Peringatan 50 perang Vietnam bagi dispora Vietnam di Amerika Serikat.
01 Mei 2025 17:07 WIB · Foto
Ratusan perahu kayu berhamburan dari pelabuhan dan pesisir di sekitar kota Saigon menuju tengah laut. Hari itu, 30 April 1975, tentara Vietnam Utara yang didukung Vietkong berhasil merangsek ke kota Saigon, yang menjadi benteng pertahanan terakhir lawannya, Vietnam Selatan.
Kekacauan terjadi, ribuan penduduk segera berhamburan mencari perlindungan dari pasukan komunis Vietnam Utara. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Saigon menjadi titik utama tujuan mencari perlindungan.
Puluhan helikopter yang meraung-raung menambah kegentingan di sana. Ribuan orang Amerika Serikat dan staf lokal di kedutaan itu sedang dipindahkan ke kapal perang mereka yang menunggu di tengah laut. Bandara yang sudah dikuasai Vietkong membuat evakuasi hanya bisa dilakukan dari jalur laut dan helikopter.
Ribuan warga lain berupaya mencari keselamatan dengan melintasi samudra, meninggalkan negaranya. Sebagian dari mereka bahkan terpaksa meninggalkan keluarganya. Pengungsi dengan perahu itu, banyak yang akhirnya menetap di Orange County, California Selatan, di daerah yang sekarang dikenal sebagai ”Little Saigon”, tidak jauh dari Pangkalan Korps Marinir Pendleton, tempat para pengungsi pertama diterbangkan setelah mencapai Amerika Serikat.
Diaspora tersebut sekarang juga memiliki populasi yang signifikan di Virginia, Texas, dan Negara Bagian Washington, serta di negara-negara termasuk Perancis dan Australia. Namun, komunitas di California Selatan mencakup populasi Vietnam terbesar dan paling mapan di luar Vietnam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/750b2eeb-b606-421e-ab6f-7e1831e421a0_jpg.jpg)
Kemarin, 30 April 2025, bertepatan dengan peringatan 50 tahun berakhirnya perang Vietnam, diadakan parade meriah di kota Ho Chi Minh yang menampilkan tentara, penari, dan pidato yang merayakan apa yang pemimpin komunis negara itu sebut sebagai ”kemenangan keadilan”. Acara itu menarik puluhan hingga ratusan ribu orang di sepanjang jalanan utama kota.
Peringatan jatuhnya Saigon yang diubah namanya menjadi kota Ho Chi Minh oleh kaum komunis membangkitkan kenangan dan perasaan campur aduk, mulai dari kesedihan dan kebencian hingga penghormatan dan kebanggaan bagi para diaspora di Amerika.
Bagi mereka yang hidup melewati perang, peringatan 50 tahun itu menandai masa berkabung saat mereka mengingat apa yang telah hilang, tanah air mereka, kehidupan masa lalu mereka, bahkan identitas mereka. Sakit itu masih terasa lima dekade kemudian. Seorang pria masih belum bisa berkata banyak tentang keluarga yang harus ditinggalkannya ketika mereka tiba di negeri asing, Amerika Serikat.
Hari jatuhnya Saigon tanggal 30 April 1975 juga disebut oleh generasi yang lebih tua sebagai ”April Hitam” atau ”Hari Kebencian Nasional”.
Namun, bagi anak-anak dan cucu mereka, banyak yang tidak tahu tentang perang, peringatan itu adalah waktu untuk menghormati ketangguhan komunitas imigran dan merayakan pencapaian populasi yang awalnya adalah pengungsi dan kini telah menjadi bagian berpengaruh dari masyarakat California dan AS. ”Saya tidak benar-benar memikirkannya dalam sudut pandang negatif,” kata Linda Nguyen, seorang pemimpin bisnis lokal yang orangtuanya adalah pengungsi saat diwawancara Associated Press.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/01/f51b88fb-4316-46a6-a3e6-378e1f1442f5_jpg.jpg)
Menandai peringatan yang akhirnya mengakhiri perang, banyak bisnis dan etalase toko Little Saigon dihiasi dengan bendera Vietnam Selatan. Bahkan, Asian Garden Mall memiliki tanda tahun 1975 yang mencolok, yang memuat bendera AS dan Vietnam Selatan.
Hung Vu, seorang anggota militer Vietnam Selatan yang tiba pada tahun 1975, berencana untuk bertemu kembali dengan teman-teman lama dan berbagi cerita di sebuah acara komunitas pada hari Rabu tentang bagaimana kehidupan sehari-hari dibentuk kembali oleh kehidupan di AS.
”Ini bukan acara yang meriah,” kata Vu, yang memiliki toko seragam yang mengkhususkan diri dalam membuat ulang seragam, pita, dan medali militer Vietnam Selatan. ”Ini adalah hari berkabung.” Dia ingat merasa kewalahan di negara baru, di mana dia tidak dapat berbicara bahasanya dan tidak memahami norma-norma sosial. Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara bepergian atau mencari nafkah.
Banyak orang, termasuk mantan anggota keluarga kaya Vietnam Selatan, terpaksa mengambil pekerjaan bergaji rendah di negara baru mereka, seperti membersihkan rumah dan bekerja di salon kuku, untuk bertahan hidup.
”Mereka kehilangan masa kecil mereka,” ujar Tram Le, remaja yang tiba di AS sendirian saat melarikan diri dari Saigon. ”Sepanjang hidup mereka, mereka hanya berkorban,” ujarnya.
Meninggalkan tanah air, meninggalkan keluarga, bahkan terpaksa meninggalkan kenangan sepanjang separuh hidupnya adalah hal yang tidak mudah bagi Le dan ribuan warga Saigon yang saat ini menetap di Amerika dan di negara-negara lain karena perang.
Namun, hidup harus terus berjalan. ”April Hitam” hanya sebuah jeda dalam hidup mereka.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .