Dunia sempat waswas saat gencatan senjata AS-Iran akan berakhir. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan. Namun, potensi perang lanjutan belum usai.
23 Apr 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP/various sources/US NAVY/NAVCENT PUBL
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana kronologi gencatan senjata AS-Iran?
2. Apa yang membuat Presiden Donald Trump memutuskan memperpanjang gencatan senjata?
3. Bagaimana respons Iran terhadap perpanjangan gencatan senjata?
4. Mengapa perundingan lanjutan AS-Iran masih belum pasti?
5. Apa yang akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan selama masa gencatan senjata?
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 memicu perang di Iran. Kedua pihak saling melancarkan serangan dengan menargetkan berbagai obyek vital. Setelah perang berkecamuk lebih dari lima pekan, AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, Rabu (8/4/2026) WIB.
Pakistan memainkan peran penting dalam gencatan senjata ini. Gencatan senjata sangat diperlukan untuk memungkinkan diplomasi mencapai akhir perang yang tuntas demi kepentingan perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Melalui perantara Pakistan, AS dan Iran juga setuju berunding di Islamabad, Jumat (10/4/2026). Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasi ”Negeri Paman Sam”. Sementara Iran diwakili sejumlah pejabat penting, termasuk Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/12/30b6eafb-ef4f-47b5-a69d-cbb5ae770785_jpg.jpg)
Akan tetapi, negosiasi itu gagal mencapai kesepakatan. Iran menganggap kebuntuan disebabkan tuntutan-tuntutan AS yang tidak masuk akal untuk menggagalkan kesepakatan mengakhiri perang. Sementara Vance menyebutkan, Iran telah memilih untuk tidak menerima persyaratan yang diminta AS, termasuk agar Iran tidak membangun senjata nuklir.
Lima hari jelang berakhirnya gencatan senjata, Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz sepenuhnya untuk kapal komersial. Keputusan ini diambil setelah tercapainya gencatan senjata di Lebanon. Namun, tidak berselang lama, Iran kembali menutup selat itu karena AS tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran meskipun gencatan senjata sedang berlangsung.
Gencatan senjata AS-Iran semestinya berakhir Rabu (22/4/2026). Namun, beberapa jam sebelum tenggat tersebut, Presiden AS Donald Trump memutuskan memperpanjang masa gencatan senjata itu. Keputusan ini disampaikan lewat media sosial Truth Social.
Trump setuju memperpanjang gencatan senjata atas permintaan Pakistan yang menjadi tuan rumah perundingan putaran pertama. Negosiasi lanjutan AS-Iran juga menurut rencana akan digelar di negara itu.
Trump tidak menyebutkan batas waktu perpanjangan gencatan senjata tersebut. Ia hanya mengatakan, pihaknya menunda serangan ke Iran sampai pemimpin dan perwakilan Iran dapat mengajukan proposal yang terpadu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/7d53482e1ac1bf4844c15d915d0b7d1d-Trump.jpeg)
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan, pihaknya masih berupaya agar konflik AS-Iran dapat diselesaikan melalui negosiasi. Ia berharap kedua belah pihak mematuhi gencatan senjata dan mencapai kesepakatan perdamaian yang komprehensif selama perundingan putaran kedua.
Gencatan senjata dapat menjadi pintu masuk untuk mengakhiri perang di Iran. Perang ini telah menimbulkan banyak kerugian, tidak hanya bagi Iran, tetapi juga negara di Timur Tengah, bahkan dunia. Lebih dari 3.300 korban tewas di Iran. Distribusi energi global tersendat akibat blokade di Selat Hormuz. Harga minyak dunia melambung. Banyak negara menghemat penggunaan energi karena stok minyak yang semakin menipis.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, Iran tidak meminta perpanjangan waktu gencatan senjata. Iran mempersoalkan blokade yang dilakukan oleh Angkatan Laut AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Militer AS menembak kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, Minggu (19/4/2026). Marinir AS turun dari helikopter menggunakan tali ke kapal tersebut. Iran menggambarkan tindakan ini sebagai pembajakan bersenjata.
Iran membalas serangan itu dengan menembak kapal kontainer yang melewati Selat Hormuz, Rabu (22/4/2026). Tidak ada korban luka dalam serangan tersebut. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan, pihaknya akan menyerang setiap kapal yang melintasi selat itu tanpa izin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
IRGC tetap mewaspadai serangan musuh meskipun dalam periode gencatan senjata. Di sisi lain, AS juga masih menyiagakan kekuatan militernya di sekitar Iran. Eskalasi konflik pun dapat meningkat sewaktu-waktu mengingat tenggat perpanjangan gencatan senjata tidak disebutkan secara jelas.
Salah satu ganjalan terbesar negosiasi putaran kedua antara AS dan Iran adalah langkah AS untuk tetap memblokade kapal dan pelabuhan Iran. Hal ini memicu Iran tidak mengirimkan delegasinya dalam negosiasi lanjutan meskipun AS menyatakan telah siap mengirimkan perwakilannya ke Islamabad.
Tuntutan AS juga dinilai berlebihan, terutama terkait program nuklir Teheran, sehingga mengganjal negosiasi tersebut. Di tengah ketidakpastian itu, Pakistan tetap mempersiapkan diri untuk menggelar negosiasi putaran kedua. Namun, otoritas Pakistan belum mengumumkan kapan perundingan lanjutan tersebut akan digelar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/b67db746-8b1e-4c05-941f-f714b36504a1.jpg)
PM Shehbaz Sharif terus berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk mengupayakan negosiasi itu. Ia mengaku telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
”Dengan dukungan dari teman dan mitra, Pakistan tetap sepenuhnya berkomitmen pada perannya sebagai fasilitator yang jujur dan tulus dalam mewujudkan perdamaian abadi dan stabilitas regional,” kata Sharif.
Periode gencatan senjata akan sangat menentukan masa depan perang di Iran. Trump tidak menyurutkan ancamannya untuk menyerang Iran secara besar-besaran jika negosiasi tidak membuahkan kesepakatan. Target serangannya bukan lagi aset militer semata, melainkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Teheran.
Di sisi lain, Iran tidak gentar dengan ancaman itu. Mohammad Bagher Ghalibaf menganggap tindakan Trump yang tetap ngotot memblokade kapal dan pelabuhan Iran sama saja dengan melanjutkan permusuhan yang memperpanjang konflik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/04/21/6c451969-111b-4f98-9b5f-59b27d889f5b_jpg.jpg)
”Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang,” ucapnya.
Saat ini, dunia menunggu kejelasan perundingan lanjutan AS-Iran. Jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan, itu berarti gencatan senjata hanya jadi jeda sementara untuk mempersiapkan perang lanjutan. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar, tidak hanya bertambahnya korban jiwa, tetapi juga memperburuk krisis energi di berbagai belahan dunia.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul