Korea Utara belum pernah sama sekali mengirim pasukan untuk berperang di luar negeri. Apakah mereka akan menjadi senjata pemukul atau justru menjadi umpan peluru?
11 Nov 2024 18:15 WIB · Internasional
Oleh Iwan Santosa - [email protected]
Banyak pertanyaan muncul tentang apa yang akan dilakukan oleh ribuan tentara Korea Utara di palagan Ukraina. Para pakar bertanya-tanya tentang isu taktis dan militer. Apa sebenarnya maksud pengerahan mereka dalam membantu pasukan Rusia?
Kantor berita AFP, Senin (11/11/2024), melaporkan, Korea Utara belum pernah sama sekali mengirim pasukan untuk berperang di luar negeri. Mereka dinilai hanya akan menjadi umpan peluru. Ada pula yang menilai pasukan Korut mungkin malah akan membelot atau membandingkan kekuatan tempur sendiri dengan tentara asing.
”Para tentara itu dikhawatirkan akan mengambil ’ide yang salah’,” kata Fyodor Tertiskiy, peneliti pada Universitas Koomnin di Seoul, Korea Selatan.
Pada saat yang sama, Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani pakta pertahanan dengan Korut di tengah laporan pengerahan pasukan Korut ke Rusia untuk membantu melawan Ukraina. Pakta itu disepakati saat Putin berkunjung ke Korut pada Juni, tetapi masih harus disahkan oleh parlemen Rusia dan ditandatangani Putin agar bisa berlaku.
Kremlin memublikasikan pakta yang telah ditandatangani dan diratifikasi pada laman resminya, Sabtu malam waktu setempat. Kesepakatan itu mewajibkan kedua negara menyediakan bantuan militer ”tanpa penundaan” jika salah satu dari mereka diserang.
Selain itu, mereka berkomitmen bekerja sama menentang sanksi-sanksi Barat serta mengoordinasikan posisi di PBB. Pada Juni, Putin menyebutnya sebagai ”dokumen terobosan”.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, mengutip intelijen, telah menyebutkan pengerahan pasukan Korut di wilayah Kursk, Rusia, yang diserang Ukraina pada Agustus. Menurut Blinken, mereka dilengkapi dengan seragam Rusia dan dilatih soal artileri, pesawat nirawak (drone), operasi infanteri, termasuk perebutan parit pertahanan. Menurut Blinken, ini menunjukkan Moskwa bermaksud menggunakan pasukan Korut dalam operasi di garis depan.
Pertanyaan berikutnya, apakah mereka akan menjadi senjata pemukul atau justru menjadi umpan peluru saja? Analis Korsel menduga para prajurit Korut hanya akan dijadikan umpan peluru (cannon fodder).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/19/128cd0c1-09fa-413a-90a9-0bed5810a75f_jpg.jpg)
”Korban prajurit dalam pertempuran adalah hal yang tidak bisa dihindari. Tidak ada artinya mengirim prajurit tanpa pengalaman tempur ke garis depan demi mendapatkan pengalaman berperang,” kata Yang Moo-jin, Rektor Universitas Kajian Korut di Seoul.
”Korea Utara harus menunjukkan kemahiran tempur dan operasional prajurit mereka dalam gelar pasukan di Rusia,” kata Lim Eul-chul dari Universitas Kyungnam di Korsel.
Saat ini belum diketahui pasti berapa banyak serdadu Korut yang berada di Rusia. Sumber di Barat memperkirakan 10.000 orang dan sumber Ukraina memperkirakan 11.000 orang. Jumlah itu setara dengan kerugian personel yang diderita Rusia dalam rata-rata 10 hari pertempuran.
Jumlah penduduk Rusia 143, 8 juta jiwa (tahun 2023) dan penduduk Ukraina 37 juta jiwa (2023) dengan sebagian penduduk Ukraina mengungsi ke Polandia dan negara-negara Barat. ”Jika Rusia memiliki masalah ketersediaan prajurit, tentu mereka membutuhkan lebih dari sekadar prajurit Korut untuk mengisi kekurangan personel,” kata Jenderal (Purn) Mick Ryan, mantan militer Australia.
Para pengamat lain menilai pasukan Korut di Rusia tidak bisa diabaikan walau mereka sejauh ini ditempatkan di dalam wilayah Rusia di Kursk. ”Daya tahan dan jiwa juang prajurit Korea Utara sangat kuat sehingga tidak bisa diabaikan kehadiran mereka di sisi Rusia. Mereka terbiasa hidup dalam kondisi alam yang keras dan situasi kekurangan pasokan kebutuhan dasar,” kata Lim.
Pertanyaan selanjutnya, dalam operasional pertempuran, apakah Rusia dan Korut akan menggunakan penerjemah agar dapat berkoordinasi dengan baik. ”Walau ada penerjemah yang dapat membantu dua pihak, kesenjangan komunikasi ini akan menjadi kendala dalam operasi militer,” kata Ryan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/18/69fba639-a4b1-481b-bbe4-19a7613c0aea_jpg.jpg)
Hal lain yang menjadi masalah apakah Korut akan tetap menggunakan struktur organisasi militer mereka dengan jabatan dan pangkat sama, bergerak secara otonom, atau akan dileburkan dalam unit-unit militer Rusia. Keberadaan para perwira dapat menjadi jembatan komunikasi dan koordinasi antara Rusia dan Korut di medan tempur.
”Intelijen Ukraina mengungkapkan, pasukan Korut tiba di Rusia dengan 500 perwira dan tiga jenderal. Ini bisa memfasilitasi komunikasi jika para jenderal Rusia dan Korut bisa bekerja bersama, tetapi banyak hal yang tidak diketahui pada tahap ini untuk bisa disimpulkan,” kata Ivan Klyszcz, peneliti rekanan di International Centre for Defense and Security di Estonia.
Adapun kehadiran Pasukan Elite Korut di Ukraina menjadi pertanyaan karena mereka diketahui memiliki keahlian melindungi rezim dan operasi antikudeta di dalam negeri. ”Mereka memiliki rantai komando yang rumit dan setiap keputusan militer harus disetujui perwira politik yang ada di tiap unit militer Korut,” kata Tertitskiy.
Dia menambahkan, apakah sistem birokrasi rumit dalam militer Korea Utara akan dibuat lebih sederhana untuk menjawab kebutuhan perang di Ukraina. Namun, keputusan apa pun yang diambil tetap harus mendapatkan persetujuan Pemimpin Korut Kim Jong Un.
Terlebih, pengalaman perang terakhir yang dialami Korut adalah Perang Korea yang berakhir tahun 1953. Mereka menghadapi prajurit Ukraina yang sudah berpengalaman tempur selama dua setengah tahun terakhir melawan Rusia.
Klyszcz mengomentari, walau sudah mulai meninggalkan gaya Uni Soviet, Korut yang militernya mengandalkan jumlah manusia dan bukan penggunaan teknologi mutakhir akan sulit menyesuaikan diri dalam situasi perang abad ke-21.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/29/0a12c2fd-9e6b-493d-8b1b-b25479b9983d_jpg.jpg)
Penempatan dan operasional prajurit Korut di Rusia akan diamati semua pihak, baik Rusia, Ukraina, maupun sekutunya di Barat. ”Berbagai pengetahuan tentang perang modern, integrasi penggunaan pesawat nirawak dan rudal balistik akan menjadi pelajaran berharga bagi militer Korut,” kata Ryan.
Dia menggarisbawahi pentingnya bagi Korut menguasai perang elektronika, kontra pertahanan udara, dan mempelajari persenjataan Barat yang dirampas Rusia dari medan pertempuran.
Di sisi lain, kehadiran prajurit Korut juga menguntungkan bagi Barat. Tertitskiy mengatakan, Korsel terus mengamati keberadaan para prajurit Korut di Rusia untuk mempelajari sejauh mana kemampuan operasional tempur lawan ideologis mereka di Semenanjung Korea.
Hal itu sangat penting bagi Korsel karena selepas pandemi Covid-19, penutupan perbatasan kedua negara mengurangi jumlah pengungsi dari Korut ke selatan. Merekalah yang selama ini dijadikan sumber informasi intelijen soal kondisi Korut. (AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari