PERANG

Arab-Israel Bersama Mencegah AS Serang Iran

Para bangsawan dan pejabat Arab menelepon petinggi AS. Pesannya: jangan serang Iran. Israel pun meminta AS tak segera mengebom Iran.

18 Jan 2026 14:33 WIB · Internasional

AFP/ATTA KENARE

Oleh Kris Mada

Dengan alasan masing-masing, Israel dan empat negara Arab bekerja keras mencegah Amerika Serikat menyerang Iran. Sejauh ini, pencegahan itu berhasil. Meski demikian, kapal perang hingga jet tempur dan pesawat pengebom AS terus mendekati Iran.

Pencegahan itu, antara lain, dibedah dua media AS. Dalam laporan pada Sabtu (17/1/2026) sore waktu Washington atau Minggu pagi WIB, The Washington Post mengulasnya. Sementara The Wall Street Journal mengulas lewat laporan pada Jumat.

Sumbernya relatif sama: para pejabat AS dan negara-negara Arab. Para sumber tak mau identitasnya diungkap. Redaksi The Washington Post dan The Wall Street Journal mengindikasikan, para sumber hadir di rapat pembahasan persiapan serangan ke Iran atau mendapat pengarahan soal persiapan serangan.

Sejak 2 Januari 2026, lima hari sejak rangkaian unjuk rasa meletus di Iran, Presiden AS Donald Trump berjanji membantu. Ia menyebut AS siap siaga penuh membantu. Bahkan, pada Selasa (13/1/2026) malam, Trump mendorong agar pengunjuk rasa meneruskan protes mereka. ”Bantuan dalam perjalanan,” tulisnya di media sosial.

Sewaktu Trump mengumumkan itu, para pejabat Departemen Perang dan militer AS telah bersiap menanti perintah serangan dari Trump. Kepala Kantor Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine terus mendampingi Trump untuk mendapat masukan soal serangan ke Iran. Trump kala itu sudah bersiap memerintahkan serangan.

Wakil Presiden AS JD Vance dan Direktur CIA John Ratcliffe menyokong serangan. Sementara Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Kepala Staf Kantor Presiden Susie Wiles meminta Trump tidak gegabah.

Dalam foto yang diperoleh oleh The Associated Press ini, warga Iran menghadiri protes anti-pemerintah di Teheran, Iran, Jumat (9/1/2026).

Bessent, antara lain, meminta Trump memberi waktu lagi agar sanksi-sanksi AS semakin optimum bekerja. AS memang terus menambah sanksi kepada Iran. Tujuannya, mencekik perekonomian Iran sehingga diharapkan warga marah, lalu protes kepada Pemerintah Iran.

Di sisi lain, Trump juga diberi tahu, kapal perusak USS Roosevelt telah siaga dekat Teluk Persia. Kapal itu dilengkapi peluncur rudal. Sementara gugus tempur laut kapal induk USS Abraham Lincoln tengah bergerak dari Laut China Selatan ke Teluk Persia. Gugus tempur itu dan kapal-kapal AS lain yang mengarah ke sekitar Iran dilengkapi total hampir 900 peluncur rudal.

Selain itu, sejumlah jet tempur dan pesawat militer AS serta sekutunya dilaporkan terus bergerak mendekati Timur Tengah. Pesawat-pesawat itu, antara lain, merapat ke Siprus, tempat Inggris mengoperasikan pangkalan udara.

Sementara tentara AS telah dievakuasi dari berbagai pangkalan di Timur Tengah. Evakuasi itu bagian dari mitigasi kalau Iran membalas dengan menyerang pangkalan tersebut. Sejumlah pihak menduga, serangan ke Iran tinggal tunggu waktu.

Sampaikan kegusaran

Arab Saudi, Oman, Mesir, dan Qatar bekerja keras mencegah serangan itu terjadi. Peneliti senior pada Washington Institute of Near East Policy, David Makovsky, menyebut niat Arab dan Israel berbeda.

Arab benar-benar tak mau ada serangan. Sementara Israel cuma meminta penundaan. Israel mau memastikan AS punya aset cukup di kawasan untuk bisa melancarkan serangan besar.

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman menelepon Trump untuk menyampaikan kegusarannya soal rencana serangan AS ke Iran. Bukan cuma Arab Saudi yang gusar, tetangga Iran lainnya juga resah kalau serangan jadi dilancarkan. Teheran telah menyampaikan kepada tetangganya, Iran, tak akan menahan diri seperti Juni 2025.

Pesan itu terkait serangan AS-Israel ke Iran pada Juni 2025. Waktu itu, Iran menghubungi negara-negara Arab untuk menyampaikan rencana pembalasan. Wujudnya, Iran meluncurkan belasan rudal ke Pangkalan Al-Udeid di Qatar. Tak ada korban jiwa dalam serangan.

Untuk potensi serangan Januari 2026, kata Teheran kepada tetangganya, tak akan lagi ada pengendalian seperti itu. Sejumlah negara Arab juga khawatir, kelompok bersenjata di kawasan yang selama ini berhubungan dengan Iran akan membalas kalau Iran diserang AS.

Negara-negara Arab khawatir, mereka akan kewalahan pada pembalasan itu. Apalagi, kala Trump membahas rencana serangan ke Iran, aset militer AS di Timur Tengah dan sekitarnya terbatas. Tak ada kapal induk AS di Teluk Persia, Laut Arab, hingga Laut Tengah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menelepon Trump pada Rabu. Ia mendesak AS menunda serangan ke Iran. Sebab, Israel takut jadi sasaran rudal dan pesawat nirawak Iran seperti pada Juni 2025.

Waktu itu Israel sudah dibentengi kapal perang dan pertahanan udara AS-Jordania. Walakin, tetap saja rudal dan pesawat nirawak Iran meledakkan berbagai lokasi di Israel. Pusat pengolahan data intelijen dan kendali operasi militer Israel dihantam rudal-rudal Iran.

Oleh karena itu, Netanyahu mendesak Trump menunda serangan sampai AS punya aset militer memadai di kawasan. Israel, kata Netanyahu kepada Trump, tidak siap menghadapi pembalasan Iran sendirian.

Sejumlah pejabat AS yang menjadi narasumber The Washington Post dan The Wall Street Journal menyebut, Israel semakin mengandalkan AS untuk menangkis serangan Iran. Di sisi lain, AS harus mengisi ulang rudal pencegatnya.

Produksi rudal dan roket pencegat butuh waktu. Sementara dalam setiap hari penangkisan, butuh belasan rudal untuk menjatuhkan rudal dan pesawat nirawak ke Israel.

Serangan Israel ke Gaza hingga Lebanon dan Suriah membuat banyak rudal pencegat harus ditembakkan. Sebab, ada pembalasan dari pihak-pihak yang diserang Israel atau sekutu dari pihak-pihak itu. Butuh lebih dari satu rudal pencegat untuk menjatuhkan aneka rudal dan pesawat nirawak yang diarahkan ke Israel.

Iron Dome kebanggaan Israel tidak dirancang untuk menangkis rudal-rudal Iran. Sejumlah pihak menduga, Iran menembakkan rudal stok lama pada Juni 2025. Iran masih punya banyak rudal versi baru yang lebih cepat dan karena itu berpeluang lebih sulit dicegat dibandingkan rudal-rudal Juni 2025.

Pesan singkat

Tak cuma Arab-Israel yang berusaha mencegah serangan AS ke Iran. Para pejabat Iran tentu saja berusaha mencegah serangan itu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan wawancara khusus dengan FoxNews, stasiun televisi pendukung Trump.

Ia juga mengirim pesan singkat kepada Witkoff. Intinya, Iran akan menunda eksekusi hukuman mati kepada setidaknya 800 orang. Witkoff meneruskan pesan itu kepada Trump.

Pesan tersebut menjadi salah satu alasan Trump menunda memerintahkan serangan ke Iran. Alasan lain, para jenderal AS tak bisa menjadikan rencana serangan yang benar-benar berdampak.

Trump ingin serangan yang berujung pada pergantian pemerintahan di Iran. ”Dia ingin operasi seperti Venezuela,” kata sumber The Washington Post.

Kemauan Trump sulit diwujudkan. Serbuan untuk memaksakan pergantian pemerintahan di Iran akan kacau. Trump tak mau terlibat perang jangka panjang dengan Iran. ”Sistem politik Iran tidak dibangun di sekitar Khamenei saja,” kata Danny Citrinowicz, mantan Kepala Bagian Iran di Aman, intelijen militer Israel.

Peneliti senior di Institute for National Security Studies (INNS) Israel itu mengatakan, Trump mungkin saja memerintahkan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Tujuannya agar bisa mengklaim kemenangan atas Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berpidato di hadapan rakyat di depan potret mendiang Pendiri Republik Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini pada Kamis (26/6/2025) yag disiarkan oleh televisi nasional. Khamenei mengancam akan melakukan lebih banyak serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut jika Iran diserang lagi oleh Amerika Serikat.

Namun, pilihan itu akan sangat berbahaya. Pembunuhan terhadap Khamenei akan berbeda dari pembunuhan terhadap Mayor Jenderal Qasem Soleimani pada Januari 2020 atau penculikan Nicolas Maduro pada Januari 2026.

Khamenei, kata Citrinowicz, bukan sekadar pemimpin politik. Ia juga simbol ideologi dan religius yang menyatukan Iran. AS tak akan begitu saja bisa memaksakan pergantian pemimpin seperti dilakukan di Venezuela selepas menculik Maduro.

”Pembunuhan pada Khamenei bisa memicu konflik kawasan yang meluas, mungkin dengan dimensi keagamaan. Menyebar jauh di luar perbatasan Iran dan memicu ketidakstabilan di Timur Tengah,” ujarnya.

Selama ini, Khamenei jadi penahan sekaligus pemicu gairah perlawanan Iran. Tanpa kendali Khamenei, tak ada yang bisa menduga apa yang akan dilakukan Garda Revolusi Iran (IRGC) atau Artesh, militer Iran.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Trump terus menimbang semua opsi soal Iran. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan diputuskan Trump.

Peneliti senior pada Washington Institute of Near East Policy, David Makovsky, mengingatkan soal serangan AS ke Iran pada Juni 2025. Waktu itu, Trump mengumumkan Iran punya waktu beberapa pekan untuk memutuskan menerima atau menolak tawaran perundingan soal nuklir.

Waktu pengumuman disampaikan, pesawat-pesawat pengebom dan jet tempur AS bersiap menjatuhkan bom ke berbagai lokasi di Iran. Serangan akhirnya dilancarkan jauh sebelum tenggat yang diumumkan Trump tercapai.

Pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln, lanjut Makovsky, bisa jadi pengecoh atau pengulur waktu. Trump mengulur waktu sampai gugus tempur Lincoln tiba sebelum memerintahkan serangan. Bisa jadi juga, sebenarnya AS diam-diam telah menggerakan aset lain untuk menggempur Iran. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul