Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana cara mengoptimalkan teknologi keamanan yang terdapat di mobil?
- Bagaimana cara berkendara yang aman saat hujan?
- Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berkendara jarak jauh?
- Bagaimana cara mencegah ”microsleep” ketika berkendara?
1. Bagaimana cara mengoptimalkan teknologi keamanan yang terdapat di mobil?
Beberapa mobil keluaran terbaru memiliki fitur-fitur keselamatan cerdas yang bisa membantu pengemudi mengurangi risiko kecelakaan. Sistem bantuan ini biasa disebut Advanced Driver Assistance System (ADAS).
Sebut saja, Toyota Safety Sense (TSS) yang merupakan fitur keselamatan canggih yang dikembangkan oleh Toyota, dan memang hanya tersedia di mobil-mobil Toyota, bukan di merek mobil lain. Fitur TSS ini berisi beberapa sistem bantu berkendara, seperti Pre-Collision System (PCS), Lane Tracing Assist (LTA), Lane Departure Alert (LDA), Dynamic Radar Cruise Control (DRCC), Blind Spot Monitoring (BSM), dan Rear Cross Traffic Alert (RCTA).
Sebagai gambaran, fitur PCS bisa mendeteksi obyek di depan mobil. Artinya, jika ada mobil yang mengerem mendadak di depan mobil, sistem PCS akan langsung memberikan peringatan kepada pengemudi supaya mengambil tindakan untuk mengerem otomatis. Hal ini membantu pengemudi untuk mengurangi dampak tabrakan.
Contoh lain adalah fitur LTA. Fitur ini mampu menjaga mobil tetap di dalam lajur jalan. Apabila arah mobil melewati jalur atau marka jalan, sistem LTA akan memberi peringatan kepada pengemudi.
2. Bagaimana cara berkendara yang aman saat hujan?
Jalanan basah kerap menjadi faktor ban selip dan berujung pada kecelakaan. Oleh karena itu, kecepatan kendaraan ketika jalanan sedang basah dan kering harus dibedakan.
Ketika jalan kering, kecepatan kendaraan diperbolehkan mencapai 60 km per jam. Namun, saat jalan basah, kecepatan kendaraan harus dikurangi 20 km per jam sehingga menjadi 40 km per jam.
Kemudian, saat peralihan dari kondisi jalan kering ke basah atau basah ke kering harus ada penyesuaian yang tidak hanya antara pengemudi terhadap cuaca dan kondisi lingkungan, tetapi juga terhadap power mesin dan kemampuan ban.
”Sebab, ban yang diciptakan di Indonesia bukan ban intermediate, melainkan ban kering. Jadi, ketika cuaca kering, kecepatan kita sesuaikan. Jangan main asal tarik kecepatan karena membahayakan sekali,” kata praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana.
3. Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berkendara jarak jauh?
Pemudik yang akan melintasi jalan tol menggunakan mobil pribadi perlu mempersiapkan kendaraan dan fisik pengemudi dengan baik. Terlebih, pemudik harus menempuh ratusan kilometer selama belasan jam. Persiapan yang matang dibutuhkan agar pemudik selamat sampai di kampung halaman.
Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu, mengatakan, perjalanan panjang di jalan tol membutuhkan kondisi kendaraan dan fisik pengemudi yang prima.
Sebelum memulai perjalanan, hendaknya dua hal tersebut sudah dipersiapkan dengan matang. Sebelum membawa kendaraan melibas jalan tol, pastikan mobil dalam kondisi laik jalan. Pemudik sangat disarankan untuk membawa mobil ke bengkel resmi untuk general check up untuk pemeriksaan yang lebih detail.
”Pastikan oli mesin dalam keadaan baik. Periksa juga tekanan dan kondisi ban, termasuk ban cadangan. Lalu, pastikan rem, lampu, klakson, dan wiper berfungsi dengan baik,” kata Jusri.
4. Bagaimana cara mencegah ”microsleep” ketika berkendara?
Microsleep sering terjadi pada saat seseorang menjalani aktivitas yang monoton, seperti berkendara atau bekerja di depan layar komputer dalam waktu lama. Pada saat microsleep, otak seolah memasuki fase tidur singkat meskipun tubuh masih dalam keadaan terjaga. Hal ini dapat terjadi bahkan dengan mata terbuka dan pandangan kosong.
Tanda-tanda seseorang mengalami microsleep, antara lain, kepala tiba-tiba terangguk, mata berkedip berlebihan, serta kesulitan memproses informasi atau kebingungan ketika diajak berbicara. Dalam kasus tertentu, seseorang yang mengalami microsleep bisa saja mengemudi atau mengoperasikan mesin tanpa disadari keluar dari jalur yang benar.
Penyebab utama dari microsleep adalah kelelahan atau kurang tidur. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia, kondisi medis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kegemukan, depresi, penggunaan obat-obatan tertentu, efek samping dari penyalahgunaan alkohol atau narkoba juga dapat meningkatkan risiko terjadinya microsleep.
Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono Jakarta, Asnelia Devicaesaria, menganjurkan pengemudi kendaraan pemudik untuk mencegah microsleep dengan sejumlah cara. Antara lain, istirahatlah sejenak minimal 15-30 menit setelah mengemudi selama empat jam atau jika memungkinkan bergantian mengemudi dengan orang lain.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana cara mengoptimalkan teknologi keamanan yang terdapat di mobil?
- Bagaimana cara berkendara yang aman saat hujan?
- Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berkendara jarak jauh?
- Bagaimana cara mencegah ”microsleep” ketika berkendara?
1. Bagaimana cara mengoptimalkan teknologi keamanan yang terdapat di mobil?
Beberapa mobil keluaran terbaru memiliki fitur-fitur keselamatan cerdas yang bisa membantu pengemudi mengurangi risiko kecelakaan. Sistem bantuan ini biasa disebut Advanced Driver Assistance System (ADAS).
Sebut saja, Toyota Safety Sense (TSS) yang merupakan fitur keselamatan canggih yang dikembangkan oleh Toyota, dan memang hanya tersedia di mobil-mobil Toyota, bukan di merek mobil lain. Fitur TSS ini berisi beberapa sistem bantu berkendara, seperti Pre-Collision System (PCS), Lane Tracing Assist (LTA), Lane Departure Alert (LDA), Dynamic Radar Cruise Control (DRCC), Blind Spot Monitoring (BSM), dan Rear Cross Traffic Alert (RCTA).
Sebagai gambaran, fitur PCS bisa mendeteksi obyek di depan mobil. Artinya, jika ada mobil yang mengerem mendadak di depan mobil, sistem PCS akan langsung memberikan peringatan kepada pengemudi supaya mengambil tindakan untuk mengerem otomatis. Hal ini membantu pengemudi untuk mengurangi dampak tabrakan.
Contoh lain adalah fitur LTA. Fitur ini mampu menjaga mobil tetap di dalam lajur jalan. Apabila arah mobil melewati jalur atau marka jalan, sistem LTA akan memberi peringatan kepada pengemudi.
2. Bagaimana cara berkendara yang aman saat hujan?
Jalanan basah kerap menjadi faktor ban selip dan berujung pada kecelakaan. Oleh karena itu, kecepatan kendaraan ketika jalanan sedang basah dan kering harus dibedakan.
Ketika jalan kering, kecepatan kendaraan diperbolehkan mencapai 60 km per jam. Namun, saat jalan basah, kecepatan kendaraan harus dikurangi 20 km per jam sehingga menjadi 40 km per jam.
Kemudian, saat peralihan dari kondisi jalan kering ke basah atau basah ke kering harus ada penyesuaian yang tidak hanya antara pengemudi terhadap cuaca dan kondisi lingkungan, tetapi juga terhadap power mesin dan kemampuan ban.
”Sebab, ban yang diciptakan di Indonesia bukan ban intermediate, melainkan ban kering. Jadi, ketika cuaca kering, kecepatan kita sesuaikan. Jangan main asal tarik kecepatan karena membahayakan sekali,” kata praktisi keselamatan berkendara Sony Susmana.
3. Apa saja yang perlu diperhatikan sebelum berkendara jarak jauh?
Pemudik yang akan melintasi jalan tol menggunakan mobil pribadi perlu mempersiapkan kendaraan dan fisik pengemudi dengan baik. Terlebih, pemudik harus menempuh ratusan kilometer selama belasan jam. Persiapan yang matang dibutuhkan agar pemudik selamat sampai di kampung halaman.
Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu, mengatakan, perjalanan panjang di jalan tol membutuhkan kondisi kendaraan dan fisik pengemudi yang prima.
Sebelum memulai perjalanan, hendaknya dua hal tersebut sudah dipersiapkan dengan matang. Sebelum membawa kendaraan melibas jalan tol, pastikan mobil dalam kondisi laik jalan. Pemudik sangat disarankan untuk membawa mobil ke bengkel resmi untuk general check up untuk pemeriksaan yang lebih detail.
”Pastikan oli mesin dalam keadaan baik. Periksa juga tekanan dan kondisi ban, termasuk ban cadangan. Lalu, pastikan rem, lampu, klakson, dan wiper berfungsi dengan baik,” kata Jusri.
4. Bagaimana cara mencegah ”microsleep” ketika berkendara?
Microsleep sering terjadi pada saat seseorang menjalani aktivitas yang monoton, seperti berkendara atau bekerja di depan layar komputer dalam waktu lama. Pada saat microsleep, otak seolah memasuki fase tidur singkat meskipun tubuh masih dalam keadaan terjaga. Hal ini dapat terjadi bahkan dengan mata terbuka dan pandangan kosong.
Tanda-tanda seseorang mengalami microsleep, antara lain, kepala tiba-tiba terangguk, mata berkedip berlebihan, serta kesulitan memproses informasi atau kebingungan ketika diajak berbicara. Dalam kasus tertentu, seseorang yang mengalami microsleep bisa saja mengemudi atau mengoperasikan mesin tanpa disadari keluar dari jalur yang benar.
Penyebab utama dari microsleep adalah kelelahan atau kurang tidur. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea dan insomnia, kondisi medis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kegemukan, depresi, penggunaan obat-obatan tertentu, efek samping dari penyalahgunaan alkohol atau narkoba juga dapat meningkatkan risiko terjadinya microsleep.
Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono Jakarta, Asnelia Devicaesaria, menganjurkan pengemudi kendaraan pemudik untuk mencegah microsleep dengan sejumlah cara. Antara lain, istirahatlah sejenak minimal 15-30 menit setelah mengemudi selama empat jam atau jika memungkinkan bergantian mengemudi dengan orang lain.