Ketika serangan bom diluncurkan Israel ke Iran, Jumat, 13 Juni 2025, Pemerintah Amerika Serikat segera menegaskan sikap berjarak dan menyatakan tidak terlibat. Namun, sejalan dengan memanasnya pertempuran dengan serangan balasan Iran ke Israel, sikap AS berubah.
Dalam hitungan hari, perkembangan situasi menunjukkan tidak tertutup kemungkinan AS akan ikut menyerang Iran. Indikasi kesiapan AS untuk terjun dalam perang itu juga tak disembunyikan.
Apa yang dapat dipelajari dari artikel ini:
- Bagaimana respons AS ketika Israel mulai menyerang Iran?
- Apakah ada upaya AS mencegah perang Israel-Iran meluas?
- Apakah indikasi AS akan lebih jauh terlibat dalam perang ini?
- Persenjataan apa saja yang disiapkan AS untuk ikut memerangi Iran?
- Bagaimana perkembangan terakhir perang Israel-Iran?
Bagaimana respons AS ketika Israel mulai menyerang Iran?
Tak lama setelah rudal Israel meledak di Teheran, Iran, pada Jumat (13/6/2025) dini hari, Amerika Serikat bergegas menegaskan tidak terlibat dalam serangan Israel ke Iran. Kendati demikian, Israel menyatakan berkoordinasi dengan AS untuk melancarkan serangan yang diberi sandi ”Operasi Singa Bangkit” itu.
”Malam ini, Israel melakukan langkah sepihak kepada Iran. Kami tidak terlibat dalam serangan ke Iran dan prioritas kami melindungi pasukan AS di kawasan,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Jumat.
Rubio menambahkan, Israel memberitahukan rencana penyerangan itu dan AS memercayai langkah itu diambil Israel sebagai bentuk pertahanan diri.
”Presiden Trump dan jajaran telah melakukan semua yang diperlukan untuk melindungi pasukan kita di kawasan serta terus berkomunikasi dengan mitra kawasan. Saya tegaskan, Iran jangan menyerang kepentingan atau warga AS,” lanjutnya.
Media israel, The Jerusalem Post, menyebut Israel berkoordinasi erat dengan AS untuk menyiapkan serangan itu. Disebutkan pula bahwa Tzahal, militer Israel, mendapat dukungan logistik dari AS.
Apakah ada upaya AS mencegah perang Israel-Iran meluas?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengindikasikan bahwa ia berusaha mengendalikan arah perang Israel-Iran. Salah satunya, dengan menolak rencana Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Dilaporkan Reuters pada Senin (16/5/2025), Israel mengklaim punya kesempatan membunuh Khamenei sejak awal serangan. Walakin, Trump menolak serangan itu.
”Kami menyampaikan kepada Israel bahwa Presiden Trump menolak itu. Iran belum menewaskan satu pun warga AS dan pembahasan pemimpin politik tidak boleh ada,” kata seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap.
Pejabat itu menyebut, penolakan Trump bagian dari upaya mencegah perang Israel-Iran membesar. Trump masih berharap solusi diplomatik dimungkinkan untuk persoalan Iran.
Wakil Presiden Quincy Institute for Responsible Statecraft (QIPR) Trita Parsi mengatakan, penolakan Trump masuk akal. Khamenei menjadi pencegah terkuat Iran membuat bom nuklir.
”Dia (Khamenei) pernah berfatwa melarang (pembuatan) senjata nuklir. Kalau Khamenei meninggal, berarti fatwanya batal,” katanya.
Dengan menolak pembunuhan terhadap Khameni, Trump dianggap mencoba semua alternatif mencegah Iran membuat bom nuklir.
Apakah indikasi AS akan lebih jauh terlibat dalam perang ini?
Pada Senin (16/6/2025), Presiden AS Donald Trump mengultimatum warga Teheran untuk segera mengosongkan ibu kota Iran tersebut. ”Segera tinggalkan Teheran,” kata Trump.
Pada saat bersamaan, Trump juga memerintahkan penambahan kekuatan AS ke Timur Tengah. Laman pelacak pergerakan pesawat menunjukkan 31 pesawat tanker udara AS menuju Timur Tengah pada Senin. Mayoritas pesawat itu adalah KC-135 dan KC-46.
Tanker-tanker itu bisa mengisi bahan bakar untuk hingga 240 jet tempur. Tanker memungkinkan jet tempur beroperasi berkali lipat jarak tempuh maksimumnya.
Selain tanker udara, AS juga mengerahkan Gugus Tempur Laut (Guspurla) yang berpokok pada kapal induk USS Nimitz untuk bergerak dari Laut China Selatan ke Timur Tengah.
Ada satu kapal perusak kelas Arleigh Burke dan satu kapal penjelajah kelas Ticonderoga dalam Guspurla Nimitz. Guspurla ini juga mengangkut total sembilan skuadron jet tempur, helikopter, dan pesawat lain.
Penambahan kekuatan ini menunjukkan dukungan AS kepada Israel. Sebelumnya, AS telah mengirimkan 300 rudal hellfire ke Israel. Sebagian rudal dipakai Israel menyerang Iran.
Persenjataan apa saja yang disiapkan AS untuk ikut memerangi Iran?
AS menempatkan banyak persenjataan di Timur Tengah. Guspurla Nimitz yang digeser dari Laut China Selatan ke Timur Tengah akan bergabung dengan guspurla Carl Vinson. Seperti Nimitz, Carl Vinson juga didampingi kapal perusak kelas Arleigh Burke dan kapal penjelajah kelas Ticonderoga.
Kedua guspurla itu bisa mengangkut total 160 pesawat dan helikopter beragam jenis. Guspurla juga diikuti satu kapal selam dan satu kapal logistik. Total awaknya mencapai 7.500 orang. Mereka termasuk pilot, marinir, dan pelaut aneka perang. Guspurla adalah pangkalan tempur terapung.
AS juga punya kapal perang lain di sekitar Iran. Di pangkalan Bahrain terpantau lima kapal perang dan satu kapal pendukung tempur. Di Laut Arab hingga Samudra Hindia terpantau satu kapal induk dan 10 kapal perang lain. Terpantau pula setidaknya satu kapal selam, USS Georgia.
Selain di Laut Arab, AS juga mengerahkan sejumlah kapal perang di pesisir barat Israel. Kapal-kapal itu siaga membantu Israel menangkis aneka serangan rudal dan pesawat nirawak. AS juga mengoperasikan sejumlah pesawat nirawak, baik untuk intai maupun serbu.
AS menempatkan pula aset udara di Samudra Hindia. Sebelum Israel menyerang Iran, AS mengerahkan puluhan pesawat pengebom ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia.
Pesawat pengebom B-2 dan B-52 di pangkalan itu antara lain bisa menjatuhkan GBU-57. Bom itu bisa menembus bunker hingga 60 meter di bawah tanah. Senjata itu sangat diharapkan Israel untuk dipakai menyerang Iran.
Bagaimana perkembangan terakhir perang Israel-Iran?
Situasi bertambah panas setelah Trump mengultimatum Iran agar segera menyerah tanpa syarat. Dikatakan Trump, AS memiliki kendali penuh dan absolut atas ruang udara Iran. AS juga sudah mengetahui persis di mana lokasi pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, berada.
Trump menekankan, ia menginginkan kepastian penghentian total program nuklir Iran, bukan negosiasi sebatas untuk gencatan senjata.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjawab ultimatum itu. ”Bangsa Iran siap berperang, siap pula berdamai. Bangsa ini tidak akan menyerah kepada siapa pun,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan, Rabu (18/6/2025) sore.
Khamenei juga mengingatkan, Iran diserang Israel di tengah perundingan damai yang ditawarkan AS. Menurut dia, keterlibatan AS dalam serangan Israel ke Iran menunjukkan lemahnya Israel dan bukan tanpa konsekuensi yang harus dibayar mahal.
Peneliti European Council on Foreign Relations (ECFR), Ellie Geranmayeh, mengatakan, pernyataan Trump sama saja deklarasi perang ke Iran. Serangan AS ke Iran tidak akan bisa dikontrol dampaknya.
Trump kini dalam posisi sulit. Trump harus memilih berperang atau meneruskan upaya diplomatik.
Ketika serangan bom diluncurkan Israel ke Iran, Jumat, 13 Juni 2025, Pemerintah Amerika Serikat segera menegaskan sikap berjarak dan menyatakan tidak terlibat. Namun, sejalan dengan memanasnya pertempuran dengan serangan balasan Iran ke Israel, sikap AS berubah.
Dalam hitungan hari, perkembangan situasi menunjukkan tidak tertutup kemungkinan AS akan ikut menyerang Iran. Indikasi kesiapan AS untuk terjun dalam perang itu juga tak disembunyikan.
Apa yang dapat dipelajari dari artikel ini:
- Bagaimana respons AS ketika Israel mulai menyerang Iran?
- Apakah ada upaya AS mencegah perang Israel-Iran meluas?
- Apakah indikasi AS akan lebih jauh terlibat dalam perang ini?
- Persenjataan apa saja yang disiapkan AS untuk ikut memerangi Iran?
- Bagaimana perkembangan terakhir perang Israel-Iran?
Bagaimana respons AS ketika Israel mulai menyerang Iran?
Tak lama setelah rudal Israel meledak di Teheran, Iran, pada Jumat (13/6/2025) dini hari, Amerika Serikat bergegas menegaskan tidak terlibat dalam serangan Israel ke Iran. Kendati demikian, Israel menyatakan berkoordinasi dengan AS untuk melancarkan serangan yang diberi sandi ”Operasi Singa Bangkit” itu.
”Malam ini, Israel melakukan langkah sepihak kepada Iran. Kami tidak terlibat dalam serangan ke Iran dan prioritas kami melindungi pasukan AS di kawasan,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Jumat.
Rubio menambahkan, Israel memberitahukan rencana penyerangan itu dan AS memercayai langkah itu diambil Israel sebagai bentuk pertahanan diri.
”Presiden Trump dan jajaran telah melakukan semua yang diperlukan untuk melindungi pasukan kita di kawasan serta terus berkomunikasi dengan mitra kawasan. Saya tegaskan, Iran jangan menyerang kepentingan atau warga AS,” lanjutnya.
Media israel, The Jerusalem Post, menyebut Israel berkoordinasi erat dengan AS untuk menyiapkan serangan itu. Disebutkan pula bahwa Tzahal, militer Israel, mendapat dukungan logistik dari AS.
Apakah ada upaya AS mencegah perang Israel-Iran meluas?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengindikasikan bahwa ia berusaha mengendalikan arah perang Israel-Iran. Salah satunya, dengan menolak rencana Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Dilaporkan Reuters pada Senin (16/5/2025), Israel mengklaim punya kesempatan membunuh Khamenei sejak awal serangan. Walakin, Trump menolak serangan itu.
”Kami menyampaikan kepada Israel bahwa Presiden Trump menolak itu. Iran belum menewaskan satu pun warga AS dan pembahasan pemimpin politik tidak boleh ada,” kata seorang pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap.
Pejabat itu menyebut, penolakan Trump bagian dari upaya mencegah perang Israel-Iran membesar. Trump masih berharap solusi diplomatik dimungkinkan untuk persoalan Iran.
Wakil Presiden Quincy Institute for Responsible Statecraft (QIPR) Trita Parsi mengatakan, penolakan Trump masuk akal. Khamenei menjadi pencegah terkuat Iran membuat bom nuklir.
”Dia (Khamenei) pernah berfatwa melarang (pembuatan) senjata nuklir. Kalau Khamenei meninggal, berarti fatwanya batal,” katanya.
Dengan menolak pembunuhan terhadap Khameni, Trump dianggap mencoba semua alternatif mencegah Iran membuat bom nuklir.
Apakah indikasi AS akan lebih jauh terlibat dalam perang ini?
Pada Senin (16/6/2025), Presiden AS Donald Trump mengultimatum warga Teheran untuk segera mengosongkan ibu kota Iran tersebut. ”Segera tinggalkan Teheran,” kata Trump.
Pada saat bersamaan, Trump juga memerintahkan penambahan kekuatan AS ke Timur Tengah. Laman pelacak pergerakan pesawat menunjukkan 31 pesawat tanker udara AS menuju Timur Tengah pada Senin. Mayoritas pesawat itu adalah KC-135 dan KC-46.
Tanker-tanker itu bisa mengisi bahan bakar untuk hingga 240 jet tempur. Tanker memungkinkan jet tempur beroperasi berkali lipat jarak tempuh maksimumnya.
Selain tanker udara, AS juga mengerahkan Gugus Tempur Laut (Guspurla) yang berpokok pada kapal induk USS Nimitz untuk bergerak dari Laut China Selatan ke Timur Tengah.
Ada satu kapal perusak kelas Arleigh Burke dan satu kapal penjelajah kelas Ticonderoga dalam Guspurla Nimitz. Guspurla ini juga mengangkut total sembilan skuadron jet tempur, helikopter, dan pesawat lain.
Penambahan kekuatan ini menunjukkan dukungan AS kepada Israel. Sebelumnya, AS telah mengirimkan 300 rudal hellfire ke Israel. Sebagian rudal dipakai Israel menyerang Iran.
Persenjataan apa saja yang disiapkan AS untuk ikut memerangi Iran?
AS menempatkan banyak persenjataan di Timur Tengah. Guspurla Nimitz yang digeser dari Laut China Selatan ke Timur Tengah akan bergabung dengan guspurla Carl Vinson. Seperti Nimitz, Carl Vinson juga didampingi kapal perusak kelas Arleigh Burke dan kapal penjelajah kelas Ticonderoga.
Kedua guspurla itu bisa mengangkut total 160 pesawat dan helikopter beragam jenis. Guspurla juga diikuti satu kapal selam dan satu kapal logistik. Total awaknya mencapai 7.500 orang. Mereka termasuk pilot, marinir, dan pelaut aneka perang. Guspurla adalah pangkalan tempur terapung.
AS juga punya kapal perang lain di sekitar Iran. Di pangkalan Bahrain terpantau lima kapal perang dan satu kapal pendukung tempur. Di Laut Arab hingga Samudra Hindia terpantau satu kapal induk dan 10 kapal perang lain. Terpantau pula setidaknya satu kapal selam, USS Georgia.
Selain di Laut Arab, AS juga mengerahkan sejumlah kapal perang di pesisir barat Israel. Kapal-kapal itu siaga membantu Israel menangkis aneka serangan rudal dan pesawat nirawak. AS juga mengoperasikan sejumlah pesawat nirawak, baik untuk intai maupun serbu.
AS menempatkan pula aset udara di Samudra Hindia. Sebelum Israel menyerang Iran, AS mengerahkan puluhan pesawat pengebom ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia.
Pesawat pengebom B-2 dan B-52 di pangkalan itu antara lain bisa menjatuhkan GBU-57. Bom itu bisa menembus bunker hingga 60 meter di bawah tanah. Senjata itu sangat diharapkan Israel untuk dipakai menyerang Iran.
Bagaimana perkembangan terakhir perang Israel-Iran?
Situasi bertambah panas setelah Trump mengultimatum Iran agar segera menyerah tanpa syarat. Dikatakan Trump, AS memiliki kendali penuh dan absolut atas ruang udara Iran. AS juga sudah mengetahui persis di mana lokasi pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, berada.
Trump menekankan, ia menginginkan kepastian penghentian total program nuklir Iran, bukan negosiasi sebatas untuk gencatan senjata.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjawab ultimatum itu. ”Bangsa Iran siap berperang, siap pula berdamai. Bangsa ini tidak akan menyerah kepada siapa pun,” ujarnya dalam pidato yang disiarkan, Rabu (18/6/2025) sore.
Khamenei juga mengingatkan, Iran diserang Israel di tengah perundingan damai yang ditawarkan AS. Menurut dia, keterlibatan AS dalam serangan Israel ke Iran menunjukkan lemahnya Israel dan bukan tanpa konsekuensi yang harus dibayar mahal.
Peneliti European Council on Foreign Relations (ECFR), Ellie Geranmayeh, mengatakan, pernyataan Trump sama saja deklarasi perang ke Iran. Serangan AS ke Iran tidak akan bisa dikontrol dampaknya.
Trump kini dalam posisi sulit. Trump harus memilih berperang atau meneruskan upaya diplomatik.