Arab Saudi-Houthi Memanas, Pejabat AS Dilaporkan Bertemu Houthi pada Akhir Pekan

Houthi memblokade kapal-kapal Arab Saudi di Laut Merah. Namun, Houthi berjanji tidak menargetkan pelayaran internasional di perairan itu.

17 Sep 2026 14:05 WIB · Internasional

AFP / KHALED ZIAD

Oleh Helena Fransisca Nababan

WASHINGTON, KAMIS — Konflik Arab Saudi dan Houthi terus memanas saat perang Amerika Serikat-Israel dan Iran belum juga tuntas. Para pejabat Amerika Serikat bertemu dengan para pemimpin Houthi pada akhir pekan lalu di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman. Dari pertemuan itu, Houthi berjanji tidak akan menyerang kapal-kapal AS dan Israel.

Informasi tersebut diperoleh dari lima sumber Reuters yang mengetahui pertemuan itu dan meminta tidak disebutkan namanya. Menurut tiga sumber Reuters, pertemuan tersebut memang tidak dipublikasikan. Dua sumber mengatakan, Pemerintah Oman, yang telah lama menjadi mediator regional, membantu mengatur pertemuan itu.

Kantor berita Reuters pada Kamis (17/9/2026) melaporkan, menurut dua sumber lain, pihak AS diwakili oleh personel kedutaan. Sementara menurut salah satu sumber Reuters, delegasi Houthi diwakili pejabat senior yang berbasis di Muscat dan berada di bawah sanksi AS, Mohammad Abdulsalam. Sumber lain mengonfirmasi kehadiran Abdulsalam bersama dengan pejabat senior Houthi lainnya, Abdelmalik al-Ajiri.

Terkait pertemuan itu, Reuters mencoba mengonfirmasi kepada Departemen Luar Negeri AS. Namun, juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan, ”Kami tidak berkomentar tentang pertemuan yang dilaporkan ini.”

Juru bicara itu juga mengatakan bahwa menjaga kebebasan navigasi di Laut Merah dan mencegah ekspor terorisme dari Timur Tengah adalah kepentingan inti AS. Sementara Kedutaan Oman di AS dan pejabat senior Houthi, Abdulsalam, tidak menanggapi upaya konfirmasi Reuters.

Dilansir dari The Guardian, dalam pertemuan di Muscat pada hari Minggu itu, Houthi yang didukung Iran meyakinkan AS bahwa perjanjian gencatan senjata antara kedua pihak yang disepakati pada tahun 2025 masih berlaku. Houthi juga menyatakan tidak berniat menyerang pelayaran AS ataupun pelayaran internasional di Laut Merah.

”Hanya kapal-kapal yang terkait dengan Saudi yang dianggap sebagai target karena blokade Yaman,” demikian konfirmasi Houthi, dikutip The Guardian.

Para pelaut dari Angkatan Laut Aden Yaman, yang berbasis di pemerintahan yang diakui secara internasional, berdiri di posisi senapan mesin di atas kapal yang berpatroli di jalur pelayaran di lepas Pulau Hanish di Laut Merah pada 27 Juli 2026. Seiring konflik Houthi dan Arab Saudi yang kembali memanas, pejabat AS dan Houthi bertemu pada akhir pekan. Mereka salah satunya membahas pelayaran di Laut Merah.

Pertemuan tersebut berlangsung setelah pekan lalu konflik Houthi dan Arab Saudi memanas. Merujuk Kompas.id edisi Rabu (9/9/2026), Houthi melancarkan serangan ke Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026) setelah mengklaim Riyadh menyerang wilayahnya.

Houthi, kelompok yang didukung Iran di Yaman ini menyasar empat kota bagian selatan Arab Saudi, yakni Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran. Sebanyak 73 orang terluka dan beberapa fasilitas energi milik perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, terbakar.

Arab Saudi bersiaga pascaserangan. Saudi juga menjanjikan pembalasan keras atas serangan besar dari kelompok Houthi.

Dalam serangan kilat pekan lalu, Houthi berhasil merebut kendali atas sebagian besar wilayah Yaman barat di sepanjang pantai Laut Merah. Houthi di antaranya berhasil menguasai pelabuhan bersejarah Mocha dan Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb atau disebut juga ”Gerbang Air Mata” di muara laut.

Di tengah kemajuan dramatis Houthi, penguasa de facto Arab Saudi Putra Mahkota Mohammed bin Salman meminta dukungan militer AS kepada Trump pekan lalu. Washington kemudian mengatakan kepada Riyadh bahwa mereka tidak akan terlibat secara langsung.

Presiden AS Donald Trump pada hari Sabtu diberitakan membuat pernyataan bahwa Houthi menghubungi pemerintahannya. Houthi meminta AS untuk tidak ikut campur dalam perang di Yaman.

Wakil Presiden AS JD Vance kemudian mengatakan pada hari Senin bahwa AS telah melakukan kontak langsung dengan kelompok Houthi. Namun, Vance tidak merinci pernyataannya.

Pertemuan di Muscat itu membantu menjelaskan langkah Trump untuk mengecam aksi Houthi di pantai barat Yaman. Houthi dipandang mengancam kebebasan navigasi melalui Selat Bab al-Mandeb.

Pertemuan itu juga menjadi sinyal yang mempertegas sikap Trump menolak respons militer apa pun untuk mendukung Riyadh. Saat ini, AS sudah terlibat dalam konflik yang mahal dan menghabiskan banyak sumber daya dengan Iran.

Dalam foto hasil tangkapan layar dari rekaman video yang dirilis oleh saluran TV Houthi Al-Masirah dan tersedia melalui AFPTV pada 15 September 2026, menunjukkan Bandara Internasional Mocha setelah Houthi merebut kendali atas kota-kota penting di sepanjang pantai Laut Merah Yaman dan pantai Bab al-Mandab pekan lalu. Seiring konflik Arab Saudi dan Houthi yang kembali memanas, pada akhir pekan, pejabt AS bertemu dengan Houthi. Pertemuan membuat Houthi berjanji tidak akan menyerang pelayaran AS di Laut Merah.

AS menetapkan Houthi sebagai entitas teroris asing pada Maret 2025. AS juga mengkriminalisasi dukungan terhadap kelompok itu.

AS sempat membombardir Houthi selama dua bulan untuk menghentikan serangan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Washington terus bernegosiasi dengan Houthi, hingga pada Mei 2025 tercapai kesepakatan gencatan senjata.

Kemudian pecah perang di Iran pada 28 Februari 2026. Dampak dari perang AS-Israel dan Iran meluas.

Houthi, proksi Iran di Yaman, melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke Bandara Abha di Arab Saud pada 13 Juli 2026. Serangan dilakukan untuk membalas serangan Arab Saudi ke Bandara Internasional Sanaa sehari sebelumnya.

Pertempuran Houthi-Arab Saudi ini memanas lagi seiring konflik antara Houthi dan Pemerintah Yaman yang didukung Riyadh. Permusuhan ini menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata atas mediasi PBB pada 2022.

Houthi tidak hanya menyerang pasukan Pemerintah Yaman. Houthi juga menyerang wilayah selatan Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman.

Juru Bicara Houthi Yahya Saree, seperti dilansir dari Al Jazeera, mengatakan, serangan itu merupakan pembalasan atas serangan Saudi terhadap daerah-daerah yang dikuasai Houthi di Yaman.

Selat Bab el-Mandeb, jalur air yang menghubungkan Laut Merah ke Teluk Aden menjadi fokus pertempuran berikutnya. Perang AS-Israel dan Iran sejak Februari telah mendorong Teheran menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global negara-negara Teluk.

Dalam foto yang diambil dari rekaman video tak bertanggal dan didistribusikan pada Rabu (16/9/2026) oleh Kantor Media Ansar Allah, sayap media Houthi di Yaman, menunjukkan anggota Houthi berpose dan bernyanyi bersama di sekitar jet tempur F-15 Saudi yang jatuh ditembak di Marib, Yaman. Pesawat ditembak dalam eskalasi Arab Saudi-Houthi yang meningkat.

Arab Saudi kemudian menggunakan perairan Selat Bab el-Mandeb sebagai jalur alternatif untuk mengirim minyak. Houthi berupaya memblokade pelayaran Riyadh ke Laut Merah. Kelompok ini juga melaju ke Al-Makha (Mocha), wilayah barat di bawah kekuasaan Pemerintah Yaman yang berbatasan dengan Selat Bab el-Mandeb. Aksi Houthi dianggap mengganggu keamanan navigasi di Laut Merah.

Terbaru, pada Selasa (15/9/2026), Arab Saudi melaporkan telah berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang disebut diluncurkan kelompok Houthi. Menurut Arab Saudi, pesawat nirawak itu meluncur menuju Mekkah.

Namun, Houthi menolak pernyataan Riyadh bahwa mereka telah meluncurkan drone menuju Mekkah. Houthi menyatakan pernyataan Riyadh itu sebagai sebuah kebohongan. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase