Reli Sinterklas, fenomena kenaikan pasar saham di akhir tahun, sedang diuji oleh tekanan global dan domestik.
25 Des 2024 11:40 WIB · Ekonomi
Kehadiran Sinterklas, tokoh yang dikenal sering membagikan hadiah dengan kereta yang ditarik oleh rusa saat Natal, selalu dinantikan oleh investor saham setiap akhir tahun. Mereka berharap mendapatkan berkah berupa kenaikan imbal hasil saham yang sering dikaitkan dengan fenomena Sinterklas.
Pendiri komunitas investor saham, Stocknow.id, Hendra Wardana, menjelaskan, setiap akhir tahun ada fenomena pasar modal yang disebut ”Santa Claus Rally” atau ”Reli Sinterklas”. Ini adalah fenomena di mana pasar saham mengalami reli atau kenaikan selama pekan terakhir Desember hingga dua hari pertama tahun baru.
”Hal ini biasanya dipengaruhi oleh sentimen optimisme akhir tahun, aktivitas ’window dressing’ oleh manajer investasi, dan minat beli dari investor ritel,” ujarnya saat dihubungi Kompas, Rabu (25/12/2024).
Efek reli di musim Natal biasanya juga terjadi di pasar modal Indonesia. Namun, Hendra membaca dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga Selasa (24/12), reli yang dinanti tampaknya belum terjadi secara signifikan.
”Hingga 24 Desember, IHSG justru terkoreksi sebesar minus 0,68 persen, berada di level 7.065. Kondisi ini berbeda dibandingkan dengan Desember tahun-tahun sebelumnya yang sering kali mencatatkan kenaikan positif,” ungkapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/25/d8d9a1fc70fa3b6b81e5e7eec3b67efc-Screenshot_20241225_094257_RTI_Business.jpg)
Faktor-faktor global dan domestik menjadi hambatan utama bagi reli IHSG tahun ini. Dari sisi global, pidato Jerome Powell sebagai Ketua The Federal Reserve, Bank Sentral AS, memberikan dampak besar. Meski suku bunga diturunkan pada Desember, pandangan Powell mengenai kebijakan moneter yang lebih hati-hati di tahun depan menimbulkan kekhawatiran pasar, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Tekanan ini semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini berada di level Rp 16.190 per dolar AS, membuat investor cenderung lebih defensif. Selain itu, minimnya sentimen positif dari luar negeri juga membatasi ruang gerak pasar.
”Investor global tampaknya masih menunggu kepastian lebih lanjut terkait dengan kebijakan ekonomi utama di 2025 sebelum melakukan aksi beli yang agresif,” ujar Hendra.
Dari sisi domestik, rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen, menurut dia, juga memberikan dampak negatif karena dianggap dapat menekan daya beli masyarakat. Hal ini menciptakan kekhawatiran pada kinerja emiten-emiten yang bergantung pada konsumsi domestik.
Selain itu, aktivitas window dressing atau upaya mempercantik portofolio saham oleh manajer investasi terlihat kurang signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yang menyebabkan IHSG tidak mendapatkan dorongan besar untuk bergerak naik. ”Kombinasi sentimen global dan domestik ini menciptakan tekanan tambahan yang sulit dihindari oleh IHSG sehingga Reli Sinterklas tahun ini terasa lebih lemah,” ucapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/20/eaca17ea-61bf-40c7-9b1f-a786da42df56_jpg.jpg)
Pendapat senada disampaikan Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta. Secara teknikal, ia melihat momentum Reli Sinterklas sebenarnya sempat terjadi di awal Desember.
Hal ini dimungkinkan karena efek kemenangan Trump dalam pemilihan presiden AS dan pembentukan kabinet baru oleh Trump yang mereda. Lalu, ekspektasi pelaku pasar akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada Desember ini yang telah menjadi kenyataan. Ditambah, data ekonomi Indonesia, seperti inflasi yang masih sesuai target dan kinerja manufaktur yang akan balik ke zona ekspansif.
”Tapi, ketika masuk pertengahan Desember, pasar melihat faktor The Fed sehingga membuat IHSG alami penurunan lagi. Pasar kini lebih tidak yakin The Fed akan menerapkan pelonggaran moneter secara agresif di 2025. Per September itu, pasar melihat peluang The Fed menurunkan suku bunga total 100 bps, tapi peluang ke depan hanya ada pemangkasan sebesar 50 bps,” tuturnya.
Nafan menjelaskan, ekonomi AS yang memengaruhi sentimen pasar global ke depan dipengaruhi mulainya administrasi Trump, yang otomatis ada kekhawatiran inflasi AS, yield obligasi Pemerintah AS naik, dan dolar AS menguat.
Lalu, ia melanjutkan, fragmentasi global yang semakin multipolar, seperti Indonesia yang membuka peluang dengan OECD hingga BRICS, juga akan semakin meningkat. Hal ini ditambah tekanan geopolitik yang akan berlanjut mendisrupsi rantai pasok global. Belum lagi, katanya, isu dinamika politik dan ekonomi domestik berkaitan dengan kekhawatiran penurunan daya beli.
Sebelum Natal, bursa pada perdagangan Senin dan Selasa (23-24/12) sempat positif karena IHSG yang bangkit dari posisi di bawah 7.000. Pada perdagangan Selasa (24/12), IHSG ditutup di level 7.065.
”Itu membuat Reli Sinterklas berlaku sementara. Di Desember, IHSG masih negatif bahkan dibandingkan dengan awal tahun negatif juga 2 persen. Padahal, selama tahun pemilu, secara historis IHSG selalu positif,” kata Nafan.
Sisa hari perdagangan bursa di Indonesia tinggal dua hari lagi, yakni Jumat 27 Desember dan Senin 30 Desember 2024. Hari perdagangan ini diharapkan bisa memperbaiki IHSG setidaknya agar berada di atas posisi 7.323 di awal tahun ini.
”Ini tantangan untuk sisa hari Jumat dan Senin apa IHSG mampu meningkatkan kenaikan year-to-date hingga 1 persen,” kata Nafan.
Jika tidak, Reli Sinterklas hanya berlaku temporer di tahun ini. Kondisi ini sama halnya ketika tahun 2022, di mana IHSG ditutup negatif dibandingkan dengan awal tahun itu di akhir Desember. Pertumbuhan negatif terjadi karena The Fed melakukan pengetatan suku bunga untuk mengatasi inflasi yang meningkat.
”Sisanya di Jumat dan Senin belum ada dampak pasar yang besar dari data global. Jadi, kita harus melihat potensi window dressing terjadi atau tidak. Itu tergantung smart money yang akan masuk ke IHSG,” pungkasnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/12/20/8ebfa13f-e7c1-4093-867a-515c1e7078e9.jpg)
Setali tiga uang, Hendra juga mengharapkan ada peluang perbaikan IHSG walaupun hanya dalam hitungan beberapa hari lewat sentimen window dressing. Dengan aksi window dressing, IHSG masih memiliki peluang untuk menguat dengan target resistan di level 7.200 dan support 7.000.
”Dalam situasi ini, saham-saham defensif dan sektoral berfundamental kuat menjadi pilihan menarik bagi investor,” ucapnya. Saham yang dimaksud antara lain saham berkapitalisasi besar di sektor telekomunikasi, saham perbankan, dan konsumer non-siklikal.
Secara keseluruhan, peluang Reli Santaklaus di IHSG tahun ini memang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Bagi investor, menjaga portofolio dengan fokus pada saham defensif sambil mencermati perkembangan sentimen global dan domestik akan menjadi langkah bijak untuk menutup tahun 2024 dengan hasil yang optimal.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .