Dukungan dana kampanye besar tak menjamin kemenangan Kamala Harris dalam pilpres. Apa yang salah?
07 Nov 2024 10:56 WIB · Internasional
Oleh Mahdi Muhammad - [email protected]
Kamala Harris akhirnya mengakui kekalahannya sekaligus menerima kemenangan Donald Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat 2024. Meskipun demikian, dia tetap menegaskan perjuangannya untuk demokrasi dan sejumlah program yang ditawarkannya saat kampanye. Harris, pendek kata, tidak akan berhenti.
”Meskipun saya mengakui kekalahan dalam pemilihan ini, saya tidak mengakui perjuangan yang memicu kampanye ini kalah,” kata Harris dalam pidatonya yang singkat dan kuat di Universitas Howard, Washington, kampus almamaternya, Rabu (6/11/2024) malam waktu setempat.
Suaranya serak saat menyampaikan pernyataan publik pertamanya setelah hasil pemungutan suara terlihat berpihak kepada Trump dan Partai Republik. ”Saya tahu banyak orang merasa kita sedang memasuki masa yang gelap,” katanya. ”Namun, demi kebaikan kita semua, saya harap itu tidak terjadi.”
Namun, apa yang sebenarnya terjadi dalam pemilihan sehingga Harris, yang memiliki dukungan sangat besar dalam hal pendanaan, kalah dari Trump?
Dua hal yang menjadi catatan sejumlah analis soal kekalahan Harris. Dua hal itu adalah tekanan ekonomi dan permasalahan imigrasi.
Ahli strategi Partai Demokrat pernah menjelaskan kemenangan Bill Clinton atas pesaingnya, George Bush, di tahun 1992, adalah dengan dua kata yang bisa membuat kuping pendengarnya memerah: ”Ekonomi, bodoh!”. Sederhananya, urusan perut bisa menjadi bumerang bagi setiap petahana. Dan, tiga dekade kemudian, pernyataan itu terbukti.
Apabila mengikuti pola yang terjadi hampir di seluruh dunia, kekalahan Demokrat membuktikan bahwa kemunduran partai yang mengayomi petahana adalah tekanan ekonomi, khususnya inflasi pascapandemi. Meski data perekonomian AS terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan terakhir, survei memperlihatkan sentimen negatif terhadap cara pemerintahan Joe Biden-Harris menangani situasi ini.
Kondisi itu lantas menjadi sasaran empuk kampanye Trump, terutama karena harga bahan makanan dan energi yang membubung tinggi.
”Orang-orang masih melihat inflasi sebagai masalah karena mereka tidak berpikir tentang perbandingan tahun ke tahun seperti yang dilakukan para ekonom, tetapi dalam hal tingkat harga,” kata Bernard Yaros dari Oxford Economics.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/07/94d558e9d9fca77cb194421052f4e4d3-000_36LQ9DU.jpg)
”Orang-orang mungkin kesal karena kebutuhan pokok menghabiskan porsi yang jauh lebih besar dari anggaran rumah tangga mereka,” tambahnya.
Selain urusan perut, masalah imigrasi menjadi senjata mematikan Trump di setiap kampanye. Trump selalu mengumandangkan bahwa para kelompok migran akan menjadi salah satu sumber ”pemiskinan” bagi warga kulit putih AS.
Jumlah imigran ilegal yang menyeberang ke AS anjlok dalam beberapa bulan terakhir setelah Biden bersikap tegas dengan mengeluarkan perintah eksekutif. Namun, tetap saja, bagi Trump dan tim kampanyenya, dengan angka yang besar, hal itu dipandang sebagai sebuah invasi. Menyebarkan ketakutan di kalangan kulit putih ini mengena.
Kemunculan rancangan undang-undang yang mengatur lebih lanjut soal berbagai permasalahan di perbatasan tak cukup kuat. Partai Republik berpendapat, kehadiran rancangan legislasi ini terlambat.
Seperti pada kekalahan Demokrat tahun 2016, imigrasi ”jelas merupakan faktor” dalam kemenangan Trump pada tahun 2024, kata Carl Tobias, profesor Fakultas Hukum Universitas Richmond, Virgina.
Satu hal lain yang turut membuat Trump unggul atas Harris adalah pergeseran pemilih. Meski tidak memenangi dukungan mayoritas dari kelompok non-kulit putih mana pun, dukungan terhadap Trump meningkat di kalangan warga Afrika-Amerika dan Hispanik. Di kalangan warga Afrika-Amerika, dukungan terhadap Trump meningkat satu digit. Sementara di kalangan Hispanik melonjak hingga dua digit.
Ini berlawanan dengan jajak pendapat awal yang memperkirakan Harris akan mendapat dukungan sekitar 40 persen pemilih kulit putih, lebih dari 80 persen pemilih kulit hitam, dan sekitar setengah warga Hispanik dan Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/07/7e269e5644001d67395368cab41e9955-063_2182613491.jpg)
Roberto Suro, analis Universitas of Southern California, Annenberg, mengatakan, hasil pengamatan memperlihatkan dukungan kepada Trump banyak berasal dari pria Meksiko-Amerika, kelompok evangelis yang bukan lulusan perguruan tinggi dan merupakan kelas pekerja. ”Gerakan ini mantap ke arah Trump,” katanya.
Tren itu menguat di sepanjang perbatasan dan di tempat-tempat yang secara langsung terdampak oleh masuknya para imigran. Pemikiran bahwa kelompok ini lebih terbuka terhadap masuknya para imigran tidak menjadi kenyataan.
Pergeseran pemilih juga diyakini karena dukungan kelompok perempuan membawa kemenangan bagi Trump meski hak aborsi menjadi salah satu isu utama kampanye Harris.
Hal lainnya yang menjadi salah satu persoalan bagi Demokrat dan calonnya adalah perubahan di detik-detik terakhir. Diakui atau tidak, usia Joe Biden menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap pilihan para pemilih. Penampilannya saat debat pertama telah menjatuhkan mental para pendukungnya meski dibantah oleh Demokrat dan lingkaran terdekatnya. Puncaknya adalah ketika Biden memutuskan mundur dari pencalonan.
Harris yang kemudian menggantikan Biden tidak memiliki cukup waktu untuk bersiap menghadapi Trump dan pasukannya yang telah bersiap jauh sebelumnya. Meski banyak gugatan hukum, hal itu tidak mengurangi antusiasme para pemilik suara. Tiga bulan rasanya tidak cukup bagi Harris untuk menggelar kampanye yang bisa membedakan dirinya dengan sosok Biden.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/06/f07ebbb6-5c7b-4bb4-a6ee-4e7630c98957_jpg.jpg)
Larry Sabato, pengamat politik Universitas Virginia, mengatakan, bencana yang menimpa Demokrat layak ditimpakan kepada Biden. ”Ia seharusnya tidak pernah mencoba mencalonkan diri kembali di usia 80-an, yang akhirnya membuat Harris harus mengelola kampanye pengganti yang singkat yang terbukti tidak memadai,” kata Sabato.
Titik baliknya adalah ketika acara bincang-bincang ”The View” di stasiun televisi ABC, 8 Oktober, saat pembawa acara bertanya apa yang akan dilakukannya untuk membedakan dirinya dan Biden. Tak ada jawaban spontan keluar dari bibir Harris. Setelah itu, dia berkata, ”Tidak ada hal yang terlintas dalam pikirannya.”
David Axelrod, mantan penasihat Barrack Obama, menyebut hal itu sebagai bencana.
Trump dan tim kampanyenya tidak melewatkan kesempatan itu untuk melemparkan kombinasi pukulan ”jab dan hook” kepada Harris dan tim kampanyenya. Potongan rekaman itu menjadi bahan kampanye dalam berbagai kampanyenya dan juga iklan di televisi. (AFP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi undefined