Rp 580 juta). Sebagai perbandingan, harga tiket termahal dalam final Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar adalah 1.600 dolar AS (Rp 28 juta).
Sementara itu, kemitraan komersial atau sponsor dengan merek global seperti Adidas, Aramco, dan Coca Cola diproyeksikan menyumbang 2,7 miliar dolar AS.
Lebih kurang sebulan menjelang turnamen dimulai pada 11 Juni, tiket untuk sebagian besar pertandingan grup Piala Dunia 2026 masih tersedia. Namun, tiket tersebut dijual dengan harga yang semakin tinggi, yakni mencapai 2.000 dolar AS (Rp 34 juta). FIFA terus berkilah meski harga tiket yang tinggi ini jadi sorotan kelompok suporter sepak bola.
Per Sabtu (2/5/2026), tiket Piala Dunia masih tersedia di laman resmi FIFA pada bagian ”penjualan menit terakhir”. Penjualan ini masuk ke dalam fase keempat sekaligus terakhir yang dibuka mulai 1 April sampai menjelang akhir turnamen. FIFA sebelumnya telah merilis penjualan tiket dalam berbagai fase sejak September 2025.
Namun, harga termurah dari tiket tersebut adalah 380 dolar AS (Rp 6,5 juta) untuk tujuh pertandingan. Salah satu tiket itu adalah pertandingan tim debutan Piala Dunia, Curacao, melawan Pantai Gading di Philadelphia, Amerika Serikat.
Meskipun hanya sedikit tiket yang tersisa untuk beberapa pertandingan, penggemar yang bersedia dan mampu membayar masih dapat menonton pertandingan negara-negara besar, seperti juara bertahan Argentina, Brasil, Spanyol, Perancis, dan Inggris. Tiket untuk Argentina yang diperkuat Lionel Messi, misalnya, berkisar 2.475 dolar AS hingga 2.925 dolar AS (Rp 42,9 juta-Rp 50,7 juta).
Harga tiket sebenarnya bervariasi tergantung kategori, dengan Kategori 1 (tribune depan) paling mahal dan Kategori 4 paling murah. Namun, tiket Kategori 3 untuk pertandingan AS versus Paraguay terdaftar seharga 1.120 dolar AS (Rp 19 juta), lebih mahal dibandingkan dengan tiket Kategori 2 untuk pertandingan Austria versus Jordania yang harganya 380 dolar AS (Rp 6,5 juta).
Pertandingan Argentina versus Austria (2.925 dolar AS atau Rp 50,7 juta), Ekuador vs Jerman (2.550 dolar AS atau Rp 44,2 juta), Uruguay vs Spanyol (2.520 dolar AS atau Rp 43,6 juta), dan Inggris vs Kroasia (Rp 43,4 juta) juga termasuk yang termahal. Adapun tiket untuk semifinal berkisar 9.660 dolar AS dan 11.130 dolar AS.
Sebulan menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko, situasi semakin tidak menentu. Tingginya harga tiket juga menjadi perhatian para penggemar sepak bola dunia. Harga tiket termahal dalam final Piala Dunia 2026 yang digelar di Stadion MetLife, New Jersey, AS, mencapai 32.970 dolar AS (sekitar Rp 580 juta).
Sebagai perbandingan, harga tiket termahal dalam final Piala Dunia 2022 yang digelar di Qatar adalah 1.600 dolar AS (Rp 28 juta).
Organisasi Fans Sepak Bola Eropa (FSE) menyebut harga tiket Piala Dunia 2026 sebagai pemerasan dan pengkhianatan terhadap para penggemar setia. Banyak penggemar sepak bola Eropa tidak mampu membeli tiket tersebut.
Sementara itu, FIFA berharap dapat meraup penghasilan 13 miliar dolar AS dari penjualan tiket laga Piala Dunia. Turnamen akan dibuka dengan pertandingan perdana di Estadio Azteca, Mexico City, 11 Juni 2026, antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan.
Pertandingan final tersebut digelar di Stadion MetLife, New Jersey, yang berkapasitas 82.500 penonton.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyalahkan adanya pesimisme terhadap pelaksanaan Piala Dunia ke-23 karena pemberitaan negatif media massa.
Infantino menyebut harga tiket menonton pertandingan Piala Dunia 2026 masih terjangkau karena sebagian besar pertandingan (78 kali dari 104 laga) digelar di Amerika Serikat. Harga tersebut sesuai dengan standar di Amerika Serikat. FIFA mengklaim ada 500 juta permintaan tiket dibandingkan dengan 50 juta permintaan tiket dalam turnamen Piala Dunia 2018 dan 2022.
Meski diklaim penjualan tiket laris manis, banyak karcis untuk sejumlah pertandingan, termasuk pertandingan perdana AS versus Paraguay di kota Los Angeles, 12 Juni 2026, masih banyak yang belum laku.
Presiden AS Donald Trump mendukung langkah-langkah Infantino dalam penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026. Namun, dia juga terkejut mengetahui besaran harga tiket pertandingan perdana AS-Paraguay yang mencapai 1.000 dolar AS.
Kelompok suporter sepak bola menuduh FIFA telah melakukan ”pengkhianatan” terkait harga tiket Piala Dunia 2026 yang tidak masuk akal. Federasi sepak bola internasional ini mengalokasikan 8 persen tiket bagi asosiasi sepak bola tim yang lolos untuk dijual kepada para pendukung paling militan tim masing-masing.
Akan tetapi, daftar harga yang yang dirilis federasi sepak bola Jerman mengungkap fakta harga tiket selangit untuk ajang yang akan digelar di AS, Kanada, dan Meksiko itu. Harga untuk babak penyisihan grup bervariasi, mulai dari 180 dolar AS (Rp 2,99 juta) hingga 700 dolar AS (Rp 11,6 juta).
Sementara harga terendah untuk partai final adalah 4.185 dolar AS (Rp 69,6 juta), sedangkan yang tertinggi 8.680 dolar AS (144,4 juta). Di pasaran sekunder, tiket final yang akan digelar di Stadion MetLife, New Jersey, 19 Juli 2026, itu telah ditawarkan seharga 11.000 dolar AS (Rp 183 juta).
Selain harga yang dinilai di luar kewajaran, yang dipermasalahkan adalah perbedaan pernyataan FIFA mengenai harga tiket. Sebelumnya, FIFA menyebut harga tiket yang tersedia untuk babak penyisihan grup hanya 60 dolar AS (Rp 998.000), sedangkan AS saat melakukan penawaran (bidding) tuan rumah tujuh tahun lalu menawarkan ratusan ribu tiket seharga 21 dolar AS (Rp 349.000) saja.
Organisasi suporter Eropa, Football Supporters Europe (FSE), menggambarkan harga saat ini ”sangat mahal”. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga telah membagikan informasi harga kepada kelompok pendukung tim ”Tiga Singa”, England Supporters Travel Club (ESTC). Dari harga yang ditawarkan itu, seorang suporter harus merogoh kocek hingga 7.000 dolar AS (Rp 116 juta) untuk membeli tiket mulai dari penyisihan grup hingga partai final.
Pada September lalu, FIFA menyatakan bahwa harga tiket yang tersedia di laman mereka akar berkisar 60 dolar AS untuk laga penyisihan grup hingga 6.730 dolar AS untuk partai final. FIFA menyatakan harga ini bisa berubah setelah pertama kalinya mereka mengadopsi kebijakan harga tiket.
Penulis:
Budiawan Sidik A, Dwi EriantoEditor:
Karina Isna IrawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji