Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang membahas peran apa yang bisa dimainkan di Iran. Namun, situasi di Iran tidak sama dengan Venezuela.
05 Mar 2026 11:28 WIB · Internasional
AP/Vahid Salemi
Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel belum usai. Kedua pihak masih saling serang. Namun, Presiden AS Donald Trump sudah mempertimbangkan skenario untuk mengambil peran di Iran setelah perang berakhir. Apakah Iran akan bernasib seperti Venezuela yang minyaknya dikendalikan oleh AS?
Serangan gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (28/2/2026). Peristiwa ini kurang dari dua bulan setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di ibu kota Caracas pada awal Januari lalu. Setelah penangkapan Maduro, AS menancapkan pengaruhnya dalam ekspor minyak di Venezuela.
Sama seperti Venezuela, Iran juga negara produsen minyak. Menurut Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), produksi minyak Iran saat ini 3,1 juta barel per hari. Sebagian besar produksi itu dibeli oleh China.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/06/52495082-ac20-473b-8b01-6776846c5c55.jpg)
Skenario AS untuk mengambil peran di Iran seperti halnya yang terjadi di Venezuela cukup terbuka. Trump berulang kali menyatakan menginginkan perubahan rezim di Iran. Bahkan, setelah serangan pada 28 Februari, ia mendorong warga Iran untuk menggulingkan pemerintahan.
Trump sedang berdiskusi dengan para penasihatnya membahas peran apa yang dapat dimainkan AS di Iran setelah operasi militer berakhir. ”Saya pikir itu sesuatu yang secara aktif dipertimbangkan dan didiskusikan oleh Presiden dengan para penasihatnya dan tim keamanan nasionalnya,” ujar Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Rabu (4/3/2026).
AS masih terus memantau suksesi kepemimpinan Iran setelah gugurnya Ali Khamenei. Saat ini, Iran bersiap untuk memilih pemimpin tertinggi yang baru. Putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, muncul menjadi kandidat terkuat menggantikan ayahnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/21/cd5c301d-a3a9-4b61-ab08-7bd0a55e0bde_jpg.jpg)
Leavitt menyampaikan, Gedung Putih mengamati perkembangan situasi di Iran. ”Tentu saja, kami juga telah melihat laporan-laporan itu. Ini sedang diteliti oleh badan intelijen kami. Sejujurnya, kita harus menunggu dan melihat,” katanya.
Meskipun sudah mempertimbangkan skenario untuk mengambil peran di Iran, fokus utama AS saat ini adalah keberhasilan operasi militer tersebut. Leavitt menuding Pemerintah Iran sebagai rezim jahat yang mengancam AS dan sekutunya selama 47 tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
”Keputusan untuk melancarkan operasi ini didasarkan pada efek kumulatif dari berbagai ancaman langsung yang ditimbulkan Iran terhadap AS,” ucapnya.
Upaya AS untuk mengendalikan Iran tidak akan mudah. Iran berbeda dengan Venezuela.
Pascapenangkapan Maduro, Pemerintah Venezuela bersedia berdialog dengan AS. Kedua negara bahkan menjalin sejumlah kerja sama, salah satunya dalam ekspor minyak. Trump pernah mengatakan, AS telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak Venezuela yang disebutnya sebagai mitra baru.
Hingga hari keenam perang, serangan balasan Iran masih terbilang cukup solid. Serangan rudal dan drone tak hanya menghantam Israel, tetapi juga menyasar berbagai aset AS, terutama pangkalan militer, yang berada di Timur Tengah.
Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari total produksi minyak global, melintasi selat ini setiap hari. Harga minyak pun melonjak karena distribusinya terganggu. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan menembak kapal apa pun yang mencoba melewatinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/35bfe1abf14806c4773b4eae3ec49a91-AP26059790954153.jpg)
Media Iran, Tasnim, melaporkan, Angkatan Laut IRGC terus menargetkan pangkalan militer AS di Teluk. Sementara Angkatan Udara IRGC melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran terhadap target di wilayah Israel.
Sikap konfrontatif Iran membuat skenario AS untuk mengendalikan Iran tidak akan berjalan mulus. Di Venezuela, AS praktis hanya menyingkirkan pemimpin tertinggi negara itu, yaitu Presiden Maduro. Sementara pemerintahannya tetap dipertahankan karena bisa diajak bekerja sama dengan AS.
Trump pun memuji operasi militer AS di Venezuela. ”Apa yang kita lakukan di Venezuela, menurut saya, adalah skenario yang sempurna,” ujarnya, sebagaimana dikutip The New York Times.
Terkait suksesi kepemimpinan Iran, Trump mengatakan telah mempunyai pilihan menggantikan Ali Khamenei. Namun, saat ini AS masih berfokus pada operasi militer. Trump memperkirakan perang akan berlangsung selama empat atau lima minggu, tetapi AS mempunyai kemampuan untuk berperang lebih lama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/04/795bf3b9-29d9-4f30-90e2-d8bd778493d9.jpg)
”Saya punya tiga pilihan yang sangat bagus. Saya tidak akan mengungkapkannya sekarang. Mari kita selesaikan pekerjaan ini dulu,” ucapnya.
Meskipun Iran kehilangan pemimpin tertinggi, sikapnya menentang dominasi AS di Timur Tengah belum mereda. Sistem kekuasaan di negara itu terdistribusi cukup luas, mulai dari lembaga militer, ulama, dan berbagai institusi politik lainnya.
Menurut peneliti Iran di Universitas Johns Hopkins, AS, Vali Nasr, rezim Iran tidak otomatis rontok meskipun pemimpin tertingginya terbunuh. ”Kita bisa membunuh pemimpin tertinggi, tetapi sistemnya telah dibangun untuk berfungsi,” katanya, dilansir dari CNN.
(Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti