Kembali ke Gedung Putih, Apa Perbedaan Trump yang Dulu dan Sekarang?

Trump banyak belajar dari kesalahan saat menjadi Presiden AS pada 2017-2021. Sekarang dia lebih siap berbekal pengetahuan, pengalaman, dan tim yang solid.

20 Jan 2025 09:11 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON, SENIN — Sedikit lagi, Amerika Serikat akan memasuki era baru dengan rasa lama. Donald Trump akan dilantik sebagai Presiden ke-47 di Gedung Kongres, Washington DC, Senin (20/1/2025) siang waktu setempat atau Selasa dini hari WIB.

Pelantikan tersebut menandai masa jabatan kedua Trump sebagai presiden. Dia pernah menjadi presiden periode 2017-2021 sebelum akhirnya kalah oleh Presiden Joe Biden dalam pemilihan presiden 2020.

Saat pertama tiba di Washington DC pada 2017, Trump adalah orang asing. Dia satu-satunya presiden dalam sejarah tanpa pengalaman dalam politik, kantor publik, dan militer. Orang lebih mengenalnya sebagai pengusaha dan miliarder. Tak jelas bagaimana pemerintahannya akan berjalan.

Namun, tidak kali ini. Trump kembali ke Gedung Putih dengan segudang pengalaman dan pengetahuan baru serta tim pendukung yang berbeda. Apalagi, saat ini lanskap politik AS dan global berubah.

Selama empat tahun terakhir, Trump belajar cara meloloskan undang-undang, menghadapi pemimpin dunia, dan memaksimalkan kekuasaan jabatan. Langkah strategis ini akan menghindarkan dia dari kegagapan seperti di periode pertama.

Dulu, agenda-agenda Trump sering tersandung pengadilan atau pertikaian internal. Banyak anggota Kabinet yang dia pilih atas rekomendasi orang secara diam-diam atau terbuka berusaha menghentikan ide-idenya.

Ia sampai memiliki empat kepala staf Gedung Putih selama masa jabatan pertama. Orang-orang di Gedung Putih era Trump terkenal suka menjelek-jelekkan orang dan faksi-faksi suka bertengkar serta bersaing sengit.

”Kami akan melakukan pekerjaan yang lebih baik lagi karena sekarang kami memiliki banyak sekali pengalaman,” kata Trump kepada wartawan pada jumpa pers baru-baru ini di Florida.

Calon presiden Partai Republik yang juga mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berkampanye di Aero Center, Wilmington, North Carolina, Sabtu (21/9/2024) .Harris menerima undangan debat yang akan diadakan oleh media AS, CNN, pekan ke tiga Oktober 2024. Tapi, Donald Trump, capres Partai Republik, menolak. Former US President and Republican presidential candidate Donald Trump speaks during a campaign rally at the Aero Center in Wilmington, North Carolina, September 21, 2024. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Trump sadar pengalaman minim di masa lalu membuat ia mempekerjakan orang yang tidak sejalan. Beda dengan sekarang. Ia sudah mengisi berbagai jabatan strategis dengan orang pilihan sendiri, termasuk di Mahkamah Agung dan pengadilan federal semua tingkat.

”Saya tahu orang-orang hebat. Saya tahu orang-orang pintar. Saya tahu orang-orang bodoh, saya tahu orang-orang lemah, saya tahu orang-orang bodoh,” ucapnya.

Untuk Kepala Staf Gedung Putih, Trump menunjuk Susie Wiles. Ia anggota Partai Republik sekaligus konsultan politik andal. Sebagai manajer kampanye Trump, Wiles berhasil menuai pujian sebab membuat kampanye selama Pilpres 2024 berjalan disiplin, profesional, dan kompeten.

Walaupun ada bentrokan kepribadian, Wiles menegaskan tidak ada toleransi untuk orang yang ingin membajak agenda Gedung Putih saat Trump berkuasa. Dia tidak akan menyambut orang-orang yang ingin bekerja sendiri atau tampil menonjol sendiri.

”Tim saya dan saya tidak akan menoleransi aksi menjelek-jelekkan orang, menebak-nebak secara tidak tepat, atau drama. Ini kontraproduktif terhadap misi,” kata Wiles kepada Axios.

Selain itu, Trump dan tim telah menyiapkan rencana kerja jauh sebelum masa transisi pemerintahan resmi dimulai. Heritage Foundation dan America First Policy Institute, sebagai contoh, menyusun ratusan dokumen kebijakan, perintah eksekutif, dan undang-undang yang siap disahkan pada hari pertama.

Mantan Presiden AS Calon presiden dari Partai Republik Donald Trump tiba untuk berpidato selama rapat umum kampanye di Kinston, North Carolina, pada 3 November 2024. (Foto oleh Ryan M. Kelly / AFP) *** Local Caption *** Former US President Republican presidential candidate Donald Trump arrives to speak during a campaign rally in Kinston, North Carolina, on November 3, 2024. (Photo by Ryan M. Kelly / AFP)

Partai Republik

Rezim kedua Trump ini juga akan menghadapi lanskap politik yang berbeda. Partai Republik yang mengusung Trump telah menguasai Senat dan DPR. Dalam tubuh internal partai, terjadi pula sejumlah perubahan.

Ketua DPR AS periode 2015-2019 Paul Ryan pensiun dari pemilihan DPR pada 2018. Walau satu partai, Ryan menarik dukungan untuk Trump selama kampanye Pilpres 2016. Pada 2017, ia menyebut Trump sebagai ”orang narsis otoriter”.

Politisi senior Partai Republik, Mitch McConnell, telah menjadi anggota senat biasa. Dia merupakan pemimpin mayoritas Senat selama 2015-2021. McConnell pernah memanggil sang presiden ”bodoh”, ”pemarah”, dan ”manusia tercela”.

Sementara kritikus vokal, seperti Senator Mitt Romney dan Liz Cheney, telah pergi. Trump akan semakin bebas berkreasi.

Permainan agresif Trump dalam partai turut menciptakan generasi baru yang lebih suportif. Ketua DPR Mike Johnson dan pemimpin mayoritas Senat John Thune sadar kekuatan mereka sebagian besar bergantung pada dukungan orang nomor satu di AS itu nanti.

”Dia seorang diri mengubah partai. Semua orang tahu bahwa Donald Trump yang memegang kendali. Dia quarterback dan kami akan mengikuti jejaknya dan mendukungnya serta meloloskan agenda yang dipilih rakyat Amerika saat mereka memilihnya kali ini,” kata Senator Jim Banks yang menjabat sebagai anggota DPR pada 2017 saat Trump menjadi presiden.

Banks menyoroti reaksi yang muncul saat Trump berpidato di hadapan Senat dari Republik di Gedung Capitol, Washington DC, ketika menghadiri pemakaman mantan Presiden Jimmy Carter. Semua anggota, termasuk para kritikus terdahulu, berdiri dan menyatakan dukungan terhadap Trump, agenda, dan calon anggota kabinetnya.

Kanselir Jerman Angela Merkel berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam KTT Pemimpin G7 di La Malbaie, Quebec, Kanada (9/6/2018). AP/GERMAN FEDERAL GOVERMENT

Politik internasional

Pemimpin dunia yang rajin mengkritik Trump juga berkurang. Ada yang telah meninggalkan panggung politik, ada pula yang menjadi lebih bersedia bekerja sama.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengundurkan diri pada 2021. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau akan segera lengser dari kekuasaan. Perubahan kepemimpinan tengah bergejolak di Inggris, Perancis, dan Korea Selatan.

Beberapa pemimpin populis sayap kanan tengah menjabat, sebutlah Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Argentina Javier Milei, dan PM Hongaria Viktor Orban. Trump telah mengundang mereka untuk acara pelantikan.

”Mendukung keluarga, memerangi migrasi ilegal, dan membela kedaulatan negara kita. Ini adalah landasan bersama untuk kerja sama antara kekuatan konservatif Eropa dan AS,” kata Orban setelah bertemu Trump, tahun lalu.

Satu hal yang sama adalah Trump akan kembali berhadapan dengan pemimpin negara yang dinilai otoriter. Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un masih memegang tampuk kepemimpinan.

Setidaknya, Trump telah memulai interaksi resmi dengan mengundang Presiden Xi ke acara pelantikan. Kabarnya, Xi hanya akan mengirim utusan. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari