Houthi berupaya menguasai Selat Bab el-Mandeb dan pantai barat, sementara Iran menguasai Selat Hormuz. Keduanya jalur penting pelayaran minyak global.
09 Sep 2026 15:27 WIB · Internasional
AFP/KHALED ZIAD
DUBAI, RABU — Situasi di Timur Tengah memanas. Arab Saudi menjanjikan pembalasan keras atas serangan besar dari kelompok Houthi. Eskalasi konflik di antara kedua pihak ini menegaskan keberadaan strategis Selat Bab el-Mandeb bagi pelayaran setelah perang Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Houthi melancarkan serangan ke Arab Saudi setelah mengklaim Riyadh menyerang wilayahnya. Kelompok yang didukung Iran di Yaman ini menyasar empat kota bagian selatan Arab Saudi, yakni Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran, Selasa (8/9/2026). Sebanyak 73 orang terluka dan beberapa fasilitas energi milik perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, terbakar.
Arab Saudi bersiaga pascaserangan. Otoritas di negara itu sempat mengeluarkan peringatan singkat tentang potensi bahaya di Provinsi Najran, Provinsi Jazan, dan kota Abha yang berbatasan dengan Yaman. Peringatan lalu dicabut.
Arab Saudi juga bertekad memberikan tanggapan tegas meski tidak berkomentar tentang tuduhan serangan dari Houthi. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan al-Saud mengatakan, kerajaan mengecam keras serangan Houthi.
”Houthi memilih untuk memprioritaskan kepentingan sempit mereka di atas kepentingan Yaman dan menggunakan kekerasan,” kata Faisal dalam konferensi pers bersama dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov di Moskwa, menurut Al Jazeera.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/09/1da83525-054a-405c-84c1-6aceae89b552_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/09/b29dddbe-2daa-48f2-a49d-3a6d8703be76_jpg.jpg)
Eskalasi pertempuran Houthi-Arab Saudi terjadi ketika Selat Bab el-Mandeb, salah satu akses ke Laut Merah, menjadi semakin penting. Riyadh menggunakan jalur perairan ini sebagai rute alternatif distribusi minyak. Perang AS-Israel dan Iran sejak Februari 2026 telah mendorong Teheran menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global negara-negara Teluk.
Ekspor minyak mentah Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb tercatat delapan kali lebih tinggi selama Maret hingga pertengahan Juli 2026 dibandingkan dengan periode sama tahun 2025. Pada 2024, sekitar 4,1 juta barel minyak mentah dan produk minyak bumi melewati selat ini setiap hari alias sekitar 5 persen dari total minyak global.
Namun, sejak perang di Iran membara, Houthi kembali berupaya memblokade pelayaran Riyadh ke Laut Merah. Kelompok ini juga melaju ke Al-Makha (Mocha), wilayah barat di bawah kekuasaan Pemerintah Yaman yang berbatasan dengan Selat Bab el-Mandeb.
”Selat tersebut memiliki arti penting untuk strategi Houthi yang lebih luas. Houthi telah menghubungkan gerakan militer mereka di darat serta laut. Mereka mengincar kendali atas pantai barat yang memberikan kemampuan untuk menekan lalu lintas pelayaran di Laut Merah dan Bab el-Mandeb,” kata Ahmed Nagi, analis senior di International Crisis Group.
Houthi dan Iran tampaknya menjalankan strategi yang berkaitan. ”Houthi berupaya menguasai Selat Bab el-Mandeb dan pantai barat, sementara Iran menguasai Selat Hormuz,” ujar analis senior di Institut Perdamaian Eropa, Hisham al-Omeisy.
Negara-negara di dalam dan luar kawasan mengecam serangan Houthi. Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan, serangan tersebut agresi yang tercela dan pengabaian terhadap nyawa warga sipil.
Kemenlu Bahrain menilai serangan itu ”eskalasi berbahaya dan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”. Sementara Uni Emirat Arab mengecam serangan dan ancaman terus-menerus terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah.
”Turki mengecam keras serangan Houthi Yaman kepada Arab Saudi. Turki menyerukan agar Houthi segera menghentikan permusuhan mereka. Serangan-serangan tersebut juga merusak upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik di Yaman dengan solusi politik yang langgeng,” bunyi pernyataan Kemenlu Turki.
Turki menandatangani perjanjian pertahanan bersama Arab Saudi dan Pakistan bulan lalu. Kesepakatan mencakup klausul pertahanan kolektif yang mirip dengan Pasal 5 NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara). Pasal ini mendeklarasikan bahwa serangan bersenjata terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi.
Di luar kawasan, Menlu Rusia Sergey Lavrov menyampaikan, serangan Houthi terhadap Arab Saudi bersifat kontraproduktif dan merusak perekonomian global. Di Pakistan, Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyebut serangan itu aksi pengecut, mengancam nyawa serta perdamaian dan keamanan regional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/09/29cee4bc-81bb-434d-9a73-5761d4d99da3_jpg.jpg)
Menlu AS Marco Rubio turut mengecam serangan Houthi atas Arab Saudi. Dia kemudian menyalahkan Iran sambil memuji hubungan militer Washington-Riyadh.
”Houthi, dalam banyak hal, adalah agen dan proksi Iran. Saya pikir di balik beberapa hal ini jelas ada campur tangan Iran,” kata Rubio sambil berjanji akan mengamati peristiwa tersebut dengan sangat cermat, menurut Al Arabiya.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres ikut mengecam Houthi. ”Kami mengecam serangan lintas batas Houthi terhadap beberapa lokasi di selatan Arab Saudi. Serangan ini berdampak pada warga sipil dan infrastruktur energi,” kata juru bicara Guterres, Stephane Dujarric.
Namun, Menlu Arab Saudi Faisal masih membuka peluang diplomasi dengan Houthi untuk mengakhiri pertempuran. ”Arab Saudi akan selalu mendukung solusi diplomatik, tetapi kerajaan tidak akan pernah ragu untuk membela diri dan kepentingannya. Kami akan menggunakan setiap alat untuk melakukan pekerjaan dan tugas kami,” ucapnya.
Pertempuran Houthi-Arab Saudi memanas seiring konflik antara Houthi dan Pemerintah Yaman yang didukung Riyadh. Permusuhan ini menjadi yang paling serius sejak gencatan senjata atas mediasi PBB pada 2022.
Pemerintah Yaman melancarkan serangan terhadap wilayah Houthi di beberapa provinsi selama dua hari. Pada Minggu (6/9/2026), pemerintah mengerahkan pesawat tempur untuk menyerang Houthi di Hodeidah, Marib, dan Al-Jawf.
Keesokan harinya, pasukan militer yang bersekutu dengan pemerintah mengumumkan serangan darat di pegunungan Al-Labanat di Al-Jawf serta serangan udara di Taiz. Serangan juga terjadi di lokasi lain.
Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi menyatakan, pasukan pemerintah telah membuat kemajuan signifikan melawan Houthi. Progres terlihat dari kemajuan di Al-Jawf, Al-Bayda, Taiz, dan Hodeidah.
”Angkatan bersenjata kami akan terus menjalankan tugas konstitusional sampai lembaga negara dipulihkan dan otoritas negara kembali meluas ke seluruh wilayah Yaman,” kata Alimi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/09/6d45c78a-5117-4dbf-95cf-59b93bcaa409_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/09/09/65333fe2-bc24-46cc-a9a0-2749b0d77938_jpg.jpg)
Menurut Wakil Menteri Pertahanan Yaman Samir al-Sabri, pemerintah berniat merebut kembali Sanaa, ibu kota negara yang berada di bawah pendudukan Houthi. Pemerintah Yaman adalah pemerintahan yang mendapat pengakuan internasional.
Sementara Houthi mengklaim telah memukul mundur serangan menuju Al-Labanat. Menurut pejabat Houthi, Mohammed al-Farah, pasukan pemerintah menembakkan rudal balistik ke arah bala bantuan di Al-Jawf.
”Pemerintah Yaman tampaknya berada dalam posisi yang lebih kuat daripada sebelumnya. Mereka melihat pertempuran ini sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi walau tidak berarti Houthi lemah,” kata Hisham al-Omeisy, penasihat senior Yaman di Institut Perdamaian Eropa.
Setidaknya, lanjut dia, Houthi akan cukup terpukul dari serangan-serangan ini. ”Namun, pada akhirnya, Anda tetap membutuhkan kesepakatan politik,” ucap Omeisy.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati